Takbiran : Yang Benar dan Yang Keliru

Disyari’atkannya bertakbir

Dasar pensyari’atan takbiir ‘iidul fithri

Allah berfirman di akhir ayat puasa di surat al Baqarah:

وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

yang artinya, “Dan hendaknya kalian sempurnakan bilangan Ramadhan dan hendaknya kalian bertakbir memahabesarkan Allah karena hidayah yang Allah anugrahkan kepada kalian dan supaya kalian bersyukur”.

(al Baqarah: 185)

Tentang ayat ini Ibnu Katsir mengatakan,

“Banyak ulama berdalil mengenai disyariatkannya takbir saat iedul fitri dengan menggunakan ayat ini”

(Lihat dalam tafsirnya 1/307)

Dasar pensyari’atan takbiir ‘iidul adh-ha

Berdasarkan firman Allah:

وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَّعْلُومَاتٍ

yang artinya: “…supaya mereka berdzikir (menyebut) nama Allah pada hari yang telah ditentukan…” (Qs. Al Hajj: 28)

Dan juga firmanNya:

وَاذْكُرُوا اللَّهَ فِي أَيَّامٍ مَّعْدُودَاتٍ

yang artinya: “….Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang berbilang…” (Qs. Al Baqarah: 203)

Beberapa para shahabat Rasuulullaah menafsirkan ayat diatas:

“Yang dimaksud ‘hari yang telah ditentukan’ adalah tanggal 1 – 10 Dzulhijjah, sedangkan maksud ‘beberapa hari yang berbilang’ adalah hari tasyriq, tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah.”

Kapan dimulainya dan berakhirnya takbir?

Takbir ‘iidul fithri

Maka ada dua pendapat ulamaa’:

– Pendapat pertama, mengatakan bahwa takbir dimulai ketika matahari terbenam diakhir bulan ramadhan (pertanda masuknya 1 syawal) dan berakhir ketika imam datang

Mereka berdalil dengan keumuman ayat diatas:

وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

yang artinya, “Dan hendaknya kalian sempurnakan bilangan Ramadhan dan hendaknya kalian bertakbir memahabesarkan Allah karena hidayah yang Allah anugrahkan kepada kalian dan supaya kalian bersyukur”.

(al Baqarah: 185)

Ayat diatas memerintahkan kita untuk bertakbir kepada Allah, setelah kita menyempurnakan bilangan ramadhan. Maka ketika kita telah menyempurnakannya, dan telah masuk syawal, maka kita mulai bertakbir.

Kemudian diriwayatkan dari Said bin Musayyab, Urwah bin Zubair, Abu Salamah, Abu Bakar bin Abdurrahman radhiallahu’anhum biasanya mereka bertakbir pada malam Iidul Fitri di Masjid dengan mengeraskan suara takbir.

Hal ini yang dirajihkan Syaikh ibnul ‘Utsaimiin rahimahullaah, sebagaimana perkataan beliau:

“Takbir dimulai sejak matahari terbenam pada malam Id, apabila bulan (Syawal) sudah diketahui sebelum magrib, misalnya ketika Ramadan sempurnakan tiga puluh hari, atau telah ditetapkan rukyah hilal syawal. Takbir diakhiri dengan pelaksanaan shalat id. Yakni ketika orang-orang mulai shalat Id, maka selesailah waktu takbir.”

(Majmu Fatawa Ibnu Utsaimin, 16/269-272)

– Adapun pendapat kedua, mengatakan bahwa takbir dimulai ketika kita keluar dari rumah menuju lapangan, dan berakhir hingga selesainya shalat ‘iid

Hal ini berdasarkan perbuatan nabi shallallaahu ‘alayhi wa sallam, sebagaimana yang diriwayatkan Ibnu Abi Syaibah, yang menerangkan:

“…bahwa beliau -shallallaahu ‘alayhi wa sallam- keluar pada hari Idul fitri, maka beliau bertakbir hingga tiba di mushalla (tanah lapang), dan hingga ditunaikannya shalat. Apabila beliau telah menunaikan shalat, beliau menghentikan takbir”

[Hadits shahiih, Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam “Al-Mushannaf” dan Al-Muhamili dalam “Kitab Shalatul ‘Iedain” dengan isnad yang shahih akan tetapi hadits ini mursal. Namun memiliki pendukung yang menguatkannya. Lihat Kitab “Silsilah Al Hadits As-Shahihah” (170)]

Dan inipula yang diamalkan Ibn ‘Umar -yang kita ketahui adalah orang yang paling semangat mengamalkan sunnah-sunnah nabi shallallaahu ‘alayhi wa sallam- [Diriwayatkan Faryabi 43-46].

