Menampakkan nikmatNya…

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

فَإِذَا آتَاكَ اللَّهُ مَالًا فَلْيُرَ أَثَرُ نِعْمَةِ اللَّهِ عَلَيْكَ وَكَرَامَتِهِ

“Jika Allah memberimu harta maka tampakkanlah wujud dari nikmat-Nya dan pemberian-Nya itu pada dirimu.”

[HR. Abu Daud (4064) dan lafazhnya berdasarkan periwayatannya, dan Al-Albani menshahihkannya, dan Ahmad (15457), dan An-Nasaa’i (5223)]

Beliau juga bersabda:

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ أَنْ يَرَى أَثَرَ نِعْمَتِهِ عَلَى عَبْدِهِ

“Sesungguhnya Allah senang melihat bekas nikmat-Nya pada hamba-Nya”

(HR. Tirmidziy, dishahiihkan syaikh al-albaaniy)

Juga dalam hadits yang telah kita ketahui:

Rasulullah bersabda:

لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِيْ قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ

“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada kesombongan seberat dzarrah (biji atom)”.

Seseorang berkata:

Sesungguhnya ada seorang laki-laki yang menyukai pakaiannya bagus dan sandalnya bagus

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,

إِنَّ اللهَ جَمِيْلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ

Sesungguhnya Allah indah dan menyukai keindahan

الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَ غَمْطُ النَّاسِ

sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia

[HR Muslim, no. 91; Abu Dawud, no. 4091; at Tirmidzi, no. 1999 dan al Baghawi, no. 3587 dari hadits Abdullah bin Mas’ud]

Ibnu Hajar berkata :

“Keseluruhan dalil yang ada menjelaskan bahwa barangsiapa yang memaksudkan dengan pakaiannya yang bagus untuk MENAMPAKKAN dan MENUNJUKKAN nikmat Allah kepada-nya serta bersyukur atas nikmat tersebut TANPA MERENDAHKAN orang yang tidak memiliki hal yang semisal dirinya, maka pakaian mubah yang dikenakannya tidak akan memudharatkannya walaupun yang pakaian yang dia pakai sangat berharga.”

[Fathul Baari (10/271)]

Apakah bertentangan dengan tawadhu’?

1. Dalam hadits sombong diatas, salah seorang bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam; tentang orang yang suka berpakaian yang bagus. Namun dijawab Rasullullah, “Allah itu Indah, dan mencintai keindahan, adapun sombong adalah menolak kebenaran dan MEREMEHKAN MANUSIA” Maka tidak ada pertentangan, karena kita tahu LAWAN KATA dari tawadhu’ adalah SOMBONG. Maka selama orang yang menggunakan pakaian bagus tersebut tidak meninggikan dirinya serta merendahkan manusia, maka ia tidak sombong. Lihat lagi perkataan Ibnu Hajar diatas.

2. Lantas bagaimana dengan hadits berikut:

مَنْ تَرَكَ اللِّبَاسَ تَوَاضُعًا لِلَّهِ وَهُوَ يَقْدِرُ عَلَيْهِ دَعَاهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى رُءُوسِ الْخَلَائِقِ حَتَّى يُخَيِّرَهُ مِنْ أَيِّ حُلَلِ الْإِيمَانِ شَاءَ يَلْبَسُهَا

“Barangsiapa meninggalkan pakaian (mewah) KARENA MERENDAH KEPADA ALLAH, padahal ia mampu, Allah akan memanggilnya pada hari kiamat di hadapan semua makhluk hingga Ia mempersilahkan untuk memilih pakaian dari perhiasan iman mana saja yang ia mau.”

(HR. At-Tirmdiziy; Beliau berkata “Hadits ini hasan dan makna sabda: “Perhiasan iman” adalah perhiasan surga yang diberikan kepada ahli iman.”)

Tidak bertentangan…

Dalam hadits tentang “menampakkan nikmat” disebutkan bahwa asbabul wurud haditsnya adalah dikarenakan seseorang yang memakai pakaian yang compang-camping padahal ia mampu untuk memakai pakaian yang lebih layak dari itu. Sehingga ia diperintahkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam untuk menggunakan pakaian yang layak, dalam rangka menampakkan nikmat yang Allah berikan kepadanya.

dari Abu Al Ahwash dari bapaknya ia berkata:

“Aku masuk menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu beliau melihatku dalam keadaan yang kurang rapi (seperti pengemis).”

Maka beliau bertanya:

أَلَكَ مَالٌ

“Apakah engkau mempunyai harta?”

Ia menjawab, “Ya.”

beliau bertanya lagi:

مِنْ أَيِّ الْمَالِ

“Harta apa saja?”

ia menjawab,

“Allah telah memberiku unta, kambing, kuda dan budak.”

Beliau bersabda:

فَإِذَا آتَاكَ اللَّهُ مَالًا فَلْيُرَ أَثَرُ نِعْمَةِ اللَّهِ عَلَيْكَ وَكَرَامَتِهِ

“Jika Allah memberimu harta maka tampakkanlah wujud dari nikmat-Nya dan pemberian-Nya itu pada dirimu.”

(lihat takhrijnya diatas)

Maka maksud dari hadits diatas adalah kita berpakaian yang SEWAJARNYA.. dalam artian BUKANLAH arti zuhud itu berpakaian compang-camping layaknya pengemis..

Al-Hasan Al-Bashri menyatakan bahwa zuhud itu bukanlah mengharamkan yang halal atau menyia-nyiakan harta, akan tetapi zuhud di dunia adalah engkau lebih mempercayai apa yang ada di tangan Allah daripada apa yang ada di tanganmu. Keadaanmu antara ketika tertimpa musibah dan tidak adalah sama saja, sebagaimana sama saja di matamu antara orang yang memujimu dengan yang mencelamu dalam kebenaran.

Lantas bagaimana mengkompromikan kedua hadits diatas?

Sekali lagi tidak ada pertentangan, hadits yang dibawakan diatas pun TIDAK MENYURUH kita untuk berpakaian compang-camping.. hadits kedua menunjukkan keutamaan orang-orang yang tawadhu’.. ia berpakaian dengan pakaian yang layak, padahal ia mampu untuk berpakaian yang lebih mewah dari itu.. ia berbuat demikian karena mengharap wajah Allah, bukan karena ingin dibilang tawadhu’, atau ingin dipuji manusia..

Wallaahu a’lam

1 Komentar

Filed under Akhlak

One response to “Menampakkan nikmatNya…

  1. danang

    Jazakumullahu khoiron Katsiro atas artikelnya. Minta ijin Co-pas yaaa..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s