“Tidak ada paksaan dalam agama”, bukan berarti tidak ada jihad.

Telah salah paham orang-orang yang menggunakan ayat:

لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ

“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam)”

(al-Baqoroh: 256)

Dalam rangka menolak pensyariatan Jihad. Khususnya Jihad ofensif.

Dan jika yang disebutkan jihad, maka yang dimaksudkan adalah JIHAD SYAR’I, bukan jihad bid’ah yang dilakukan khawaarij; yang mana mereka melakukan secara individu-individu, kemudian membom sana dan sini.

Ketahuilah Ahlus-sunnah berbeda dengan dua kelompok sesat ini; mereka tidak menolak pensyariatan jihad ofensif, akan tetapi mereka tidak melakukan jihad dengan cara-cara bid’ah sebagaimana dilakukan khawarij.

Ayat tersebut telah mansukh

Allah berfirman:

لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَد تَّبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ

“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat.”

(al-Baqoroh: 256)

Berkata Sulaiman bin Musa berkata, ‘Ayat ini dinasakh (dihapus) oleh ayat’

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ جَاهِدِ الْكُفَّارَ وَالْمُنَافِقِينَ وَاغْلُظْ عَلَيْهِمْ وَمَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَبِئْسَ الْمَصِير

“Hai Nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka ialah neraka Jahanam. Dan itulah tempat kembali yang seburuk-buruknya”

(QS. At Taubah: 73).

Hal serupa juga diriwayatkan oleh Ibn Mas’uud dan juga sekelompok ulama tafsir selainnya.

Kalaupun memang tidak mansukh, maka ayat ini ditujukan untuk orang kaafir yang TELAH MEMBAYAR JIZYAH. Sehingga mereka tidak dipaksa lagi untuk beragama Islam.

Berkata Imam ath Thabariy,

“Sehingga jelas bahwa makna ayat ini adalah: Tidak ada paksaan dalam memeluk agama Islam bagi orang kafir yang dikenai jizyah dan telah membayarnya dan mereka ridha terhadap hukum Islam.”

(Tafsir Ath Thabari)

Imam ath Thabariy juga menjelaskan:

“Sungguh telah jelas antara kebenaran dan kebatilan. Dan telah jelas sudah sisi kebenaran bagi para pencari kebenaran. Dan kebenaran ini telah terbedakan dari kesesatan. Sehingga tidak perlu lagi memaksa para ahli kitab dan orang-orang kafir yang dikenai jizyah untuk memeluk agama Islam, agama yang benar. Dan orang-orang yang berpaling dari kebenaran ini setelah jelas baginya, biarlah Allah yang mengurusnya. Sungguh Allahlah yang akan mempersiapkan hukuman bagi mereka di akhirat kelak”

(Tafsir Ath Thabari)

Dari sini runtuhlah hujjah orang-orang yang menggunakan hadits ini untuk menolak jihad ofensif. Atau mungkin mereka menggunakan ayat yang mulia ini untuk menghalangi kaum muslimin berdakwah kepada orang-orang kafir, yang menjelaskan kebenaran, dan menguak kesesatan-kesesatan serta kekufuran-kekufuran kuffaar.

Dalil-dalil tentang pensyari’atan jihad ofensif

Sebagian orang menggunakan ayat ini, untuk menolak pensyari’atan jihad. Sebagian yang lain (walaupun tidak menggunakan ayat ini) berpendapat bahwa jihad, hanayalah defensif; tidak ada jihad ofensif. Maka sungguh telah keliru keduanya. Untuk yang kedua, disanggah Asy-Syaikh Ibnu Baaz rahimahullaah:

أما قول من قال بأن القتال للدفاع فقد فهذا القول ما علمته لأحد من العلماء القدامى أن الجهاد شرع في الإسلام بعد آية السيف للدفاع فقد وأن الكفار لا يُبدءون بالقتال فإنما يشرع للدفاع فقد

”Adapun perkataan dari sebagian orang yang menyatakan bahwa bahwasannya perang itu hanya untuk mempertahankan diri saja (difa’), maka aku tidak tahu seorang pun dari ulama terdahulu yang pernah mengatakannya (yaitu) bahwa jihad yang disyari’atkan dalam Islam setelah aayaatus-saif itu hanya untuk mempertahankan diri saja; dan bahwasannya orang-orang kafir itu tidak boleh diserang lebih dahulu, karena perang itu hanya disyari’atkan untuk membela diri saja”

[Majalah Al-Buhuuts Al-Islaamiyyah nomor 41 hal. 7]

1. QS. Al-Anfaal : 39

Allah berfirman:

وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لا تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ كُلُّهُ لِلَّهِ فَإِنِ انْتَهَوْا فَإِنَّ اللَّهَ بِمَا يَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

“Dan perangilah mereka, supaya jangan ada “fitnah” dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari kekafiran), maka sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan”.

