Peringatan/nasehat bagi orang-orang yang lalai

Kita yang masih diberikan kesempatan untuk menghirup oksigen (yakni diberi kehidupan), dipanjangkan umur, terlebih lagi diberi kesehatan, maka hendaknya kita mempergunakannya dengan sebaik-baiknya. Ketahuilah seseorang yang beramal jelek semasa hidupnya ketika dimasa sakratul maut menginginkan agar ia diberi kesempatan untuk berbuat amalan shalih (lihat al Munaafiquun: 10, dan al Mukminuun 99-100). Ada juga seseorang ketika diakhirat kelak, menginginkan untuk dihidupkan kembali sehingga ia bisa beramal shalih (baca; QS. Ibrahim : 44-45). Maka hendaknya orang-orang yang masih diberi nikmat kehidupan dan nikmat sehat mengambil pelajaran darinya…

Allah berfirman:

يَأَيّهَا الّذِينَ آمَنُواْ لاَ تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلاَ أَوْلاَدُكُمْ عَن ذِكْرِ اللّهِ وَمَن يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُوْلَـَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ.

”Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi.

وَأَنفِقُواْ مِن مّا رَزَقْنَاكُمْ مّن قَبْلِ أَن يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولُ

Dan belanjakanlah sebagaian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kami; lalu ia berkata :

رَبّ لَوْلآ أَخّرْتَنِيَ إِلَىَ أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصّدّقَ وَأَكُن مّنَ الصّالِحِينَ

“Ya Rabbku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sebentar saja, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang shalih”

[QS. Al-Munafiquun : 9-10]

Berkata Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya:

“Maka setiap orang yang melampaui batas itu akan menyesal di waktu sekaratnya dan akan meminta dipanjangkan lagi usianya walaupun hanya sebentar, untuk mengisi sesuatu yang dia telah lewatkan. Dan betapa tidak mungkinnya hal itu!!”

(Tafsir Ibnu Katsir)

Allah berfirman:

حَتّىَ إِذَا جَآءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ

(Demikianlah keadaan orang-orang itu), hingga apabila datang kematian kepada seorang dari mereka, dia berkata,

رَبّ ارْجِعُونِ لَعَلّيَ أَعْمَلُ صَالِحاً فِيمَا تَرَكْتُ

”Ya Rabbku, kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal yang shalih terhadap yang telah aku tinggalkan”.

كَلاّ إِنّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَآئِلُهَا وَمِن وَرَآئِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَىَ يَوْمِ يُبْعَثُونَ

Sekali-kali tidak! Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkan saja. Dan dihadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan

[QS. Al-Mukminuun : 99-100].

Qatadah rahimahullah berkata,

”Demi Allah, dia tidak meminta dikembalikan agar bisa berkumpul dengan keluarganya, tidak pula supaya bisa mengumpulkan harta atau memenuhi nafsu syahwatnya. Akan tetapi dia meminta hidup kembali supaya bisa berbuat taat”

[Tafsir Ibnu Katsir 3/225].

Allah berfirman:

يَوْمَ يَأْتِي تَأْوِيلُهُ يَقُولُ الَّذِينَ نَسُوهُ مِن قَبْلُ

Pada hari datangnya kebenaran pemberitaan Al Quran itu, berkatalah orang-orang yang melupakannya sebelum itu:

قَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ فَهَل لَّنَا مِن شُفَعَاءَ فَيَشْفَعُوا لَنَا أَوْ نُرَدُّ فَنَعْمَلَ غَيْرَ الَّذِي كُنَّا نَعْمَلُ ۚ

“Sesungguhnya telah datang rasul-rasul Tuhan kami membawa yang hak, maka adakah bagi kami pemberi syafa’at yang akan memberi syafa’at bagi kami, atau dapatkah kami dikembalikan (ke dunia) sehingga kami dapat beramal yang lain dari yang pernah kami amalkan?”

قَدْ خَسِرُوا أَنفُسَهُمْ وَضَلَّ عَنْهُم مَّا كَانُوا يَفْتَرُونَ

Sungguh mereka telah merugikan diri mereka sendiri dan telah lenyaplah dari mereka sesembahan-sesembahan yang mereka ada-adakan[1. Segala sesuatu yang disembah selain Allah, itulah berhala. diantara berhala-berhala yang banyak menjangkiti manusia adalah:

– Hawa nafsu yang disembah (dengan senantiasa memperturutkannya, mencintai apa yang dicintai hawa nafsunya walaupun hal tersebut mengandung kemurkaan Allah, serta membenci apa yang dibenci hawa nafsunya walaupun hal tersebut merupakan perkara yang dicintai oleh Allah.)

