Sedikit pelajaran tentang hadits “badui kencing di mesjid”

dari Anas Bin Malik berkata,

“Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam sedang duduk di masjid dengan para sahabatnya. Tiba-tiba datang orang badui dan kencing di masjid.

Para sahabat nabi berujar,

مَهْ مَهْ

“Tahan, tahan!”

(Dalam riwayat bukhariy disebutkan: lalu orang-orang mengusirnya)

Lalu Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda kepada para shahabatnya:

لَا تُزْرِمُوهُ دَعُوهُ فَتَرَكُوهُ حَتَّى بَالَ

“Janganlah kalian menghentikan kencingnya, biarkanlah dia hingga dia selesai kencing.”

Kemudian Nabi bersabda kepada orang badui:

إِنَّ هَذِهِ الْمَسَاجِدَ لَا تَصْلُحُ لِشَيْءٍ مِنْ هَذَا الْبَوْلِ وَلَا الْقَذَرِ

“Masjid ini, tidak seyogianya dikotori dengan kotoran, kencing dan air besar”

إِنَّمَا هِيَ لِذِكْرِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَالصَّلَاةِ وَقِرَاءَةِ الْقُرْآنِ

“Hanyasanya masjid diperuntukkan untuk dzikir kepada Allah, membaca al qur-aan dan shalat”. (dikatakan perawi -atau sebagaimana yang disabdakan nabi)

Kemudian Nabi bersabda kepada salah seorang shahabatnya:

قُمْ فَأْتِنَا بِدَلْوٍ مِنْ مَاءٍ فَشُنَّهُ عَلَيْهِ

“Berdirilah, ambilkan seember air dan guyurlah kencing tersebut”

Maka shahabat tersebut melaksanakannya. Kemudian Nabi bersabda kepada para shahabat:

فَإِنَّمَا بُعِثْتُمْ مُيَسِّرِينَ وَلَمْ تُبْعَثُوا مُعَسِّرِينَ

“sesungguhnya kalian diutus untuk memberi kemudahan dan tidak diutus untuk membuat kesulitan.”

(HR. Ahmad, Bukhariy, Muslim dan selainnya)

Pelajaran hadits

1. KETAWADHU’AN Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam.

Anas berkata, “Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam sedang duduk di masjid dengan para sahabatnya”

Inilah salah satu bukti ketawadhu’an beliau; kita tahu betapa tingginya kedudukan beliau, yaitu sebagai Rasul. betapa tingginya nasab beliau.. namun tidak menghalangi beliau duduk bersama para shahabatnya. namun sayang, terkadang kita -bahkan belum jadi ulama, bahkan bukan ustadz- duduk dengan orang awwam merasa gengsi. atau seorang atas duduk-duduk dengna bawahannya merasa gengsi. engkau atasan di perusahaanmu, apakah engkau akan membawa statusmu didalam rumah Allah?! inilah akhlak beliau yang sangat mulia yang hendak kita teladani..

2. Terkadang seseorang berbuat dosa besar atau bahkan kekufuran/kesyirikan karena ketidaktahuannya akan dosa tersebut.

Anas berkata, “tiba-tiba datang orang badui dan kencing di masjid.”

Subhanallaah.. kalau orang perkotaan -yang mengenal adab- yang melakukannya tentulah ini bisa menyebabkan kekufuran karena sebagai pelecehan terhadap rumah Allah.

Namun lihatlah SIAPA yang melakukannya! APA LATAR BELAKANG ILMUNYA?! APA KEBIASAAN SUKUNYA? dst.

Apakah nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam dan para shahabatnya langsung berkata, “wahai kaafir, keluar kamu dari mesjid! kamu ini melecehkan rumah Allah!”

TIDAK. bahkan para shahabat hanya berkata “tahan! tahan!” ketika badui itu tetap kencing, sebagiannya mencelanya sebagian lain ingin mengusirnya dari mesjid.

Tidak ada vonis kafir dari para shahabat, karena mereka tahu yang berbuat demikian adalah orang BADUI, orang yang jauh dari ilmu, orang pedesaan yang tidak mengerti adab.

Tidakkah kalian wahai takfiri mengambil pelajaran dari hadits ini?!

3. Wajibnya mengingkari kemungkaran dengan segera, apakah itu dengan tangan, atau dengan lisan atau dengan hati.

Para sahabat nabi berujar,

مَهْ مَهْ

“Tahan, tahan!”

Hal ini adalah sebab kecintaan mereka terhadap kebenaran, sehingga ketika melihat/mendengar sesuatu yang baathil maka mereka mengingkarinya. dan juga sebagai bukti keimanan.

