Diantara pengaruh dosa dan maksiat

Sufyan Ats-Tsauri brkata: “Aku tidak bisa sholat malam lima bulan lamanya hanya lantaran satu dosa yang kulakukan.” Dikatakan kepadany, “Dosa apakah itu ?” Beliau menjawab, “Aku pernah melihat seorang lelaki menangis, lalu aku membatin dalam hati, “Ini adalah karena riya”….

Faidah:

1. Begitu perhatiannya salafush shalih dalam mencari-cari aib DIRINYA

2. Amat jelek pengaruh dosa dan maksiat dalam diri seseorang..

3. Menuduh riya merupakan perbuatan yang jelek; karena tuduhan ini tidak berdasar. apakah para penuduh itu sudah membedah hati seseorang sehingga ia benar-benar tahu bahwa orang yang dituduhnya riya tersebut benar-benar riya?

4. Yang dilakukan sufyan ats tsauriy pun tergolong “ringan” karena “hanya” su’uzhan, dan beliau pun TIDAK MENGATAKAN prasangka buruk tersebut dengan lisannya!! jika su’uzhan yang hanya bersemayam dalam hati saja sudah sedemikian parah pengaruhnya, bagaimana lagi jika hal tersebut diucapkan? atau bahkan disebarkan ke tengah-tengah manusia?!

5. Tidak boleh kita berprasangka buruk kepada orang-orang yang nampak kebaikan dalam dirinya. tidak boleh kita menuduhnya dengna tuduhan yang keji, kecuali memiliki BUKTI YANG JELAS dan saksi-saksi.. karena ini termasuk KEHORMATAN seorang MUKMIN yang harus dijaga, tidak boleh kita merusaknya dengan lisan-lisan kita yang KOTOR, tanpa adanya bukti dan tanpa ada kebenaran sama sekali.. sungguh jelek ucapan demikian

6. Maka hendaknya kita berusaha berprasangka baik kepada sesama muslim yang menampakkan kebaikan, atau yang pada dirinya secara zhahirnya adalah orang-orang yang baik…

TIDAK BOLEH kita mengira-ngira apa isi hatinya, karena membedah hati, bukan urusan kita; dan membedah hati bukanlah termasuk syari’at Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam, karena beliau bersabda:

…إِنِّيْ لَمْ أُوْمَرْ ، أَنْ أُنَقِّبَ عَلَى قُلُوْبِ النَّاسِ ، وَلاَ أَشُقَّ بُطُوْنَهُمْ…

“Sesungguhnya aku tidak diperintah untuk menyelidiki (memeriksa) hati mereka dan tidak pula untuk membedah perut mereka”.

[HR Bukhari no. 4351, Muslim no. 1064 (144) dan Ahmad (III/4-5) dari Abu Said al Khudri Radhiyallahu ‘anhu].

Jika beliau tidak diperintahkan demikian, maka mengapa kita malah melakukan apa yang tidak diperintahkan Allah, dan tidak pula diperintahkan Rasul?!

– Jelas ini menyelisihi perintah Allah, dan menyelisihi sunnah Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa salalm.

– Mengapa kita mendahului Allah dan Rasul? Padahal Allah berfirman: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ (Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasulnya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. [Al-Hujuraat: 1])

Semoga kita dapat menjaga hati-hati kita dari segala penyakit yang jelek.. dan semoga kita dapat menjaga lisan kita dari segala perkataan yang jelek..

Aamiin

Tinggalkan komentar

Filed under Tazkiyatun Nufus

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s