Meraih Keutamaan Majelis Dzikir

dari Abu Hurairah dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ لِلَّهِ مَلَائِكَةً يَطُوفُونَ فِي الطُّرُقِ يَلْتَمِسُونَ أَهْلَ الذِّكْرِ

“Sesungguhnya Allah memiliki malaikat yang selalu berkeliling di jalan-jalan, dan mencari-cari majelis dzikir…

فَإِذَا وَجَدُوا قَوْمًا يَذْكُرُونَ اللَّهَ تَنَادَوْا هَلُمُّوا إِلَى حَاجَتِكُمْ

jika mereka mendapati suatu kaum yang berdzikir kepada Allah mereka saling memanggil; ‘Kemarilah terhadap apa yang kalian cari.’

(Dalam riwayat Muslim:

فَإِذَا وَجَدُوا مَجْلِسًا فِيهِ ذِكْرٌ قَعَدُوا مَعَهُمْ وَحَفَّ بَعْضُهُمْ بَعْضًا بِأَجْنِحَتِهِمْ حَتَّى يَمْلَئُوا مَا بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ السَّمَاءِ الدُّنْيَا

Apabila mereka telah menemukan majelis dzikir tersebut, maka mereka terus duduk di situ dengan menyelimutkan sayap sesama mereka hingga memenuhi ruang antara mereka dan langit yang paling bawah. )

فَيَحُفُّونَهُمْ بِأَجْنِحَتِهِمْ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا

Lalu mereka pun datang seraya menaungi kaum tersebut dengan sayapnya sehingga memenuhi langit bumi.

(Dalam riwayat Muslim:

فَإِذَا تَفَرَّقُوا عَرَجُوا وَصَعِدُوا إِلَى السَّمَاءِ

Apabila majelis dzikir itu telah usai, maka mereka juga berpisah dan naik ke langit.’ )

فَيَسْأَلُهُمْ رَبُّهُمْ وَهُوَ أَعْلَمُ مِنْهُمْ مَا يَقُولُ عِبَادِي قَالُوا يَقُولُونَ يُسَبِّحُونَكَ وَيُكَبِّرُونَكَ وَيَحْمَدُونَكَ وَيُمَجِّدُونَكَ

Maka Rabb mereka bertanya padahal Dia lebih tahu dari mereka; ‘Apa yang dikatakan oleh hamba-Ku? ‘ Para malaikat menjawab; ‘Mereka mensucikan Engkau, memuji Engkau, mengagungkan Engkau.’

(Dalam riwayat Muslim:

قَالَ فَيَسْأَلُهُمْ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ وَهُوَ أَعْلَمُ بِهِمْ مِنْ أَيْنَ جِئْتُمْ فَيَقُولُونَ جِئْنَا مِنْ عِنْدِ عِبَادٍ لَكَ فِي الْأَرْضِ يُسَبِّحُونَكَ وَيُكَبِّرُونَكَ وَيُهَلِّلُونَكَ وَيَحْمَدُونَكَ وَيَسْأَلُونَكَ

‘Selanjutnya mereka ditanya Allah Subhanahu wa Ta’ala, Dzat Yang sebenarnya Maha Tahu tentang mereka: ‘Kalian datang dari mana? ‘ Mereka menjawab; ‘Kami datang dari sisi hamba-hamba-Mu di bumi yang selalu bertasbih, bertakbir, bertahmid, dan memohon kepada-Mu ya Allah.’)

فَيَقُولُ هَلْ رَأَوْنِي . فَيَقُولُونَ لَا وَاللَّهِ مَا رَأَوْكَ

Allah berfirman: ‘Apakah mereka melihat-Ku? ‘ Para malaikat menjawab; ‘Tidak, demi Allah mereka tidak melihat-Mu.’

فَيَقُولُ وَكَيْفَ لَوْ رَأَوْنِي . يَقُولُونَ لَوْ رَأَوْكَ كَانُوا أَشَدَّ لَكَ عِبَادَةً وَأَشَدَّ لَكَ تَمْجِيدًا وَتَحْمِيدًا وَأَكْثَرَ لَكَ تَسْبِيحًا

Allah berfirman: ‘Bagaimana sekiranya mereka melihat-Ku? ‘ Para malaikat menjawab; ‘Sekiranya mereka dapat melihat-Mu pasti mereka akan lebih giat lagi dalam beribadah, lebih dalam mengagungkan dan memuji Engkau, dan lebih banyak lagi mensucikan Engkau’

يَقُولُ فَمَا يَسْأَلُونِي . يَسْأَلُونَكَ الْجَنَّةَ

Allah berfirman: ‘Lalu apa yang mereka minta? ‘ (Para malaikat menjawab) ‘Mereka meminta surga.’

يَقُولُ وَهَلْ رَأَوْهَا . يَقُولُونَ لَا وَاللَّهِ يَا رَبِّ مَا رَأَوْهَا

Allah berfirman: ‘Apakah mereka telah melihatnya? ‘ Para malaikat menjawab; ‘Belum, demi Allah mereka belum pernah melihatnya.’

يَقُولُ فَكَيْفَ لَوْ أَنَّهُمْ رَأَوْهَا . يَقُولُونَ لَوْ أَنَّهُمْ رَأَوْهَا كَانُوا أَشَدَّ عَلَيْهَا حِرْصًا وَأَشَدَّ لَهَا طَلَبًا وَأَعْظَمَ فِيهَا رَغْبَةً

Allah berfirman: ‘Bagaimana sekiranya mereka telah melihatnya? ‘ Para malaikat menjawab; ‘Jika mereka melihatnya tentu mereka akan lebih berkeinginan lagi dan antusias serta sangat mengharap.’

قَالَ فَمِمَّ يَتَعَوَّذُونَ . يَقُولُونَ مِنْ النَّارِ

Allah berfirman: ‘Lalu dari apakah mereka meminta berlindung? ‘ Para malaikat menjawab; ‘Dari api neraka.’

يَقُولُ وَهَلْ رَأَوْهَا . يَقُولُونَ لَا وَاللَّهِ يَا رَبِّ مَا رَأَوْهَا

Allah berfirman: ‘Apakah mereka telah melihatnya? ‘ Para malaikat menjawab; ‘Belum, demi Allah wahai Rabb, mereka belum pernah melihatnya sama sekali.’

يَقُولُ فَكَيْفَ لَوْ رَأَوْهَا . يَقُولُونَ لَوْ رَأَوْهَا كَانُوا أَشَدَّ مِنْهَا فِرَارًا وَأَشَدَّ لَهَا مَخَافَةً

Allah berfirman: ‘Bagaimana jika seandainya mereka melihatnya? ‘ Para malaikat menjawab; ‘Tentu mereka akan lari dan lebih takut lagi.'”

فَيَقُولُ فَأُشْهِدُكُمْ أَنِّي قَدْ غَفَرْتُ لَهُمْ

Allah berfirman: ‘Sesungguhnya Aku telah mempersaksikan kepada kalian bahwa Aku telah mengampuni mereka.’

(Dalam riwayat Muslim:

قَالَ فَيَقُولُ قَدْ غَفَرْتُ لَهُمْ فَأَعْطَيْتُهُمْ مَا سَأَلُوا وَأَجَرْتُهُمْ مِمَّا اسْتَجَارُوا

Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala menjawab: ‘Ketahuilah hai para malaikat-Ku, sesungguhnya Aku telah mengampuni mereka, memberikan apa yang mereka minta, dan melindungi mereka dari neraka.’)

يَقُولُ مَلَكٌ مِنْ الْمَلَائِكَةِ فِيهِمْ فُلَانٌ لَيْسَ مِنْهُمْ إِنَّمَا جَاءَ لِحَاجَةٍ

‘Salah satu dari malaikat berkata; ‘Sesungguhnya diantara mereka ada si fulan yang datang untuk suatu keperluan?

