Penguasa yang zhalim

Ditimpakannya penguasa yang zhalim adalah musibah bagi suatu kaum

Jika kita tanyakan, “apakah pemimpin zhalim itu musibah bagi kaum muslimin atau tidak?” Maka pastilah kita akan jawab: “ini musibah”, maka kita katakan: “Bukankah musibah yang Allah timpakan kepada kaum muslimin dikarenakan dosa-dosa mereka?”

Allah berfirman:

مَا أَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللَّهِ وَمَا أَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَفْسِكَ

Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri.

(QS. Nisa’:79)

Allah juga berfirman:

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)”.

(QS. Syura: 30)

Pemimpin yang zhalim, tidaklah ditimpakan kecuali kepada PENDUDUK/RAKYAT YANG ZHALIM

Jika pada point pertama diatas merupakan dalil-dalil umum; maka pada point ini adalah point-point khusus; bahwa Allah akan menimpakan pemimpin yang zhaalim, bagi rakyat yang zhalim.

Allah berfirman:

وَكَذَلِكَ نُوَلِّي بَعْضَ الظَّالِمِينَ بَعْضًا بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Dan demikianlah, kami jadikan orang yang zalim sebagai pemimpin bagi orang zhalim disebabkan apa-apa yang mereka perbuat.”

(Qs. Al An’am: 129)

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

لَمْ تَكُنْ مَضَتْ فِي أَسْلَافِهِمْ الَّذِينَ مَضَوْا وَلَمْ يَنْقُصُوا الْمِكْيَالَ وَالْمِيزَانَ إِلَّا أُخِذُوا بِالسِّنِينَ وَشِدَّةِ الْمَئُونَةِ وَجَوْرِ السُّلْطَانِ عَلَيْهِمْ

…Tidaklah ORANG-ORANG (yaitu RAKYAT) mengurangi takaran dan timbangan, kecuali mereka akan disiksa dengan paceklik, kehidupan susah, dan KEZHALIMAN PENGUASA!…

[HR Ibnu Majah no. 4019, al Bazzar, al Baihaqi; dari Ibnu ‘Umar. Dishohihkan oleh Syaikh al Albani dalam ash-Shohihah no. 106, Shohih at-Targhib wat-Tarhib no. 764]

Allah tidak akan mengubah nikmat yang ada pada suatu kaum, sampai kaum tersebut mengubah apa-apa yang ada pada diri mereka sendiri.

Maka masalahnya ada pada diri kita sendiri, keluarga kita sendiri, lingkungan kita sendiri, masyarakat kita sendiri…

إِنَّ اللهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوْا مَا بِأَ نْفُسِهِمْ

Artinya : “Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah apa-apa yang ada pada mereka”

(QS. Ar-Ra’d : 11)

Maka prioritas utama kita, adalah DIRI KITA dan KELUARGA KITA SENDIRI, sebagaimana ini yang telah Allah dan RasulNya wajibkan atas kita, sebagaimana firmanNya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu…

(At-Tahrim: 6)

Dia juga berfirman:

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا

Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya.

(Thaa-Haa: 132)

Ketika kita dan keluarga kita telah berada diatas keshalihan; alhamdulilaah, kita telah menunaikan kewajiban yang Allah wajibkan..

Akan tetapi, “bagaimana jika lingkungan kita masih berada diatas kezhaliman?” jawab: maka kita menasehati mereka semampu kita, untuk merealisasikan firmanNya:

وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.

(Al-Ashr: 3)

Lantas bagaimana sikap kita terhadap pemimpin yang zhalim?