Para ulama tafsir mengatakan: Fitnah disini maknanya “kekufuran/kesyirikan”. Maka alangkah agungnya ayat ini, yaitu ketika Allah memerintahkan hamba-hambaNya yang beriman kepadaNya untuk memerangi serta membasmi orang-orang yang kufur kepadaNya, yang menyombongkan diri di bumi-Nya; sehingga di bumiNya hanyalah orang-orang yang beriman, dan orang-orang kafir (ahlul kitab) yang terhina yang tunduk dibawah hukumNya.

2. QS. At-Taubah : 5

فَإِذَا انْسَلَخَ الأشْهُرُ الْحُرُمُ فَاقْتُلُوا الْمُشْرِكِينَ حَيْثُ وَجَدْتُمُوهُمْ وَخُذُوهُمْ وَاحْصُرُوهُمْ وَاقْعُدُوا لَهُمْ كُلَّ مَرْصَدٍ فَإِنْ تَابُوا وَأَقَامُوا الصَّلاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ فَخَلُّوا سَبِيلَهُمْ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Apabila sudah habis bulan-bulan Haram itu, maka bunuhlah orang-orang musyrikin itu di mana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah di tempat pengintaian. Jika mereka bertobat dan mendirikan salat dan menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

Ibnu Katsir berkata :

وقوله: { فَاقْتُلُوا الْمُشْرِكِينَ حَيْثُ وَجَدْتُمُوهُمْ } أي: من الأرض. وهذا عام،

“Firman Allah “maka bunuhlah orang-orang musyrikin itu di mana saja kamu jumpai mereka” ; yaitu : di muka bumi. Ini adalah umum.

والمشهور تخصيصه بتحريم القتال في الحرم بقوله: وَلا تُقَاتِلُوهُمْ عِنْدَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ حَتَّى يُقَاتِلُوكُمْ فِيهِ فَإِنْ قَاتَلُوكُمْ فَاقْتُلُوهُمْ

Dan yang masyhur adalah dikhususkan dengan pengharaman peperangan di tanah Haram dengan firman-Nya : “Dan janganlah kamu memerangi mereka di Masjidil-Haram kecuali jika mereka memerangi kamu di tempat itu. Jika mereka memerangi kamu (di tempat itu), maka bunuhlah mereka” (QS. Al-Baqarah : 191)”

[Tafsir Ibnu Katsir 4/111, tahqiq : Saamiy bin Muhammad Salaamah; Daaruth-Thayyibah, Cet. 2/1420 H].

3. QS. At-Taubah : 29

قَاتِلُوا الَّذِينَ لا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلا بِالْيَوْمِ الآخِرِ وَلا يُحَرِّمُونَ مَا حَرَّمَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَلا يَدِينُونَ دِينَ الْحَقِّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حَتَّى يُعْطُوا الْجِزْيَةَ عَنْ يَدٍ وَهُمْ صَاغِرُونَ

“Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian dan mereka tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk”.

Al-Qurthubi mengatakan bahwa (dengan ayat tersebut) Allah subhaanahu wa ta’ala memerintahkan manusia untuk memerangi seluruh orang kuffar yang tidak beriman kepada Allah dan hari akhir serta risalah ketauhidan yang dibawa oleh Nabi shallallaahu ’alaihi wa sallam

[Tafsir Al-Qurthubi 10/162 – tahqiq : Dr. At-Turkiy – dibawakan dengan makna dan peringkasan]

4. QS. At-Taubah : 123

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قَاتِلُوا الَّذِينَ يَلُونَكُمْ مِنَ الْكُفَّارِ وَلْيَجِدُوا فِيكُمْ غِلْظَةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ

”Hai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir yang di sekitar kamu itu, dan hendaklah mereka menemui kekerasan daripadamu, dan ketahuilah, bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa”.

Al-Qurthubi menjelaskan bahwa ayat tersebut memerintahkan Nabi shallallaahu ’alaihi wa sallam untuk memerangi orang-orang kafir dari mulai yang paling dekat dengan wilayah Islam dan begitu seterusnya sampai yang jauh, dari yang lemah begitu seterusnya sampai yang kuat”

[Tafsir Al-Qurthubi 10/435 – Al-Qurthubi menguatkan pendapat Qatadah].

