Tentang silaturrahim

Apa yang dimaksud dengan silaturahim?

Shilaturrahim diambil dari kata-kata shilah dan rahim. Shilah berarti menyambung sedangkan rahim atau rahm adalah kekerabatan atau sebab-sebabnya

(Mu’jam Wasith 1/335; melalui perantaraan website ustadz aris).

Berkata Syaikh Muhammad bin Shalih ibnul ‘Utsaimin:

(Kekerabatan) yang dimaksud, yaitu KELUARGA itu sendiri, seperti ibu, bapak, anak lelaki, anak perempuan ataupun orang-orang yang mempunyai hubungan darah dari orang-orang sebelum bapaknya atau ibunya. Inilah yang disebut arham atau ansab. Adapun kerabat dari suami atau istri, mereka adalah para ipar, tidak memiliki hubungan rahim ataupun nasab.

(ad-Dhiyâ-ul Lâmi’ (505-508); melalui perantaraan almanhaj.or.id)

Siapa yang paling berhak didahulukan dalam hal ini?

Dari Abu Hurairah, ada seorang yang bertanya, “Ya, rasulullah siapakah orang yang paling berhak kuperlakukan dengan baik?” Nabi bersabda,

‎أُمُّكَ , ثُمَّ أُمُّكَ , ثُمَّ أُمُّكَ , ثُمَّ أَبُوكَ , ثُمَّ أَدْنَاكَ أَدْنَاكَ

“Ibumu, kemudian ibumu, kemudian ibumu, kemudian bapakmu, kemudian kerabat yang dekat dan yang dekat”

(HR Muslim no 6665).

Demikian pula ketika Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam menjelaskan tentang sedekah, beliau bersabda:

ابْدَأْ بِنَفْسِكَ فَتَصَدَّقْ عَلَيْهَا

“Mulailah dari dirimu, dan bersedekahlah kepadanya.

فَإِنْ فَضَلَ شَيْءٌ فَلِأَهْلِكَ

apabila tersisa, maka sisa tersebut untuk keluargamu

فَإِنْ فَضَلَ مِنْ أَهْلِكَ شَيْءٌ فَلِذِي قَرَابَتِكَ

apabila tersisa dari keluargamu, maka untuk kerabatmu

(Shahiih, HR. an-Nasaa-iy; dishahiihkan syaikh al-Albaaniy dalam ‘irwa)

Dan juga dalam hadits dari Maimûnah Ummul-Mukminîn, dia berkata:

“Wahai Rasulullah, tahukah engkau bahwa aku memerdekakan budakku?”

Nabi bertanya,

أَوَفَعَلْتِ

“Apakah engkau telah melaksanakannya?”

Ia menjawab, “Ya”.

Nabi bersabda,

أَمَا إِنَّكِ لَوْ أَعْطَيْتِهَا أَخْوَالَكِ كَانَ أَعْظَمَ لِأَجْرِكِ

“Seandainya engkau berikan budak itu kepada paman-pamanmu, maka itu akan lebih besar pahalanya”.

(HR. Bukhariy)

Bagaimana cara menyambung silaturrahim?

Berkata Syaikh ibnul ‘Utsaimin rahimahullah:

Banyak cara untuk menyambung tali silaturahmi. Misalnya dengan cara saling berziarah (berkunjung), saling memberi hadiah, atau dengan pemberian yang lain. Sambunglah silaturahmi itu dengan berlemah lembut, berkasih sayang, wajah berseri, memuliakan, dan dengan segala hal yang sudah dikenal manusia dalam membangun silaturahmi.

[Diadaptasi oleh Ustadz Abu Sauda` Eko Mas`uri, dari ad-Dhiyâ-ul Lâmi’, Syaikh Muhammad bin Shâlih al-‘Utsaimîn, hlm. 505-508 dari almanhaj.or.id]

Apa batas minimal dalam menyambung silaturrahim?

Ibnu Abbas Radhiyallahu’anhu meriwayatkan, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda,

‎بَلُوْا أَرحَامَكُمْ وَلَوْ بِالسَّلاَمِ

Artinya: “Sambunglah keluargamu meskipun dengan salam.”