Maka kita bersabar dan terus bersabar atas kezhaliman mereka… Niscaya kita akan diganti dengan yang lebih baik:

وَأَوْرَثْنَا الْقَوْمَ الَّذِينَ كَانُوا يُسْتَضْعَفُونَ مَشَارِقَ الْأَرْضِ وَمَغَارِبَهَا الَّتِي بَارَكْنَا فِيهَا وَتَمَّتْ كَلِمَتُ رَبِّكَ الْحُسْنَىٰ عَلَىٰ بَنِي إِسْرَائِيلَ بِمَا صَبَرُوا وَدَمَّرْنَا مَا كَانَ يَصْنَعُ فِرْعَوْنُ وَقَوْمُهُ وَمَا كَانُوا يَعْرِشُونَ

Dan Kami pusakakan kepada kaum yang telah ditindas itu, negeri-negeri bahagian timur bumi dan bahagian baratnya yang telah Kami beri berkah padanya. Dan telah sempurnalah perkataan Rabbmu yang baik (sebagai janji) untuk Bani Israil DISEBABKAN KESABARAN MEREKA… Dan Kami hancurkan apa yang telah dibuat Fir’aun dan kaumnya dan apa yang telah dibangun mereka.

(Al-A’raaf: 137)

Dan diatara kesabaran kita terhadap penguasa adalah dengan tidak memberontak atau mencela penguasa secara terang-terangan; karena nabi telah melarang kita terhadapnya.

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

لاَ تَسُبُّوا أُمَرَاءَكُمْ، وَلاَ تَغِشُّوْهُمْ وَلاَ تُبْغَضُوْهُمْ وَاتَّقُوا اللهَ وَاصْبِرُوْا، فَإِنَّ اْلأَمْرَ قَرِيْبٌ

“Janganlah kalian mencela pemimpin-pemimpin kalian, janganlah kalian dengki kepada mereka dan janganlah membenci mereka, (tetapi) bertaqwalah kepada Allah (–yaitu: dengan tetap taat kepada mereka dalam hal kebaikan, dan tidak memberontak kepada mereka, sebagiamana telah diperintahkan kepada kalian–) dan bersabarlah (–yaitu: dalam mengamalkannya–), sesungguhnya perkara ini sudah dekat.”

(Shahiih; HR. Ibnu Abi ‘Asyim)

Bahkan beliau bersabda:

مَنْ أَهَانَ سُلْطَانَ اللَّهِ فِي الْأَرْضِ أَهَانَهُ اللَّهُ

Barangsiapa yang menghina (merendahkan) penguasa yang ditunjuk Allah di muka bumi, maka Allah akan menghinakannya.’”

(Hadits Hasan Gharib, Lihat Sunan At-Tirmidzi no. 2224).

Benar, kita membenci perbuatannya… benar, kita harus mengingkari kemungkarannya… Namun kita tidak dengan merendahkannya, tidak dengan mencelanya terang-terangan, dan tidak dengan melepaskan diri dari ketaatan (dalam perkara baik) kepadanya, tidak dengan memberontak kepadanya!!

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

شِرَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِيْنَ تُبْغِضُوْنَهُمْ وَيُبْغِضُوْنَكُمْ وَتَلْعَنُوْنَهُمْ وَيَلْعَنُوْنَكُمْ.

“Sejelek-jelek pemimpin kalian adalah yang kalian membencinya dan mereka membenci kalian, yang kalian melaknatinya dan mereka melaknati kalian.“

Dikatakan kepada beliau: “Wahai Rasulullah, tidakkah kita melawannya dengan pedang (senjata)?“

Beliau mengatakan:

لاَ، مَا أَقَامُوْا فِيْكُمُ الصَّلاَةَ

“Jangan, selama mereka mendirikan shalat di tengah-tengah kalian.

وَإِذَا رَأَيْتُمْ مِنْ وُلاَتِكُمْ شَيْئًا تَكْرَهُوْنَهُ فَاكْرَهُوا عَمَلَهُ وَلاَ تَنْزِعُوا يَدًا مِنْ طَاعَةٍ

Jika kalian melihat pada pemimpin kalian sesuatu yang kalian benci maka bencilah perbuatannya dan jangan kalian cabut tangan kalian dari ketaatan.“

(Shahih, HR. Muslim)

Beliau bahkan bersabda:

وَسَيَقُوْمُ فِيْهِمْ رِجَالٌ، قُلُوْبُهُمْ قُلُوْبُ الشَّيَاطِيْنِ فِيْ جُثْمَانِ إِنْسٍ

Dan akan ada diantara para penguasa (diakhir zaman) adalah orang-orang yang berhati setan namun berbadan manusia.”