Hal yang senada dikatakan oleh Ibnul-Jauziy :

”Allah telah memerintahkan mereka untuk memerangi orang-orang kafir secara umum, yang dimulai dari yang terdekat, dan kemudian yang lebih jauh, dan seterusnya”

[Zaadul-Masiir, 3/518; Al-Maktab Al-Islamiy, Cet. 3/1404 H]

5. Sabda Rasulullah shallallaahu ’alaihi wa sallam :

أمرت أن أقاتل الناس حتى يشهدوا أن لا إله إلا الله، وأن محمداً رسول الله، ويقيموا الصلاة، ويؤتوا الزكاة

“Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka bersyahadat laa ilaaha illalloh dan Muhammad rosululloh, menegakkan shlat, serta menunaikan zakat.

فإذا فعلوا ذلك عصموا مني دماءهم وأموالهم إلا بحق الإسلام، وحسابهم على الله عز وجل

Jika mereka melakukan hal itu, berarti mereka telah menjaga dariku darah dan harta mereka, kecuali dengan hak Islam. Dan hisab mereka adalah tanggungan Alloh ‘azza wa jalla.”

(muttafaqun ‘alayh)

6. Hadits ‘Aliy bin Abi Thalib

’Ali bin Abi Thalib radliyallaahu ’anhu dengan Nabi shallallaahu ’alaihi wa sallam saat beliau menugaskannya menaklukkan Khaibar :

”Wahai Rasulullah, atas dasar alasan apa kita memerangi manusia (yaitu ahlul-Khaibar) ?”

Beliau shallallaahu ’alaihi wasallam bersabda :

قاتلهم حتى يشهدوا أن لا إله إلا الله وإن محمداًَ رسول الله، فإذا فعلوا ذلك منعوا منك دماءهم وأموالهم إلا بحقها وحسابهم على الله

”Perangilah mereka hingga mereka bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak untuk disembah melainkan Allah dan bahwasannya Muhammad utusan Alah. Jika mereka melakukan hal tersebut, maka mereka menjaga darah dan harta mereka darimu kecuali dengan haknya; dan hisab mereka ada pada Allah”

[Syarh Shahih Muslim 2/59, Fathul-Baari 1/104, Jaami’ul-Ulum wal-Hikaam no. 8, dan As-Sirah An-Nabawiyyah Ash-Shahiihah 1/323].

7. Hadits Anas bin Maalik

“Adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila akan menyerang suatu kaum, tidaklah Beliau menyerang sehingga datang waktu Subuh. Jika Beliau mendengar adzan, maka Beliau menahan diri. Dan jika tidak mendengar adzan, maka Beliau mulai menyerang setelah waktu Subuh”.

[HR Bukhari, 2725]

8. ’Abdullah bin ’Umar radliyallahu ’anhuma :

”Rasulullah shallallaahu ’alaihi wa sallam pernah mengutus pasukan ke negeri Najd. Maka akupun keluar untuk bergabung dengannya. (Pasukan itu mendapatkan kemenangan) sehingga kami mendapatkan ghanimah berupa onta dan kambing. Sehingga, ghanimah yang kami dapat saat itu (masing-masing) dua belas ekor onta. Lalu, Rasulullah shallallaahu ’alaihi wa sallam masih menambah lagi masing-masing satu ekor onta”

[HR. Al-Bukhari no. 3134,4338 dan Muslim no. 1749].

9. Hadits Ibnu ’Aun rahimahullah :

“Aku menulis surat kepada Naafi’ untuk menanyakan tentang seruan (pemberitahuan perang) sebelum perang dimulai. Maka ia membalas surat dan menyatakan bahwa hal itu terjadi di awal Islam. Rasulullah shallallaahu ’alaihi wa sallam menyerang Bani Musthaliq ketika mereka sedang lengah, yaitu ketika mereka sedang memberi minum ternak mereka. Maka dibunuhlah orang-orang yang berhak dibunuh di antara mereka, dan ditawan orang-orang yang berhak ditawan di antara mereka. Pada hari itu, kaum muslimin menang”

[HR. Muslim no. 1730]

10. Sabda Rasulullah shallallaahu ’alaihi wa sallam ketika menugaskan seorang panglima yang membawa pasukan menuju pertempuran

اغْزُوا بِاسْمِ اللَّهِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ قَاتِلُوا مَنْ كَفَرَ بِاللَّهِ اغْزُوا وَلَا تَغُلُّوا وَلَا تَغْدِرُوا وَلَا تَمْثُلُوا وَلَا تَقْتُلُوا وَلِيدًا

”Berperanglah atas nama Allah ! di jalan Allah ! Perangilah orang yang kufur kepada Allah ! Berperanglah dan jangan curang, jangan berkhianat, jangan berlaku kejam (dengan memotong hidung dan telinga), dan jangan membunuh anak-anak !