(Dalam riwayat Muslim:

فَيَقُولُونَ رَبِّ فِيهِمْ فُلَانٌ عَبْدٌ خَطَّاءٌ إِنَّمَا مَرَّ فَجَلَسَ مَعَهُمْ

Para malaikat berkata; ‘Ya Allah, di dalam majelis mereka itu ada seorang hamba yang berdosa dan kebetulan hanya lewat lalu duduk bersama mereka.’ )

هُمْ الْجُلَسَاءُ لَا يَشْقَى بِهِمْ جَلِيسُهُمْ

(Allah berfirman) ‘Mereka adalah suatu kaum yang majelis mereka tidak ada kesengsaraannya bagi temannya.’

(Dalam riwayat Muslim:

فَيَقُولُ وَلَهُ غَفَرْتُ هُمْ الْقَوْمُ لَا يَشْقَى بِهِمْ جَلِيسُهُمْ

Maka Allah menjawab: ‘Ketahuilah bahwa sesungguhnya Aku akan mengampuni orang tersebut. Sesungguhnya mereka itu adalah suatu kaum yang teman duduknya tidak akan celaka karena mereka.’)

(HR. Bukhaariy, Muslim, Ahmad, at Tirmidziy, dan selainnya)

Perselishan ulamaa dalam memahami makna “majelis dzikir”

Ada 2 ulama besar muta-akhirin (periode belakangan sekitar abad 8 H) yang sama-sama menulis syarah (penjelasan) kitab Shahih Bukhari. Mereka adalah Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani Asy-Syafi’i yang menulis Fathul Bari Syarh Shahih Al-Bukhari dan Al-Imam Badruddin Al-Aini Al-Hanafi yang menulis Umdatul Qari Syarh Shahih Al-Bukhari. Kedua beliau adalah sejaman dan saling membantah dan memberikan tanggapan dalam tulisan-tulisan mereka. Al-Bushairi menulisnya dalam kitab “Al-Laali’ wad Durar fil Muhakamah bainal Aini wa Ibni Hajar (Intan dan Permata dalam Menimbang antara Al-Aini dan Ibnu Hajar).”

(Al-I’lam liz Zirikli: 3/334).

Kedua beliau –semoga Allah merahmati keduanya- memberikan keterangan terhadap hadits yang sedang kita bahas yaitu hadits majelis dzikir. Cuplikan hadits di atas adalah:

إِنَّ لِلَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى مَلَائِكَةً سَيَّارَةً فُضُلًا يَتَتَبَّعُونَ مَجَالِسَ الذِّكْرِ..

“Sesungguhnya Allah tabaraka wa ta’ala memiliki malaikat yang berjalan –selain tugas utama- mencari majelis-majelis dzikir….dst”.

(HR. Muslim: 4854 dari Abu Hurairah t).

Al-Imam Al-Aini membatasi pengertian majelis dzikir hanya pada majelis ta’lim. Beliau menyatakan:

قوله أهل الذكر يتناول الصلاة وقراءة القرآن وتلاوة الحديث وتدريس العلوم ومناظرة العلماء ونحوها

“Sabda beliau “ahli dzikir” meliputi shalat, membaca Al-Quran, membaca hadits, mengajar ilmu-ilmu (syariat), berdiskusi dengan ulama dan sebagainya.”

(Umdatul Qari: 33/165).

Sedangkan Al-Hafizh Ibnu Hajar membantahnya dan berkata:

ويؤخذ من مجموع هذه الطرق المراد بمجالس الذكر وانها التي تشتمل على ذكر الله بأنواع الذكر الواردة من تسبيح وتكبير وغيرهما وعلى تلاوة كتاب الله سبحانه وتعالى وعلى الدعاء بخيري الدنيا والآخرة

“Dan dapat diambil kesimpulan dari pengumpulan jalan hadits bahwa yang dimaksud majelis dzikir meliputi (perkumpulan) atas dzikrullah dengan berbagai macam dzikir yang ma’tsur (ada dalilnya, pen) yang berupa tasbih, takbir dan lainnya dan juga atas membaca Al-Quran dan berdo’a untuk kebaikan dunia dan akhirat.

وفي دخول قراءة الحديث النبوي ومدارسة العلم الشرعي ومذاكرته والاجتماع على صلاة النافلة في هذه المجالس نظر

Dan memasukkan “pelajaran hadits Nabi, pelajaran ilmu syar’i, diskusi atasnya, dan berkumpul untuk shalat sunnah” ke dalam pengertian majelis dzikir perlu ditinjau lagi.

والأشبه اختصاص ذلك بمجالس التسبيح والتكبير ونحوهما والتلاوة حسب وان كانت قراءة الحديث ومدارسه العلم والمناظرة فيه من جملة ما يدخل تحت مسمى ذكر الله تعالى

Yang lebih mendekati kebenaran adalah pengkhususan majelis dzikir dengan majelis tasbih, takbir dan lainnya serta membaca Al-Quran saja. Meskipun membaca hadits, mempelajari ilmu syar’i dan mendiskusikannya adalah termasuk dalam pengertian dzikrullah.”

(Fathul Bari: 11/212).

Maka dapat kita lihat, bahwa Imam al Aini mengkhususkan makna “majelis dzikir” dalam hadits diatas kepada “majelis ilmu” dengan membawakan hadits-hadits serta atsar-atsar yang menunjukkan kepadanya.

Sedangkan Imam ibnu Hajar tetap mengambil keumuman dari lafazh hadits diatas, yaitu hanya mencukupkannya kepada suatu kaum yang duduk-duduk dimasjid yang berdzikir kepada Allah; meskipun beliau mengakui bahwa majelis ilmu pun termasuk dalam dzikrullah.

Maka majelis dzikir diatas bisa bermakna dua:

I. Suatu kaum yang duduk di dalam masjid; yang mereka melakukan masing-masing melakukan amalan ketaatan.

Dan yang dimaksud “suatu kaum duduk berdzikir” maka yang dimaksudkan BUKAN DZIKIR BERJAMA’AH (dzikirnya sama-sama, dan/atau dzikirnya dipimpin seorang imam) sebagaimana yang telah DISALAH PAHAMI oleh kebanyakan kaum muslimin saat ini!! mereka menjadikan hadits ini sebagai “hujjah” bagi mereka, akan tetapi justru hadits ini tidak bermakna demikian.

Kalaulah hadits tersebut bermakna dzikir satu suara dan/atau dipimpin imam (kemudian yang lain mengikuti) adakah kita dapati contoh dari Rasulullah dan para shahabatnya DENGAN CARA SEPERTI INI?!!

Sebagian ulama salaf menyatakan:

كل عبادة لم يتعبدها أصحاب رسول الله صلى الله عليه و سلم فلا تتعبدوها

“Segala ibadah yang belum pernah diamalkan oleh para sahabat Rasulullah r maka jangan kalian jadikan sebagai amal ibadah!”

(At-Tawassul Ahkamuhu wa Anwa’uhu: 27)

Bahkan sama sekali tidak disebutkan oleh imam ibnu hajar dalam pendapat beliau bahwa dzikir-dzikir yang beliau sebutkan DILAKSANAKAN SECARA BERJAMA’AH (dan/atau) dipimpin imam! Tidakkah mereka yang mengada-adakan amalan ini mengambil pelajaran!? [simak bantahan terhadap dzikir jama’iy disini]

Akan tetapi maksudnya masing-masing berdzikir dengan dzikirnya masing-masing. Mungkin sebagian ada yang shalat (shalat termasuk dzikir), sebagian yang lain mungkin baca al qur-aan (dan ini sebaik-baik dzikir), sebagian yang lain mungkin baca kitab hadits (dan ini termasuk dzikir juga), dan sebagian yang lain mungkin membaca tasbih, takbir, tahmid (dengan kesendiriannya masing-masing)..

