Berdiri ketika adzan berkumandang

Kita mungkin melihat, banyak orang yang berdiri didalam masjid ketika adzan sedang dikumandangkan…

Maka janganlah disalahpahami, kalau berdiri-nya mereka itu adalah “amalan khusus” ketika mendengar adzan! Bukan!

Ketahuilah, mereka yang sedang berdiri itu dikarenakan:

1. Mereka belum menunaikan Shalat Tahiyatul Masjid.

Sabda Nabi shallallaahu ‘alayhi wa sallam :-

إذا دخل أحدكم المسجد فلا يجلس حتى يصلي ركعتين

“Apabila salah seorang dari kamu memasuki masjid, janganlah dia duduk sehingga solat DUA rakaat”

[Muttafaq ‘alaih]

Sebelum seseorang itu duduk didalam masjid, di-SUNNAH-kan dia menunaikan Shalat Tahiyatul al-masjid, walaupun Imam sudah mulai membaca khutbah.

2. Dia ingin menunda shalat Tahiyatul al-masjid kerana ingin menjawab ADZAN (terlebih dahulu, sampai selesai).

Dengan itu dia sedang memburu tiga pahala, yaitu :-

# menjawab Azan,

# berdo’a selepas Azan

# melakukan Solat Tahiyatul masjid (atau digabungkan niatnya dengan shalat wudhu, dan/atau digabungkan niatnya dengan shalat qabliyah)

Maka BUKANLAH seseorang itu berdiri karena menghormati Azan. Tidak ada dalil yang menyokong perbuatan ini! Menghormati Azan adalah dengan cara menjawabnya. Sebagaimana menghormati dan memuliakan masjid ialah dengan melakukan Solat Tahiyatul Masjid sebelum duduk.

Adapun untuk kasus Azan KEDUA pada hari Juma’at, para ulama’ mengatakan tidak perlu menjawab Adzan tersebut, yaitu dengan bersegera menunaikan shalat Tahiyatul Masjid, supaya dapat segera bersiap-siap untuk mendengar khutbah Juma’at.

[Simak: Fataawa Arkaan al-Islam, Ibn Utsaimin, ms. 28; sumber: http://qasolatjemaah.blogspot.com/2009/01/berdiri-menghormati-azan.html]

Maka agak aneh, jika kita dapati seseorang yang ikut berdiri bersama orang-orang berdiri, namun ia tidak menjawab adzan (sebagaimana orang yang berdiri tersebut).

Demikian pula, agak aneh; apabila seseorang sudah tahiyatul masjid, kemudian hanya karena adzan dia yang tadinya sudah duduk, maka lantas berdiri. Padhaal cukup dia menjawab adzan sambil duduk, dan tidak disyaratkan ketika menjawab adzan itu harus dengan berdiri.

Semoga bermanfaat

10 Komentar

Filed under Shålat

10 responses to “Berdiri ketika adzan berkumandang

  1. dirga

    Sabda Nabi shallallaahu ‘alayhi wa sallam :-

    إذا دخل أحدكم المسجد فلا يجلس حتى يصلي ركعتين

    “Apabila salah seorang dari kamu memasuki masjid, janganlah dia duduk sehingga solat DUA rakaat”

    [Hadith Muttafaq ‘alaih]
    =-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=

    assalamu ‘alaikum wrwb,
    sehubungan dgn hadith tsb di atas, perkenankan saya bertanya, apakah saya boleh melakukan shalat Tahiyatul Masjid (lagi) ketika saya memasuki sebuah mesjid (B) sedangkan saya telah menunaikan shalat Ashar di mesjid (A)….

    terima kasih atas tanggapan nya…

    wassalam,
    db

  2. dirga

    Terim kasih atas penjelasan nya..

    wassalam…
    db

  3. Saropie

    Asslkm Wr Wb

    Mohon diberikan penjelasan , sehubungan di Masjid saya ada sekelompok jamah yang :
    1. Walau sedang orang azan di Masjid itu , mereka tetap
    masuk masjid dan langsung sholat sunnah.
    2. Mereka melaksanakan sholat subuh dengan mernunggu
    fajar shodiq (telat 20 menit dari azan subuh).
    3. Tidak mau mengadakan Maulus Nabi dan Isroq Migrat
    4. Apabila hujan setelah selesai sholat Magrib atau sholat dhuhur maka bisa langsung dilanjut sholat Isya atau sholat Asar.
    5. Pakai celana dilipat atau celana agak tinggi agar tumit jelas terlihat.
    Mohon penjelasan dan dasar dasar pijakan nya.

    terimakasih

    • Abu Zuhriy al Gharantaliy

      Adapun: “1. Walau sedang orang azan di Masjid itu , mereka tetap masuk masjid dan langsung sholat sunnah.”

      Jawab: “tidak apa-apa, karena hukum menjawab adzan hukumnya sunnah”

      Adapun: “2. Mereka melaksanakan sholat subuh dengan mernunggu fajar shodiq (telat 20 menit dari azan subuh)”

      Jawab: “Terbitnya fajar shadiq adalah masuknya waktu shubuh. Dan di Indonesia, insyaa Allaah penetapan waktu shubuh-nya sudah sesuai dengan fajar shadiq…

      Ada dua kemungkinan:

      – Mungkin mereka memiliki pendapat lain tentang “derajat matahari, untuk mencapai fajar shadiq, beberapa derajat berbeda” sehingga mereka berpendapat, bahwa waktu shubuh baru masuk 20 menit dari ‘jadwal yang ada’… Oleh karenanya, mereka menundanya 20 menit.