وَإِذَا لَقِيتَ عَدُوَّكَ مِنْ الْمُشْرِكِينَ فَادْعُهُمْ إِلَى ثَلَاثِ خِصَالٍ أَوْ خِلَالٍ فَأَيَّتُهُنَّ مَا أَجَابُوكَ فَاقْبَلْ مِنْهُمْ وَكُفَّ عَنْهُمْ ثُمَّ ادْعُهُمْ إِلَى الْإِسْلَامِ

Apabila kamu bertemu dengan kaum musyrikin yang menjadi musuhmu, maka tawarkanlah kepada mereka tiga pilihan, yang mana salah satu diantara tiga tersebut yang mereka pilih, maka terimalah dan janganlah mereka diserang, lalu ajaklah mereka masuk Islam.

فَإِنْ أَجَابُوكَ فَاقْبَلْ مِنْهُمْ وَكُفَّ عَنْهُمْ ثُمَّ ادْعُهُمْ إِلَى التَّحَوُّلِ مِنْ دَارِهِمْ إِلَى دَارِ الْمُهَاجِرِينَ

Apabila mereka menerima ajakanmu, maka terimalah dan janganlah mereka diserang. Kemudian ajaklah mereka untuk berpindah dari perkampungan mereka menuju perkampungan orang Muhajirin.

وَأَخْبِرْهُمْ أَنَّهُمْ إِنْ فَعَلُوا ذَلِكَ فَلَهُمْ مَا لِلْمُهَاجِرِينَ وَعَلَيْهِمْ مَا عَلَى الْمُهَاجِرِينَ

(Jika mereka mau pindah) Beritahukan kepada mereka bahwa mereka akan mendapatkan hak dan kewajiban yang sama seperti orang-orang Muhajirin.

فَإِنْ أَبَوْا أَنْ يَتَحَوَّلُوا مِنْهَا فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّهُمْ يَكُونُونَ كَأَعْرَابِ الْمُسْلِمِينَ يَجْرِي عَلَيْهِمْ حُكْمُ اللَّهِ الَّذِي يَجْرِي عَلَى الْمُؤْمِنِينَ وَلَا يَكُونُ لَهُمْ فِي الْغَنِيمَةِ وَالْفَيْءِ شَيْءٌ إِلَّا أَنْ يُجَاهِدُوا مَعَ الْمُسْلِمِينَ

Jika mereka tidak mau pindah dari rumah mereka, maka beritahukanlah kepada mereka bahwa mereka diperlakukan seperti kaum muslimin yang ada di pedalaman dengan diberlakukan hukum Allah atas mereka seperti yang berlaku atas orang-orang mukmin lain tanpa mendapat bagian dari ghanimah dan fa’i, kecuali jika mereka turut berjihad bersama kaum muslimin.

فَإِنْ هُمْ أَبَوْا فَسَلْهُمْ الْجِزْيَةَ

Jika mereka tidak mau masuk Islam, maka suruhlah mereka membayar jizyah.

فَإِنْ هُمْ أَجَابُوكَ فَاقْبَلْ مِنْهُمْ وَكُفَّ عَنْهُمْ

Jika mereka bersedia, maka terimalah dan janganlah mereka diperangi.

فَإِنْ هُمْ أَبَوْا فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَقَاتِلْهُمْ

Apabila mereka menolak, maka mintalah pertolongan kepada Allah dan perangilah mereka !

وَإِذَا حَاصَرْتَ أَهْلَ حِصْنٍ فَأَرَادُوكَ أَنْ تَجْعَلَ لَهُمْ ذِمَّةَ اللَّهِ وَذِمَّةَ نَبِيِّهِ فَلَا تَجْعَلْ لَهُمْ ذِمَّةَ اللَّهِ وَلَا ذِمَّةَ نَبِيِّهِ

Apabila kamu mengepung benteng musuh lalu mereka menginginkan agar engkau berikan kepada mereka perlindungan dan jaminan Allah serta Nabi-Nya, maka janganlah engkau berikan kepadanya perlindungan Allah serta Nabi-Nya.

وَلَكِنْ اجْعَلْ لَهُمْ ذِمَّتَكَ وَذِمَّةَ أَصْحَابِكَ فَإِنَّكُمْ أَنْ تُخْفِرُوا ذِمَمَكُمْ وَذِمَمَ أَصْحَابِكُمْ أَهْوَنُ مِنْ أَنْ تُخْفِرُوا ذِمَّةَ اللَّهِ وَذِمَّةَ رَسُولِهِ

Tetapi, berilah mereka perlindungan dan jaminan dari kamu sendiri dan pasukanmu. Karena jika kamu berikan perlindungan dan jaminanmu beserta pasukanmu, maka itu lebih ringan resikonya daripada engkau berikan perlindungan danjaminan Allah serta Nabi-Nya.