Atau mereka duduk-duduk saling menasehati, saling mengingatkan tentang aakhirat, saling membicarakan nikmat Allah sesama mereka. Maka ini pun termasuk majelis dzikir sebagaimana disebutkan dalam hadits:

Suatu ketika, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar menjumpai sebuah halaqah yang terdiri dari para sahabat beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka beliau bertanya,

مَا أَجْلَسَكُمْ

“Apa yang membuat kalian duduk di sini?”

Mereka menjawab,

“Kami duduk untuk mengingat Allah ta’ala dan memuji-Nya atas petunjuk yang Allah berikan kepada kami sehingga kami bisa memeluk Islam dan nikmat-nikmat yang telah dilimpahkan-Nya kepada kami.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengatakan,

وَاللَّهِ مَا أَجْلَسَنَا إِلَّا ذَاكَ

“Demi Allah, apakah tidak ada alasan lain bagi kalian sehingga membuat kalian duduk di sini melaikan itu?”

Mereka menjawab,

“Demi Allah, tidak ada niat kami selain itu.”

Beliau pun bersabda,

أَمَا إِنِّي لَمْ أَسْتَحْلِفْكُمْ تُهْمَةً لَكُمْ وَلَكِنَّهُ أَتَانِي جِبْرِيلُ فَأَخْبَرَنِي أَنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُبَاهِي بِكُمْ الْمَلَائِكَةَ

“Adapun aku, sesungguhnya aku sama sekali tidak memiliki persangkaan buruk kepada kalian dengan pertanyaanku. Akan tetapi, Jibril datang kepadaku kemudian dia mengabarkan kepadaku bahwa Allah ‘azza wa jalla membanggakan kalian di hadapan para malaikat.”

(HR. Muslim)

Sebagaimana pula sabda Rasulullah shallallahu’alayhi wa sallam:

إِذَا مَرَرْتُمْ بِرِيَاضِ الْجَنَّةِ فَارْتَعُوْا

“Apabila kalian melewati taman-taman surga maka singgahlah.”

Maka para sahabat bertanya,

“Apa yang dimaksud taman-taman surga itu wahai Rasulullah?”

Beliau menjawab,

حِلَقُ الذِّكْرِ

“Halaqah-halaqah dzikir”

(HR. Abu Nu’aim dalam Al Hilyah dan dihasankan oleh Syaikh Salim al hilaliy dalam Shahih Al Adzkar, hal. 16)

Råsulullåh shållallåhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

مَا جَلَسَ قَوْمٌ يَذْكُرُوْنَ اللهَ تَعَالىَ فَيَقُوْمُوْنَ حَتَّى يُقَالُ لَهُمْ: قُوْمُوْا قَدْ غَفَرَ اللهُ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَبُـدِّلَتْ سَيِّئَاتُكُمْ حَسَنَاتٍ

“Tidaklah duduk suatu kaum, kemudian mereka berzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla dalam duduknya hingga mereka berdiri, melainkan dikatakan (oleh malaikat) kepada mereka: Berdirilah kalian, sesungguhnya Allah telah mengampuni dosa-dosa kalian dan keburukan-keburukan kalian pun telah diganti dengan berbagai kebaikan.”

(Tsabit; HR. ath-Thabrani; terdapat dalam Shahiihul Jami’)

Dan dua hadits ini umum, tidak hanya khusus majelis ilmu saja, tapi bisa juga bermakna suatu kaum yang duduk-duduk sambil berdzikir (masing-masing), atau duduk-duduk sambil saling menasehati, saling menceritakan nikmat Allaah, atau saling membacakan al qur-aan (yang satu membacakan, yang lain mendengarkan) sebagaimana dijelaskan pada hadits pertama.

II. Suatu kaum yang duduk untuk menuntut ilmu (karena majelis ilmu juga disebut majelis dzikir)

Diantara dalil pendukung bahwa makna hadits diatas ditujukan kepada majelis ilmu adalah:

1. Penyebutan “ahlidz dzikr” dalam hadits yang diriwayatkan imam al-bukhaariy diatas

Dalam hadits riwayat bukhariy diatas disebutkan:

إِنَّ لِلَّهِ مَلَائِكَةً يَطُوفُونَ فِي الطُّرُقِ يَلْتَمِسُونَ أَهْلَ الذِّكْرِ فَإِذَا وَجَدُوا قَوْمًا يَذْكُرُونَ اللَّهَ تَنَادَوْا…

“Sesungguhnya Allah memiliki malaikat yang berkeliling di jalan-jalan untuk mencari Ahli Dzikir. Maka jika mereka menemukan kaum yang sedang berdzikir kepada Allah maka mereka saling memanggil…dst.”

(HR. Al-Bukhari: 5929).

Makna “Ahli Dzikir” dalam hadits di atas adalah bukan ahli dzikir berjamaah atau ahli tahlilan atau ahli istighostahan –sebagaimana penyelewengan makna yang dilakukan oleh kaum sufi- tetapi maknanya adalah Ulama atau Ahlul Ilmi sebagaimana firman Allah U:

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Maka bertanyalah kepada ahli dzikir (para ulama) kalau kalian tidak mengetahui.”

(QS. An-Nahl: 43).

Dan antara ayat Al-Quran dan hadits adalah saling menafsirkan.

Maka makna “berdzikir kepada Allah” adalah bukan berdzikir bersama dalam satu suara atau tahlilan atau istighotsahan –sebagaimana penyelewengan makna oleh kaum sufi- akan tetapi maknanya adalah mengambil pelajaran, peringatan dan nasehat dari ayat Allah dan sunnah Rasul-Nya seperti memberi kabar gembira akan janji Allah, memperingatkan siksa Allah, mempelajari halal-haram, mempelajari akhlaq yang harus diteladani dan yang harus dijauhi dan sebagainya…

Sebagaimana firman Allah:

وَذَكِّرْ فَإِنَّ الذِّكْرَى تَنْفَعُ الْمُؤْمِنِينَ

“Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Adz-Dzariyat: 55).

Al-Kalbi berkata: “Maknanya adalah nasehatilah dengan Al-Quran orang-orang yang beriman dari kaummu karena peringatan akan bermanfaat bagi mereka.” (Fathul Qadir: 7/50).

Juga sebagaimana ucapan Umar bin Al-Khaththab t kepada Abu Musa Al-Asy’ari t:

ذكرنا ربنا فيقرأ وهم يستمعون

“Peringatkan kami tentang Rabb kami!” Kemudian Abu Musa membaca ayat Al-Quran sedangkan para sahabat mendengarkannya.”

(Riwayat Al-Khallal dalam Al-Amru bil Ma’ruf wa Nahyu anil Munkar: 211 (251), Auliya’ur Rahman wa Auliya’usy Syaithan: 105).

Juga seperti ucapan Umar bin Al-Khaththab t kepada para sahabat:

هلموا نزداد إيماناً” فيذكرون الله تعالى عز وجل

“Mari ke sini kita menambah iman kita.” Kemudian mereka mengingat Allah.

(Haqiqatul Iman: 19, Tadzkiratul Mu’tasi: 304).

Demikian juga ucapan Mu’adz bin Jabal:

إجلس بِنَا نؤمن سَاعَة

“Duduklah bersama kami! Kita beriman sejenak.”

(HR. Ahmad dan isnadnya di-hasan-kan oleh Al-Ajluni dalam Kasyful Khafa’: 1/50).

Al-Imam An-Nawawi –dalam menjelaskan ucapan Umar- berkata:

معناه نتذاكر الخير وأحكام الآخرة وأمور الدين فإن ذلك إيمان

“Maknanya (mengingat Allah) adalah kita saling mengingatkan dan mempelajari kebaikan, hukum-hukum akhirat dan perkara agama. Karena itu semua adalah keimanan.”

(Umdatul Qari: 1/307).

