Telitilah berita yang sampai kepadamu

Orang yang mendapatkan informasi, kemudian dia serta merta MENELANnya, bahkan ia serta merta menyebarkannya, maka ia telah mengikuti syaithån dan ia pun telah mengikuti sunnah-sunnah orang munafiq (karena perbuatan ini merupakan CIRI KHAS kaum munafiqin di zaman Råsulullåh shållallåhu ‘alayhi wa sallam), berdasarkan QS. An-Nisa: 83, yakni firman Allåh:

وَإِذَا جَآءَهُمْ أَمْرُُ مِّنَ اْلأَمْنِ أَوْ الْخَوْفِ أَذَاعُوا بِهِ

Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya.

(QS. an-Nisa’: 83)

Ibnu Katsir menafsirkan:

“(ayat tersebut) Adalah PENGINGKARAN terhadap orang yang BERSEGERA dalam berbagai urusan SEBELUM MEMASTIKAN KEBENARAN, lalu ia mengabarkannya, menyiarkannya, dan menyebarluaskannya, padahal terkadang perkara itu TIDAK BENAR.”

Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam juga bersabda,

كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ

”Cukuplah seseorang dikatakan berdusta, jika ia menceritakan setiap yang dia dengar.”

(HR. Muslim).

Imam Ibnu Hibban berkata dalam kitab adh- Dhu’afa’ (I/9):

“Di dalam hadits ini ada ancaman bagi seseorang yang menyampaikan setiap apa yang dia dengar sehingga ia tahu dengan seyakin-yakinnya bahwa hadits atau riwayat itu shahih.”

(Lihat Tamaamul Minnah fii Ta’liq ‘alaa Fiqhis Sunnah hal. 33.)

[–tambahan–

Imam Malik –semoga Allah merahmati beliau- mengatakan,

”Ketahuilah, sesungguhnya seseorang tidak akan selamat jika dia menceritakan setiap yang didengarnya, dan dia tidak layak menjadi seorang imam (yang menjadi panutan, pen), sedangkan dia selalu menceritakan setiap yang didengarnya.

(Dinukil dari Muntahal Amani bi Fawa’id Mushtholahil Hadits lil Muhaddits Al Albani).

dari: http://www.rumaysho.com/belajar-islam/jalan-kebenaran/2981-hadits-dhoif-bolehkah-dijadikan-sandaran-hukum.html

—]

Didalam kitab ash-Shahihain, dari al-Mughirah bin Syu’bah, bahwasanya Råsulullåh shållallåhu ‘alayhi wa sallam melarang untuk berkata:

قِيْلَ وَقَالَ

qiila wa qoola

(KATANYA dan KATANYA)

Yaitu orang yang BANYAK BICARA tentang perkataan orang lain,

– TANPA MENELITI KEBENARANNYA,
– TANPA MEMASTIKANNYA (terlebih dahulu)
– dan TANPA MENCARI KEJELASAN (tentang kebenarannya)

[Tafsir Ibnu Katsir]

Allåh subhanahu wa ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.

(QS. al-Hujurat: 6)

Berkata asy-Syaikh Dr Abdul Azim Badawi

Pada ayat ini, Allah melarang hamba-hambaNya yang beriman dari mengekor kepada isu yang tersebar, dan memerintahkan mereka untuk meneliti kebenaran berita yang sampai kepada mereka, karena tidak semua yang diberitakan itu benar adanya, dan tidaklah setiap yang dibicarakan itu merupakan suatu kejujuran. Sesungguhnya, musuh-musuh kalian senantiasa mengintai kelemahan kalian, maka wajib atas kalian agar selalu terjaga, sehingga kalian bisa memergoki orang-orang yang hendak membangkitkan dan menyebarkan kegelisahan serta isu-isu yang tidak benar ditengah-tengah kalian.

Allah berfirman.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا

“Artinya : Wahai orang-orang yang beriman, jika seorang fasik datang kepada kalian membawa berita, hendaklah kalian teliti” [Al-Hujurat : 6]

Maksudnya : Jangannlah kalian terima beritanya, sampai kalian teliti dan membuktikan kebenarannya.

Pada ayat ini Allah mengajarkan kepada kita bahwa hukum asal orang fasik adalah dusta, akan tetapi ada kemungkinan dia jujur, maka dari itu berita yang dibawanya tidak langsung diterima atau ditolak, kecuali setelah dilakukan penelitian atas kebenaran berita tersebut. Jika telah jelas kejujurannya melalui bukti dan keterangan yang ada, maka beritanya diterima, akan tetapi jika sebaliknya, maka beritanya di tolak.

