Teman yang baik

Tanya: Siapakah yang pantas disebut dengan teman yang baik? Jawab: teman yang baik adalah teman yang menemanimu ketika engkau sulit maupun senang.

Tapi ketahuilah, tidak ada satupun yang akan menemani kita dialam kubur kelak! Baik itu teman kita (sekalipun teman kita tersebut orang bertaqwa), bahkan keluarga kita sekalipun! Tapi, menurut sabda nabi, ada teman yang akan menemani kita dialam kubur… Siapakah?!

Ketahuilah bahwa amalan kitalah yang akan menjadi teman yang menemani kita di alam kubur!

Nabi bersabda:

يَتْبَعُ الْمَيِّتَ ثَلَاثَةٌ فَيَرْجِعُ اثْنَانِ وَيَبْقَى مَعَهُ وَاحِدٌ

“Suatu yang mengikuti mayat ada tiga, dua kembali pulang, dan satu ikut bersamanya…

يَتْبَعُهُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَعَمَلُهُ فَيَرْجِعُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَيَبْقَى عَمَلُهُ

Ia dihantarkan keluarganya, hartanya dan amalnya, maka yang kembali pulang keluarganya dan hartanya; sedangkan yang tersisa (bersamanya, hanyalah) AMALnya.”

(Bukhariy, muslim dsl)

Amalan shaalih… itulah teman yang baik

Segala amalan yang wajib maupun yang sunnah

Rasulullah juga bersabda:

إِنَّ الْمَيِّتَ لَيَسْمَعُ خَفْقَ نِعَالِهِمْ حِينَ يُوَلُّونَ عَنْهُ مُدْبِرِينَ

“Sesungguhnya mayat masih dapat mendengar suara sandalmu tatkala kamu meninggalkannya.

فَإِذَا كَانَ مُؤْمِنًا كَانَتِ الصَّلاةُ عِنْدَ رَأْسِهِ ، وَالزَّكَاةُ عَنْ يَمِينِهِ ، وَكَانَ الصِّيَامُ عَنْ يَسَارِهِ ، وَكَانَ فِعْلُ الْخَيْرَاتِ وَالصَّدَقَةُ وَالصِّلَةُ وَالْمَعْرُوفُ وَالإِحْسَانُ إِلَى النَّاسِ عِنْدَ رِجْلَيْهِ

Jika dia orang yang BERIMAN, maka SHALAT berada didekat kepalanya, ZAKAT disebelah kanannya, SHAUM disebelah kirinya, dan aneka amal kebaikan seperti SEDEKAH, SILATURRAHMI, KEMA’RUFAN dan IHSAN KEPADA MANUSIA (yaitu akhlaq yang mulia) didekat kedua kakinya.

فَيُؤْتَى مِنْ عِنْدَ رَأْسِهِ ، فَتَقُولُ الصَّلاةُ : مَا قِبَلِي مَدْخَلٌ

Kemudian didatangkan malaikat dari arah kepalanya, maka shalat berkata ’Tidak ada jalan dari arahku (untukmu)’

فَيُؤْتَى مِنْ عَنْدَ يَمِينِهِ ، فَتَقُولُ الزَّكَاةُ : مَا قِبَلِي مَدْخَلٌ

kemudian didatangkan malaikat dari arah kanannya maka zakat berkata ’tidak ada jalan dari arahku (untukmu)’

فَيُؤْتَى عَنْ يَسَارِهِ ، فَيَقُولُ الصِّيَامُ : مَا قِبَلِي مَدْخَلٌ

kemudian didatangkan malaikat dari arah kirinya maka puasa berkata ’tidak ada jalan dari arahku (untukmu)’