2. Hadits Hanzhalah

Di antara yang mendukung Al-Imam An-Nawawi adalah ucapan Hanzhalah ketika bertemu Abu Bakar:

نَافَقَ حَنْظَلَةُ قَالَ سُبْحَانَ اللَّهِ مَا تَقُولُ قَالَ قُلْتُ نَكُونُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُذَكِّرُنَا بِالنَّارِ وَالْجَنَّةِ حَتَّى كَأَنَّا رَأْيُ عَيْنٍ فَإِذَا خَرَجْنَا مِنْ عِنْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَافَسْنَا الْأَزْوَاجَ وَالْأَوْلَادَ وَالضَّيْعَاتِ فَنَسِينَا كَثِيرًا

“Hanzhalah munafiq.” Abu Bakar berkata: “Subhanallah. Apa yang kamu ucapkan?” Hanzhalah berkata: “Kita di sisi Rasulullah dalam keadaan beliau MENGINGATKAN kita (yudzakkirunaa) dengan surga dan neraka seolah-olah kita melihatnya langsung. Tetapi ketika kita keluar dari sisi Rasulullah dan bergaul dengan istri, anak dan barang-barang duniawi maka kita banyak lupa (tentang akhirat, pen).”

(HR. Muslim: 4937, At-Tirmidzi: 2438, Ahmad: 19045).

Lihatlah dalam hadits diatas, disebutkan dalam majelis Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam, beliau meningatkan para shahabatnya tentang surga dan neraka. Disebut apa lagi majelis ini jikalau bukan majelis ilmu?

3. Lantas bagaimana dengan “mereka memuji-Mu, membesarkan-Mu dan mengingat-Mu.”

Ini pun artinya bukan bertasbih berjamaah, bertahlil berjamaah seperti pada acara tahlilan atau dzikir bersama –sebagaimana penyelewengan makna oleh kaum sufi- tetapi maknanya adalah mengingat nikmat-Nya, mengagungkan syariat-Nya sebagaimana sabda Nabi kepada orang-orang yang mengadakan halaqah:

مَا أَجْلَسَكُمْ ؟ فَقَالُوا : جَلَسْنَا نَذْكُرُ اللَّهَ وَنَحْمَدُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى مَا هَدَانَا لِلإِسْلامِ ، وَمَنَّ عَلَيْنَا بِهِ ، فَقَالَ : آللَّهِ مَا أَجْلَسَكُمْ إِلا ذَلِكَ ؟ قَالُوا : وَاللَّهِ مَا أَجْلَسَنَا إِلا ذَلِكَ قَالَ : أَمَا إِنِّي أَسْتَحْلِفُكُمْ تُهْمَةً لَكُمْ ، وَلَكِنَّ جِبْرِيلَ عَلَيْهِ السَّلامُ أَتَانِي ، فَأَخْبَرَنِي أَنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُبَاهِي بِكُمُ الْمَلائِكَةَ

“Kalian duduk-duduk dalam rangka apa?” Mereka menjawab: “Kami duduk untuk mengingat Allah dan memujinya atas petunjuk Allah kepada kami untuk memeluk islam dan Allah telah menganugerahkan islam kepada kami.” Maka beliau bertanya: “Demi Allah, kalian duduk hanya karena itu?” Mereka berkata: “Demi Allah kami tidaklah duduk kecuali untuk itu.” Maka beliau berkata: “Demi Allah. Aku tidak meminta kalian bersumpah karena curiga atas kalian tetapi Jibril u mendatangiku dan memberitahu bahwa Allah berbangga-bangga dengan kalian atas para malaikat.”

(HR. Muslim: 4869, At-Tirmidzi: 3301, Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf: 10/305).

Dari Jabir bin Samurah t, ia berkata:

جَالَسْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَكْثَرَ مِنْ مِائَةِ مَرَّةٍ فَكَانَ أَصْحَابُهُ يَتَنَاشَدُونَ الشِّعْرَ وَيَتَذَاكَرُونَ أَشْيَاءَ مِنْ أَمْرِ الْجَاهِلِيَّةِ وَهُوَ سَاكِتٌ فَرُبَّمَا تَبَسَّمَ مَعَهُمْ

“Aku bermajelis (duduk-duduk) dengan Nabi lebih dari 100 kali. Maka para sahabat beliau saling melantunkan syair dan saling menceritakan banyak perkara jahiliyah. Sedangkan beliau hanya diam dan kadang-kadang tersenyum.”

(HR. At-Tirmidzi: 2777, Muslim: 1074, Ahmad: 19937).

Al-Allamah Ali Al-Qari berkata:

“Makna “saling melantunkan syair” adalah syair yang berisi tauhid, targhib (mendorong ketaatan) dan tarhib (mencela kemaksiatan) seperti syair Ibnu Rawahah.”

(Mirqatul Mafatih: 14/17).

Beliau juga berkata: “Di antara “perkara jahiliyah” yang diceritakan adalah bahwa di antara mereka ada yang berkata: “Tidak ada berhala yang memberi manfaat selain berhalaku.” Yang lainnya bertanya: “Mengapa?” Ia berkata: “Aku membikin berhala dari roti. Ketika paceklik datang maka aku makan berhala itu sedikit demi sedikit.” Yang lain menimpali: “Ada 2 musang yang naik ke atas kepala berhalaku lalu mengencinginya. Maka aku berkata: “Masa ada berhala yang kepalanya dikencingi oleh binatang. Maka aku datang kepadamu wahai Nabi! Dan aku masuk islam.” Maka mereka semua tertawa dan Nabi r tersenyum.”

(Mirqatul Mafatih: 14/17)

4. Dan dinatara dalil YANG PALING JELAS menafsirkan bahwa hadits diatas adlaah majelis ilmu adalah hadits Abu Hurairah…

Dimana ia berkata bahwa Rasulullah bersabda:

وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمْ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمْ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمْ الْمَلَائِكَةُ وَذَكَرَهُمْ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ

“Dan tidaklah sebuah kaum berkumpul dalam sebuah rumah dari rumah-rumah Allah (yaitu masjid). Mereka membaca Kitabullah dan saling mempelajarinya di antara mereka kecuali ketenangan akan turun kepada mereka, rahmat meliputi mereka, malaikat melingkupi mereka dan Allah akan menyebutkan mereka ke dalam orang-orang yang bersama-Nya.”

(HR. Muslim: 4867, Abu Dawud: 1243, Ibnu Majah: 221).

Makna “membaca Kitabullah” adalah bukan membaca bersama-sama dalam satu suara seperti Yasinan atau Khataman dan lain-lain -sebagaimana penyelewengan makna oleh kaum sufi- akan tetapi maknanya adalah MENDIROSAHKAN (yaitu membacakan ayat atau hadits, atau pelajaran; agar dapat diambil pelajaran oleh orang lain; sebagaimana seorang guru membacakan ayat/hadits/pelajaran kemudian didengarkan murid-muridnya)

Sebagaimana firman Allah:

قُلْ تَعَالَوْا أَتْلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ

“Katakanlah: “Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu…”

(QS. Al-An’am: 151).

Juga firman Allah:

نَتْلُو عَلَيْكَ مِنْ نَبَإِ مُوسَى وَفِرْعَوْنَ بِالْحَقِّ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

“Kami membacakan kepadamu sebagian dari kisah Musa dan Fir’aun dengan benar untuk orang-orang yang beriman.”

(QS. Al-Qashash: 3).

Makna “membaca” dalam ayat di atas adalah dibacakan ayat agar orang-orang yang mendengarnya memahami, mentadabburi kemudian mengambil pelajaran darinya.

