Perintah Allah agar hambanya TUNDUK dan KHUSYU kepadaNya

Hendaknya hati seseorang TUNDUK dan KHUSYU’ ketika berdzikir kepada Allah, dan ketika ia mendengarkan wasiat-wasiatNya (melalui firmanNya maupun melalui sabda RasulNya), yang dengannya mereka BERUSAHA memahami dengan benar, dan mentaatinya dengan penuh ketundukan dan kekhusyu’an!

Karena Allah berfirman:

أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَن تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ

Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka)?!

(al Hadid 57:16)

Kemudian dalam ayat yang sama ALLAH MELARANG kaum muslimin MENYERUPAI AHLUL KITAB dengan firmanNya:

وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِن قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَكَثِيرٌ مِّنْهُمْ فَاسِقُونَ

dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasiq.

(Al-Hadid 57:16)

Ibnu Katsir menjelaskan:

Allah melarang kaum mukminin untuk menyerupai orang-orang sebelum mereka yang telah diberi kitab, dari kalangan Yahudi dan Nashraniy. Dimana beberapa waktu berlalu, mereka merubah kitab Allah yang berada ditangan mereka dan menjualnya dengna harga yang sangat murah serta melemparkannya dibelakng punggung mereka.

Selanjutnya, mereka mneghadapkan diri pada PENDAPAT-PENDAPAT yang sangat beragam dan membingungkan. MEREKA BERTAQLID kepada beberapa orang dalam urusan agama Allah, DAN MEREKA MENJADIKAN PARA PENDETA DAN PEMUKA AGAMA MEREKA ILAH-ILAH (SESEMBAHAN-SESEMBAHAN) SELAIN ALLAH.

Pada saat itulah, hati mereka mengeras, sehingga mereka TIDAK MAU MENERIMA NASEHAT. Hati mereka pun tidak mau melunak dengan janji dan juga ancaman Allah.

Allah berfirman:

وَكَثِيرٌ مِّنْهُمْ فَاسِقُونَ

Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasiq.

Yakni, dalam amal perbuatan mereka. Dengan demikian, hati mereka telah menjadi rusak dan amalan mereka semuanya pun tidak berarti. Dengan kata lain, hati mereka telah rusak hingga mengeras dan jadilah watak mereka SUKA MERUBAH UCAPAN DARI PROPORSINYA. Dan mereka MENINGGALKAN amal perbuatan yang telah diperintahkan dan malah MENGERJAKAN apa yang dilarang olehNya.

Oleh karens itu, ALLAH MELARANG orang-orang mukmin untuk menyerupai mereka dalam suatu hal, baik dalam masalah-masalah ushul (pokok) maupun furu’ (cabang)

[tafsir ibnu katsir]

Lantas bagaimana dengan kita?

Lantas bagaimanakah dengan kita? yaitu orang-orang SUDAH MENGENAL KEBENARAN, yang sudah ngaji bertahun-tahun? adakah EFEK dari pengajian-pengajian yang kita hadiri dalam hati kita? apakah itu semua MENDATANGKAN KEKHUSYU’AN dan KETUNDUKAN?! ataukah TIDAK MENDATANGAKAN EFEK SAMA SEKALI? ataukah MALAH BERTAMBAH BURUK daripada keadaan kita sebelumnya?

Maka hendaknya ini menjadi BAHAN RENUNGAN orang-orang yang udah ngaji…

Bagaimanakah keadaan kita KETIKA MEMBACA al qur-aan atau hadits-hadits Rasulullah?

bagaimanakah keadaan kita, KETIKA DIBACAKAN/DIPERDENGARKAN ayat-ayat al qur-aan atau hadits-hadits Rasulullah?

Bagaimanakah sikap kita dalam MENYIKAPInya? apakah kita TUNDUK PATUH dan TAAT ketika mendapatkan perintah dan laranganNya? ATAUKAH MALAH MENDAHULUKAN AKAL DAN PERASAAN yang mengikuti HAWA NAFSU?!

Apakah kita TAWADHU’ kepada KEBENARAN walaupun datang dari ORANG YANG LEBIH SEDIKIT ILMUNYA DARI KITA? atau bahkan dari ORANG AWWAM? atau bahkan dari ANAK KECIL? atau bahkan dari AHLUL BID’AH? atau bahkan dari ORANG KAFIR?

Apakah kita MENEMPATKAN posisi ulama-ulama kita ditempat yang semestinya? DENGAN TIDAK BERTAQLID BUTA kepadanya?! mengKULTUSkannya dan menetapkan wala dan bara berdasarkan ulama tersebut?!

Maka manakah EFEK dari pengajian-pengajian yang kita telah hadiri? maka janganlah kita seperti ahlul kitab:

فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَكَثِيرٌ مِّنْهُمْ فَاسِقُونَ

Kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasiq.

Semakin lama ngaji, semakin keras hati.. semakin angkuh, semakin kasar, semakin yang buruk-buruk… itu semua karena kefasiqan kita, MENUNTUT ILMU bukan dengan niat yang benar… menuntut ilmu bukan untuk diamalkan ilmunya.. menuntut ilmu hanya untuk mendebat orang lain, menyombongkan diri, dsb.. maka hendaknya kita meluruskan niat-niat kita, karena itu akan mempengaruhi amalan-amalan kita…

Semoga Allah mengkaruniakan kita niat yang ikhlash dan amalan yang shalih.. aamiiin

Tinggalkan komentar

Filed under Dzikir

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s