وَإِذَا حَاصَرْتَ أَهْلَ حِصْنٍ فَأَرَادُوكَ أَنْ تُنْزِلَهُمْ عَلَى حُكْمِ اللَّهِ فَلَا تُنْزِلْهُمْ عَلَى حُكْمِ اللَّهِ

Apabila kamu mengepung benteng musuh, lalu mereka ingin agar engkau memberlakukan kepada mereka hukum Allah, maka janganlah engkau berlakukan hukum Allah kepada mereka.

وَلَكِنْ أَنْزِلْهُمْ عَلَى حُكْمِكَ فَإِنَّكَ لَا تَدْرِي أَتُصِيبُ حُكْمَ اللَّهِ فِيهِمْ أَمْ لَا

Tetapi, berlakukanlah kepada mereka hukum dari kamu sendiri; karena kamu tidak tahu apakah kamu benar-benar telah memberlakukan hukum Allah kepada mereka atau belum”

[HR. Muslim no. 1731]

Maka kita ketahui, bahwa Rasulullah shallallaahu ’alaihi wa sallam mengirimkan beberapa pasukannya dalam rangka dakwah (dan jihad). (Yaitu tujuan mereka adalah) untuk mendakwahkan/menwarkan Islam serta memerangi kekafiran.

– Barangsiapa yang masuk Islam, maka haram darah, harta, dan kehormatannya – kecuali dengan hak Islam.

– Jika mereka menolak, maka mereka diberikan dua pilihan : Diperangi atau tunduk kepada hukum Islam dengan membayar jizyah. Jika mereka memilih peperangan, maka di sini kaum muslimin memerangi mereka karena kekufuran mereka.

Pembangkangan terhadap hukum Allah. Pilihan perang merupakan pilihan/alternatif terakhir yang diambil kaum muslimin. Perang ini dilakukan dalam rangka memerangi kekafiran dan meninggkan kalimat Allah. Pada perang Mu’tah dan Tabuk, Rasululah shallallaahu ’alaihi wa sallam memerangi orang-orang Romawi dan Arab Nashrani. Ini beliau lakukan setelah tawaran masuk Islam ditolak oleh Hiraklius – sebagaimana masyhur cerita ini dalam kitab-kitab hadits.

Jihad adalah ibadah, maka harus mengikuti tuntunan nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam.

Untuk melaksanakan Jihad ofensif, maka harus terpenuhi syarat-syarat syar’iyyah (syarat-syarat yang telah ditentukan oleh syari’at Islam), sebagai berikut:

1. Adanya seorang imam (pemimpin).
2. Ada Daulah (negara).
3. Ada ar-Raayah (bendera jihad).

Maka BATHIL-lah kita melihat, kelompok-kelompok “jihad” yang mengambil amir mereka masing-masing, yang tiap-tiap kelompok membai’at amir mereka masing-masing. Sehingga mereka menganggap dialah “amirul mukminin” yang berhak memerintahkan jihad. Sehingga setiap ayat atau hadits yang menyeru tentang jihad, maka mereka bawakan pemahamannya bahwa “yang menyeru” atau “imam” tersebut adalah imam kelompok mereka. Na’udzubilaah! maka berapa banyak amirul mukminin?

Sedangkan Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

إِذَا بُوْيِعَ لِخَلِيْفَتَيْنِ؛ فَاقْتُلُوا اْلآخَرَ مِنْهُمَا

“Apabila dua khalifah dibai’at, bunuhlah khalifah terakhir (kedua)”

[HR. Muslim]

Maka apakah mereka akan menggunakan hadits ini juga untuk membunuh “imam-imam” dari kelompok yang lain, yang juga dibai’at kelompoknya? Maka bunuh-membunuhlah jadinya mereka!

Berapa banyak pula jadinya kita melihat bendera jihad? yang mana masing-masing berperang dengan memakai atribut dan nama mereka sendiri-sendiri?!

Maka yang dimaksudkan adalah PENGUASA KAUM MUSLIMIN. Yang mana dikatakan Imam Ahmad, Penguasa kaum muslimin adalah yang mana ia memiliki daerah kekuasaan, yang mana didaerah tersebut, engkau tanyakan kepada rakyatnya “siapa pemimpinmu?” orang-orang akan menjawab “fulan”. Dialah imam, yang dimana kaum muslimin berjihad (ofensif) dibelakangnya, BUKANNYA imam-imam sempalan, yang diba’iat kelompok-kelompok yang membelot!