5. Dalil yang menunjukkan bahwa di masjid nabawi dilaksanakan majelis ilmu

Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

مَنْ دَخَلَ مَسْجِدَنَا هَذَا لِيَتَعَلَّمَ خَيْرًا أَوْ لِيُعَلِّمَهُ كَانَ كَالْمُجَاهِدِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَمَنْ دَخَلَهُ لِغَيْرِ ذَلِكَ كَانَ كَالنَّاظِرِ إِلَى مَا لَيْسَ لَهُ

“Barangsiapa memasuki masjidku ini (masjid Nabawi) untuk mempelajari kebaikan atau mengajarkannya maka ia seperti orang yang berjihad di jalan Allah. Dan barangsiapa yang memasukinya untuk selain itu maka ia seperti orang yang melihat pada sesuatu yang bukan miliknya.”

(HR. Ahmad: 8248, Ibnu Hibban dalam Shahihnya: 87 (1/288), Al-Hakim dalam Al-Mustadrak: 310 (1/169) dari Abu Hurairah dan di-shahih-kan olehnya menurut syarat Al-Bukhari dan Muslim dan disepakati oleh Adz-Dzahabi)

Dalam riwayat lain:

مَنْ جَاءَ مَسْجِدِي هَذَا…

“Barangsiapa mendatangi masjidku ini….”

(HR. Ibnu Majah: 223, Al-Baihaqi dalam Asy-Syu’ab: 1698 (2/263) dan isnadnya di-shahih-kan oleh Al-Bushairi dalam Mishbahuz Zujajah: 1/31 dan di-shahih-kan oleh Al-Albani dalam Shahih Sunan Ibnu Majah: 186).

Al-Allamah Abul Hasan As-Sindi berkata:

“Maknanya adalah “Dan barangsiapa yang memasukinya untuk selain itu” adalah untuk selain orang yang hendak mengerjakan shalat.” (Hasyiyah As-Sindi ala Ibni Majah: 1/211). Sehingga orang yang mendatangi masjid Nabawi bukan untuk shalat atau menghadiri majelis ilmu adalah seperti orang yang melihat sesuatu yang bukan miliknya.

Ditambah juga dengan pernyataan Al-Imam Atha’ Al-Khurasani (seorang ulama tabi’in):

مجالس الذكر هي مجالس الحلال والحرام كيف تشتري وتبيع وتصلي وتصوم وتنكح وتطلق وتحج وأشباه هذا

“Majelis dzikir adalah adalah majelis halal dan haram. Bagaimana kamu membeli, menjual. Bagaimana kamu shalat, berpuasa, berhaji dan semisalnya.”

(Tarikh Damsyiq: 40/431-2, Mir’atul Mafatih Syarh Misykatul Mashabih: 7/377, Kifayatul Akhyar: 1/8).

Dan telah benar Al-Imam Atha’ yang menjelaskan bahwa majelis dzikir adalah majelis ilmu Al-Kitab was Sunnah (bukan majelis dzikir berjamaah ala kaum sufi) karena hadits-hadits Nabi adalah saling menafsirkan dan saling melengkapi.

6. Lalu bagiamana dengan firman Allah berikut?

Allah berfirman:

وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُم بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ ۖ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَن ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا

“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap wajah-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.”

(QS. Al-Kahfi: 28).

Al-Allamah As-Samhudi menjelaskan dalam Khulashatul Wafa bi Akhbari Daril Mushthafa dari Umar bin Abdullah bin Muhajir dari Muhammad bin Ka’ab Al-Qurazhi. Ia berkata:

أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يصلي نوافله إلى أسطوانة التوبة قال عمر بن عبد الله

“Adalah Nabi melakukan shalat sunnah dengan bersutrah pada salah satu tiang masjid nabawi yang bernama tiang “At-Taubah”. ‘Umar bin ‘Abdillah berkata:

وكان النبي صلى الله عليه وسلم إذا صلى الصبح أنصرف إليها وقد سبق إليها الضعفاء والمساكين وأهل الضرّ وضيفان النبي صلى الله عليه وسلم والمؤلفة قلوبهم ومن لا بيت له إلا المسجد وقد تحلقوا حولها

“Adalah Rasulullah ketika selesai melakukan shalat shubuh, langsung menuju tiang ini. Maka orang-orang miskin, kaum dhuafa, para tamu Nabi e, para muallaf dan orang yang tidak memiliki tempat tinggal (ahlush shuffah) telah mendahului bergegas menuju tiang itu.”

حلقا بعضها دون بعض فينصرف إليهم من مصلاه من الصبح فيتلوا عليهم ما أنزل الله تعالى عليه من ليلته ويحدثهم ويحدثونه حتى إذا طلعت الشمس جاء أهل الطول والشرف والغنى ولم يجدوا إليه مجلسا

Mereka membuat halaqah (duduk melingkar) di sekeliling tiang itu. Setelah selesai shalat shubuh, Rasulullah meninggalkan tempat shalatnya menuju halaqah tersebut. Kemudian beliau membacakan kepada mereka ayat-ayat yang diturunkan oleh Allah kepada beliau tadi malamnya, beliau juga menyampaikan hadits kepada mereka dan mereka pun berbincang-bincang (berdiskusi) dengan beliau sampai ketika matahari terbit, orang-orang kaya mendatangi beliau dan tidak mendapatkan tempat duduk dekat beliau.

فتاقت أنفسهم إليه وتاقت نفسه إليهم فأنزل الله تعالى

Maka orang-orang kaya tersebut merasa berat dan beliau pun merasa berat juga. Kemudian Allah turunkan ayat:

وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُم بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ

“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap wajah-Nya;…” (QS. Al-Kahfi: 28-29).”

(Khulashatul Wafa: 116).

7. Bagaimana dengan hadits berikut?

اللَّهَ تَعَالَى مِنْ صَلَاةِ الْغَدَاةِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَعْتِقَ أَرْبَعَةً مِنْ وَلَدِ إِسْمَعِيلَ وَلَأَنْ أَقْعُدَ مَعَ قَوْمٍ يَذْكُرُونَ اللَّهَ مِنْ صَلَاةِ الْعَصْرِ إِلَى أَنْ تَغْرُبَ الشَّمْسُ أَحَبُّ إِلَيَّ مَنْ أَنْ أَعْتِقَ أَرْبَعَةً

“Sungguh, seandainya aku duduk bersama kaum yang berdzikir kepada Allah U dari shalat shubuh sampai terbitnya matahari, maka itu lebih aku sukai daripada memerdekakan 4 anak turun Ismail. Dan seandainya aku duduk bersama kaum yang berdzikir kepada Allah U dari shalat ashar sampai tenggelamnya matahari, maka itu lebih aku sukai daripada memerdekakan 4 anak turun Ismail.”

(HR. Abu Dawud: 3182, Al-Baihaqi dalam Syuabul Iman: 561 (1/409) dan di-shahih-kan oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah: 2916).

Maka lafazh “Sungguh, seandainya aku duduk bersama kaum yang berdzikir kepada Allah U dari shalat shubuh sampai terbitnya matahari,.. ditafsiri oleh hadits lain. Abu Umamah t berkata:

خرج رسول الله صلى الله عليه وسلم على قاص يقص، فأمسك، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “قُص، فلأن أقعد غدوة إلى أن تشرق الشمس، أحب إليَّ من أن أعتق أربع رقاب

“Rasulullah e keluar menuju (majelis) orang yang membacakan kisah (orang-orang shalih). Maka orang tersebut menahan diri dari kegiatannya. Maka Rasulullah e berkata: “(Teruslah) membacakan kisah! Sungguh, seandainya aku duduk (di sini) di pagi hari sampai terbitnya matahari, maka itu lebih aku sukai daripada memerdekakan 4 budak.”

(HR. Ahmad: 21224. Al-Haitsami berkata: “Perawinya adalah orang-orang yang ditsiqatkan hanya saja di dalamnya terdapat Abul Ja’di. Jika ia adalah Al-Ghathfani maka ia termasuk perawi Ash-Shahih. Jika selain itu maka aku tidak tahu.” Majma’uz Zawaid: 911 (1/452)).