Råsulullåh shållallåhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ

Barangsiapa di antara kamu melihat kemungkaran hendaklah ia mencegah kemungkaran itu dengan tangannya.

فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ

jika tidak mampu, hendaklah mencegahnya dengan lisan.

فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ

“jika tidak mampu juga, hendaklah ia mencegahnya dengan hatinya. Itulah selemah-lemah iman.”

(HR. Muslim no. 49)

Dalam riwayat lain,

ليس وراء ذلك من الإيمان حبة خردل

“Tidak ada sesudah itu (mengingkari dengan hati) keimanan sebesar biji sawi (sedikitpun)”

Jika seseorang memiliki kekuasaan untuk mengingkari dengan tangan, maka wajib baginya untuk mengingkari dengan tangannya, seperti para penguasa terhadap rakyatnya, atau pihak yang berwenang terhadap orang-orang yang melanggar peraturan.

Mengingkari dengan tangan pun tidak mutlak dengan penghukuman, bisa pun dengan cara menghalangi atau melerai. seperti ketka kita melihat orang yang sedang ingin melemparkan batu, kita tahan tangannya; atau dua orang yang sedang berkelahi atau akan berkelahi, kita lerai keduanya. inipun bentuk pengingkaran dengan tangan yang dapat dilakukan siapa saja.

Jika kita BERILMU dan kita melihat kemungkaran, maka fardhu kifayah hukumnya untuk meningingkarinya.

Jika kita tidak memiliki kekuasaan, atau merasa lemah dalam meningkari dengna tanngan; atau kita merasa belum cukup ilmu untuk membantah kemungkaran; maka pengingkaran kita dengan hati kita sudah mencukupinya. bahkan terlarang bagi kita untuk mengingkari sesuatu DENGAN KEBODOHAN. karena terkadang ada seseorang yang “merasa” sesuatu itu mungkar, padahal hal tersebut bukan kemungkaran.

Maka KENALILAH kebaikan sebelum kita mengajaknya; dan KENALILAH keburukan sebelum kita mengingkarinya. janganlah melandasi amalan kita hanya berdasarkan PRASANGKA dan KEBODOHAN.

4. Mengingkari kemungkaran haruslah melihat situasi dan kondisi; dan yang terpenting melihat maslahat dan mafsadatnya.

Nabi bersabda:

لَا تُزْرِمُوهُ دَعُوهُ فَتَرَكُوهُ حَتَّى بَالَ

“Janganlah kalian menghentikan kencingnya, biarkanlah dia hingga dia selesai kencing.”

Dikarenakan jika para shahabaat menggiringnya keluar pada saat ia kencing, maka bisa tersingkap auratnya, celananya dapat terciprat kencing, yang juga akan terciprat ke pakaian para shahabat; dan bahkanakan tambah bertebaran kencing dimana-mana.

Oleh karenanya, ketika mengingkari kemungkaran, kita HARUS FAQIH dalam melihat SITUASI DAN KONDISInya. kita melakukannya disaat yang TEPAT pada kondisi yang TEPAT

Kita pun harus melihat MASLAHAT dan MAFSADATNYA. Syari’at islam ini dibangun dengan satu asas yang agung: “mewujudkan maslahat dan menghindarkan segala mafsadat”. Apabila pengingkaran yang kita lakukan malah menimbulkan mudharat, maka dalam kondisi seperti ini para ulama telah mengatakan, menghindari mafsadat (kerusakan) lebih di dahulukan dari mengambil maslahat (kebaikan).

Kita pun dapat mengambil pelajaran bahwa Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam MEMAKLUMI sifat shahabat yang cemburu akan agamanya. Hanya saja beliau meluruskan dan membimbing mereka tentang cara yang benar dalam mengingkari kemungkaran pada situasi seperti ini.

4. Berlemah lembut terhadap orang-orang awwam, yang mengerjakan keburukan bukan semata-mata karena kesengajaannya, namun karena kebodohannya.

Rasulullah bersabda:

إِنَّ هَذِهِ الْمَسَاجِدَ لَا تَصْلُحُ لِشَيْءٍ مِنْ هَذَا الْبَوْلِ وَلَا الْقَذَرِ

“Masjid ini, tidak seyogianya dikotori dengan kotoran, kencing dan air besar”

إِنَّمَا هِيَ لِذِكْرِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَالصَّلَاةِ وَقِرَاءَةِ الْقُرْآنِ

“Hanyasanya masjid diperuntukkan untuk dzikir kepada Allah, membaca al qur-aan dan shalat”. (dikatakan perawi -atau sebagaimana yang disabdakan nabi)

Demikianlah kelembutan beliau dalam meluruskan badui, beliau tidaklah mengatakan

“wahai kaafir, engkau melecehkan masjid”

Beliau tidaklah pula mengatakan:

“wahai bodoh, tidak tahukah engkau ini mesjid?”

atau ucapan semisalnya.