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

إِنَّمَا اْلإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ

“Sesungguhnya imam/pemimpin itu adalah perisai, yang (kaum muslimin) berperang dibelakangnya dan menjadikannya sebagai tameng”

[Hadits Riwayat Bukhari 2957 dan Muslim 1841]

Imam Abu Ja’far Ath-Thohawi berkata dalam Aqidah Thohawiyahnya :

“Haji dan jihad senantiasa dilaksanakan bersama ulim amri/pemimpin kaum muslimin yang baik maupun yang dzolim sampai hari kiamat…”.

(Lihat Aqidah Thahawiyah)

Inilah bantahan-bantahan yang kita tujukan kepada mereka-mereka yang menolak jihad ofensif.

Bagaimana dengan ayat: “Sesungguhnya diutusnya Rasul, adalah rahmat bagi alam semesta”

Kita jawab, “…dan sesungguhnya Rasul DIUTUS UNTUK MEMERANGI DAN MEMBERANTAS KEKAFIRAN dimuka bumi. Sebagaimana disebutkan dalam hadits diatas.”

Jika kembali ditanyakan, “kenapa ayat dan hadits bisa bertentangan”

Kita jawab, “ayat dan haditsnya tidak bertentangan; dan keduanya TIDAK MUNGKIN dan TIDAK AKAN PERNAH bertentangan SELAMA-LAMANYA. Karena al Qur-aan dan as Sunnah, keduanya datang dari Allah. Termasuk juga AKAL/PIKIRAN kita, itupun datang dari Allah. Maka al Qur-aan, as Sunnah *yang shahiih*, serta akal, tidak akan pernah bertentangan, karena semuanya datangnya dari Allah. Lantas bagaimana jika “akalmu” mengatakan “bertentangan”? kita jawab, sesungguhnya “akal abu bakar”, “akal ‘umar’, “akal para ulama” tidak menganggapnya bertentangan. Maka mungkin yang patut disalahkan adalah akalmu. Karena mungkin telah terkotori oleh syubuhat atau hawa nafsu.

Sesungguhnya ayat dan haditsnya sangat mudah dijama’. Sesungguhnya pengutusan Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam, adalah rahmat bagi semesta alam; DAN memerangi kaum kuffar di muka bumi TERMASUK rahmat bagi semesta alam. Lho kok bisa begitu?

Ya, Bisa..

Allah berfirman

يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَارْجُوا الْيَوْمَ الْآخِرَ وَلَا تَعْثَوْا فِي الْأَرْضِ مُفْسِدِينَ

(Nabi Syu’aib berkata) “Hai kaumku, sembahlah olehmu Allah, harapkanlah (pahala) hari akhir, dan jangan kamu berkeliaran di muka bumi berbuat kerusakan”.

(Al-Ankabut: 36)

Tidak tahukah engkau makna “berbuat kerusakan dimuka bumi” ditafsirkan oleh para ulama tafsir sebagai “berbuat kemaksiatan dimuka bumi?” tidakkah engkau tahu SEJELEK-JELEKNYA KEMAKSIATAN ADALAH KEKUFURAN/KESYIRIKAN?

Bukankah dengan memberantas para pembuat kerusakan merupakan sebuah rahmat? YA!

Bahkan telah jelas sabda Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam:

جِرُ يَسْتَرِيحُ مِنْهُ الْعِبَادُ وَالْبِلادُ وَالشَّجَرُ وَالدَّوَابُّ

adapun (mati-nya) seorang hamba yang keji (fajir); (maka) para manusia, negeri, pepohonan dan binatang akan teristirahatkan darinya.”

(Muttafaqun ‘alaih)

Tidakkah engkau melihat ini sebagai rahmat bagi alam semesta?!

Kelak diakhir zaman, Nabi ‘Isa ‘alayhis salaam akan membunuh SELURUH AHLUL KITAB, sebagaimana dijelaskan nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya,

« وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ ، لَيُوشِكَنَّ أَنْ يَنْزِلَ فِيكُمُ ابْنُ مَرْيَمَ حَكَمًا عَدْلاً ، فَيَكْسِرَ الصَّلِيبَ ، وَيَقْتُلَ الْخِنْزِيرَ ، وَيَضَعَ الْجِزْيَةَ ، وَيَفِيضَ الْمَالُ حَتَّى لاَ يَقْبَلَهُ أَحَدٌ ، حَتَّى تَكُونَ السَّجْدَةُ الْوَاحِدَةُ خَيْرًا مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا » . ثُمَّ يَقُولُ أَبُو هُرَيْرَةَ وَاقْرَءُوا إِنْ شِئْتُمْ ( وَإِنْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ إِلاَّ لَيُؤْمِنَنَّ بِهِ قَبْلَ مَوْتِهِ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكُونُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا )

“Demi jiwaku yang berada di tangan-Nya. Sebentar lagi Isa bin Maryam akan turun di tengah-tengah kalian sebagai hakim yang adil. Beliau akan menghancurkan salib, membunuh babi, menghapus jizyah (upeti)*, harta semakin banyak dan semakin berkah sampai seseorang tidak ada yang menerima harta itu lagi (sebagai sedekah, pen), dan sujud seseorang lebih disukai daripada dunia dan seisinya.”

(HR Bukhariy dan Muslim)

*An Nawawi menjelaskan,

“Maksudnya, jizyah tidak akan diterima lagi. Dan tidak akan diterima dari orang kafir kecuali Islam. Dengan sekedar menyerahkan jizyah, maka itu tidaklah cukup. Yang diterima hanyalah Islam atau dibunuh.”

(Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 2/190)

Maka “rahmat” harus kita bawa kepada pemahaman yang benar, bukan pemahaman yang keliru, sehingga dengan pemahaman keliru tersebut, menjadikan kita menolak pensyariatan jihad.

dan yang dimaksud dengan jihad, bukanlah dilakukan individu-individu, tapi dilakukan bersama penguasa kaum muslimin. bukanlah dengan bom sana, bom sini, sebagaimana dilakukan orang-orang bodoh, yang mengatasnamakan islam, yang hanya bermodalkan semangat, tapi salah dalam melaksanakan jihad.

wallaahu a’lam

Lantas bagaimana dengan jihad ofensif pada zaman ini?

Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin rahimahullah mengatakan,

إنه في عصرنا الحاضر يتعذر القيام بالجهاد في سبيل الله بالسيف ونحوه

“Kami tegaskan bahwa di zaman sekarang ini mustahil jihad (baca: jihad ofensif) di jalan Allah dengan pedang atau semisalnya bisa ditegakkan karena dua alasan.

لضعف المسلمين ماديًّا ومعنويًّا وعدم إتيانهم بأسباب النصر الحقيقية،

Alasan pertama adalah lemahnya kaum muslimin secara materi maupun non materi; karena kaum muslimin belum mewujudkan secara nyata faktor-faktor datangnya kemenangan[1. Diantara faktor-faktor datangnya kemenangan adalah KUATNYA AQIDAH MEREKA dan BERSATUNYA MEREKA DIATAS AQIDAH TERSEBUT. Apa yang kita lihat sekarang? Kaum muslimin memiliki aqidah yang sesat; sebagiannya berpaham sekuler/liberal, sebagiannya menyekutukan Allah dengan menyembah kubur-kubur, dan banyak kekufuran atau kesyirikan lainnya yang dilakukan kaum muslimin, yang tidak lain hanyalah melemahkan mereka dan menjadikan mereka terhina. Semoga Allah mengembalikan kaum muslimin kepada agamanya yang lurus, sehingga mereka terangkat dari kehinaan menuju kemuliaan. Aamiin]

ولأجل دخولهم في المواثيق والعهود الدولية،

Alasan kedua, karena terikatnya negari-negeri kaum muslimin dengan berbagai perjanjian dan hubungan antar negara (semisal hubungan bilateral ataupun multi lateral, pent) dengan negara-negara kafir.

فلم يبق إلا الجهاد بالدعوة إلى الله على بصيرة،

Sehingga tidak ada jihad (ofensif) di zaman ini kecuali dalam bentuk berdakwah mengajak manusia ke jalan Allah dengan landasan ilmu agama yang mapan.

فإذا تفرغ لها قوم وعملوا فيه جاز إعطاؤهم من نصيب المجاهدين.

Oleh karena itu jika ada sekelompok orang yang menghabiskan waktunya untuk berdakwah yang dilandasi ilmu agama yang mapan maka diperbolehkan jatah zakat yang seharusnya diberikan kepada orang-orang yang berjihad diberikan kepada mereka”.

(Sumber: Majmu Fatawa wa Rasail Muhammad bin Shalih al Utsaimin jilid 18 hal 388 terbitan Dar Tsaraya Riyadh, cetakan kedua tahun 1426 H)

Semoga bermanfaat.