      – ATAU… bisa saja mereka menunda shalat shubuh, untuk memberi kesempatan orang-orang yang kesiangan agar dapat shalat di masjid… Buktinya, mereka adzan shubuh pada waktunya kan? (tidak ditunda 20 menit dari adzan di masjid-masjid lain?) Dan ini sangat baik sekali… Alhamdulillaah

      Adapun: “3. Tidak mau mengadakan Maulus Nabi dan Isroq Migrat”

      Jawab: “yang benar penulisannya maulid nabi dan isra’ mi’raj…

      Apa yang mereka lakukan merupakan kebenaran, karena kedua perayaan tersebut bukan merupakan syari’at Islaam.. yang tidak pernah disyari’atkan oleh Allaah dan RasulNya… tidak pernah diamalkan Rasuulullaah dan para shahabat… seandainya hal tersebut baik, niscaya mereka akan LEBIH DAHULU mengamalkannya dibandingkan diri kita…

      Dan ini diakui ULAMA MADZHAB SYAFI’IYYAH, yaitu

      لا أعلم لهذا المولد أصلا في كتاب ولا سنة ولا يُنقل عمله عن أحد من علماء الأمة، الذين هم القدوة في الدين، المتمسكين بآثار المتقدمين، بل هو بدعة،أحدثها البطالون وشهوة نفسٍ اغتنى بها الأكالون

      “Aku tidak mengetahui asal perayaan maulid ini dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Tidak pula dinukil pengamalannya dari seorang pun ulama umat yang menjadi suri tauladan dalam agama, lagi berpegang teguh dengan atsar-atsar ulama mutaqaddimiin. Bahkan perbuatan itu (maulid) merupakan bid’ah yang diada-adakan para penganggur dan hawa nafsu, yang disenangi orang-orang yang hobi makan”

      [Al-Maurid fii Ahkaamil-Maulid, hal. 21-22]

      Simak:

      http://abuzuhriy.com/waspadailah-perbuatan-tasyabbuh/
      http://abuzuhriy.com/sejarah-disyariatkannya-maulid-nabi/
      http://ustadzkholid.com/peringatan-isra-miraj/

      Adapun: “4. Apabila hujan setelah selesai sholat Magrib atau sholat dhuhur maka bisa langsung dilanjut sholat Isya atau sholat Asar.”

      Jawab: “Maka ini DIBENARKAN… Karena jama’ah masjid DIBOLEHKAN untuk MENJAMA’ SHALAT jika terjadi hujan…

      Simak: http://rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2811-keringanan-ketika-turun-hujan-diperbolehkan-menjamak-shalat.html

      Adapun: “5. Pakai celana dilipat atau celana agak tinggi agar tumit jelas terlihat.”

      Jawab: “Maka inilah yang sesuai sunnah. Karena Nabi shallallaahu ‘alayhi wa sallam mencontohkan, kalau kita memakai sarung/celana/jubah, maka kita memakainya diatas mata kaki…

      Dari ‘Ubaid bin Khalid, bahwasannya ia sedang berjalan di Madinah (dengan keadaan pakaiannya yang terjulur sampai ke tanah) dan ketika itu ada seseorang yang menegurku :

      ارفع إزارك فإنه أبقى وأتقى

      “Angkatlah kainmu, karena hal itu LEBIH BAIK dan LEBIH BERTAQWA bagimu!”.

      Maku aku pun menoleh, dan ternyata orang tersebut adalah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam. Maka aku berkata : “Wahai Rasulullah, sesungguhnya ia hanyalah burdah bergaris saja”.

      Maka beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :

      أما لك في أسوة

      “Apakah engkau tidak menganggapku sebagai contoh ?”.

      Maka aku melihat dan ternyata kain beliau sebatas pertengahan betis”

      [Shahiih; HR. Ahmad].

      Dari Hudzaifah radliyallaahu ‘anhu ia berkata : “Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam memegang urat betisku”.

      Maka beliau bersabda :

      هذا موضع الإزار

      “Ini adalah batas panjang kain sarungmu (yaitu hingga pertengahan betis).

      فإن أبيت فأسفل

      Apabila engkau enggan, maka boleh di bawahnya.

      فإن أبيت فلا حق للإزار في الكعبين

      Dan jika engkau enggan, maka tidak ada hak bagi kain sarung untuk melebihi mata kaki”

      [Hasan Shahiih; HR. At-Tirmidzi]

      Semoga bermanfaat

  4. Siti Jubaedah

    اَلْحَمْدُلِلّهِ رَبّ الْعَالَمِيْنَ,, sekarang jadi tw alsannyaa… Terima kasih

  5. riri

    Assalamu’alaikum wr wb
    Jadi apabila kita datang ketika azan berkumandang,sebaiknya kita tetap berdiri dan menjawab azan dan berdoa setelah azan..
    Lalu apakah setelah itu kita shalat sunat tahiyatul masjid disambung shalat sunat rawatib.atau cukup niatnya saja yg digabung?
    Terimakasih atas jawabannya pak

    • Wa ‘alaikumus salaam wa rahmatullaahi wa barakaatuh

      Dengan shalat qabliyah, maka itu sudah masuk tahiyatul masjid. Jd shalat tahiyatul masjid udah nggak ada lagi.

  6. riri

    Yg kedua,sebenarnya apa yg saya jawab ketika azan mendengar “hayya shalah” dan “hayya lalfalah” pak?krn ada sumber yg saya baca jawabannya lahaula wala quwwata illa bilaah dan ada juga sumber yg saya baca “jika mendengar azan maka kita harus mengikuti azan tsb”
    Terimakasih atas jawabannya pak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s