– Kuburan yang disembah (dengan meminta-minta kepada penghuni kubur)

– Ulama yang disembah (dengan bertaqlid buta kepadanya, menghalalkan apa yang ia halalkan yang sebenarnya Allah mengharamkannya demikian pula sebaliknya; atau ruku’ dan sujud kepadanya dalam rangka pengagungan yang berlebihan, yang semuanya merupakan hak Allah, yang tidak boleh diberikan kepada selainNya)

– dll.]

(al A’raaf: 55)

Allah berfirman:

وَلَوْ تَرَىٰ إِذْ وُقِفُوا عَلَى النَّارِ فَقَالُوا

Dan jika kamu (Muhammad) melihat ketika mereka dihadapkan ke neraka, lalu mereka berkata:

يَا لَيْتَنَا نُرَدُّ وَلَا نُكَذِّبَ بِآيَاتِ رَبِّنَا وَنَكُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ

“Kiranya kami dikembalikan (ke dunia) dan tidak mendustakan ayat-ayat Rabb kami, serta menjadi orang-orang yang beriman”(tentulah kamu melihat suatu peristiwa yang mengharukan).

بَلْ بَدَا لَهُم مَّا كَانُوا يُخْفُونَ مِن قَبْلُ ۖ وَلَوْ رُدُّوا لَعَادُوا لِمَا نُهُوا عَنْهُ وَإِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ

Tetapi (sebenarnya) telah nyata bagi mereka kejahatan yang mereka dahulu selalu menyembunyikannya. Sekiranya mereka dikembalikan ke dunia, tentulah mereka kembali kepada apa yang mereka telah dilarang mengerjakannya. Dan sesungguhnya mereka itu adalah pendusta belaka.

(al An’aam: 27-28)

Allah berfirman:

وَأَنذِرِ النّاسَ يَوْمَ يَأْتِيهِمُ الْعَذَابُ فَيَقُولُ الّذِينَ ظَلَمُوَاْ

Dan berikanlah peringatan kepada manusia terhadap hari (yang pada waktu itu) datang adzab kepada mereka, maka berkatalah orang-orang yang zhalim :

رَبّنَآ أَخّرْنَآ إِلَىَ أَجَلٍ قَرِيبٍ نّجِبْ دَعْوَتَكَ وَنَتّبِعِ الرّسُلَ

“Ya Rabb kami, beri tangguhlah kami (kembalikan kami ke dunia) walaupun dalam waktu yang singkat, niscaya kami akan mematuhi seruan-Mu dan akan mengikuti rasul-rasul”.

(Kepada mereka dikatakan) :

أَوَلَمْ تَكُونُوَاْ أَقْسَمْتُمْ مّن قَبْلُ مَا لَكُمْ مّن زَوَالٍ.

“Bukankah dahulu (di dunia) kamu telah bersumpah bahwa sekali-kali kamu tidak akan binasa?

وَسَكَنتُمْ فِي مَسَـَكِنِ الّذِينَ ظَلَمُوَاْ أَنفُسَهُمْ

dan kamu telah berdiam di tempat-tempat kediaman orang-orang yang menganiaya diri mereka sendiri?

وَتَبَيّنَ لَكُمْ كَيْفَ فَعَلْنَا بِهِمْ

dan telah nyata bagimu bagaimana Kami telah berbuat terhadap mereka?

وَضَرَبْنَا لَكُمُ الأمْثَالَ

dan telah Kami berikan kepadamu beberapa perumpamaan?”

[QS. Ibrahim : 44-45]

Ibnu Katsir berkata dalam tafsirnya:

“Sesungguhnya kamu telah melihat dan mendengar apa yang telah menimpa umat-umat yang mendustakan sebelum kamu. Meski demikian, kalian tidak menjadikannya sebagai pelajaran, bahkan siksa yang telah Kami timpakan pada mereka tidak sedikitpun membuat kalian merasa takut.

Allah berfirman:

حِكْمَةٌ بَالِغَةٌ فَمَا تُغْنِ النُّذُرُ

Itulah suatu hikmah yang sempurna maka peringatan-peringatan itu tidak bermanfaat (bagi mereka).