[Riwayat Al Bazzar, Ath Thabrani dan Al Baihaqi. Berkata Al Munawi dalam Faidhul Qadir, “Berkata Al-Bukhari,’Semua jalannya dha’if, akan tetapi saling menguatkan (3/207)’.” Al Albani menghasankannya dalam Shahihul Jami’ no. 2838; dari website ustadz khalid]

Apa cakupan silaturrahim hanya untuk yang memiliki hubungan darah saja?

Ya, karena pengertian rahim yang dimaksudkan dalam hadits-hadits yang menjelaskan keutamaan silaturahmi ditujukan kepada orang-orang yang memiliki hubungan keluarga SECARA NASAB saja.

Oleh karena itu TIDAKLAH TEPAT menggunakan hadits-hadits tentang keutamaan silaturahmi untuk memotivasi agar menjaga hubungan baik dengan sesama muslim dengan saling berkunjung saat hari raya atau yang lainnya.

Memang benar, bahwa ada hadits:

‎الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ

“Muslim itu saudara bagi muslim yang lain”

(HR Bukhari no 6951 dan Muslim no 6743 dari Ibnu Umar).

Namun ini adalah ikatan kekerabatan dengan pengertian yang luas, bukanlah persaudaraan seperti ini yang diinginkan dalam hadits-hadits yang memerintahkan untuk menghubungkan silaturrahim ataupun larangan memutusnya.

Sebagaimana yang dijelaskan oleh al Qurthubi. “Rahim (kekerabatan) yang wajib dijaga itu ada dua, kekerabatan dalam makna luas dan kekerabatan dalam makna sempit.

Kekebatan dalam makna luas adalah kekerabatan karena agama. Kekerabatan ini wajib dijaga dengan saling mencintai, saling memberi nasihat, bersikap adil dan menunaikan hak sesama muslim baik yang wajib maupun yang dianjurkan.

Sedangkan kekerabatan dalam makna sempit itu dijaga dengan memberi bantuan materi kepada kerabat, memperhatikan keadaan mereka dan mudah melupakan kesalahan mereka”

(Fathul Bari karya Ibnu Hajar, 17/115).

[lihat penjelasan ustadz aris; dengan sedikit penambahan dan perubahan]

Maka menjaga hubungan sesama muslim, adalah suatu kewajiban tersendiri; sedangkan yang dimaui dalam ayat-ayat lain tentang silaturrahim, adalah menjaga hubungan kekeluargaan dengan orang-orang yang terhubung dengan kita berdasarkan nasab.

Wallahu a’lam

Menyambung silaturahim termasuk yang diperintahkan Allah dan RasulNya, dan memutuskannya termasuk dosa besar yang paling besar

Allah berfirman:

إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ ‪.‬ الَّذِينَ يُوفُونَ بِعَهْدِ اللَّهِ وَلَا يَنقُضُونَ الْمِيثَاقَ ‪.‬ وَالَّذِينَ يَصِلُونَ مَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ أَن يُوصَلَ وَيَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ وَيَخَافُونَ سُوءَ الْحِسَابِ

Hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran, (yaitu) orang-orang yang memenuhi janji Allah dan tidak merusak perjanjian, dan orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan, dan mereka takut kepada Rabbnya dan takut kepada hisab yang buruk.

(ar Ra’d 19-21)

Allah berfirman:

وَمَا يُضِلُّ بِهِ إِلَّا الْفَاسِقِينَ . الَّذِينَ يَنقُضُونَ عَهْدَ اللَّهِ مِن بَعْدِ مِيثَاقِهِ وَيَقْطَعُونَ مَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ أَن يُوصَلَ وَيُفْسِدُونَ فِي الْأَرْضِ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik, (yaitu) orang-orang yang melanggar perjanjian Allah sesudah perjanjian itu teguh, dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah (kepada mereka) untuk menghubungkannya dan membuat kerusakan di muka bumi. Mereka itulah orang-orang yang rugi

(al Baqarah: 26-27)

Allah berfirman:

وَالَّذِينَ يَنقُضُونَ عَهْدَ اللَّهِ مِن بَعْدِ مِيثَاقِهِ وَيَقْطَعُونَ مَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ أَن يُوصَلَ وَيُفْسِدُونَ فِي الْأَرْضِ ۙ أُولَٰئِكَ لَهُمُ اللَّعْنَةُ وَلَهُمْ سُوءُ الدَّارِ

“Orang-orang yang merusak janji Allah setelah diikrarkan dengan teguh dan memutuskan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan dan mengadakan kerusakan di bumi, orang-orang itulah yang memperoleh kutukan dan bagi mereka tempat kediaman yang buruk (Jahannam)”.

