Ingatlah nikmat Allaah!

Kebanyakan manusia, apabila disebutkan “kebaikan-kebaikan kedua orang tuanya (terutama ibunya)” maka ia akan meneteskan airmata, mengingat begitu besarnya jasa ibunya terhadapnya akan tetapi alangkah jeleknya apa yang ia perbuat terhadap ibunya. ini sesuatu yang baik, apabila disertai dengan sikap untuk berbakti kepada keduanya.,

Namun pernahkah ia meneteskan air mata, apabila disebut NIKMAT-NIKMAT ALLAH dihadapannya?! bukankah Allah yang menciptakan seluruh alam semesta? bukankah Allah yang menciptakan ibunya, bapaknya, termasuk dia sendiri? bukankah Allah Yang Memenuhi segala kebutuhannya? yang memberinya kehidupan, makanan, minuman, oksigen, dst? namun bagaimanakah akhlaqnya terhadap Allah?! apakah selama ini ia mensyukuriNya (dengan mentauhidkanNya dan bertaqwa kepadaNya?) ataukah mengkufuri nikmatNya (dengan menyekutukanNya atau mengkufuriNya atau memaksiatiNya)!?

Sesungguhnya dalam kitabNya seringkali Allah memfirmankan: اذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ (ingat-ingatlah nikmat-nikmat Allah atas kalian). Sebagaimana firmanNya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ جَاءَتْكُمْ جُنُودٌ فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ رِيحًا وَجُنُودًا لَّمْ تَرَوْهَا وَكَانَ اللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرًا

Hai manusia, ingatlah akan nikmat Allah kepadamu. Adakah pencipta selain Allah yang dapat memberikan rezeki kepada kamu dari langit dan bumi? Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia; maka mengapakah kamu berpaling (dari ketauhidan)?

(Faatir: 3)

Juga firmanNya:

وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنْهَا كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.

(Aali ‘Imraan: 103)

Mengingat-ingat nikmat Allah adalah termasuk salah satu jenis dzikir. Yang mana ini bermanfaat apabila diiringi dengan mensyukuri nikmat tersebut. Maka Allah mengingatkan hamba-hambaNya tentang segala nikmat yang diberikanNya kepada mereka, agar mereka tidak lupa terhadapnya, dan agar mereka mensyukuri nikmat tersebut. Sungguh Allah tidak butuh rasa syukur hambaNya, namun sesungguhnya Allah mengingatkan ini, justru untuk kebaikan hambaNya.

Maka dari itu Allah berfirman:

فَاذْكُرُوا آلَاءَ اللَّهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.

(Al-A’raaf: 69)

Penjelasan tentang makna nikmat

Al-Raghib (tt, 499) menjelaskan, al-Ni’mat itu adalah suatu hal yang bagus (baik). al-Ni’mat al-Hâlat al-Hasanat dari kata al-Na’mâ`a adalah kebahagiaan/keni’matan setelah hilangnya bencana. al-Na’mâ`u (al-Ni’mat) bi-izâ`i ad-Dharâ`i, sementara al-Naîm ialah ni’mat yang banyak (al-Naîm al-Ni’mat al-Katsîrat).

Kata al-An’âm bentuk jama dari kata al-Na’amu yang pada mulanya khusus untuk arti unta. Disebut demikian karena unta pada orang Arab merupakan ni’mat yang paling besar. Selanjutnya kata itu berarti unta, sapi dan kambing. Al-Jurjani (1992:311) menyebutkan, “Ni’mat itu adalah sesuatu yang dimaksudkan dengannya kebaikan dan manfaat tidak karena adanya sesuatu tujuan dan tidak karena mengharapkan pengganti.”

(sumber)

Orang yang benar-benar mengingat nikmatNya, adalah orang yang mensyukuri nikmat tersebut

Allah berfirman:

فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ

Maka apabila mereka naik kapal mereka mendoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya; maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Allah)

kemudian Allah berfirman

لِيَكْفُرُوا بِمَا آتَيْنَاهُمْ وَلِيَتَمَتَّعُوا ۖ فَسَوْفَ يَعْلَمُونَ

yang akibatnya, mereka mengingkari nikmat yang telah Kami berikan kepada mereka dan yang juga mengakibatkan mereka (hidup) bersenang-senang (dalam kekafiran). Kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatannya).

(al Ankabut: 65-66)

Kebanyakan para ulama bahasa, ulama tafsiir dan ulama ushul, menafsirkan bahwa “lam” dalam ayat ini merupakan AKIBAT (laam ‘aaqibah), apabila disandarkan kepada perbuatan mereka, sebagaimana dijelaskan imam ibn katsiir dalam tafsirnya. Dan dimaknai alasan (lam ta’liil), jika disandarkan kepada qadha dan qadar Allah, disebabkan Allah menggiring mereka berbuat demikian sebagai balasan kekufuran mereka.

Sehingga maknanya,

“Mereka tidak mau mensyukuri nikmat Allah yang telah menyelamatkan mereka sampai ke darat, bahkan mereka kembali menyekutukanNya ketika mereka selamat. AKIBAT dari perbuatan mereka ini adalah MENGINGKARI NIKMAT yang telah Allah berikan kepada mereka, sehingga Allah pun membiarkan mereka hidup bersenang-senang diatas kekufuran mereka.”