Kemudian Allah menjelaskan hikmah dari perintahNya untuk melakukan pengecekan kebenaran suatu berita, serta hikmah laranganNya dari mengekor kepada isu dan kabar burung seraya berfirman.

تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ

“Artinya : Kalian menimpakan musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaan yang sebenarnya” [Al-Hujurat : 6]

Maksudnya : Kemudian ternyata kalian yang salah dan kaum tersebut tidak bersalah apa-apa.

فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

“Artinya : Sehingga kalian akan menyesali perbuatan kalian”

[Al-Hujurat : 6]

Terlebih , apabila perbuatan kalian tersebut menyebabkan punggung-punggung kalian dicambuk, karena mungkin tuduhan kalian itu menyebabkan hukuman tertentu, seperti tuduhan zina dan sebagainya. (Maka,) Betapa perlunya kaum muslimin semuanya kepada ayat ini, mereka MEMBACANYA, MERENUNGINYA dan BERAKHLAQ DENGANNYA.

– (Lihatlah) Berapa banyak tragedi terjadi karena sebuah berita bohong yang disebarkan oleh seorang fasik lagi membuat onar?!

– Betapa banyak darah yang ditumpahkan, nyawa berterbangan, harta benda dirampas, kehormatan dicabik-cabik, disebabkan oleh sebuah berita bohong yang sama sekali tidak ada buktinya!?

(Ketahuilah!!) Semua itu digulirkan oleh musuh-musuh Islam dan kaum muslimin untuk memusnahkan persatuan mereka, mencabik-cabik kekuatan mereka, serta menghembuskan permusuhan dan kebencian diantara mereka!

– Betapa banyak dua orang yang bersaudara dipisahkan oleh berita-berita bohong?!

– Berapa banyak pasangan suami-istri dipisahkan oleh berita-berita dusta?!

– Dan berapa banyak pula peperangan antara suku dan umat karena berita-berita palsu?!

Allah Yang Maha Halus dan Mengetahui memberi kaidah syariat untuk umat ini, agar masyarakat ini tidak dirobek-robek, tidak dipecah belah dan api fitnah tidak berkobar didalamnya, yang apabila telah berkobar tidak akan bisa dipadamkan.

Beliau (asy-Syaikh Dr Abdul Azim Badawi) melanjutkan:

Sungguh, di antara perkara yang sangat disayangkan adalah, bahwa tidak satupun masyarakat kaum muslimin bebas dari kaum munafiq dan pendengki, mereka adalah orang-orang yang tidak akan pernah merasa tenang, jika melihat masyarakat muslimin saling berkasih sayang, bersaudara serta merasa sebagai satu kesatuan, sehingga apabila seorang yang biasa dari mereka, maka yang memiliki kedudukan pun ikut mengeluh.

Wajib bagi kaum muslimin untuk mempertajam kewaspadaan mereka dan berhati-hati terhadap musuh mereka, serta hendaknya kaum muslimin senantiasa mengingat, bahwa musuh-musuh mereka selalu begadang untuk menyusun rencana dan makar terhadap kaum muslimin. Maka dari itu kaum muslimin harus senantiasa waspada sehingga bisa mengetahui darimana munculnya permusuhan dan bagaimana kebencian di antara mereka dikobarkan!!… See More

Sesungguhnya, keberadaan orang-orang munafik di dalam masyarakat Islam merupakan bahaya laten yang besar, akan tetapi lebih berbahaya dari itu adalah adanya orang-orang beriman yang senantiasa menerima dikte dari kaum munafik, mereka juga MAU MENDENGAR GOSIP-GOSIP KAUM MUNAFIQ, TANPA MENGHIRAUKAN DAMPAKNYA TERHADAP KAUM MUSLIMIN.

Al-Qur’an telah mencatat untuk kita sebagian bencana yang menimpa kaum muslimin, akibat MENGEKORNYA SEBAGIAN KAUM MUSLIMIN DIBELAKANG KAUM MUNAFIQIN (dan) PARA PENDENGKI, sehingga kita bisa memetik hikmah dari pengalaman orang-orang sebelum kita.