[ar-Ra’d/13:25].

Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullahu menyatakan ini umum meliputi semua perkara yang Allah Subhanahu wa Ta’ala perintahkan untuk menyambungnya, baik berupa iman kepada-Nya dan kepada Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam, mencintai-Nya dan mencintai Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam, taat beribadah kepada-Nya semata dan taat kepada Rasul-Nya.

Termasuk juga, menyambung kepada bapak dan ibu dengan berbuat baik kepada mereka, dengan perkataan dan perbuatan, tidak durhaka kepada mereka. Juga, menyambung karib kerabat, dengan berbuat baik kepada mereka dalam bentuk perkataan dan perbuatan. Juga menyambung dengan para istri, teman, dan hamba sahaya, dengan memberikan hak mereka secara sempurna, baik hak-hak duniawi ataupun agama.”

(Tafsir As-Sa’di, hal. 481).

Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

‎وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

Artinya: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah bersilaturahmi.”

(Mutafaqun ‘alaihi).

Ada seseorang berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Wahai Rasulullah, beritahukan kepadaku tentang sesuatu yang bisa memasukkan aku ke dalam surga dan menjauhkanku dari neraka,”

Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

‎لَقَدْ وُفِّقَ —أَوْ قَالَ– لَقَدْ هُدِيَ

“Sungguh dia telah diberi taufik,” —atau beliau bersabda— “Sungguh telah diberi hidayah”

‎كَيْفَ قُلْتَ ؟

“apa tadi yang engkau katakan?”

Lalu orang itupun mengulangi perkataannya. Setelah itu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

‎تَعْبُدُ اللَّهَ لَا تُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا وَتُقِيمُ الصَّلَاةَ وَتُؤْتِي الزَّكَاةَ وَتَصِلُ ذَا رَحِمِكَ

“Engkau beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukannya dengan sesuatu pun, menegakkan shalat, membayar zakat, dan engkau menyambung silaturrahim”.

Setelah orang itu pergi, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

‎إِنْ تَمَسَّكَ بِمَا أَمَرْتُ بِهِ دَخَلَ الْجَنَّةَ

“Jika dia memegang teguh apa yang aku perintahkan tadi, pastilah dia masuk surga”.

(HR. Bukhariy dan Muslim)

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

‎الرَّحِمُ مُعَلَّقَةٌ بِالْعَرْشِ تَقُولُ مَنْ وَصَلَنِي وَصَلَهُ اللَّهُ وَمَنْ قَطَعَنِي قَطَعَهُ اللَّهُ

“Ar-rahim itu tergantung di Arsy. Ia berkata: “Barang siapa yang menyambungku, maka Allah akan menyambungnya. Dan barang siapa yang memutusku, maka Allah akan memutus hubungan dengannya”.

[Muttafaqun ‘alaihi].

Beliau juga bersabda:

‎مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ أَوْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

“Barang siapa yang ingin dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi”

[Muttafaqun ‘alaihi].

Beliau juga bersabda:

‎لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَاطِعٌ

“Tidaklah masuk surga orang yang suka memutus (tali silaturrahim)”.

[Mutafaqun ‘alaihi].

Berkata Syaikh ibnul ‘Utsaimin:

“Memutus tali silaturrahim yang paling besar, yaitu memutus hubungan dengan orang tua, kemudian dengan kerabat terdekat, dan kerabat terdekat selanjutnya. Oleh karena itu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

‎أَلَا أُنَبِّئُكُمْ بِأَكْبَرِ الْكَبَائِرِ

”Maukah kalian aku beritahu tentang dosa terbesar di antara dosa-dosa besar?” Beliau mengulangi pertanyaannya sebanyak tiga kali.

Maka para sahabat menjawab: ”Mau, ya Rasulullah,”

Nabi bersabda:

‎الْإِشْرَاكُ بِاللَّهِ وَعُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ

”Berbuat syirik kepada Allah dan durhaka kepada kedua orang tua”.