(wallaahu a’lam)

Hal ini sebagaimana firmanNya:

وَإِذَا مَسَّ الْإِنسَانَ ضُرٌّ دَعَا رَبَّهُ مُنِيبًا إِلَيْهِ ثُمَّ إِذَا خَوَّلَهُ نِعْمَةً مِّنْهُ نَسِيَ مَا كَانَ يَدْعُو إِلَيْهِ مِن قَبْلُ وَجَعَلَ لِلَّهِ أَندَادًا لِّيُضِلَّ عَن سَبِيلِهِ قُلْ تَمَتَّعْ بِكُفْرِكَ قَلِيلًا إِنَّكَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ

Dan apabila manusia itu ditimpa kemudharatan, dia memohon (pertolongan) kepada Rabbnya, dengan kembali kepada-Nya; kemudian apabila Allah memberikan nikmat-Nya kepadanya, lupalah dia akan kemudharatan yang pernah dia berdoa (kepada Allah) untuk (menghilangkannya) sebelum itu. dan dia mengada-adakan sekutu-sekutu bagi Allah untuk menyesatkan (manusia) dari jalan-Nya. Katakanlah: “Bersenang-senanglah dengan kekafiranmu itu sementara waktu; sesungguhnya kamu termasuk penghuni neraka”.

(Az-Zumar: 8)

Lihatlah orang-orang yang MENGETAHUI bahwa nikmat-nikmat yang ia peroleh datang dari Allah, NAMUN DISISI LAIN ia tidak mensyukuriNya, maka ia termasuk orang-orang yang MENGKUFURI nikmatNya! berdasarkan ayat diatas!

Kufur bisa bermakna dua; kufur ashghar atau kufur akbar.

Jika engkau MENGINGKARI bahwa yang memberi nikmat adalah Allah maka ini kufur akbar, yang mana kekufuran seperti ini lebih jelek daripada kekufuran kaum musyrikin mekkah.

Adapula orang-orang yg menggunakan nikmatNya, mereka mengakui nikmat tersebut dariNya, namun karena mereka lebih condong terhadap hawa nafsu mereka, maka mereka menggunakan nikmat tersbeut (seperti nikmat hidup, nikmat sehat) untuk memaksiatiNya. maka ini tidak sampai kufur akbar, akan tetapi hanyalah kufur ashghar.

Akan tetapi, jika engkau menggunakan nikmatnya -walaupun engkau mengetahui bahwa nikmat tersebut dariNya- untuk berbuat kekufuran atau kesyirikan; maka ini pun kufur akbar.

Karena walaupun engkau mengetahui nikmat ini dariNya, namun perbuatanmu mendustakanNya. Ini sama saja bagimu MENGINGKARI NIKMATNYA walaupun engkau mengakui ini dariNya. Dan inilah yang terjadi pada orang-orang musyrikin mekkah!

Oleh karenanya Allah berfirman:

يَعْرِفُونَ نِعْمَتَ اللَّهِ ثُمَّ يُنكِرُونَهَا وَأَكْثَرُهُمُ الْكَافِرُونَ

Mereka mengetahui nikmat Allah, kemudian mereka mengingkarinya dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang kafir.

(An-Nahl: 83)

Orang-orang musyrikin mekkah mengetahui bahwa ALLAH-LAH yang menyelamatkan merkea ke dataran.. Buktinya, ketika mereka kesulitan dilautan, mereka HANYA BERDOA kepada ALLAH SAJA, dan meninggalkan sesembahan-sesembahan yang mereka seru didaratan.. Karena mereka tahu hanya ALLAH SAJA yang mampu menyelamatkan mereka.. Namun ketika mereka diselamatkan Allah, mereka kembali kepada kemusyrikan mereka. Sehingga Allah menyebutkan perbuatan mereka ini sebagai pengingkaran terhadap nikmatNya.

Bahkan kemusyrikan yang terjadi DIKALANGAN KAUM MUSLIMIN, lebih parah daripada kemusyrikan yang terjadi pada kaum musyrikin mekkah dahulu. ketika mereka tertimpa musibah, justru mereka mengatakan “wahai syaikh abdul qadir jailani, selamatkan kami..” padahal ini bukan ajaran dari syaikh abdul qadir jailani.. Na’uudzubilaah!!

Allah berfirman:

فَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Karena itu bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mensyukuri-Nya.

(Aali Imraan: 123)

Berkata Imam ibnu Jarir ath Thabariy tentang tafsir ayat ini:

“Maka bertaqwalah kepadaKu, yang dengannya engkau mensyukuri nikmat-Ku”

(Lihat Tafsir ath Thabariy)

Berkata Imam Ibnu Katsiir:

“Yaitu bertaqwa kepadaNya dengan taat kepadaNya”

(Lihat Tafsir ibnu Katsiir)

Maka hendaknya kaum muslimin menyadari hal ini, yaitu dengan mensyukuri nikmatNya dengan sebenar-benarNya. yaitu dengan MENTAUHIDKANNYA dan BERTAQWA KEPADANYA. bukan dengan MENYEKUTUKANNYA/MENGKUFURINYA atau memaksiatiNya.

Semoga bermanfaat

Baca juga:

– “Tentang Syukur

Tinggalkan komentar

Filed under Aqidah, Tauhid Rububiyyah, Tauhid Uluhiyyah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s