Tidakkah seseorang merasa malu?!

Tidakkah seseorang malu BERMAKSIAT dihadapan Dzat Yang Maha Agung lagi Maha Mulia..

Jika seseorang merasa malu untuk bermaksiat dihadapan orang tuanya, maka tanyakanlah kepada dirinya sendiri. mengapa ia tidak merasa malu ketika ia hanya berhadapan dengan Allah? adakah seseorang yang lebih mulia dari Allah? adakah seseorang yang lebih agung dari Allah?

Rasulullah bersabda:

فَاللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَحَقُّ أَنْ يُسْتَحْيَا مِنْهُ

“Di hadapan Allah Tabaraka Wa Ta’ala kamu lebih berhak untuk malu daripada di hadapan manusia!.”

(HR. Ahmad, dishahiihkan syaikh albaniy)

Berkata Syaikh dr. Abdul Qåyyim as-Suhaibaniy hafizhahullahu ta’ala berkata:

“Jika anda MEYAKINI bahwa Allåh tidak melihat, maka alangkah besar kekufuran anda. Jika anda mengetahui bahwa Allåh (Maha Melihat lagi) Maha Mengetahui, maka alangkah parah keburukan anda, dan alangkah sedikit rasa malu anda (terhadapNya)!!”

(Sumber: majalah as-sunnah edisi 06-07/thn xii/ramadhån 1429 H/ sept 2008M)

Maka bagaimanakah lagi jika malunya tersebut telah hilang, dimana maksiat ia perbuat secara terang-terangan?!

Rasulullah bersabda:

‎كُلُّ أُمَّتِي مُعَافًى إِلَّا الْمُجَاهِرِينَ

Setiap umatku akan dimaafkan, kecuali mujahirin (pelaku maksiat dengan terang-terangan)

‎وَإِنَّ مِنْ الْمُجَاهَرَةِ أَنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ بِاللَّيْلِ عَمَلًا ثُمَّ يُصْبِحَ وَقَدْ سَتَرَهُ اللَّهُ عَلَيْهِ فَيَقُولَ

Dan termasuk dalam mujaharah (berbuat maksiat dengan terang-terangan), (yaitu) seseorang melakukan satu perbuatan pada malam hari, kemudian dia memasuki waktu pagi dan Allah menutupi perbuatannya itu, lalu ia mengatakan

‎يَا فُلَانُ عَمِلْتُ الْبَارِحَةَ كَذَا وَكَذَا

“Wahai, fulan. Semalam aku melakuan ini dan itu”

‎وَقَدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ وَيُصْبِحُ يَكْشِفُ سِتْرَ اللَّهِ عَنْهُ

Dia tidur semalam dan Allah menutupi perbuatannya, lalu ketika memasuki waktu pagi dia membuka tabir Allah.

[HR Bukhari Muslim]

Benarlah kata Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam:

الْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنْ الْإِيمَانِ

Malu itu adalah sebagian dari iman.”

(HR. Muslim)

yang jika seseorang kehilangannya, maka kehilanganlah baginya sebagian imannya. wallahul musta’aan, konsekuensinya apa?

Rasulullah bersabda:

إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلاَمِ النُّبُوَّةِ اْلأُوْلَى: إِذَا لَمْ تَسْتَحْيِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ

sesungguhnya di antara apa yang didapati manusia dari kalam nubuwwah yang terdahulu adalah “apabila engkau tidak malu, maka lakukanlah semaumu”

(HR. Al Bukhori no. 6120)

Al Imam Al Khoththobi rohimahullohu mengatakan yang bisa mencegah seseorang terjatuh dalam kejelekan adalah rasa malu, sehingga bila dia tinggalkan rasa malu itu, seolah-olah dia diperintah secara tabiat untuk melakukan segala macam kejelekan.

(lihat Fathul Bari, 10/643)

Al Hafizh Ibnu Hajar rohimahullohu menukilkan dari Ar Roghib bahwa malu adalah menahan diri dari perbuatan jelek dan ini merupakan kekhususan yang dimiliki manusia agar dia dapat berhenti dari berbuat apa saja yang dia inginkan, sehingga dia tidak akan seperti hewan.

(lihat Fathul Bari, 1/102)

wallahul musta’aan

Maka seseorang yang sudah kehilangan rasa malunya, hendaknya kembali menanamkan rasa malu tersebut dalam dirinya; ketahuilah Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

Rosululloh Shollallohu alaihi wa Sallam berkata :

الْحَيَاءُ لاَ يَأْتِي إِلاَّ بِخَيْرٍ

“Malu itu tidaklah datang kecuali dengan membawa kebaikan.”

(HR. Al Bukhori no. 6117 dan Muslim no. 37)

Dalam sabdanya yang lain beliau berkata:

الْحَيَاءُ مِنَ اْلإِيْمَانِ وَاْلإِيْمَانُ فِي الْجَنَّةِ، وَالْبَذَاءُ مِنَ الْجَفَاءِ وَالجَفَاءُ فِي النَّارِ

“Malu itu termasuk keimanan, dan keimanan itu di dalam al jannah, sementara kekejian itu termasuk kekerasan, dan kekerasan itu tempatnya di an nar.”

(HR. At Tirmidzi no. 2009, dishohihkan Syaikh Al Albani rohimahullohu dalam Shohih Sunan At Tirmidzi)

Dan tidaklah kita dapat mewujudkannya terkecuali dengan diawali dengan memperbaiki KUALITAS KEIMANAN kita kepada Allah, serta melatih diri kita untuk memilikinya.

Berkata Abud Darda’ radhiyallahu ‘anhu:

‎وَإِنَّمَا الْحِلْمُ بِالتَّحَلُّمِ

dan Sesungguhnya al-hilm[1. Yaitu sikap sabar, lemah-lembut, tidak tergesa-gesa, dsb.] (itu didapatkan) dengan latihan

(lihat Faathul Baari)

Semoga bermanfaat.

Tinggalkan komentar

Filed under Akhlak, Tazkiyatun Nufus

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s