فَيُؤْتَى مِنْ عِنْدِ رِجْلَيْهِ ، فَيَقُولُ : فِعْلُ الْخَيْرَاتِ مِنَ الصَّدَقَةِ وَالصِّلَةِ وَالْمَعْرُوفِ وَالإِحْسَانِ إِلَى النَّاسِ : مَا قِبَلِي مَدْخَلٌ

kemudian didatangkan malaikat dari arah kakinya, maka aneka amal kebaikan, sedekah (sunnah), mnymbg silaturahmi , dan segala perbuatan ma’ruf, dan perbuatan baiknya kepada manusia berkata: ’tidak ada jalan dari arahku (untukmu)’

(HR ahmad, dihasankan syekh albaaniy)

Segala Amalan yang dilaksanakan ikhlash karena Allah (dan mencocoki sunnah/tuntunan Rasuululaah)

Dalam hadits lain disebutkan:

إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah segala amalannya, kecuali dari tiga perkara: shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat atau anak shaleh yang mendoakannya”.

(dalam lafazh ibnu Maajah)

خَيْرُ مَا يُخَلِّفُ الرَّجُلُ مِنْ بَعْدِهِ ثَلاَثٌ : وَلَدٌ صَالِحٌ يَدْعُو لَهُ وَصَدَقَةٌ تَجْرِي يَبْلُغُهُ أَجْرُهَا وَعِلْمٌ يُعْمَلُ بِهِ مِنْ بَعْدِهِ

“Sebaik-baik apa yang ditinggalkan oleh seseorang setelah kematiannya adalah tiga perkara: anak shalih yang mendo’akannya, shadaqah mengalir yang pahalanya sampai kepadanya, dan ilmu yang diamalkan orang setelah (kematian) nya”.

[HR. Muslim, Abu Dawud, Nasaa-iy (lafazh pertama) ; Ibnu Maajah dan selainnya (lafazh kedua)]

Juga dalam hadits lain:

إِنَّ مِمَّا يَلْحَقُ الْمُؤْمِنَ مِنْ عَمَلِهِ وَحَسَنَاتِهِ بَعْدَ مَوْتِهِ

“Sesungguhnya di antara amalan dan kebaikan seorang mukmin yang akan menemuinya setelah kematiannya adalah:

عِلْمًا عَلَّمَهُ وَنَشَرَهُ

ilmu yang diajarkan dan disebarkannya,

وَوَلَدًا صَالِحًا تَرَكَهُ

anak shalih yang ditinggalkannya,

وَمُصْحَفًا وَرَّثَهُ

mush-haf yang diwariskannya,

أَوْ مَسْجِدًا بَنَاهُ

masjid yang dibangunnya,

أَوْ بَيْتًا لاِبْنِ السَّبِيلِ بَنَاهُ

rumah untuk ibnu sabil yang dibangunnya,

أَوْ نَهْرًا أَجْرَاهُ

sungai (air) yang dialirkannya untuk umum,

أَوْ صَدَقَةً أَخْرَجَهَا مِنْ مَالِهِ فِي صِحَّتِهِ وَحَيَاتِهِ

atau shadaqah yang dikeluarkannya dari hartanya diwaktu sehat dan semasa hidupnya,

يَلْحَقُهُ مِنْ بَعْدِ مَوْتِهِ

(semua) inilah yang akan menemuinya setelah dia meninggal dunia”.

(Hasan, HR. Ibnu Maajah, al Bayhaqiy dan selainnya)

Tentang ilmu yang bermanfaat

Adapun tentang ilmu bermanfaat yang diajarkan, maka ini banyak keutamaannya, bahkan ia mendapat seutama-utama keutamaan

مَنْ عَلَّمَ عِلْمًا فَلَهُ أَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهِ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الْعَامِلِ

“Barangsiapa mengajarkan suatu ilmu (yang bermanfaat), maka dia mendapatkan pahala orang yang mengamalkannya, tidak mengurangi dari pahala orang yang mengamalkannya sedikitpun”.

(Hasan, HR. Ibnu Maajah)

Dalam riwayat Muslim:

مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ اْلأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا

“Barangsiapa yang menyeru kepada petunjuk (kebajikan), maka dia mendapatkan pahala sebagaimana pahala-pahala orang yang mengikutinya, hal itu tidak mengurangi pahala-pahala mereka sedikitpun.

وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلاَلَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنَ اْلإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا

Dan barangsiapa menyeru kepada kesesatan, maka dia mendapatkan dosa seperti dosa-dosa orang yang mengikutinya, hal itu tidak mengurangi dosa-dosa mereka sedikitpun”.

(HR Muslim)

Termasuk pula, apabila amal shalihnya diikuti oleh orang-orang

Termasuk pula apabila ia mengamalkan suatu amalan shalih, kemudian amalan shalihnya tersebut diikuti orang-orang, maka ia pun senantiasa mendapatkan pahala orang-orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi pahala mereka.

مَنْ سَنَّ سُنَّةً حَسَنَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كَانَ لَهُ أَجْرُهُ وَمِثْلُ أُجُورِهِمْ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا

“Barang siapa yang mencontohkan amalan yang baik, kemudian diamalkan (oleh orang-orang lain) setelahnya, maka dia mendapatkan pahala hal tersebut dan seperti pahala mereka (orang-orang yang mengikuti), dengan tidak mengurangi sedikitpun dari pahala mereka.

وَمَنْ سَنَّ سُنَّةً سَيِّئَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهُ وَمِثْلُ أَوْزَارِهِمْ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْئًا

Dan barang siapa yang mencontohkan amalan yang jelek, kemudian diamalkan (oleh orang-orang lain) setelahnya, maka dia mendapatkan dosa hal tersebut dan seperti dosa mereka (orang-orang yang mengikuti), dengan tidak mengurangi sedikitpun dari dosa-dosa mereka”.

(HR Muslim)

Termasuk pula, apabila ia memandikan mayyit, mengkafaninya, menggali kuburannya, serta memasukkan mayyit ke dalamnya

مَنْ غَسَّلَ مَيِّتًا فَكَتَمَ عَلَيْهِ غُفِرَ لَهُ أَرْبَعِيْنَ مَرَّةً, وَ مَنْ كَفَّنَ مَيِّتًا كَسَاهُ اللهُ مِنَ السُّنْدُسِ وَ إِسْتَبْرَقِ الْجَنَّةِ وَمَنْ حَفَرَ لَمَيِّتٍ قَبْرًا فَأَجَنَّهُ فِيْهِ أُجْرِيَ لَهُ مِنَ الأَجْرِ كَأَجْرِ مَسْكَنٍ أَسْكَنَهُ إِلَيَ يَوْمِ الْقِيَامَةِ

“Barang siapa yang memandikan jenazah/ mayit dan ia menyembunyikan cacat jenazah tersebut, niscaya dosanya diampuni sebanyak 40 dosa. Dan barang siapa yang mengkafani jenazah/ mayit, niscaya Allah akan memakaikan kepadanya kain sutra yang halus dan tebal dari sorga. Dan barang siapa yang menggali kuburan untuk jenazah/ mayit, dan dia memasukkannya ke dalam kuburan tersebut, maka dia akan diberi pahala seperti pahala membuatkan rumah, yang jenazah/ mayit itu dia tempatkan (di dalamnya) sampai hari kiamat”.

[HR. Al-Baihaqi dan Al-Hakim. Al-Hakim berkata: “Hadits ini shahih sesuai syarat Muslim”, dan Imam Ad-Dzahabi menyetujuinya, demikian pula Syaikh al Albaaniy dalam shahiih at targhiib].

Pada hadits riwayat At-Thabrani dari Abi Rafi’, dia berkata: Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ غَسَّلَ مَيِّتًا فَكَتَمَ عَلَيْهِ غَفَرَ اللهُ لَهُ أَرْبَعِيْنَ كَبِيْرَةٍ, وَ مَنْ حَفَرَ لأَخِيْهِ قَبْرًا حَتَّى يُجِنَّهُ فَكَأَنَّمَا أَسْكَنَهُ سَكَنًا حَتَّى يُبْعَثُ

“Barang siapa yang memandikan jenazah dan dia menyembunyikan cacat jenazah tersebut, niscaya Allah mengampuni 40 dosa besar yang ada padanya. Dan barang siapa yang membuat lobang kuburan untuk saudaranya, sampai ia memasukkannya kedalam kuburan itu maka seakan-akan ia membuatkan rumah baginya sampai ia dibangkitkan”.