Beliau mendakwahinya tidak hanya sekedar melarang, tapi juga memberikan alasan pelarangan tersebut. beliau mengatakan, mesjid tidak layak untuk perbuatan ini, namun yang layak dilakukan dimesjid adalah ini dan itu. demikianlah, kita tidak hanya melarang, tapi juga memberikan solusi dibalik pelarangan tersebut.

5. Wajibnya SEGERA membersihkan masjid dari najis

sebagaimana sabda beliau:

قُمْ فَأْتِنَا بِدَلْوٍ مِنْ مَاءٍ فَشُنَّهُ عَلَيْهِ

“Berdirilah, ambilkan seember air dan guyurlah kencing tersebut”

Karena kalau ditunda lebih lama, maka akan menempel dengan tanah/lantai sehingga menyebabkan sulit untuk dibersihkan dan menghasilkan bau yang tdk sedap.

6. Hukum memberishkan mesjid fardhu kifayah

karena beliau hanya memerintahkan sebagian untuk membersihkannya, tidak seluruhnya.

7. kencing dibersihkan dengan seember air; serta wajibnya membersihkan najis

Otomatis dari sini kita tahu kencing adalah NAJIS, dan cara membersihkannya adlaah dengan mengguyurnya dengan seember air.

Silahkan simak tata cara membersihkan berbagai macam najis disini

8. Agama Islam adalah agama yang mudah, yang mana memberikan kemudahan bagi penganutnya bukan memberikan kesulitan

Demikian pula dalam dakwah, maka harus memudahkan bukan malah menyulitkan.

Rasulullah bersabda:

فَإِنَّمَا بُعِثْتُمْ مُيَسِّرِينَ وَلَمْ تُبْعَثُوا مُعَسِّرِينَ

“sesungguhnya kalian diutus untuk memberi kemudahan dan tidak diutus untuk membuat kesulitan.”

Pertanyaan besar: “APA MAKNA MEMUDAHKAN?”

Hal ini TIDAK BOLEH DIPAHAMI dengan hawa nafsu, karena maksud disini harus ditetapkan pada tempatnya. maksudnya yaitu memudahkan mereka agar mengenal kebenaran dan mengikutinya.

– Hendaknya kita bertahap dalam menyampaikan kebenaran.

Cara termudah agar seseorang mau menerima kebenaran adalah mengenalkan ia terhadap Yang Maha Benar, yaitu Allah. bagaimanakah ia akan menerima kebenaran sedangkan ia adalah orang yang lebih cinta terhadap hawa nafsunya daripada cinta kepada Allah?!

Maka oleh karena itu DAKWAH TAUHID adalah prioritas utama, kita sadarkan orang agar mereka mengenal sesembahannya, dan kita sadarkan orang agar mereka hanya beribadah kepadaNya.

Jika hal tersebut telah dilakukan, maka akan mudah baginya yang lain.

Ibn Abbas rådhiyallåhu ‘anhumaa berkata,

“Dikala Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengutus Mu’adz ke negeri Yaman, Nabi berpesan:

إِنَّكَ تَقْدَمُ عَلَى قَوْمٍ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ فَلْيَكُنْ أَوَّلَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَى أَنْ يُوَحِّدُوا اللَّهَ تَعَالَى

“Sesungguhnya engkau (wahai Mu’adz) akan mendatangi kaum ahli kitab, maka jadikanlah materi dakwah PERTAMA KALI yang engkau sampaikan (kepada mereka) adalah agar mereka mentauhidkan Allah ta’ala.

فَإِذَا عَرَفُوا ذَلِكَ فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللَّهَ قَدْ فَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلَوَاتٍ فِي يَوْمِهِمْ وَلَيْلَتِهِمْ

Jika mereka telah mengetahuinya, beritahulah mereka bahwa Allah mewajibkan lima shalat kepada mereka dalam sehari semalam.

