Jangan sampai engkau melalaikan atau bahkan meninggalkan perkara wajib hanya karena perkara sunnah!

Amalan WAJIB itu LEBIH UTAMA dan LEBIH BANYAK KEUTAMAANnya dibandingkan amalan Fardhu kifayah ataupun sunnah muakkadah. Meninggalkannya pun brknsekuensi DOSA, tidak seperti fardhu kifayah (yang jika tlh ada yng mngamalkannya, maka tidak wajib bagi yng lain), tidak pula sunnah muakkadah (yng tdk berakibat dosa). Maka tidak boleh seseorang sibuk dengan yang sunnah atau fardhu kifayah SEHINGGA meninggalkan AMALAN WAJIB.

Abu Hurairah meriwayatkan, ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ قَالَ مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ

“Sesungguhnya Allah berfirman: ‘Barangsiapa yang memusuhi waliKu, maka Aku telah mengobarkan peperangan dengannya. Dan tidaklah ada seorang hambaKu yang mendekatkan dirinya kepada-Ku, dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada amalan yang Aku wajibkan kepadanya…’

[HR. Bukhari no: 6502]

Abu Bakar pernah berwasiat kepada ‘Umar dengan mengatakan:

وَأنَّهُ لاَ يَـقـْـبَلُ نَافِلَةً حَتَّى تُؤَدَّى الْفَريِْضَة

“Sesungguhnya Allah tidak akan menerima ibadah sunnah kecuali apabila amalan ibadah yang wajib telah ditunaikan”

[Diriwayatkan Abu Nu’aim dalam Al Hilyah : 1/36].

Ibnu Taimiyah menegaskan pula:

“Oleh karena itu, wajib bertaqarrub kepada Allah dengan amalan-amalan yang wajib sebelum menjalankan amalan yang sunnah. Mendekatkan diri kepada Allah dengan amalan yang sunnah terhitung sebagai ibadah jika amalan yang wajib sudah dikerjakan”

[Majmu’ Al Fatawa : 17/133].

Ibnu Hajar berkata:

“Dapat disimpulkan dari hadits tersebut, bahwa melaksanakan amalan yang wajib merupakan tindakan yang paling dicintai oleh Allah”

[Fathul Bari : 11/343].

Al Hafizh Ibnu Hajar juga menukil dari sebagian ulama besar zaman dahulu, mereka menetapkan :

مَنْ شَغَلَهُ الْفَرْضُ عَنِ النَّفْلِ فَهُوَ مَعْذُورٌ وَ مَنْ شَغَلَهُ النَّفْلُ عَنِ الْفَرْضِِ فَهُوَ مَغْرُورٌ

“Barangsiapa disibukkan dengan perkara wajib sehingga melupakan perkara sunnah, maka ia termaafkan. Barangsiapa disibukkan dengan perkara sunnah sehingga perkara wajib terbengkalai, maka ia adalah orang yang tertipu”

[Fathul Bari : 11/442]

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 09/Tahun IX/1426H/2005M; http://almanhaj.or.id/content/2875/slash/0%5D

PERLU DIPERHATIKAN, hal ini BUKANLAH untuk meremehkan amalan sunnah muakkadah, hanya saja menyadarkan seseorang untuk BERILMU akan sesuatu yang diWAJIBkan baginya, sehingga ia bisa MENGETAHUINYA dan MENGAMALKANNYA dan TIDAK MENINGGALKANNYA karena sibuk dengan perkara yang sunnah muakkadah.

1 Komentar

Filed under Amal

One response to “Jangan sampai engkau melalaikan atau bahkan meninggalkan perkara wajib hanya karena perkara sunnah!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s