Hudzaifah bertanya: “Apa yang kuperbuat bila aku mendapatinya?”

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

تَسْمَعُ وَتُطِيْعُ لِلأَمِيْرِ، وَإِنْ ضُرِبَ ظَهْرُكَ وَأُخِذَ مَالُكَ، فَاسْمَعْ وَأَطِعْ!

“Hendaknya engkau mendengar dan menaati penguasa tersebut (dalam hal kebaikan) walaupun punggungmu dicambuk [otoriter] dan hartamu dirampas [korupsi] olehnya, maka dengarkanlah (perintahnya) dan taatilah (dia) [dalam perkara kebaikan].”

(HR. Muslim dari shahabat Hudzaifah bin Al-Yaman, 3/1476, no. 1847)

Apakah hanya bersabar saja tanpa menasehati?

Tentu tidak seperti itu, kewajiban bagi orang-orang yang berilmu tentang suatu kemungkaran, adalah mengingkari kemungkaran yang ia ketahui tersebut…

Tapi Apakah cara menasehatinya dengan BERDEMO (sebagaimana SUNNAH ORANG-ORANG KAFIR)? atau Memprovokasi massa dengan menyebutkan kejelekan pemerintah di pengajian, mimbar-mimbar, majalah-majalah, serta forum internet?

Duhai saudaraku….bukan seperti itu!

cara menasehatinya pun, harus sesuai sunnah nabi, yaitu Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam:

مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْصَحَ لِسلْطَانٍ بِأَمْرٍ فَلاَ يُبْدِ لَهُ عَلاَنِيَّةً وَلَكِنْ لَيَأْخُذَ بِيَدِهِ فَيَخْلُوَ بِهِ

“Barangsiapa yang ingin menasihati sulthan (pemimpin kaum muslimin) tentang satu perkara, maka JANGANLAH ia MENAMPAKKANNYA secara terang-terangan. Akan tetapi hendaklah ia mengambil tangannya secara menyendiri (untuk menyampaikan nasihat).

فَإِنْ قَبِلَ مِنْهُ فَذَاكَ وَإِلا كَانَ قَدْ أَدَّى الَّذِيْ عَلَيْهِ

Bila sulthan tersebut mau mendengar nasihat tersebut, maka itu yang terbaik. Dan bila sulthan tersebut enggan (tidak mau menerima), maka sungguh ia (si penasihat) telah melaksanakan kewajibannya yang dibebankan kepadanya”

[HR. Ahmad no. 15369, Ibnu Abi ‘Ashim dalam As-Sunnah no. 1096-1098, dan Al-Hakim no. 5269; shahih lighairihi]

Dan para ulamaa’ berada dishaff terdepat untuk menunaikan kewajiban ini… Akan tetapi rakyat, TIDAK BOLEH berprasangka buruk terhadap para ulamaa’ khususnya ulamaa’ yang dikenal berpegang teguh diatas agama. Menyangka mereka DUDUK BERDIAM DIRI SAJA, tanpa mau menasehati sulthan. Kita tanyakan: “apakah nasehatnya harus dihadapanmu barulah engkau mengatakan dia telah menasehatinya? lantas dimana pengamalan hadits diatas?”

Seseorang berkata kepada Usamah bin Zeyd:

“Apakah engkau tidak menemui ‘Utsman (bin ‘Affan) dan menasihatinya ?”.