(HR. Bukhariy)

Demikianlah, betapa besar dosa seseorang yang durhaka kepada orang tua. Dosa itu disebutkan setelah dosa syirik kepada Allah Ta’ala. Termasuk perbuatan durhaka kepada kedua orang tua, yaitu tidak mau berbuat baik kepada keduanya. Lebih parah lagi jika disertai dengan menyakiti dan memusuhi keduanya, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Dalam shahîhain, dari ‘Abdullah bin ‘Amr, sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

‎مِنَ الْكَبَائِرِ شَتْمُ الرَّجُلِ وَالِدَيْهِ

”Termasuk perbuatan dosa besar, yaitu seseorang yang menghina orang tuanya,”

Maka para sahabat bertanya: ”Wahai Rasulullah, adakah orang yang menghina kedua orang tuanya sendiri?”

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

‎نَعَمْ يَسُبُّ أَبَا الرَّجُلِ فَيَسُبُّ أَبَاهُ وَيَسُبُّ أُمَّهُ فَيَسُبُّ أُمَّهُ

”Ya, seseorang menghina bapak orang lain, lalu orang lain ini membalas menghina bapaknya. Dan seseorang menghina ibu orang lain, lalu orang lain ini membalas dengan menghina ibunya”.

Wahai orang-orang yang mengaku beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Bertakwalah kepada Allah Azza wa Jalla. Dan marilah kita melihat diri kita masing-masing, sanak keluarga kita! Sudahkah kita menunaikan kewajiban atas mereka dengan menyambung tali silaturahmi? Sudahkah kita berlemah lembut terhadap mereka? Sudahkah kita tersenyum tatkala bertemu dengan mereka? Sudahkah kita mengunjungi mereka? Sudahkah kita mencintai, memuliakan, menghormati, saling menunjungi saat sehat, saling menjenguk ketika sakit? Sudahkah kita membantu memenuhi atau sekedar meringankan yang mereka butuhkan?

Ada sebagian orang tidak suka melihat kedua orang tuanya yang dulu pernah merawatnya kecuali dengan pandangan yang menghinakan. Dia memuliakan istrinya, tetapi melecehkan ibunya. Dia berusaha mendekati teman-temannya, akan tetapi menjahui bapaknya. Apabila duduk dengan kedua orang tuanya, maka seolah-olah ia sedang duduk di atas bara api. Dia berat apabila harus bersama kedua orang tuanya. Meski hanya sesaat bersama orang tua, tetapi ia merasa begitu lama. Dia bertutur kata dengan keduanya, kecuali dengan rasa berat dan malas. Sungguh jika perbuatannya demikian, berarti ia telah mengharamkan bagi dirinya kenikmatan berbakti kepada kedua orang tua dan balasannya yang terpuji.

Ada pula manusia yang tidak mau memandang dan menganggap sanak kerabatanya sebagai keluarga. Dia tidak mau bergaul dengan karib kerabat dengan sikap yang sepantasnya diberikan sebagai keluarga. Dia tidak mau bertegus sapa dan melakukan perbuatan yang bisa menjalin hubungan silaturahmi. Begitu pula, ia tidak mau menggunakan hartanya untuk hal itu. Sehingga ia dalam keadaan serba kecukupan, sedangkan sanak keluarganya dalam keadaan kekurangan. Dia tidak mau menyambung hubungan dengan mereka. Padahal, terkadang sanak keluarga itu termasuk orang-orang yang wajib ia nafkahi karena ketidakmampuannya dalam berusaha, sedangkan ia mampu untuk menafkahinya. Akan tetapi, tetap saja ia tidak mau menafkahinya.

Para ahlul-‘ilmi telah berkata, setiap orang yang mempunyai hubungan waris dengan orang lain, maka ia wajib untuk memberi nafkah kepada mereka apabila orang lain itu membutuhkan atau lemah dalam mencari penghasilan, sedangkan ia dalam keadaan mampu. Yaitu sebagaimana yang dilakukan seorang ayah untuk memberikan nafkah. Maka barang siapa yang bakhil maka ia berdosa dan akan dihisab pada hari Kiamat.