Sumber:

Artikel almanhaj.or.id
Artikel Muslim.or.id
Artikel Ustadz Abul Jauzaa’

3 Komentar

Filed under Aqidah, Manhaj, Manhaj Ahlus-Sunnah wal Jama'ah, Syubhat & Bantahan, Tauhid Uluhiyyah, Ushul Ahlus-sunnah

3 responses to ““Tidak ada paksaan dalam agama”, bukan berarti tidak ada jihad.

  1. Ping-balik: Salah paham ayat: “Tidak ada paksaan dalam agama” | AHLUS SUNNAH WAL JAMA"AH

  2. Bang Uddin

    Jazakaullah, sebagian bro in Islam mengingatkan bahwa
    surah / surat : Yunus Ayat : 99
    walaw syaa-a rabbuka laaamana man fii al-ardhi kulluhum jamii’an afa-anta tukrihu alnnaasa hattaa yakuunuu mu/miniina

    99. Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya ?
    Dan firman-Nya,
    surah / surat : Al-Baqarah Ayat : 256

    laa ikraaha fii alddiini qad tabayyana alrrusydu mina alghayyi faman yakfur bialththaaghuuti wayu/min biallaahi faqadi istamsaka bial’urwati alwutsqaa laa infishaama lahaa waallaahu samii’un ‘aliimun

    256. Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut [] dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

    [] Thaghut, ialah syaitan dan apa saja yang disembah selain dari Allah s.w.t.

    SEBAB TURUNNYA AYAT:
    Diriwayatkan oleh Abu Daud, Nasai dan Ibnu Hibban, dari Ibnu Abbas, katanya, “Ada seorang wanita yang sering keguguran, maka dia berjanji pada dirinya, sekiranya ada anaknya yang hidup, akan dijadikannya seorang Yahudi. Maka tatkala Bani Nadhir diusir dari Madinah, kebetulan di antara mereka ada anak Ansar, maka kata orang-orang Ansar, ‘Kami tak akan membiarkan anak-anak kami,’ maka Allah pun menurunkan, ‘Tak ada paksaan dalam agama.'” (Q.S. Al-Baqarah 256)
    Ibnu Jarir mengetengahkan, dari jalur Said atau Ikrimah dari Ibnu Abbas, katanya, “Tak ada paksaan dalam agama.” Ayat itu turun mengenai seorang Ansar dari Bani Salim bin Auf bernama Hushain, yang mempunyai dua orang anak beragama Kristen, sedangkan ia sendiri beragama Islam. Maka katanya kepada Nabi saw., “Tidakkah akan saya paksa mereka, karena mereka tak hendak meninggalkan agama Kristen itu?” Maka Allah pun menurunkan ayat tersebut.

    Dua ayat ini dan ayat-ayat yang lain semakna, dijelaskan oleh para ulama terkait dengan orang yang punya hak untuk diambil jizyahnya (upeti) seperti Yahudi dan Nashrani, Majusi tanpa ada paksaan. Bahkan mereka diberi pilihan antara (masuk) Islam atau membayar jizyah.

    Mengenai kewajiban dan konsekwensi ada di
    surah / surat : Al-Baqarah Ayat : 44

    ata/muruuna alnnaasa bialbirri watansawna anfusakum wa-antum tatluuna alkitaaba afalaa ta’qiluuna

    44. Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir?

  3. Bang Uddin

    surah / surat : Al-Baqarah Ayat : 256
    256. Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut [] dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

    [] Thaghut, ialah syaitan dan apa saja yang disembah selain dari Allah s.w.t.

    SEBAB TURUNNYA AYAT:
    Diriwayatkan oleh Abu Daud, Nasai dan Ibnu Hibban, dari Ibnu Abbas, katanya, “Ada seorang wanita yang sering keguguran, maka dia berjanji pada dirinya, sekiranya ada anaknya yang hidup, akan dijadikannya seorang Yahudi. Maka tatkala Bani Nadhir diusir dari Madinah, kebetulan di antara mereka ada anak Ansar, maka kata orang-orang Ansar, ‘Kami tak akan membiarkan anak-anak kami,’ maka Allah pun menurunkan, ‘Tak ada paksaan dalam agama.'” (Q.S. Al-Baqarah 256) Ibnu Jarir mengetengahkan, dari jalur Said atau Ikrimah dari Ibnu Abbas, katanya, “Tak ada paksaan dalam agama.” Ayat itu turun mengenai seorang Ansar dari Bani Salim bin Auf bernama Hushain, yang mempunyai dua orang anak beragama Kristen, sedangkan ia sendiri beragama Islam. Maka katanya kepada Nabi saw., “Tidakkah akan saya paksa mereka, karena mereka tak hendak meninggalkan agama Kristen itu?” Maka Allah pun menurunkan ayat tersebut.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s