-Al-Qamar: 5-

(shahiih tafsir ibnu katsiir, V/74)

Allah mengabarkan keadaan mereka dipadang masyhar

وَلَوْ تَرَىٰ إِذِ الْمُجْرِمُونَ نَاكِسُو رُءُوسِهِمْ عِندَ رَبِّهِمْ

Dan, jika sekiranya kamu melihat mereka ketika orang-orang yang berdosa itu menundukkan kepalanya di hadapan Rabbnya, (mereka berkata):

رَبَّنَا أَبْصَرْنَا وَسَمِعْنَا فَارْجِعْنَا نَعْمَلْ صَالِحًا إِنَّا مُوقِنُونَ

“Ya Rabb kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami (ke dunia), kami akan mengerjakan amal saleh, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang yakin”.

(as Sajadah 32:12)

juga dalam firmanNya (yang mengabarkan keadaan mereka setelah dimasukkan kedalam neraka ,ed):

وَهُمْ يَصْطَرِخُونَ فِيهَا

Dan mereka berteriak di dalam neraka itu:

رَبَّنَا أَخْرِجْنَا نَعْمَلْ صَالِحًا غَيْرَ الَّذِي كُنَّا نَعْمَلُ ۚ

“Ya Rabb kami, keluarkanlah kami niscaya kami akan mengerjakan amal yang saleh berlainan dengan yang telah kami kerjakan”.

(dikatakan kepada mereka:)

أَوَلَمْ نُعَمِّرْكُم مَّا يَتَذَكَّرُ فِيهِ مَن تَذَكَّرَ وَجَاءَكُمُ النَّذِيرُ

Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang mau berfikir, dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan?

فَذُوقُوا فَمَا لِلظَّالِمِينَ مِن نَّصِيرٍ

maka rasakanlah (azab Kami) dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun.

(Faathir 35:37)

Ibnu Katsir menafsirkan dalam tafsirnya:

“Tidakkah kamu telah hidup didunia dengan umur yang panjang? Sekiranya kamu termasuk orang-orang yang mengambil manfaat dari kebenaran, pastilah kamu telah mengambil manfaat dari kebenaran itu semasa hidupmu di dunia.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ عَمَّرَ سِتِّينَ سَنَةً أَوْ سَبْعِينَ سَنَةً فَقَدْ عُذِرَ إِلَيْهِ فِي الْعُمُرِ

“Barangsiapa dipanjangkan umurnya hingga enam puluh atau tujuh puluh tahun, maka ia telah diberi kesempatan dalam umur(nya tersebut).”

(HR. Ahmad, Thabraniy dll. Abu Ma’syar adalah perawi yang dhaa-if sebagaimana dikatakan imam ibnu hajar)

Namun terdapat dalam riwayat bukhariy dengan lafazh:

أَعْذَرَ اللَّهُ إِلَى امْرِئٍ أَخَّرَ أَجَلَهُ حَتَّى بَلَّغَهُ سِتِّينَ سَنَةً

“Allah telah memberi udzur kepada seseorang dengan menangguhkan ajalnya hingga umur enam puluh tahun.”

(HR. Bukhariy)

Rasulullah juga bersabda:

لَقَدْ أَعْذَرَ اللَّهُ إِلَى عَبْدٍ أَحْيَاهُ حَتَّى بَلَغَ سِتِّينَ أَوْ سَبْعِينَ سَنَةً لَقَدْ أَعْذَرَ اللَّهُ لَقَدْ أَعْذَرَ اللَّهُ إِلَيْهِ

“Sungguh Allah telah memberi udzur terhadap hamba-Nya yang Dia hidupkan hingga umur enam puluh atau tujuh puluh tahun, sungguh Allah telah memberi udzur, sungguh Allah telah memberi udzur kepadanya.”

(HR. Ahmad; dishahiihkan oleh Syaikh Syu’ayb al Arnauth, Syaikh Ahmad Syaakir dalam musnad Ahmad dan Syaikh al Albaaniy dalam shahiihul jaami’)

Berkata Imam Ibnu Katsir:

Usia 60 ini, merupakan umur dimana Allah telah cukup memberikan udzur kepada hamba hambaNya (untuk beriman, bertakwa dan beramal shalih).

Dengan usia ini pula, hamba hamba Allah tidak dapat lagi mengemukakan alasan-alasan (untuk menghindar dari siksaNya).

Karena itulah, maka usia 60 ini, mejadi usia yang umum dialami umat ini, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits:

أَعْمَارُ أُمَّتِي مَا بَيْنَ السِّتِّينَ إِلَى السَّبْعِينَ وَأَقَلُّهُمْ مَنْ يَجُوزُ ذَلِكَ

“Usia ummatku berkisar antara enam puluh sampai tujuh puluh tahun, dan sedikit sekali mereka yang melebihi (usia) tersebut.”

