Sikap ketika dikritik

Misalkan ada seseorang yang berkata padamu:

“Sesungguhnya pada dirimu terdapat kekurangan/aib”

Lakukanlah dua hal berikut:

1. Meneliti maksud “kekurangan” yang dikatakannya… apakah “kekurangan/aib” tersebut adalah kekurangan/aib dimata syari’at?

Terkadang orang-orang menyangka “ini kekurangan/aib” padahal dimata syari’at ia bukanlah aib.. Contoh, memelihara jenggot. ini BUKAN AIB/KEKURANGAN. bahkan ini PERINTAH NABI shallallahu ‘alayhi wa sallam.

Maka jika mereka katakan, “kamu ini jenggotnya nggak rapi.. kelebatan! dicukurlah biar rapi!!”

Maka klaim mereka bahwa “ini kekurangan” harus engkau luruskan. engkau katakan dengan baik-baik, “ya akhi.. ini perintah nabi.. bahkan nabi sendiri pun jenggotnya lebat.. apakah kita akan menuduh nabi tidak rapi/kotor/jorok?!”

2. Jika engkau sudah meneliti bahwa “kekurangan/aib” yang ia katakan merupakan kekurangan/aib dimata syari’at… Maka, engkau lihat dalam dirimu, dan engkau JUJUR pada dirimu, apakah benar kekurangan tersebut ada padamu atau tidak?

a. Jika ada, dan engkau mendapati kekurangan/aib tersebut pada dirimu… maka SEGERA PERBAIKI DIRIMU, dan BERTERIMAKASIH-LAH kepada kawanmu yang mengingatkan akan kekuranganmu.

b. Jika tidak ada, dan MEMANG REALITANYA TIDAK ADA,

maka engkau berkata kepadanya (dalam rangka mengingatkannya):

“yaa akhi… apa yang antum sebutkan, sudah ana teliti dalam diri ana, sudah ana tanyakan kepada orang-orang terdekat ana… dan hal tersebut memang tidak ada dalam diri ana… mungkin antum salah paham, atau salah dengar berita…”

kemudian, apabila ia tetap berdusta atas namamu, menyandarkan suatu kekurangan yang tidak engkau miliki kepada dirimu… maka nasehatilah ia, karena kewajibanmu untuk menasehatinya agar ia meninggalkan kemungkaran (berdusta, menyebarkan kedustaan, dan namimah) tersebut.. adapun tentang celaannya, maka bersabarlah, dan tidak perlulah engkau kecewa… untuk apa engkau kecewa pada celaan yang tidak ada pada dirimu?!

Berkata Seorang salafush shalih, ketika ia mendengar ada orang-orang yang berkata buruk tentangnya (sedangkan hal tersebut tidak ada dalam dirinya):

“Biarkanlah mereka menyandarkan keburukan yang tidak ada padaku… namun jangan sampai mereka menyandarkan kebaikan yang tidak ada padaku…”

Inilah kecerdasan beliau… untuk apa berkecil hati dengan tuduhan dusta sedangkan hal tersebut tidak ada dalam diri kita? dan mengapa justru kita senang/berbangga dengan pujian kepada kita, padahal mungkin kita tidak berhak mendapatkannya!?

Semoga dapat kita ambil manfaat

Iklan

1 Komentar

Filed under Adab

One response to “Sikap ketika dikritik

  1. mudah2han yang copas tau artinya ,,,aamin,,,:D

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s