“Standar Ganda”

Ketahuilah wahai saudaraku, ada standar yang harus kita terapkan kepada diri sendiri, dan ada standar yang harus kita terapkan kepada orang lain. Contoh; dalam masalah prasangka. maka kita berprasangka baik kepada orang lain; adapun terhadap diri kita, maka kita berprasangka buruk.

Contoh yang lain, adalah memberi udzur, kita berusaha memberi udzur kepada orang lain, dan senantiasa mencari-cari udzur untuknya; adapun untuk diri kita, maka kita tidak mencari-cari udzur pada diri kita.

Mencari-cari udzur kepada orang lain, mendatangkan kedamaian hati dan jauh dari tajassus (mencari-cari kejelekan) hingga akhirnya berakhir dengan tahassus (memata-matai setiap tindak tanduk seseorang agar dapat menemukan kejelekannya). Dan jika seseorang sudah sibuk dengan hal tersebut, maka ia hanya akan sibuk mencari sebiji atom bakteri pada kulit ari saudaranya, dan ia melupakan kotoran yang besar yang menempel didepan hidungnya.

Jika seseorang mencari-cari udzur untuk dirinya, maka hal ini akan menghantarkannya kepada sifat pembenaran diri. Yang dengan pembenaran diri ini, akan sulit baginya bertaubat atas kesalahan-kesalahan ayng diperbuatnya karena ia tidak merasa bersalah (akibat ia selalu melakukan pembenaran diri). Hingga tanpa ia sadari kesalahan-kesalahannya menumpuk bagaikan gunung yang besar yang siap menimpanya hingga ia binasa. Wallahul musta’aan.

Sebaliknya jika seseorang mencari-cari kejelekan dirinya, maka hal ini akan menghantarkannya untuk sibuk dengan dirinya sendiri, melaksanakan hal-hal yang ditinggalkannya maupun yang dilalaikannya, memperbaiki segala kekurangan dirinya, serta menyempurnakan apa yang belum sempurna.

Demikianlah standar ganda yang patut kita terapkan dalam diri kita dan orang lain.

Contoh Kasus

Kita ambil contoh kasus penasehat dan penerima nasehat. Dalam hal ini ada bebepara ayat dan hadits:

Allah berfirman:

وَلَوْ أَنَّهُمْ فَعَلُوا مَا يُوعَظُونَ بِهِ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُمْ وَأَشَدَّ تَثْبِيتًا

Dan sesungguhnya kalau mereka MENGAMALKAN pelajaran yang diberikan kepada mereka, tentulah hal yang demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan (iman mereka)

(An-Nisaa: 66)

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

وَيْلٌ لِأَقْمَاعِ الْقَوْلِ

Celakalah orang yang mendengarkan suatu perkataan (nasehat), tapi tidak mengamalkannya.

[HR. Ahmad II/65; SHAHIIH, dishahiihkan Syaikh al-albaaniy dalam shahiihul Jaami’ (no.897); dinukil dari shahiih tafsir ibnu katsir (II/303)]

Maka hadits ini adalah peringatan bagi orang-orang yang diberikan pelajaran, yang sudah sepantasnya peringatan ini mereka jadikan pegangan bagi mereka ketika mereka menerima nasehat dari saudaranya.

Sebaliknya, tidak sepatutnya pemberi nasehat serta-merta mengarahkan ayat dan hadits diatas kepada orang tertentu, akan tetapi hendaknya ia memberikan udzur kepada saudaranya, mungkin saja saudaranya tersebut belum paham, dan udzur-udzur lain; dan sebelum ia mengarahkan ayat dan hadits tersebut kepada saudaranya, hendaknya ia memperhatikan ayat atau hadits lain, yang bisa saja menimpanya (sebagaimana akan disebutkan setelah ini)

Disisi lain Allah berfirman:

أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ وَأَنْتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ أَفَلا تَعْقِلُونَ

“Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedang kamu melupakan dirimu sendiri, Padahal kamu membaca Al Kitab? Maka tidaklah kamu berpikir?”