(HR. Tirmidziy, Ibnu Maajah, dll.; dikatakan syaikh al Albaaniy “hasan shahiih”)

Selanjutnya dalam firmanNya:

وَجَاءَكُمُ النَّذِيرُ

(dan apakah tidak) datang kepadamu pemberi peringatan?

Para ulama berbeda pendapat tentang makna النَّذِيرُ

Ibnu ‘Abbas, ‘Ikrima, Abu Ja’far al Baqir, Qatadah dan Sufyan bin ‘Uyainah berpendapat bahwa makna النَّذِيرُ adalah uban

(al Baghawiy III/573)

Sedangkan as Suddi dan ‘Abdurrahman bin Zaid bin Aslam berkata: “Yang dimaksud (dengan النَّذِيرُ) adalah Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam” Lalu Ibnu Zayd membaca ayat (QS an Najm 56).

(ath Thabariy XX/478)

Diriwayatkan dari Qatadah bahwasanya ia berkata:

“Allah berhujjah kepada mereka dengan usia (yang dipanjangkan atas mereka) dan Para Rasul (yang diutus kepada mereka)”

Pendapat ini dipilih oleh Ibnu Jarir karena lebih nyata berdasarkan firmanNya (QS az Zukhruf 77-78)

[–Abu Zuhriy: pendapat Qatadah diatas, menggabungkan pendapat pertama dan kedua, . Wallahu a’lam–)

Berkata Imam Ibnu Katsir, hal ini juga sesuai dengan firmanNya (QS al Israa’: 15) dan juga firmanNya (al Mulk: 8-9)

Selanjutnya Allah berfirman:

فَذُوقُوا فَمَا لِلظَّالِمِينَ مِن نَّصِيرٍ

maka rasakanlah (azab Kami) dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun.

Imam Ibnu Katsir berkata: Yakni, maka rasakanlah siksa neraka sebagai balasan atas pengingkaranmu terhadap para nabi, di rentang waktumu yang masih diberi kesempatan untuk beramal. Pada hari ini (hari kiamat), tidak ada satu penolong pun bagimu yang dapat menyelamatkanmu dari adzab, hukuman dan belenggu yang tengah kamu hadapi)

[shahiih tafsir ibnu katsir (VII/497-498)

Allah memfirmankan penyesalan mereka:

وَقَالُوا لَوْ كُنَّا نَسْمَعُ أَوْ نَعْقِلُ مَا كُنَّا فِي أَصْحَابِ السَّعِيرِ

Dan mereka berkata: “Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala”.

(Al-Mulk: 10)

Semoga kita semua menjadi orang-orang yang mengambil pelajaran.

Maka dari itu Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنْ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

”Ada dua nikmat dimana banyak orang yang rugi (atas kedua nikmat itu), yaitu nikmat sehat dan waktu …luang”

[HR. Bukhari]

Syaikh ‘Abdul-‘Adhim Al-Badawi berkata:

“Kata Maghbuun (مغبون) dalam hadits di atas pada dasarnya terjadi pada jual beli. Dengan ini Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam ingin menjelaskan bahwa orang rugi secara hakiki adalah orang sehat dan memiliki waktu luang lalu tidak bisa memanfaatkan keduanya. Ibaratnya orang memiliki permata yang sangat mahal lalu ditukar dengan kotoran hewan yang tidak berharga.”

Ibnu Baththal rahimahullah berkata,

”Maksud hadits ini adalah seseorang tidak akan memiliki waktu senggang sampai ia berkecukupan secara ekonomi serta berbadan sehat.

Barangsiapa yang memperoleh hal tersebut (berkecukupan dan berbadan sehat) maka hendaklah ia bertekad agar tidak rugi dengan cara mensyukuri nikmat yang Allah berikan kepadanya.

Di antara syukur kepada-Nya adalah dengan mentaati perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Barangsiapa meremehkan hal ini, dialah orang yang rugi”.

Ibnul-Jauzi rahimahullah berkata,

”Terkadang ada orang yang memiliki badan sehat namun tidak memiliki waktu luang disebabkan oleh pekerjaannya. Terkadang juga ada orang yang kaya tetapi dia sakit.

Jika ada orang yang memiliki kedua hal tersebut, lalu dia malas untuk berbuat taat, maka dialah orang yang merugi.

Untuk lebih jelasnya, dunia ini adalah ladang, di sana ada perniagaan yang keberuntungannya akan nampak di akhirat.

Barangsiapa menggunakan waktu luang dan waktu sehatnya untuk berbuat taat kepada Allah, maka dia adalah orang yang berbahagia.

