Janganlah biasakan ASAL COMOT ayat/hadits/atsar/fatwa !!!

Sudah menjadi kebiasaan orang-orang yang memiliki PENYAKIT didalam hatinya, adalah MENCARI-CARI DALIL untuk MEMBENARKAN apa yang sejalan dengan hawa nafsunya. Maka ketahuilah! membawakan perkataan yang UMUM, kemudian dibawa kepada perkara yang KHUSUS adalah ciri dari seorang yang MENYIMPANG. Maka berhati-hatilah dengannya!

Karena Allah Ta’ala berfirman,

هُوَ الَّذِي أَنزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُّحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ

“Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepada kamu. Di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat, itulah pokok-pokok isi Al qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat.

فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّهُ

Adapun orang-orang yang dalam HATINYA CONDONG KEPADA KESESATAN, maka mereka MENGIKUTI sebahagian ayat-ayat yang MUTASYAABIHAAT UNTUK MENIMBULKAN FITNAH UNTUK MENCARI-CARI TA’WILNYA, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah.

وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِّنْ عِندِ رَبِّنَا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ

Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Rabb kami.” Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal.”

(QS. Ali Imron: 7)

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah membaca surat Ali Imron ayat 7 di atas, lalu ‘Aisyah mengatakan bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا رَأَيْتُمُ الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ فَأُولَئِكَ الَّذِينَ سَمَّى اللَّهُ فَاحْذَرُوهُمْ

“Jika kalian melihat orang-orang yang sering mengikuti ayat-ayat yang mutasyabih (yang masih samar), maka merekalah yang Allah sebut (dalam surat Ali Imron ayat 7). Oleh karenanya, Waspadalah terhadap mereka.”

(HR. Muslim no. 2665)

Ibnu Katsir menafsirkan ayat diatas

“Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, yaitu keluar dari kebenaran menuju pada kebatilan, maka mereka mengikuti ayat yang masih mutasyabih (masih samar).

Mereka mengambil ayat mutasyabih tersebut yang mampu mereka selewengkan sesuai maksud mereka yang keliru dan dijadikan sebagai pembela mereka karena makna yang masih bisa diselewengkan sesuka mereka.

Adapun ayat-ayat yang muhkam (yang sudah jelas maknanya), seperti itu tidak dijadikan rujukan mereka. Mereka tidak mau berpegang pada ayat yang muhkam karena itu bisa menyangkal dan menjatuhkan pendapat mereka sendiri. ”

(Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 3/9; dinukil darisini: http://www.rumaysho.com/belajar-islam/aqidah/2900-menyanggah-buku-ternyata-akhirat-tidak-kekal.html)

Contoh Kasus Asal Comot

1. Seseorang yang ASAL COMOT AYAT UMUM, kemudian ia membawa ayat yang umum tersebut kepada PERKARA KHUSUS.

Seperti orang-orang yang membawakan ayat:

وَمَن لَّمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُوْنَ

“Barangsiapa yang tidak berhukum dengan apa yang diturunkan oleh Allah maka mereka itulah orang-orang yang kafir.”

(Al-Maidah: 44)

Kemudian ia membawanya kepada PERKARA YANG KHUSUS, ia berkata: “maka PENGUASA yang tidak berhukum dengan hukum Allah, maka ia kafir dan thaghut!”

Padahal ayat tersebut UMUM, bukan hanya untuk penguasa saja, TAPI untuk SETIAP MANUSIA. maka SETIAP MANUSIA wajib menegakkan hukum Allah pada dirinya dan keluarganya. bukan hanya penguasa, kepada negaranya.

dan kata “kafir” disini, TIDAK MUTLAK kufrun akbar, tapi juga bermakna kufrun ASHGHAR, bahkan HUKUM ASAL ayat ini adalah KUFUR ASHGHAR, yang dirinci perkaranya.

(lihat bantahan terhadap mereka disini: http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150159372727077 atau dsini: http://abuzuhriy.com/?p=2833)

2. Seseorang yang ASAL COMOT HADITS UMUM, kemudian ia membawakan hadits yang UMUM tersebut, kepada perkara yang KHUSUS.

Seperti orang-orang yang membawakan hadits:

مَنْ مَاتَ بِغَيْرِ إِمَامٍ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً

“Barang siapa yang mati sedang ia tidak memiliki imam maka matinya dalam keadaan jahiliyyah.”