(QS. Al-Baqarah: 44)

Råsulullåh shållallåhu ‘alayhi wa sallam bersabda

يُؤْتَى بِالرَّجُلِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيُلْقَى فِي النَّارِ فَتَنْدَلِقُ أَقْتَابُ بَطْنِهِ فَيَدُورُ بِهَا كَمَا يَدُورُ الْحِمَارُ بِالرَّحَى

“Seseorang didatangkan pada hari kiamat kemudian dilemparkan ke neraka hingga ususnya terburai keluar dan berputar-putar dineraka seperti keledai mengitari alat penumbuk gandumnya

فَيَجْتَمِعُ إِلَيْهِ أَهْلُ النَّارِ فَيَقُولُونَ يَا فُلَانُ مَا لَكَ أَلَمْ تَكُنْ تَأْمُرُ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَى عَنْ الْمُنْكَرِ

Kemudian berkumpullah para penduduk neraka kepadanya bertanya: ‘Hai fulan! Apa yang menimpamu, bukankah dulu kau memerintahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran? ‘

فَيَقُولُ بَلَى قَدْ كُنْتُ آمُرُ بِالْمَعْرُوفِ وَلَا آتِيهِ وَأَنْهَى عَنْ الْمُنْكَرِ وَآتِيهِ

Ia menjawab: ‘Benar, dulu saya memerintahkan kebaikan tapi saya tidak melakukannya dan saya melarang kemungkaran tapi saya melakukannya’.”

(HR. Muslim)

Dalam kondisi seperti ini, maka yang menjadi objek pembicaraan adalah para pemberi nasehat, yang mereka dicela oleh Allah dalam firmanNya, juga diancam neraka dalam hadits yang telah disebutkan diatas.

Maka hendaknya para pemberi nasehat itu bertakwa kepada Allah, agar hendaknya dirinya LEBIH DAHULU memperhatikan dirinya sebelum ia memperhatikan orang lain. Tidak ada masalah jika seseorang ingin memperbaiki orang lain, yang jadi masalah adalah apabila ia ingin memperbaiki orang lain, sedangkan ia lupa memperbaiki dirinya sendiri karena sibuk dengan orang lain.

Akan tetapi ayat dan hadits diatas, BUKANLAH HUJJAH bagi orang-orang yang diberi nasehat… dalam artian, mereka tidak boleh berkata kepada pemberi nasehat: “Janganlah kamu sok suci, toh kamu juga tidak istiqomah dalam menjalankan apa yang kamu perintah/larang itu!!?”

Sesungguhnya ini adalah kesalahan yang fatal. Karena penerima nasehat itu KEWAJIBANNYA adalah MENERIMA KEBENARAN dan TUNDUK KEPADA KEBENARAN, walaupun penyampai kebenaran tersebut adalah orang kafir atau bahkan syaithan!

Sampai kapan ia akan menerima kebenaran, jika ia berprinsip seperti itu? dan siapakah yang akan memberi peringatan jika disyaratkan harus suci dari dosa?! apakah mereka menginginkan agar yang memberi peringatan kepada mereka adalah malaikat yang turun dari langit, baru mereka menerima kebenaran?! kalau demikian, apakah engkau tidak mau menerima kebenaran kecuali jika malakul maut telah berada dihadapanmu?!

Maka setiap permasalahan kita harus menempatkan sesuatu pada tempatnya, menempatkan diri kita ditempat yang benar, berprasangka buruk kepada diri sendiri, serta berprasangka baik kepada orang lain. Inilah yang harus kita lakukan dalam setiap kondisi.

Untuk contoh kasus yang lain, silahkan baca: “Menasehatinya atau meninggalkannya?

Wallahu a’lam..

Semoga bermanfa’at

1 Komentar

Filed under Akhlak, Tazkiyatun Nufus

One response to ““Standar Ganda”

  1. Abdi Maulana Akbar

    Bagus nih postingannya sangat bermanfaat. InsyaAllah ini akan saya sampaikan refeferensi pada saat kultum.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s