Jika berkenan, maka bacalah surat An-Nuur, kemudian renungilah beberapa ayat mulia yang Allah firmankan untuk mengumumkan kesucian Ummul Mukminin Aisyah Radhiyallahu ‘anha dari tuduhan kaum munafik, dan ternyata beberapa orang yang benar-benar beriman ikut-ikutan menuduh tanpa bukti.

Allah berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ جَاءُوا بِالْإِفْكِ

“Artinya : Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong”

[An-Nuur : 11]

Maksudnya : Kebohongan, ifik seburuk-buruk dusta, dinamakan ifik karen dipalingkan dari kebenaran. Diambil dari perkataan : “afaka asy-syaia” jika dia memalingkan dari keadaan yang sebenarnya.

Karena Aisyah Radhiyallahu ‘anha berhak mendapat pujian, karena beliau adalah seorang wanita yang terpelihara dan mulia, siapa saja yang melemparkan tuduhan buruk kepadanya, maka hakekatnya dia membalik suatu perkara dari kenyataannya.

[Tafsir Al-baghowi 4/181].

لَا تَحْسَبُوهُ شَرًّا لَكُمْ

“Artinya : Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu”

[An-Nuur : 11]

Maksudnya : Wahai keluarga Abu Bakar, janganlah kalian mengira bahwa fitnah atas kalian itu suatu keburukan bagi kalian.

Allah berfirman:

بَلْ هُوَ خَيْرٌ لَكُمْ

“Artinya : Bahkan ia adalah baik bagi kamu” [An-Nuur : 11]

Janganlah menilai segala perkara dari lahiriyahnya saja, karena terkadang berita datang dalam bentuk yang buruk, tapi jangan disangka bahwa yang menimpa kalian adalah keburukan, bahkan itu merupakan kebaikan bagi kalian.

Kebaikan pertama adalah, Allah menyebutkan kalian dihadapan para malaikat, dan Allah turunkan beberapa ayat yang senantiasa dibaca berkenaan dengan perkara kalian.

Kedua, dengan turunnya ayat ini, mendung menjadi sirna, kegelapan tersingkap, serta lenyaplah gunung kesedihan di dalam hati Ummul Mukminin Aisyah Radhiyallahu ‘anha, di dalam hati suaminya, yaitu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ayahnya yaitu Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu, demikian juga sahabat Rasulullah yang terpercaya sebagai tertuduh dalam fitnah ini bersama Aisyah Radhiyallahu ‘anha, Shofwan bin Al-Mu’ththil Radhiyallahu ‘anhu, kemudian ayat-ayat tersebut membimbing kaum mukminin dalam menghadapi berbagai isu, serta bagaimana menyikapi kedustaan dan para pendusta…

Maka Allah berfirman:

لَوْلَا إِذْ سَمِعْتُمُوهُ ظَنَّ الْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بِأَنْفُسِهِمْ خَيْرًا وَقَالُوا هَٰذَا إِفْكٌ مُبِينٌ

“Artinya : Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu orang-orang mukminin dan mukminat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak) berkata : Ini adalah suatu berita bohong yang nyata”

[An-Nuur : 12]

Inilah langkah awal yang harus anda ambil, jika sampai kepadamu sebuah berita buruk tentang saudaramu, hendaklah anda renungi diri anda sendiri, jika anda berbaik sangka terhadap diri anda dan berusaha menolak tuduhan-tuduhan tersebut, maka anda juga wajib berbaik sangka terhadap saudaramu serta berusaha menolak tuduhan-tuduhan atas diri saudaramu, seraya anda katakan.

سُبْحَانَكَ هَٰذَا بُهْتَانٌ عَظِيمٌ

“Artinya : Maha Suci Engkau (Ya Allåh), Ini adalah dusta yang besar”

[An-Nuur : 16]

Tidak mungkin saudaramu berkata atau berbuat sedemikian buruk. Inilah sikap yang diambil oleh sebagian sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika sampai kepada mereka berita buruk tentang Aisyah Radhiyallahu ‘ahna.

[Disalin dari majalah Adz-Dzakhiirah Al-Islamiyah Vol. 5. No. 7 Edisi 31- Jumadil Akhir 1428H. Penerbit Ma’had Ali Al-Irsyad As-Salafy Surabaya, Alamat : Jl Sidotopo Kidul No. 51 Surabaya; almanhaj.or.id; dari as-sunnah qatar]

Tinggalkan komentar

Filed under Adab

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s