فَإِذَا صَلَّوْا فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللَّهَ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ زَكَاةً فِي أَمْوَالِهِمْ تُؤْخَذُ مِنْ غَنِيِّهِمْ فَتُرَدُّ عَلَى فَقِيرِهِمْ

Jika mereka telah shalat, beritahulah mereka bahwa Allah mewajibkan zakat harta mereka, yang diambil dari yang kaya, dan diberikan kepada yang faqir diantara mereka.

فَإِذَا أَقَرُّوا بِذَلِكَ فَخُذْ مِنْهُمْ وَتَوَقَّ كَرَائِمَ أَمْوَالِ النَّاسِ

Jika mereka mengikrarkan demikian, maka ambillah harta mereka dan hindarilah harta kesayangan (berharga) mereka”

(HR. Bukhariy)

Ummul Mukminin ‘Aa-isyah Rådhiyallåhu ‘anha berkata:

“Sesungguhnya yang pertama kali turun ialah surat dari surat-surat mufashal yang di dalamnya disebutkan perihal surga dan neraka, sehingga jika manusia telah kembali/masuk Islam, maka turunlah surat yang menyebutkan tentang halal haram.

Sekiranya yang mula-mula turun ialah ayat yang berbunyai:

janganlah kamu minum khamer

pasti mereka berkata:

kami tidak akan meninggalkan kebiasaan minum khamer selama-lamanya.

Dan seandainya yang turun itu ayat yang berbunyi:

jangan berzina

niscaya mereka menjawab:

kami tidak akan meninggalkan kebiasaan berzina selama-lamanya.”

(Atsar Riwayat Bukhari)

maka bagaimanakah engkau akan menyadarkan perokok, sedangkan ia adalah orang yang suka berbuat kesyirikan serta tidak pernah shalat?!

maka harus ada tahapan demi tahapannya sebagaimana perintah nabi kepada mu’adz!

– hendaknya menjelaskan dengan perkataan yang mudah dimengerti

‘Ali bin abi thalib radhiallahu ‘anhu, berkata :

“Berbicaralah kepada manusia dengan ucapan yang mereka fahami. Apakah kalian ingin Allah dan RasulNya di dustakan?!!”

[diriwayatkan al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari; Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam al Fatawi Al Kubra; juga Imam Adz Dzahabi dalam Syi’ar A’lam An Nubala]

Dari Ubaidulllah bin Abdullah bin Utbah, Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu berkata,

“Tidaklah engkau menyampaikan (suatu ilmu) kepada suatu kaum dengan sebuah pembicaraan yang tidak bisa dicapai oleh akal mereka melainkan pasti akan menimbulkan fitnah/kesalahpahaman pada sebagian mereka.”

(HR. Muslim dalam mukadimah shahihnya)

– dan hendaknya kita menjelaskannya dengan akhlaq yang mulia

Sebagaimana dicontohkan Rasulullah diatas, menyikapi orang sesuai situasi dan kondisinya. hukum asal dakwah adalah lemah lembut, terkecuali jika dengan keras ada maslahat, maka kita lebih memilih yang lebih besar maslahatnya atau tidak menimbulkan mudharat.

Allah berfirman:

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

Serulah (manusia) kepada jalan RAbb-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik

(an Nahl 125)

Allah berfirman:

اذْهَبَا إِلَىٰ فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَىٰ . فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَّيِّنًا لَّعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَىٰ

“Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas (thaghaa). Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan KATA-KATA yang LEMAH LEMBUT, mudah-mudahan ia ingat atau takut.”

[QS. Thaahaa: 43-44].

Padahal kita mengetahui bahwa orang yang kita nasehati tersebut TIDAKLAH LEBIH BEJAT dari fir’aun, dan kita mengetahui bahwa kita TIDAKLAH LEBIH BAIK dari musa dan harun ‘alayhimas salaam. Jika nasehat terhadap fir’aun demikian, maka tentulah orang selainnya LEBIH BERHAK mendapatkannya!

Rasulullah bersabda:

إنَّ الرِفْقَ لاَ يَكُوْنُ في شَيْءٍ إلاَّ زَانَهُ وَ مَا يُنْزَعُ مِنْ شَيْءٍ إلا شَانَهُ

“Sesungguhnya tidaklah kelemahlembutan ada pada sesuatu melainkan ia akan menghiasinya, dan tidaklah kelemahlembutan tercabut dari sesuatu kecuali akan menodainya”

(HR, Muslim)

Maka benarlah perkataan para ulama, “sesungguhnya kebenaran ini sulit untuk diterima, maka janganlah kalian lebih mempersulit orang menerimanya dengan akhlak buruk kalian””

Semoga bermanfaat

Tinggalkan komentar

Filed under Adab, Akhlak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s