Maka lafazh “majelis yang membacakan kisah orang-orang shalih” dalam riwayat Abu Umamah t menafsirkan lafazh “majelis kaum yang berdzikir kepada Allah” dalam hadits pertama di atas.

8. Dan juga dapat kita saksikan contoh-contoh majelis ilmu yang dilaksanakan Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam bersama para shahabatnya; berikut:

– Majelis khutbah dan shalat Jumat

Di antara majelis dzikir Rasulullah r yang dihadiri oleh para malaikat adalah khutbah Jumat dan sholatnya. Allah U berfirman:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَإِذَا كَانُوا مَعَهُ عَلَى أَمْرٍ جَامِعٍ لَمْ يَذْهَبُوا حَتَّى يَسْتَأْذِنُوهُ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَأْذِنُونَكَ أُولَئِكَ الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ فَإِذَا اسْتَأْذَنُوكَ لِبَعْضِ شَأْنِهِمْ فَأْذَنْ لِمَنْ شِئْتَ مِنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمُ اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Sesungguhnya yang sebenar-benar orang mukmin ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, dan apabila mereka berada bersama-sama Rasulullah dalam sesuatu urusan yang memerlukan pertemuan, mereka tidak meninggalkan (Rasulullah) sebelum meminta izin kepadanya. Sesungguhnya orang-orang yang meminta izin kepadamu (Muhammad) mereka itulah orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-Nya, maka apabila mereka meminta izin kepadamu karena sesuatu keperluan, berilah izin kepada siapa yang kamu kehendaki di antara mereka, dan mohonkanlah ampunan untuk mereka kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

(QS. An-Nur: 62).

Al-Imam Az-Zuhri berkata:

“Makna “sesuatu urusan yang memerlukan pertemuan” adalah acara (khutbah) Jumat. Kaum mukminin tidak boleh meninggalkan majelis khutbah sebelum meminta ijin kepada beliau.”

(HR. Ath-Thabari dan sanadnya di-shahih-kan oleh Dr. Hikmat Basyir dalam Ash-Shahihul Masbur: 3/484).

Termasuk semisal khutbah Jumat adalah khutbah 2 hari raya serta acara jihad. Demikian tambahan dari Al-Imam Sa’id bin Jubair.

(HR. Abd bin Humaid dan Ibnu Abi Hatim. Lihat Ad-Durrul Mantsur: 7/138).

– Majelis ta’lim dan mauizhah rutin

Dari Syaqiq Abi Wail t, ia berkata:

كَانَ عَبْدُ اللَّهِ يُذَكِّرُنَا كُلَّ يَوْمِ خَمِيسٍ فَقَالَ لَهُ رَجُلٌ يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ إِنَّا نُحِبُّ حَدِيثَكَ وَنَشْتَهِيهِ وَلَوَدِدْنَا أَنَّكَ حَدَّثْتَنَا كُلَّ يَوْمٍ فَقَالَ مَا يَمْنَعُنِي أَنْ أُحَدِّثَكُمْ إِلَّا كَرَاهِيَةُ أَنْ أُمِلَّكُمْ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَتَخَوَّلُنَا بِالْمَوْعِظَةِ فِي الْأَيَّامِ كَرَاهِيَةَ السَّآمَةِ عَلَيْنَا

“Adalah Abdullah bin Mas’ud memberikan wejangan kepada kami tiap hari Kamis. Maka seseorang berkata: “Wahai Abu Abdirrahman, sesungguhnya kami menyukai haditsmu dan merindukannya dan kami ingin agar engkau membacakan hadits kepada kami tiap hari.” Maka ia berkata: “Tidak ada yang menghalangiku untuk menyampaikan hadits kepada kalian kecuali aku membenci untuk membuat kalian bosan. Sesungguhnya Rasulullah r menjarangkan wejangan kepada kami dalam beberapa hari karena beliau tidak suka membuat kami bosan (terhadap nasehat).”

(HR. Al-Bukhari: 5932, Muslim: 5048, Ahmad: 3854).

Al-Imam Badruddin Al-Aini berkata:

“Maknanya adalah bahwa Rasulullah r menjadikan waktu-waktu tertentu untuk memberikan wejangan kepada para sahabat beliau dan tidak seluruh waktu (tiap hari) karena takut membuat bosan dan keberatan atas mereka.”

(Umdatul Qari: 2/493).

– Majelis mau’izhah perpisahan

Rasulullah r juga pernah memberikan wejangan perpisahan. Dari Al-Irbadl bin Sariyah t ia berkata:

وَعَظَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا بَعْدَ صَلَاةِ الْغَدَاةِ مَوْعِظَةً بَلِيغَةً ذَرَفَتْ مِنْهَا الْعُيُونُ وَوَجِلَتْ مِنْهَا الْقُلُوبُ فَقَالَ رَجُلٌ إِنَّ هَذِهِ مَوْعِظَةُ مُوَدِّعٍ فَمَاذَا تَعْهَدُ إِلَيْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدٌ حَبَشِيٌّ فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ يَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ فَإِنَّهَا ضَلَالَةٌ فَمَنْ أَدْرَكَ ذَلِكَ مِنْكُمْ فَعَلَيْهِ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ

“Rasulullah r pernah memberikan wejangan kepada kami pada suatu hari setelah shalat Subuh dengan sebuah nasehat yang mengena sehingga air mata kami bercucuran dan hati-hati kami tergetar. Maka seseorang berkata: “Sesungguhnya ini adalah wejangan perpisahan maka berikan kami wejangan, wahai Rasulullah!” Maka beliau berkata: “Aku wasiatkan kalian untuk bertaqwa kepada Allah dan mendengar serta menaati (penguasa) walaupun kalian diperintah oleh seorang budak Habasyi. Sesungguhnya barangsiapa yang hidup di antara kalian maka ia akan menjumpai perselisihan yang banyak. Dan berhati-hatilah kalian dari perkara (agama) yang diada-adakan karena itu adalah sesat. Maka barangsiapa di antara kalian yang menjumpai perkara itu (perselisihan) maka wajib baginya memegangi sunnahku dan sunnah khulafa’ur rasyidin yang mendapatkan petunjuk setelahku. Gigitlah ia dengan gigi geraham.”

(HR. At-Tirmidzi: 2600, ia berkata: “Hadits hasan shahih.” Ibnu Majah: 43, Ahmad: 16519 (35/7), dan di-shahih-kan oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah hadits: 937).

– Majelis yang didatangi oleh orang asing

Dari Umar bin Al-Khaththab t ia berkata:

بينما نحن جلوس عند رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم ذات يوم إذ طلع علينا رجل شديد بياض الثياب شديد سواد الشعر لا يرى عليه أثر السفر ولا يعرفه منا أحد حتى جلس إلى النبي صلى الله عليه وآله وسلم فأسند ركبتيه إلى ركبتيه ووضع كفيه على فخذيه وقال : يا محمد أخبرني عن الإسلام فقال رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم : الإسلام أن تشهد أن لا إله إلا الله وأن محمدا رسول الله وتقيم الصلاة وتؤتي الزكاة وتصوم رمضان وتحج البيت إن استطعت إليه سبيلا قال : صدقت فعجبنا له يسأله ويصدقه قال : فأخبرني عن الإيمان قال أن تؤمن بالله وملائكته وكتبه ورسله واليوم الآخر وتؤمن بالقدر خيره وشره قال : صدقت قال : فأخبرني عن الإحسان قال أن تعبد الله كأنك تراه فإن لم تكن تراه فإنه يراك …

“Suatu ketika kami duduk-duduk di sisi Rasulullah r suatu hari. Tiba-tiba muncul atas kami seorang laki-laki yang sangat putih bajunya, sangat hitam rambutnya. Tidak tampak padanya bekas bepergian. Dan di antara kami tidak ada yang mengenalnya sama sekali. Kemudian ia duduk kepada Rasulullah r dan ia menyandarkan kedua lututnya pada kedua lutut beliau serta meletakkan kedua telapak tangannya di atas kedua paha beliau. Kemudian ia berkata: “Wahai Muhammad, beritahu diriku tentang Islam?” Kemudian beliau menjelaskan tentang Islam… kemudian orang itu bertanya tentang Iman……kemudian tentang Ihsan……dst.”

