Mulailah dari dirimu!

Rasulullah bersabda:

ابْدَأْ بِنَفْسِكَ فَتَصَدَّقْ عَلَيْهَا

“Mulailah dari dirimu, dan bersedekahlah kepadanya.

فَإِنْ فَضَلَ شَيْءٌ فَلِأَهْلِكَ

apabila tersisa, maka sisa tersebut untuk keluargamu

فَإِنْ فَضَلَ مِنْ أَهْلِكَ شَيْءٌ فَلِذِي قَرَابَتِكَ

apabila tersisa dari keluargamu, maka untuk kerabatmu

فَإِنْ فَضَلَ مِنْ ذِي قَرَابَتِكَ شَيْءٌ فَهَكَذَا وَهَكَذَا وَهَكَذَا

apabila tersisa dari kerabatmu maka demikian, demikian dan demikian.”

Beliau bersabda;

بَيْنَ يَدَيْكَ وَعَنْ يَمِينِكَ وَعَنْ شِمَالِكَ

“…untuk orang (tetangga) yang dihadapanmu, di sebelah kananmu dn sebelah kirimu.”

(Shahiih, HR. an-Nasaa-iy; dishahiihkan syaikh al-Albaaniy dalam ‘irwa)

dalam hadits lain Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam bersabda:

تَصَدَّقُوا

“Bersedekahlah kalian”

lalu seseorang berkata “ya Rasulullah aku hanya memiliki satu dinar”

beliau menjawab:

تَصَدَّقْ بِهِ عَلَى نَفْسِكَ

“Bersedekahlah dengannya untuk dirimu, ”

ia berkata: “aku mempunyai yang lain”

beliau bersabda:

تَصَدَّقْ بِهِ عَلَى زَوْجَتِكَ

“Bersedekahlah untuk istrimu, ”

ia berkata: “aku memiliki yang lain”

beliau bersabda:

تَصَدَّقْ بِهِ عَلَى وَلَدِكَ

“Bersedekahlah untuk anakmu, ”

Ia berkata: “aku memiliki yang lain”

beliau bersabda:

تَصَدَّقْ بِهِ عَلَى خَادِمِكَ

“Bersedekahlah untuk pembantumu, ”

Ia berkata aku memiliki yang lain, beliau bersabda:

أَنْتَ أَبْصَرُ

“Engkau lebih tahu (yang berhak engkau beri)”

(Ahmad, Abu Dawud, Nasaa-iy, dll; dikatakan oleh Syaikh al-Albaaniy “Hasan Shahiih”)

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

‎إِنَّ لِجَسَدِكَ عَلَيْكَ حَقًّا وَإِنَّ لِعَيْنِكَ عَلَيْكَ حَقًّا وَإِنَّ لِزَوْجِكَ عَلَيْكَ حَقًّا

Sesungguhnya jasadmu mempunyai hak atasmu, matamu mempunyai hak atasmu, dan isterimu mempunyai hak atasmu.

[HR. Al-Bukhari (no. 5199) kitab an-Nikaah, dan Muslim (no. 1159)]

asy-Syaikh DR. Ibrahim bin ‘Amir Ar Ruhaili hafizhahullah berkata:

“Amalan yang wajib lebih utama daripada amalan yang sunnah. Demikian juga, memperhatikan ibadah yang wajib lebih dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala daripada ibadah yang sunnah.

Abu Hurairah meriwayatkan, ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

‎إِنَّ اللَّهَ قَالَ مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ

“Sesungguhnya Allah berfirman: ‘Barangsiapa yang memusuhi waliKu, maka Aku telah mengobarkan peperangan dengannya. Dan tidaklah ada seorang hambaKu yang mendekatkan dirinya kepada-Ku, dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada amalan yang Aku wajibkan kepadanya…’

[HR. Bukhari no: 6502]

Ibnu Hajar berkata:

“Dapat disimpulkan dari hadits tersebut, bahwa melaksanakan amalan yang wajib merupakan tindakan yang paling dicintai oleh Allah”

[Fathul Bari : 11/343].

Abu Bakar pernah berwasiat kepada Umar dengan mengatakan:

‎وَأنَّهُ لاَ يَـقـْـبَلُ نَافِلَةً حَتَّى تُؤَدَّى الْفَريِْضَة

“Sesungguhnya Allah tidak akan menerima ibadah sunnah kecuali apabila amalan ibadah yang wajib telah ditunaikan”

[Diriwayatkan Abu Nu’aim dalam Al Hilyah : 1/36].

Ibnu Taimiyah menegaskan pula:

“Oleh karena itu, wajib bertaqarrub kepada Allah dengan amalan-amalan yang wajib sebelum menjalankan amalan yang sunnah. Mendekatkan diri kepada Allah dengan amalan yang sunnah terhitung sebagai ibadah jika amalan yang wajib sudah dikerjakan”

[Majmu’ Al Fatawa : 17/133].

Al Hafizh Ibnu Hajar menukil dari sebagian ulama besar zaman dahulu, mereka menetapkan :

‎مَنْ شَغَلَهُ الْفَرْضُ عَنِ النَّفْلِ فَهُوَ مَعْذُورٌ وَ مَنْ شَغَلَهُ النَّفْلُ عَنِ الْفَرْضِِ فَهُوَ مَغْرُورٌ

“Barangsiapa disibukkan dengan perkara wajib sehingga melupakan perkara sunnah, maka ia termaafkan. Barangsiapa disibukkan dengan perkara sunnah sehingga perkara wajib terbengkalai, maka ia adalah orang yang tertipu”

[Fathul Bari : 11/442]

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 09/Tahun IX/1426H/2005M; http://almanhaj.or.id/content/2875/slash/0%5D

Lihatlah bagaimana SKALA PRIORITAS yang ditetapkan oleh Rasulullah kepada umatnya, maka hendaknya hal ini benar-benar diperhatikan oleh orang-orang yang mengikuti beliau dengan baik.

Jangan sampai seseorang malah mengorbankan diri sendiri, hanya untuk orang lain.

Jangan sampai malah mengorbankan keluarga (orang tua, istri, anak, adik, dan kakak), hanya untuk orang lain.

Jangan sampai malah mengorbankan orang-orang dibawah tanggung jawab, hanya untuk orang lain.

Jangan sampai malah mengorbankan kerabat, hanya untuk orang lain.

Jangan sampai malah mengorbankan tetangga, hanya untuk orang lain.

Sebagaimana sedekah (harta), demikian pula sedekah (ilmu), demikian pula dalam hal-hal yang lain. Maka untuk segala kebaikan, hendaknya dimulai dari DIRI SENDIRI, kemudian keluarga, kemudian kerabat, dan seterusnya..

Wallahu a’lam.

Tinggalkan komentar

Filed under Adab, Ibadah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s