Barangsiapa yang menggunakannya untuk berbuat maksiat maka dialah orang yang rugi.

Karena waktu luang akan diikuti oleh kesibukan dan sehat akan diiringi oleh sakit.”

Ath-Thiibi rahimahullah mengatakan,

”Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam membuat permisalan bagi mukallaf (orang yang telah dibebani beban syari’at) dengan seorang pedagang yang punya modal.

Pedagang ingin mencari untung dengan tetap menjaga keutuhan modalnya. Caranya adalah dengan memilih orang untuk dimodali dan dia harus jujur dan benar supaya tidak rugi.

Kesehatan dan waktu luang adalah modal. Maka semestinya seorang hamba mengisinya dengan keimanan dan memerangi hawa nafsu dan setan, supaya meraih keuntungan di dunia dan akhirat. Janganlah dia mentaati hawa nafsu dan setan agar modal dan keuntungannya tidak hilang sia-sia. Kehilangan modal dan keuntungan adalah kerugian yang besar”.

(http://abul-jauzaa.blogspot.com/2008/06/manfaatkanlah-lima-hal-sebelum.html)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berpesan kepada Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, sambil memegang pundak iparnya ini:

كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيْبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيْلٍ

“Jadilah engkau di dunia ini seperti orang asing atau bahkan seperti orang yang sekedar lewat (musafir).”

(HR. Al-Bukhari no. 6416)

Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma pun memegang teguh wasiat Nabinya baik dalam ucapan maupun perbuatan.

Dalam ucapannya beliau berkata setelah menyampaikan hadits Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas,

“Bila engkau berada di sore hati maka janganlah engkau menanti datangnya pagi. Sebaliknya bila engkau berada di pagi hari, janganlah menanti sore.

Gunakanlah waktu sehatmu (untuk beramal ketaatan) sebelum datang sakitmu. Dan gunakan hidupmu (untuk beramal shalih) sebelum kematian menjemputmu.”

Adapun dalam perbuatan, beliau radhiyallahu ‘anhuma merupakan shahabat yang terkenal dengan kezuhudan dan sifat qana’ahnya (merasa cukup walau dengan yang sedikit) terhadap dunia.

Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu pernah berkata,

“Pemuda Quraisy yang paling dapat menahan dirinya dari dunia adalah Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma.”

(Siyar A’lamin Nubala`, hal. 3/211)

Ibnu Baththal rahimahullahu menjelaskan berkenaan dengan hadits Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma di atas,

“Dalam hadits ini terdapat isyarat untuk mengutamakan sifat zuhud dalam kehidupan dunia dan mengambil perbekalan secukupnya. Sebagaimana musafir tidak membutuhkan bekal lebih dari apa yang dapat mengantarkannya sampai ke tujuan, demikian pula seorang mukmin di dunia ini, ia tidak butuh lebih dari apa yang dapat menyampaikannya ke tempat akhirnya.”

(Fathul Bari, 11/282)

Al-Imam An-Nawawi rahimahullahu berkata memberikan penjelasan terhadap hadits ini,

“Janganlah engkau condong kepada dunia. Jangan engkau jadikan dunia sebagai tanah air (tempat menetap), dan jangan pula pernah terbetik di jiwamu untuk hidup kekal di dalamnya. Jangan engkau terpaut kepada dunia kecuali sekadar terkaitnya seorang asing pada selain tanah airnya, di mana ia ingin segera meninggalkan negeri asing tersebut guna kembali kepada keluarganya.”

(Syarhu Al-Arba’in An-Nawawiyyah fil Ahadits Ash-Shahihah An-Nabawiyyah, hal. 105)

Maka, marilah kita mengamalkan wasiat Rasulullah berikut dengan sebaik-baiknya; Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

إِغْتَنِمْ خَمْساًَ قًبْلَ خَمْسٍِ : حَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ وَشَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ وَغِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ

”Manfaatkanlah lima (keadaan) sebelum (datangnya) lima (keadaan yang lain) : Hidupmu sebelum matimu, sehatmu sebelum sakitmu, waktu luangmu sebelum waktu sempitmu, masa mudamu sebelum masa tuamu, dan kayamu sebelum miskinmu”

[HR. Al-Hakim dan Al-Baihaqi; dishahiihkan oleh Syaikh al-Albaaniy dalam shahiihul jaami’].

Semoga kita dapat memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya, aamiin.

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Aqidah, Dzikrul Maut, Tauhid Uluhiyyah, Tazkiyatun Nufus

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s