(HR. Muslim: 9, Abu Dawud: 4075, Ad-Daraquthni: 207 (2/282), Al-Baihaqi dalam Al-Kubra: 8393 (4/324)).

Dari Anas bin Malik t, ia berkata:

نُهِينَا أَنْ نَسْأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ شَيْءٍ فَكَانَ يُعْجِبُنَا أَنْ يَجِيءَ الرَّجُلُ مِنْ أَهْلِ الْبَادِيَةِ الْعَاقِلُ فَيَسْأَلَهُ وَنَحْنُ نَسْمَعُ فَجَاءَ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْبَادِيَةِ فَقَالَ يَا مُحَمَّدُ أَتَانَا رَسُولُكَ فَزَعَمَ لَنَا أَنَّكَ تَزْعُمُ أَنَّ اللَّهَ أَرْسَلَكَ قَالَ صَدَقَ

“Kami dilarang untuk banyak bertanya kepada Rasulullah r tentang sesuatu. Dan kami suka kalau ada seseorang yang berakal dari pedesaan yang datang untuk bertanya kepada beliau dan kami ikut mendengar (jawaban beliau). Maka suatu ketika seseorang badui datang dan berkata: “Wahai Muhammad, telah datang utusanmu kepada kami dan menyatakan bahwa Allah telah mengutusmu?” Beliau menjawab: “Benar.”…. (HR. Muslim: 13, Ahmad: 12002, Ibnu Hibban dalam Shahihnya: 155 (1/368)).

– Para sahabat Nabi berdiskusi dalam majelis ilmu, sebelum kedatangan beliau

Dari Hudzaifah bin Asid Al-Ghifari t berkata:

اطَّلَعَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَيْنَا وَنَحْنُ نَتَذَاكَرُ فَقَالَ مَا تَذَاكَرُونَ قَالُوا نَذْكُرُ السَّاعَةَ قَالَ إِنَّهَا لَنْ تَقُومَ حَتَّى تَرَوْنَ قَبْلَهَا عَشْرَ آيَاتٍ فَذَكَرَ الدُّخَانَ وَالدَّجَّالَ وَالدَّابَّةَ وَطُلُوعَ الشَّمْسِ مِنْ مَغْرِبِهَا وَنُزُولَ عِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَيَأَجُوجَ وَمَأْجُوجَ وَثَلَاثَةَ خُسُوفٍ خَسْفٌ بِالْمَشْرِقِ وَخَسْفٌ بِالْمَغْرِبِ وَخَسْفٌ بِجَزِيرَةِ الْعَرَبِ وَآخِرُ ذَلِكَ نَارٌ تَخْرُجُ مِنْ الْيَمَنِ تَطْرُدُ النَّاسَ إِلَى مَحْشَرِهِمْ

“Rasulullah r datang kepada kami dalam keadaan kami sedang belajar bersama. Beliau bertanya: “Apa yang kalian diskusikan?” Maka kami jawab: “Kami berdiskusi tentang hari kiamat.” Maka beliau bersabda: “Sesungguhnya tidak akan terjadi hari kiamat sampai kalian melihat 10 tanda.” Kemudian beliau menyebutkan dukhan (asap), Dajjal, binatang melata, terbitnya matahari dari barat, turunnya Isa bin Maryam r, Ya’juj dan Ma’juj, tiga longsoran bumi: 1 longsoran di timur, 1 longsoran di barat, 1 longsoran di jazirah Arab dan yang terakhir adalah munculnya api dari Yaman yang menggiring manusia menuju mahsyar mereka.

(HR. Muslim: 5162, At-Tirmidzi: 2109, Ibnu Majah: 4031).

– Majelis tafsir Al-Quran

Abu Abdirrahman As-Sulami berkata:

حَدَّثَنَا الَّذِينَ كَانُوا يُقْرِئُونَنَا الْقُرْآنَ : كَعُثْمَانِ بْنِ عفان وَعَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ وَغَيْرِهِمَا أَنَّهُمْ كَانُوا إذَا تَعَلَّمُوا مِنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَشْرَ آيَاتٍ لَمْ يُجَاوِزُوهَا حَتَّى يَتَعَلَّمُوا مَا فِيهَا مِنْ الْعِلْمِ وَالْعَمَلِ قَالُوا : فَتَعَلَّمْنَا الْقُرْآنَ وَالْعِلْمَ وَالْعَمَلَ جَمِيعًا

“Telah menceritakan kepada kami orang-orang yang mengajari kami Al-Quran seperti Utsman bin Affan, Ibnu Mas’ud dan lainnya bahwa mereka jika belajar dari Nabi r 10 ayat maka kami tidak meneruskannya sampai kami mengetahui kandungan ayat tersebut yang berupa ilmu dan amal. Mereka berkata: “Maka kami belajar Al-Quran dan ilmu semuanya.” (HR. Ath-Thabari: 82 (1/80) dan isnadnya di-shahih-kan oleh Ahmad Syakir dalam tahqiqnya).

– Majelis tanya jawab

Dari Abdullah bin Amr bin Ash t, ia berkata:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَفَ فِي حَجَّةِ الْوَدَاعِ بِمِنًى لِلنَّاسِ يَسْأَلُونَهُ فَجَاءَهُ رَجُلٌ فَقَالَ لَمْ أَشْعُرْ فَحَلَقْتُ قَبْلَ أَنْ أَذْبَحَ فَقَالَ اذْبَحْ وَلَا حَرَجَ فَجَاءَ آخَرُ فَقَالَ لَمْ أَشْعُرْ فَنَحَرْتُ قَبْلَ أَنْ أَرْمِيَ قَالَ ارْمِ وَلَا حَرَجَ فَمَا سُئِلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ شَيْءٍ قُدِّمَ وَلَا أُخِّرَ إِلَّا قَالَ افْعَلْ وَلَا حَرَجَ

“Bahwa Rasulullah r berhenti di Mina pada haji wada’ untuk melayani manusia yang mau bertanya kepada beliau. Maka seseorang datang kepada beliau dan berkata: “Aku tidak mengetahui maka aku cukur rambutku sebelum menyembelih Al-Hadyu (dam).” Maka beliau menjawab: “Silakan menyembelih dam dan tidak ada dosa.” Kemudian orang lain datang dan bertanya: “Aku tidak mengetahui maka aku menyembelih dam sebelum melempar jumrah.” Maka beliau menjawab: “Silakan melempar jumrah dan tidak ada dosa.” Tidaklah Nabi r ditanya tentang sesuatu yang diajukan dan diakhirkan kepada beliau kecuali beliau menjawab: “Silakan dikerjakan dan tidak ada dosa.”

(HR. Al-Bukhari: 81, Muslim: 2301, Abu Dawud: 1722, Ibnu Hibban dalam Shahihnya: 3877 (9/189), Al-Baihaqi dalam Al-Kubra: 9402 (5/140)).

Al-Allamah Ash-Shan’ani berkata:

“Ini terjadi ketika Rasulullah r khutbah di jamarat pada hari Nahr (tanggal 10) setelah tergelincirnya matahari. Beliau berkhutbah di atas unta beliau.”

(Subulus Salam: 2/211).