(HR. Ahmad, dihasankan oleh Syaikh Muqbil)

Kemudian, mereka membawakan hadits diatas kepada JAMA’AHnya. dengan memaknai hadits diatas, “barangsiapa yang tidak membai’at IMAM JAMA’AHku, maka ia mati dalam keadaan jahiliyyah.

Padahal maksud ayat ini tidaklah demikian, maksud ayat ini, sebagaimana dijelaskan para ulamaa’, adalah seseorang yang mati yang ia BERLEPAS DIRI dari penguasa dinegerinya, dengan tidak membai’atnya (taat dan patuh dalam perkara ma’ruf), kemudian ia mati dalam kondisi demikian, maka ia mati seperti bangkai jahiliyyah. bangkai jahiliyyah maknanya BERDOSA BESAR, bukan mati dalam keadaan kafir.

(baca disini: http://abuzuhriy.com/?p=2688)

3. Seorang yang ASAL COMOT ATSAR (perkataaan salafush shalih) UMUM, kemudian ia membawakan ATSAR UMUM tersebut, kepada PERKARA YANG KHUSUS.

Seperti orang-orang yang membawakan perkataan:

من لم يكفر الكافر فهو كافر

Barangsiapa yang tidak mengkafirkan orang-orang kafir, maka ia kafir

Kemudian mereka mengatakan, “maka barangsiapa, yang tidak mengkafirkan orang-orang yang AKU KAFIRKAN, maka ia kafir”

Mereka mengkafirkan SECARA SERAMPANGAN, kemudian mereka pun juga menghukumi kaafir, orang-orang yang tidak mengkafirkan orang-orang yang mereka ANGGAP kaafir.

Lantas ini pun diikuti oleh sebagian GHULAT kaum muslimin lainnya, dalam perkara BID’AH. Mereka berpemahaman:

من لم يبدع المبتدع فهو مبتدع

Barangsiapa yang tidak meng-ahlul bid’ah-kan ahlul bid’ah, maka ia adalah ahlul bid’ah.

Sehingga mereka pun membawakan atsar, dari ibnu ‘aun

الذي يجالس أهل البدع أشد علينا من أهل البدع

“Orang yang bermajelis dengan ahlul bida’ itu lebih buruk bagi kami daripada ahlul bida’.”

Sehingga orang-orang yang bermajelis dengan orang-orang yang mereka ANGGAP “ahlul bid’ah”, mereka sikapi LEBIH KERAS, dan LEBIH KASAR daripada ahlul bid’ah yang sudah jelas-jelas kebid’ahannya.

Inna lilaahi wa inna ilayhi raaji’uun!!

Demikianlah ketika telah terbutakan dengan FANATISME, ASHABIYYAH, dan MENGIKUTI HAWA NAFSU. maka jadilah ia membenci orang-orang yang tidak sejalan denganya, walaupun orang-orang yang tidak sejalan dengannya juga memiliki dasar yang kuat yang juga dalam perkara ini perkara yang memang memiliki KELUASAN dan KELAPANGAN.

Semua ini akbiat JELEKNYA NIAT, atau JELEKNYA PEMAHAMAN seseorang terhadap perkara ini. jika seseorang memahami perkara ini dengan benar, namun SENGAJA DITERAPKAN secara SERAMPANGAN, maka ia telah teracuni VIRUS HASAD, diakibatkan NIATNYA yang RUSAK dalam menuntut ilmu. jika seseorang SALAH PAHAM dalam perkara ini, sehingga ia bertindak bodoh, maka ia telah menyelisihi pemahaman salafush shalih DALAM PERKARA INI, karena ia telah BERPEMAHAMAN TANPA ILMU, BERKATA TANPA ILMU, dan BERAMAL TANPA ILMU.

Maka hendaknya kita senantiasa MELURUSKAN NIAT dan PEMAHAMAN KITA. menjadikan niat kita IKHLASH, dan meluruskan pemahmaan kita agar SESUAI dengan pemahaman salafush shalih (sehingga kita BENAR dalam mengamalkannya)

Semoga Allah memberikan kita KEIKHLASHAN NIAT, dan KELURUSAN PEMAHAMAN. aamiiin

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Al-Bid'ah, Manhaj, Manhaj Ahlul-Bid'ah wal Furqåh, Ushul Ahlul-Bid'ah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s