[Al-Haitsami berkata : “Diriwayatkan oleh At-Tabrani di dalam kitab (Al Kabir) dan para perawinya, adalah para perawi Shahih (Bukhari); dishahiihkan syaikh al albaaniy dalam shahiih at targhiib]”.

Demikian pula seseorang yang berjaga-jaga diperbatasan (antara kaum muslimin dan kuffar)

Rasuulullaah bersabda:

رِبَاطُ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ خَيْرٌ مِنْ صِيَامِ شَهْرٍ وَقِيَامِهِ وَإِنْ مَاتَ فِيْهِ جَرَى عَلَيْهِ عَمَلُهُ الَّذِي كَانَ يَعْمَلُهُ وَأُجْرِيَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ وَأَمِنَ الْفَتَّانَ

“Bersiaga (di jalan Allah) sehari semalam lebih baik daripada puasa dan mendirikan sholat satu bulan, dan apabila (orang yang berjaga tersebut) meninggal dunia maka amalan yang sedang dia kerjakan tersebut (pahalanya terus) mengalir kepadanya, rizkinya terus disampaikan kepadanya dan dia terjaga dari ujian (kubur)”.

Abu Dawud dan Turmudzi meriwayatkan dari Fudhalah bin Ubaid Radhiyallahu ‘anhu : bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

كُلُّ الْمَيِّتِ يُخْتَمُ عَلَى عَمَلِهِ إِلاَّ الْمُرَابِطَ فَإِنَّهُ يُنْمَي لَهُ عَمَلُهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَيُؤَمَّنُ مِنْ فِتْنَةِ الْقَبْرِ

“Setiap orang yang meninggal dunia akan ditutup semua amalannya kecuali orang-orang yang berjaga-jaga (di perbatasan musuh di jalan Allah), karena pahala amalannya akan dikembangkan baginya sampai hari kiamat, dan dia akan diselamatkan dari fitnah kubur”.

Imam Nawawi rahimahullah berkata memberikan komentar terhadap hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim:

“Ini adalah keutamaan yang nyata bagi orang yang berjaga di jalan Allah, dan pahala amalannya yang tetap mengalir kepadanya setelah ia meninggal dunia. Ini merupakan keutamaan yang khusus bagi orang yang berjaga tersebut, tidak ada seorangpun yang ikut di dalamnya. Di dalam hadits lain (yakni riwayat Abu Dawud dan Tirmidzi, sebagaimana di atas-red) yang tidak diriwayatkan oleh Muslim dinyatakan dengan jelas:

كُلُّ الْمَيِّتِ يُخْتَمُ عَلَى عَمَلِهِ إِلاَّ الْمُرَابِطَ فَإِنَّهُ يُنْمَي لَهُ عَمَلُهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ

“Setiap orang yang meninggal dunia akan ditutup semua amalannya kecuali orang yang berjaga, maka sesungguhnya amalannya terus dikembangkan sampai hari Qiamat”.

Dan sabda beliau:

وَأُجْرِيَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ

“rizkinya terus disampaikan kepadanya”.

Sesuai dengan Firman Allah Azza wa Jalla yang berbunyi.