Oleh karena itu, tetap sambungkanlah tali silaturahmi. Berhati-hatilah dari memutuskannya. Masing-masing kita akan datang menghadap Allah dengan membawa pahala bagi orang yang menyambung tali silaturahmi. Atau ia menghadap dengan membawa dosa bagi orang yang memutus tali silaturahmi. Marilah kita memohon ampun kepada Allah Ta’ala, karena sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

[Diadaptasi oleh Ustadz Abu Sauda` Eko Mas`uri, dari ad-Dhiyâ-ul Lâmi’, Syaikh Muhammad bin Shâlih al-‘Utsaimîn, hlm. 505-508]

Siapakah orang yang benar-benar menyambung silaturrahim?

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

‎لَيْسَ الْوَاصِلُ بِالْمُكَافِئِ وَلَكِنْ الْوَاصِلُ الَّذِي إِذَا قُطِعَتْ رَحِمُهُ وَصَلَهَا

“Orang yang (–benar-benar–) menyambung silaturahmi itu, bukanlah yang menyambung hubungan yang sudah terjalin, akan tetapi orang yang (–benar-benar–) menyambung silaturahmi ialah orang yang menjalin kembali hubungan kekerabatan yang sudah terputus”.

[Muttafaqun ‘alaihi].

Telah datang seorang lelaki kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata:

“Wahai Rasulullah, aku mempunyai kerabat. Aku menyambung hubungan dengan mereka, akan tetapi mereka memutuskanku. Aku berbuat baik kepada mereka, akan tetapi mereka berbuat buruk terhadapku. Aku berlemah lembut kepada mereka, akan tetapi mereka kasar terhadapku,”

Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

‎لَئِنْ كُنْتَ كَمَا قُلْتَ فَكَأَنَّمَا تُسِفُّهُمْ الْمَلَّ وَلَا يَزَالُ مَعَكَ مِنَ اللَّهِ ظَهِيرٌ عَلَيْهِمْ مَا دُمْتَ عَلَى ذَلِكَ

“Apabila engkau benar demikian, maka seakan engkau menyuapi mereka pasir panas, dan Allah akan senantiasa tetap menjadi penolongmu selama engkau berbuat demikan.”

[Muttafaq ‘alaihi].

Apa batas minimal dalam menyambung silaturrahim?

Ibnu Abbas Radhiyallahu’anhu meriwayatkan, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda,

‎بَلُوْا أَرحَامَكُمْ وَلَوْ بِالسَّلاَمِ

Artinya: “Sambunglah keluargamu meskipun dengan salam.”

[Riwayat Al Bazzar, Ath Thabrani dan Al Baihaqi. Berkata Al Munawi dalam Faidhul Qadir, “Berkata Al-Bukhari,’Semua jalannya dha’if, akan tetapi saling menguatkan (3/207)’.” Al Albani menghasankannya dalam Shahihul Jami’ no. 2838; dari website ustadz khalid]

Sumber

– Betapa Penting Menyambung Silaturahmi, Diadaptasi oleh Ustadz Abu Sauda` Eko Mas`uri, dari ad-Dhiyâ-ul Lâmi’, Syaikh Muhammad bin Shâlih al-‘Utsaimîn rahimahullah, hlm. 505-508, dari almanhaj.or.id

Indahnya silaturrahim

– Keutamaan silaturahmi, oleh: Ustadz Khalid Syamhudi hafizhahullahu ta’ala

– Memahami silaturahmi, oleh: Ustadz Aris Munandar Hafizhahullahu ta’ala

Iklan

2 Komentar

Filed under Akhlak

2 responses to “Tentang silaturrahim

  1. Estianti

    says menyadari pentingnya menjaga silaturahmi dng kerabat dekat, namun apabila kerabat dekat tersebut sering menghina & menggunjingkan orang tua saya di belakang kami, bahkan tidak menganggap orang tua saya sebagai kerabat, apakah saya tetap perlu menjaga silaturahmi? says menerima kabar tersebut melalui sumber yang bisa dipercaya & sudah saya pastikan bahwa itu bukan sekedar fitnah. perlu saya tambahkan bahwa orang tua saya merasa tersinggung terhadap perlakuan dari para kerabat tersebut.

    • Hendaknya tetap terus shilaturrahim dengan mereka dengan terus menasehati mereka, agar semoga mereka kembali ke jalan yang benar.