– Majelis ta’lim wanita

Dari Abu Sa’id Al-Khudri t, ia berkata:

قَالَتْ النِّسَاءُ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ غَلَبَنَا عَلَيْكَ الرِّجَالُ فَاجْعَلْ لَنَا يَوْمًا مِنْ نَفْسِكَ فَوَعَدَهُنَّ يَوْمًا لَقِيَهُنَّ فِيهِ فَوَعَظَهُنَّ وَأَمَرَهُنَّ فَكَانَ فِيمَا قَالَ لَهُنَّ مَا مِنْكُنَّ امْرَأَةٌ تُقَدِّمُ ثَلَاثَةً مِنْ وَلَدِهَا إِلَّا كَانَ لَهَا حِجَابًا مِنْ النَّارِ فَقَالَتْ امْرَأَةٌ وَاثْنَتَيْنِ فَقَالَ وَاثْنَتَيْنِ

“Para wanita berkata kepada Nabi r: “Kami dikalahkan oleh para lelaki (dalam masalah ilmu) maka jadikan untuk kami suatu hari dari dirimu!” Maka beliau menjanjikan hari tertentu kepada mereka untuk mengadakan pertemuan (ta’lim). Maka beliau memberikan wejangan dan perintah-perintah kepada mereka. Di antara wejangan beliau kepada mereka adalah: “Tidaklah salah seorang wanita di antara kalian yang ditinggal mati oleh 3 anaknya kecuali mereka menjadi penghalang baginya dari api neraka.” Seseorang wanita bertanya: “Kalau 2 anak?” Maka beliau menjawab: “Juga 2 anak.”

(HR. Al-Bukhari: 99, An-Nasa’I dalam Al-Kubra: 3/451, Ibnu Hibban dalam Shahihnya: 2944 (7/206)).

Al-Allamah Ubaidullah Al-Mubarakfuri berkata:

“Maksud “maka jadikan untuk kami suatu hari dari dirimu!” adalah yang memilih hari ta’lim adalah engkau (Rasulullah r) bukan kami (para wanita).”

(Mir’atul Mafatih Syarh Misykatul Mashabih: 5/503).

– Majelis ta’lim pemuda dan anak-anak

Dari Jundub bin Abdullah t ia berkata:

كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَنَحْنُ فِتْيَانٌ حَزَاوِرَةٌ فَتَعَلَّمْنَا الْإِيمَانَ قَبْلَ أَنْ نَتَعَلَّمَ الْقُرْآنَ ثُمَّ تَعَلَّمْنَا الْقُرْآنَ فَازْدَدْنَا بِهِ إِيمَانًا

“Adalah kami bersama Rasulullah r dalam keadaan masih anak muda yang mendekati usia baligh. Maka kami belajar iman sebelum kami belajar Al-Quran. Kemudian kami belajar Al-Quran sehingga bertambahlah iman kami.”

(HR. Ibnu Majah: 60, Al-Baihaqi dalam Al-Kubra: 5498 (3/120), Ath-Thabrani dalam Al-Kabir: 1679 (2/165). Isnadnya di-shahih-kan oleh Al-Bushairi dalam Mishbhuz Zujajah: 1/12 dan di-shahih-kan pula oleh Al-Albani dalam Shahih Sunan Ibni Majah hadits: 52)

9. Dan sunnah Rasulullah itupun dilestarikan oleh para shahabatnya setelahnya, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik; hingga kita dapati sampai sekarang ini…

Majelis para shahabat ini sarat dengan ilmu Al-Quran dan As-Sunnah. Berikut ini adalah sedikit contoh dari halaqah As-Salafush Shalih.

– Majelis Abu Hurairah

Beliau memiliki halaqah ilmu di Masjid Nabawi. Beliau hidup selama 47 tahun setelah wafatnya Rasulullah r. Di sana ia menyampaikan hadits-hadits Nabi r dan memiliki banyak murid.

(Adalatush Shahabah: 108).

Muhammad bin Imarah bin Amr bin Hazm pernah bercerita:

انه قعد في مجلس فيه أبو هريرة وفيه مشيخة من اصحاب النبي صلى الله عليه وسلم بضعة عشر رجلا فجعل أبو هريرة يحدثهم عن النبي صلى الله عليه وسلم

Bahwa ia pernah berada di sebuah majelis yang disitu ada Abu Hurairah dan orang-orang yang tua dari sahabat Nabi r berjumlah belasan. Dan mulailah Abu Hurairah membacakan kepada mereka hadits-hadits Nabi r.

(Riwayat Al-Bukahri dalam At-Tarikhul Kabir: 1/186-7).

Al-Imam Al-Bukhari berkata: “Telah meriwayatkan dari Abu Hurairah t sekitar 800 orang. Kebanyakan mereka adalah ulama para sahabat dan tabi’in dan lainnya.”

(Tahdzibut Tahdzib: 12/239).

– Majelis Abdullah bin Mas’ud

Beliau memiliki halaqah ilmu di Kufah. Ma’bad Al-Juhani berkata:

كان رجل يقال له : يزيد بن عميرة السكسكي ، وكان تلميذًا لمعاذ بن جبل … فذكر الحديث قال : فقبض معاذ ، ولحق يزيد بالكوفة ، فأتى مجلس عَبد الله بن مسعود وليس ثم ، فجعلوا يتذاكرون الإيمان..

“Adalah seseorang yang bernama Yazid bin Umairah As-Saksaki. Ia adalah murid Mu’adz bin Jabal t ..kemudian disebutkan kisahnya… setelah Mu’adz wafat ia berangkat ke Kufah mendatangi majelis Abdullah bin Mas’ud. Ketika di sana ia dapati beliau (Ibnu Mas’ud) masih belum datang. Maka mereka (peserta ta’lim) mulai berdiskusi tentang masalah iman (sambil menunggu kedatangan beliau, pen)…”

(HR. Ishaq bin Rahawaih. Lihat Ithaful Khiyarah Al-Maharah: 1/136).

– Majelis Abdullah bin Abbas

Ibnu Abbas memiliki banyak halaqah. Ada halaqah fiqih, halaqah tafsir, halaqah hadits dan halaqah bahasa Arab. Majelis beliau terletak di Makkah di dekat sumur Zamzam.

(Akhbaru Makkah: 3/246).

Al-Imam Amr bin Dinar (ulama tabiin) berkata:

ما رأيت مجلساً قط أجمع لكل خير من مجلس ابن عباس للحلال والحرام وتفسير القرآن والعربية والشعر والطعام

“Aku tidak melihat ada majelis ilmu yang lebih mengumpulkan kebaikan daripada majelis Ibnu Abbas. Ada majelis halal dan haram, majelis tafsir Al-Quran, majelis bahasa Arab, majelis ilmu sya’ir dan majelis makan-makan.”

(Ghayatun Nihayah fi Thabaqatil Qurra’: 189).

Al-Imam Atha’ berkata: “Adalah beberapa orang datang ke majelis Ibnu Abbas belajar syair dan nasab, yang lainnya datang dan belajar tentang sejarah perang Arab dan yang lainnya ingin belajar fiqih dan ilmu. Maka tidaklah masing-masing kelompok (belajar) tersebut kecuali diterima oleh Ibnu Abbas menurut kehendak mereka.”

(Al-I’lam liz Zirikli: 4/95).

– Majelis Zaid bin Aslam

Beliau adalah seorang imam ahli fiqih dari kalangan tabiin. Beliau memiliki halaqah ilmu di Masjid Nabawi.

Abu Hazim Al-A’raj berkata:

لقد رأيتنا في مجلس زيد بن أسلم أربعين فقيها أدنى خصلة فينا التواسي بما في أيدينا، وما رأيت في مجلسه متماريين ولا متنازعين في حديث لا ينفعنا

“Sungguh aku melihat diri kami di majelis Zaid bin Aslam 40 ahli fiqih yang mana kami saling membantu. Dan aku tidak melihat di dalam majelis beliau ada orang yang saling berdebat dan berselisih dengan pembicaraan yang tidak berguna.”

(Siyar A’lamin Nubala’: 5/316)

[Banyak mengambil faidah darisini]

Tinggalkan komentar

Filed under al-Quran, Dzikir, Ibadah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s