وَلاَ تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللهِ أَمْوَاتًا بَلْ أَحْيَآءٌ عِندَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ

“Dan janganlah kamu menganggap orang-orang yang terbunuh di jalan Allah itu mati, akan tetapi ia hidup di sisi Tuhannya dengan diberi rizki”. [Ali-‘Imran: 169]

Tentang Anak Shalih yang ditinggalkannya

Rasuulullaah bersabda:

ِنَّ أَطْيَبَ مَا أَكَلْتُمْ مِنْ كَسْبِكُمْ وَإِنَّ أَوْلاَدَكُمْ مِنْ كَسْبِكُمْ

“Sesungguhnya sebaik-baik yang kamu makan adalah yang (kamu dapatkan) dari usaha kamu, dan sesungguhnya anak-anakmu itu termasuk usaha kamu”.

(HR Tirmidiziy, Nasaa-iy dan Ibnu Majah)

Berkata para ulamaa’ tentang hadits diatas: Anak itu termasuk usaha orang-tua, sehingga amalan-amalan sholeh yang diamalkan si anak, juga akan menjadikan orang-tua mendapatkan pahala amalan tersebut, tanpa mengurangi pahala anak tersebut sedikitpun.

Maka perhatikanlah pendidikanmu terhadap anakmu! Karena jika engkau berhasil mendidikanya menjadi anak yang shalih/shalihah… Maka keshalihannya akan memberikan manfaat padamu, terus memberikan pahala kepadamu, meskipun engkau telah berada dialam barzakh sana…

Bahkan dengan keshalihannya pula, ia akan senantiasa mendoakanmu!

وَلَدٌ صَالِحٌ يَدْعُو لَهُ

Anak shalih yang mendo’akannya

Nabi mengkhususkan “anak shalih” pada hadits diatas, dikarenakan hanya anak shaleh-lah yang selalu berdzikir dan selalu menjaga hubungan baik kepada kepada Allah. Dan ia pun tidak lupa memanjatkan do’a untuk kedua orang tuanya setelah mereka tiada.

Maka termasuk pula dalam hal ini ancaman bagi orang tua yang mengjarkan keburukan kepada anaknya, atau menelantarkan anaknya sehingga ia sesat. Maka ia pun termasuk orang yang bertanggung jawab akan hal tersebut !!

مَا مِنْ مَوُلُودٍ إِلاَّ يُوْلَدُ عَلىَ الْفِطْرَةِ

“Tidaklah setiap anak yang lahir kecuali dilahirkan dalam keadaan fitrah [yaitu dalam keadaan Islaam, yang lurus aqidah dan akhlaqnya]

فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ

Maka kedua orang-tuanyalah yang akan menjadikannya sebagai Yahudi, Nasrani, atau Majusi.

كَمَا تُنْتِجُ الْبَهِيْمَةُ بَهِيْمَةً جَمْعَاءَ هَلْ تُحِسُّونَ فِيْهَا مِنْ جَدْعَاءَ؟

(Perumpamaan demikian) sebagaimana hewan melahirkan anaknya yang sempurna, Adakah kalian melihat darinya buntung (pada telinga)?”

(HR Bukhariy, Muslim, dan selainnya)

[baca: “Sebelum engkau menyalahkan anakmu…”]

Maka hendaknya engkau senantiasa berusaha menjaga keshalihanmu (demikian pula juga dengan anakmu) hingga wafatmu… Maka kelak Allah akan menjaga anakmu untuk tetap berada diatas keshalihan; sebagaimana Allah mengisahkan dalam kitabNya yang mulia akan penjagaanNya terhadap anak dari seorang yang shalih:

وَكَانَ أَبُوْهُمَا صَالِحًا

“Dan dahulu kedua orang tuanya adalah orang yang shaleh”. [Al-Kahfi: 82]

Umar bin Abdul Aziz, khalifah yang ke lima, pernah berkata:

مَا مِنْ مُؤْمِنٍ يَمُوْتُ إلاَّ حَفِظَهُ اللهُ فِي عُقْبِهِ وَعُقْبِ عُقْبِهِ

“Tidaklah seorang mukmin meninggal dunia kecuali Allah akan menjaga anaknya dan cucunya”.