Maka Usamah menjawab :

“Apakah engkau memandang bahwa aku tidak menasihatinya kecuali aku perdengarkan di hadapanmu?! Demi Allah, sungguh aku telah menasihatinya dengan empat mata. Sebab aku tidak akan membuka perkara (fitnah) dimana aku tidak menyukai jikalau aku adalah orang pertama yang membukanya”

(HR Bukhariy, Muslim, dan selainnya)

Kembali kepada agamaNya, dengan meluruskan keimanan dan bertaqwa kepadaNya

Allah subhaanahu wa ta’ala berfirman:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).

(QS. Ar Ruum: 41)

Allah subhaanahu ta’ala berfirman:

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri BERIMAN dan BERTAQWA, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.

(QS. Al A’raf : 96)

Dan salah satu adzab Allah di dunia adalah ditimpakannya bagi mereka pemimpin yang zhalim, sebagaimana mereka berbuat zhalim terhadap diri-diri mereka…

Jika SETIAP MUSLIM di negeri ini berusaha untuk BERIMAN dan BERAMAL SHALIH.. bukankah akan tercipta KESHALIHAN diseluruh negri? dan bukankah Allah telah berjanji:

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal shaleh

لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ

bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa,

وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَىٰ لَهُمْ

dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka,

وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّن بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا

dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa.

يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا

(dengan syarat) Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku….

(An-Nur : 55)

Namun apa yang terjadi ditengah-tengah kita? kesyirikan mewabah dimana-mana… banyaknya orang-orang yang meminta-minta di kuburan, bahkan sebagian dari mereka menyembah sapi, masih banyak diantara kita yang sering ke dukun, banyak pula yang meninggalkan shalat wajib, bahkan tidak pernah shalat sama sekali!

Apakah negeri seperti ini pantas mendapatkan janji Allah diatas?

maka jika hendak mendapatkan pemimpin yang shalih, hendaknya setiap rakyat menjadikan diri-diri mereka shalih, dan menjadikan keluarga mereka shalih; karena itulah kewajiban setiap muslim, sebagaimana firmanNya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu…

(At-Tahrim: 6)

Kalau SETIAP DIRI KITA melaksanakan perintah ini, sehingga SETIAP KELUARGA melaksanakan perintah ini… sehingga SETIAP RAKYAT beriman dan bertaqwa, bukankah Allah akan memenuhi janjiNya?

Ketahuilah, Allah berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَا يُخْلِفُ الْمِيعَادَ

Sesungguhnya Allah tidak menyalahi janji.

(Aali ‘Imraan: 9)

Maka bathillah mereka-mereka yang HANYA MODAL SEMANGAT… tapi tidak mengikuti perintah syari’at… sehingga mereka beramal dan berdakwah BERDASARKAN KEBODOHAN.. mereka mencari solusi yang berlainan dengan solusi yang Allah dan RasulNya jelaskan.. Adakah dengan jalan itu mereka akan mendapatkan apa yang mereka inginkan? TIDAK sekali-kali TIDAK AKAN!

Sebagaimana kita dapati orang-orang yang menyibukkan diri dengan MENGAJAK MANUSIA agar mendukung partainya (yang agenda partainya adalah penegakkan khilafah). Sunnah mana yang mereka ikuti dalam hal ini?! Apakah para nabi dan rasul melakukan demikian? BERORIENTASI kepada sistem negara? ataukah BERORIENTASI terhadap perbaikan DIRI-DIRI setiap manusia?

Sebagiamana pula kita dapati sebagian kelompok lain, yang menyibukkan diri dengan KUDETA.. Menggunakan senjata untuk memberontak penguasa yang zhalim untuk menurunkannya.. Sunnah siapa yang mereka ikuti? Bahkan terhadap penguasa kaum muslimin, Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam memerintahkan kita untuk tetap taat dalam kebaikan dan tidak memberontak kepadanya.

Inilah orang-orang YANG PUTUS ASA dengan janji Allah..