      1. Karena Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam tetap memerintahkan untuk menolong saudara kita, termasuk menolong yang zhalim; agar semoga dia berhenti dari kezhalimannya.

      انْصُرْ أَخَاكَ ظَالِمًا أَوْ مَظْلُومًا

      “Tolonglah saudaramu baik dalam keadaan menganiaya atau dianiaya!”

      Seseorang bertanya: “Wahai Rasulullah, aku menolongnya jika ia dianiaya. Maka menurut engkau bagaimana aku menolongnya jika ia berbuat aniaya?”

      Maka beliau menjawab:

      تَحْجُزُهُ أَوْ تَمْنَعُهُ مِنْ الظُّلْمِ فَإِنَّ ذَلِكَ نَصْرُهُ

      “Kamu halangi dan kamu cegah ia dari perbuatan aniaya. Maka itu adalah menolongnya.”

      (HR. Al-Bukhaariy, At-Tirmidzi, Ahmad, dan selainnya).

      Juga sabda beliau:

      المُسلِمُ أَخو المُسلم، لاَ يَظلِمهُ، وَلاَ يَخذُلُهُ

      “Seorang muslim saudara bagi muslim yang lain, (maka) janganlah menzhaliminya, jangan pula menelantarkannya…”

      (HR. al-Bukhariy, Muslim dan selainnya)

      2. Justru dengan terus menyambung shilaturrahim dengan mereka dan terus menasehati mereka, merupakan ladang amal bagi kita…

      Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

      ‎لَيْسَ الْوَاصِلُ بِالْمُكَافِئِ وَلَكِنْ الْوَاصِلُ الَّذِي إِذَا قُطِعَتْ رَحِمُهُ وَصَلَهَا

      “Orang yang (–benar-benar–) menyambung silaturahmi itu, bukanlah yang menyambung hubungan yang sudah terjalin, akan tetapi orang yang (–benar-benar–) menyambung silaturahmi ialah orang yang menjalin kembali hubungan kekerabatan yang sudah terputus”.

      [Muttafaqun ‘alaihi].

      Juga sebagaimana dengan hadits yang disebukan diatas:

      “Telah datang seorang lelaki kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata:

      “Wahai Rasulullah, aku mempunyai kerabat. Aku menyambung hubungan dengan mereka, akan tetapi mereka memutuskanku. Aku berbuat baik kepada mereka, akan tetapi mereka berbuat buruk terhadapku. Aku berlemah lembut kepada mereka, akan tetapi mereka kasar terhadapku,”

      Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

      ‎لَئِنْ كُنْتَ كَمَا قُلْتَ فَكَأَنَّمَا تُسِفُّهُمْ الْمَلَّ وَلَا يَزَالُ مَعَكَ مِنَ اللَّهِ ظَهِيرٌ عَلَيْهِمْ مَا دُمْتَ عَلَى ذَلِكَ

      “Apabila engkau benar demikian, maka seakan engkau menyuapi mereka pasir panas, dan Allah akan senantiasa tetap menjadi penolongmu selama engkau berbuat demikan.”

      Maka semoga kita terus dalam pertolongan Allaah dengan tetap menjalin shilaturrahim dengan mereka, dengan terus menasehati mereka…

      Jangan pernah putus asa dengan hidayah Allaah atas mereka

      (https://abuzuhriy.wordpress.com/2012/09/07/larangan-berputus-asa-dari-rahmat-allah/)

      Adapun perbuatan buruk mereka, maka sikapi dengan sikap terbaik; karena inipun merupakan bagian dari taqdir Allaah atas kita (melalui mereka)

      [Simak: https://abuzuhriy.wordpress.com/2014/01/27/dua-jenis-kesabaran-terhadap-ktentuan-allah/%5D

      Harapkanlah pahala dari Allaah atas shilaturrahmi kita pada mereka, dan nasehat-menasehati kita kepada mereka… Kalau kita mengharap pahala Allaah, maka tentu kita akan terus menerus melakukan hal yang berpahala ini, karena hakekatnya kita beribadah dan terus memperbanyak bekal kita untuk aakhirat. Bisa saja hal ini menjadi sebab kita dimasukkan Allaah kedalam surga.

      Semoga bermanfaat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s