Ibnul Munkadir berkata:

إِنَّ اللهَ لَيَحْفَظُ بِالرَّجُلِ الصَّالِحِ وَلَدَهُ وَوَلَدَ وَلَدِهِ

“Sesungguhnya Allah akan menjaga anak dan cucu seorang yang shalih”.

Allah berfirman tentang doa ibaadurrahmaan:

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

“Ya Rabb kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.

(al Furqaan: 74)

Dia juga berfirman tentang doanya al Khaliil Ibraahiim ‘alayhis salaam:

رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِن ذُرِّيَّتِنَا أُمَّةً مُّسْلِمَةً لَّكَ

Ya Rabb kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) diantara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau…

(al Baqarah: 128)

Maka semoga kita dan keluarga kita termasuk dalam DOA MALAIKAT kepada Allaah:

رَبَّنَا وَأَدْخِلْهُمْ جَنَّاتِ عَدْنٍ الَّتِي وَعَدتَّهُمْ وَمَن صَلَحَ مِنْ آبَائِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ ۚ إِنَّكَ أَنتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

…Ya Rabb kami, dan masukkanlah mereka ke dalam surga ‘Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka dan orang-orang yang saleh di antara bapak-bapak mereka, dan isteri-isteri mereka, dan keturunan mereka semua. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana…

(Ghaafir: 8)

aamiin!

Tentang Shadaqah jariyah

وَمُصْحَفًا وَرَّثَهُ أَوْ مَسْجِدًا بَنَاهُ أَوْ بَيْتًا لاِبْنِ السَّبِيلِ بَنَاهُ أَوْ نَهْرًا أَجْرَاهُ أَوْ صَدَقَةً أَخْرَجَهَا مِنْ مَالِهِ فِي صِحَّتِهِ وَحَيَاتِهِ

“mush-haf yang diwariskannya, masjid yang dibangunnya, rumah untuk ibnu sabil yang dibangunnya, sungai (air) yang dialirkannya untuk umum, atau shadaqah yang dikeluarkannya dari hartanya diwaktu sehat dan semasa hidupnya”

Bayangkan… Jika ia mewariskan mush-hafnya terhadap anaknya yang shalih, yang kemudian anaknya membaca al Qur-aan dengan menggunakan mush-haf tersebut… Maka ia mendapatkan setiap huruf yang dibaca sang anak dari mush-haf tersebut. Ia pun mendapatkan pahala dari setiap ilmu yang dikaji sang anak ketika menggunakan mush-haf tersebut. Ia pun mendapatkan pahala dari ilmu yang diamalkan dari sang anak, ketika ia mengamalkan apa yang dibacanya tersebut. Ia pun turut mendapatkan pahala dari dakwah anaknya, yang mendakwahkan isi dari mush-haf yang diwariskannya tersebut!! Ini jika ia hanya mewariskan SATU MUSH-HAF… Bagaimana lagi jika ia mewariskan mush-haf yang banyak?! yang ia sumbangkan di masjid-masjid, pesantren-pesantren, dll. !?

Demikian pula dengan masjid yang dibangunnya, betapa mengalirnya pahala yang ia akan tuai kelak dialam kuburnya sebelum di aakhirat kelak?!

Sebagaimana sungai, yang mana disana ia memberi manfaat kepada manusia maupun hewan?! Setiap cidukan air yang digunakan manusia maupun hewan untuk meminum, maka ia mendapatkan pahala sedekah!

Termasuk pula jika ia menanam tanaman (murni ia niatkan untuk beribadah kepada Allah)… Maka hasil dari tanaman tersebut dimakan manusia maupun hewan, maka ia akan mendapatkan pahala sedekah darinya, sebagaimana dalam hadits:

دَخَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى أُمِّ مَعْبَدٍ حَائِطًا فَقَالَ يَا أُمَّ مَعْبَدٍ مَنْ غَرَسَ هَذَا النَّخْلَ أَ مُسْلِمٌ أَمْ كَافِرٌ فَقَالَتْ بَلْ مُسْلِمٌ قَالَ فَلاَ يَغْرِسُ الْمُسْلِمُ غَرْسًا فَيَأْكُلَ مِنْهُ إِنْسَانٌ وَلاَ دَابَّةٌ وَلاَ طَيْرٌ إِلاَّ كَانَ لَهُ صَدَقَةً إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ

“Nabi memasuki kebun Ummu Ma’bad, kemudian beliau bersabda: “Wahai Ummu Ma’bad, siapakah yang menanam kurma ini, seorang muslim atau seorang kafir?.” Ummu Ma’bad berkata: “Bahkan seorang muslim”. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidaklah seorang muslim menanam tanaman lalu dimakan oleh manusia, hewan atau burung kecuali hal itu merupakan shadaqah untuknya sampai hari kiamat”.

Pada riwayat (Imam Muslim) yang lain:

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَغْرِسُ غَرْسًا إِلاَّ كَانَ مَا أُكِلَ مِنْهُ لَهُ صَدَقَةً وَمَا سُرِقَ مِنْهُ لَهُ صَدَقَةٌ وَمَا أَكَلَ السَّبُعُ مِنْهُ فَهُوَ لَهُ صَدَقَةٌ وَمَا أَكَلَتِ الطَّيْرُ فَهُوَ لَهُ صَدَقَةٌ وَلاَ يَرْزَؤُهُ أَحَدٌ إِلاَّ كَانَ لَهُ صَدَقَةٌ

“Tidaklah seorang muslim menanam tanaman, kecuali apa yang dimakan dari tanaman tersebut merupakan shadaqahnya (orang yang menanam). Dan apa yang dicuri dari tananman tersebut merupakan shadaqahnya. Dan apa yang dimakan oleh binatang buas dari tanaman tersebut merupakan shadaqahnya. Dan apa yang dimakan oleh seekor burung dari tanaman tersebut merupakan shadaqahnya. Dan tidaklah dikurangi atau diambil oleh seseorang dari tanaman tersebut kecuali merupakan shadaqahnya”.

Imam Nawawi rahimahullah berkata mengomentari hadits di atas: “Di dalam hadits ini menunjukkan keutamaan menanam dan mengolah tanah, dan bahwa pahala orang yang menanam tanaman itu mengalir terus selagi yang ditanam atau yang berasal darinya itu masih ada sampai hari kiamat”.

Maka jangan ditunda-tunda lagi untuk bersedekah di waktu HIDUP dan SEHAT kita.. Karena sedekah itulah yang akan memberikan manfaat kepada pelakunya (sebagaimana disebutkan Rasuulullaah dalam hadits diatas)!!

—Banyak mengambil faidah dari artikel “Ibadah Dan Amalan Yang Bermanfaat Bagi Mayit”

Maka sudahkah kita berteman dengan mereka?!

Tidaklah mereka akan menemani kita di alam kubur, kecuali apabila kita menjadikan mereka teman dialam dunia ini.. Yakni dengan senantiasa menjaga kemurnian iman kita dan mengamalkan amal shalih (dengan ikhlash, sesuai dengan apa yang disyari’atkan Allah dan RasulNya)…

Sebaliknya, apabila engkau senantiasa mengotori bahkan sampai merusak imanmu dengan mencampurkan imanmu dengan kekufuran/kemunafiqan maupun kesyirikan; meninggalkan shalat wajib, senantiasa berbuat dosa besar dan/atau meremehkan dosa-dosa kecil.. Maka jika engkau mati sebelum bertaubat, maka merekalah kelak yang akan menemanimu dalam kuburmu..

Maka teman manakah yang engkau pilih? Teman yang baik ataukah yang buruk? Amalmulah yang membuktikan pilihanmu tersebut, maka pilihlah pilihan yang tepat untuk kebaikan akhiratmu kelak…

(Baca pula; “Menelisik Alam Kubur“)

Tinggalkan komentar

Filed under Aqidah, Dzikrul Maut, Tauhid Uluhiyyah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s