Ingin mengambil jalan pintas, sehingga malah menempuh jalan kesesatan dan meninggalkan jalan kebenaran yang diperintahkan Allah dan RasulNya untuk menempuhnya untuk mendapatkan solusi problematika ummat…

Sehingga bukannya memberi solusi, justru mereka semakin jauh dari kebenaran dan semakin jauh dari menyelesaikan problem ini.. Bahkan yang ada, SEMAKIN MENAMBAH PROBLEMATIKA UMMAT dengan problem yang baru.. Yang mereka ada-adakan.. tsumma na’udzubillah…

Sesungguhnya apa yang kita dapati dari mereka-mereka yang semangat buta ini sudah terjadi jauh dizaman tabi’in… Simaklah kisah berikut! Sulaiman bin ‘Ali Ar-Rab’i meriwayatkan:

“Tatkala terjadi fitnah Ibnul Asy’ats; yang memberontak kepada Al-Hajjaj bin Yusuf; maka ‘Uqbah bin Abdul Ghafir, Abul Jauza` dan Abdullah bin Ghalib dari kalangan orang-orang yang seperti mereka (yakni kaum Khawarij), mendatangi Al-Hasan –yakni Al-Bashri–.

Mereka berkata:

‘Wahai Abu Sa’id (yakni Al-Hasan)! Apa pendapatmu terhadap perbuatan memerangi orang yang melampaui batas ini (yaitu Al-Hajjaj), yang telah menumpahkan darah yang haram dan mengambil harta yang haram, meninggalkan shalat, dan berbuat ini dan itu…?’ Mereka lalu menyebutkan perbuatan-perbuatan Al-Hajjaj…

Al-Hasan Al-Bashri menjawab:

‘Aku berpendapat bahwa kalian TIDAK BOLEH MEMBERONTAK kepadanya.

Karena, bila ini adalah hukuman dari Allah, maka kalian tidak akan bisa menolak hukuman Allah dengan pedang-pedang kalian.

dan bila ini merupakan ujian, hendaknya kalian bersabar sampai Allah menentukan hukumnya, dan Allah adalah Hakim yang terbaik.’

Mereka pun pergi dari sisi Al-Hasan dan mengatakan:

‘Apakah kita akan menaati al-’ilj [yaitu orang kafir dari kalangan ‘ajam] ini?’ Sedangkan mereka (yang memberontak itu) adalah orang Arab!? Akhirnya mereka ikut memberontak bersama Ibnul Asy’ats, dan mereka semua terbunuh.”

(Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’d dalam Ath-Thabaqat 7/163-164, Ad-Dulabi dalam Al-Kuna 2/121, dengan sanad yang shahih. Diringkas dari Fatawal ‘Ulama Al-Akabir, hal. 36-37; dipetik dari artikel majalah asy-syari’ah)

Sampai sekarang pun, demikianlah KHAWARIJ menyikapi ulamaa’ ahlus sunnah.. setiap kali ulamaa’ memfatwakan PERSIS sebagaimana yang difatwakan oleh AL IMAM AL HASAN AL BASHRIY, maka mereka melakukan hal YANG SAMA PERSIS sebagaimana yang dilakukan NENEK MOYANG mereka..

Dikatakan:

– “ulamaa’ pemerintah”
– “ansharuth thaaghut”
– dan label-label lain (yang merendahkan para ulamaa’)

Allah berfirman:

كَذَٰلِكَ قَالَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِم مِّثْلَ قَوْلِهِمْ تَشَابَهَتْ قُلُوبُهُمْ

Demikian pula orang-orang yang sebelum mereka telah mengatakan seperti ucapan mereka itu; hati mereka serupa.

(Al-Baqarah: 118)

Kita berlindung kepada Allah dari kebodohan, ketergesa-gesaan, serta keputus-asaan sehingga menyebabkan kita menyimpang dari jalanNya yang lurus. aamiin

Tinggalkan komentar

Filed under Manhaj, Manhaj Ahlus-Sunnah wal Jama'ah, Ushul Ahlus-sunnah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s