Ibnu Rajab dalam Fathul Bari 6/133 mengatakan “Oleh karena itu dituntunkan oleh mengeraskan takbir ketika berangkat menuju tempat shalat Ied. Hal ini diriwayatkan dari Umar, Ali, Ibnu Umar dan Abu Qatadah dan sejumlah ulama tabiin dan para ulama setelahnya”.

Dan inilah yang dirajihkan Syaikh al Albaaniy rahimahullaah. Dan inilah yang pendapat yang lebih mendekati kepada kebenaran.

Adapun untuk jawaban pendapat pertama, maka kita katakan: “Sesungguhnya kita pun mengikuti ayat diatas, dengan cara pengamalannya yang mengikuti pengamalan nabi shallallaahu ‘alayhi wa sallam. Karena telah ada riwayat bahwa nabi memulai takbirnya ketika beliau keluar menuju tempat shalat ‘iid, maka kita pun memulainya sebagaimana beliau memulainya. Wallaahu a’lam bish shawwaab”

Takbir ‘iidul adh-ha

Maka ini ada dua jenis:

1) Takbiran yang tidak terikat waktu (Takbiran Mutlak)

Takbiran hari raya yang tidak terikat waktu adalah takbiran yang dilakukan kapan saja, dimana saja, selama masih dalam rentang waktu yang dibolehkan.

Takbir mutlak menjelang idul Adha dimulai sejak tanggal 1 Dzulhijjah sampai waktu asar pada tanggal 13 Dzulhijjah. Selama tanggal 1 – 13 Dzulhijjah, kaum muslimin disyariatkan memperbanyak ucapan takbir di mana saja, kapan saja dan dalam kondisi apa saja.

Boleh sambil berjalan, di kendaraan, bekerja, berdiri, duduk, ataupun berbaring. demikian pula, takbiran ini bisa dilakukan di rumah, jalan, kantor, sawah, pasar, lapangan, masjid, dst. (kutip dari muslim.or.id)

Berdasarkan firman Allah:

وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَّعْلُومَاتٍ

yang artinya: “…supaya mereka berdzikir (menyebut) nama Allah pada hari yang telah ditentukan…” (Qs. Al Hajj: 28)

Dan juga firmanNya:

وَاذْكُرُوا اللَّهَ فِي أَيَّامٍ مَّعْدُودَاتٍ

yang artinya: “….Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang berbilang…” (Qs. Al Baqarah: 203)

Yang dimaksud berdzikir pada dua ayat di atas adalah melakukan takbiran.

Ibn Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengatakan: “Yang dimaksud ‘hari yang telah ditentukan’ adalah tanggal 1 – 10 Dzulhijjah, sedangkan maksud ‘beberapa hari yang berbilang’ adalah hari tasyriq, tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah.” (Al Bukhari secara Mua’alaq, sebelum hadis no.969; kutip dari muslim.or.id)

Dari Sa’id bin Jubair dari Ibn Abbas, bahwa maksud “hari yang telah ditentukan” adalah tanggal 1 – 9 Dzulhijjah, sedangkan makna “beberapa hari yang berbilang” adalah hari tasyriq, tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah. (Disebutkan oleh Ibn Hajar dalam Fathul Bari 2/458, kata Ibn Mardawaih: Sanadnya shahih; kutip dari muslim.or.id)

dari Abdullah bin Umar, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Tidak ada amal yang dilakukan di hari yang lebih agung dan lebih dicintai Allah melebihi amal yang dilakukan di tanggal 1 – 10 Dzulhijjah. Oleh karena itu, perbanyaklah membaca tahlil, takbir, dan tahmid pada hari itu.”

(HR. Ahmad & Sanadnya dishahihkan Syaikh Ahmad Syakir; kutip dari muslim.or.id)

Imam Al Bukhari mengatakan:

“Dulu Ibn Umar dan Abu Hurairah pergi ke pasar pada tanggal 1 – 10 Dzulhijjah. Mereka berdua mengucapkan takbiran kemudian masyarakat bertakbir disebabkan mendengar takbir mereka berdua.”

(HR. Al Bukhari sebelum hadis no.969; kutip dari muslim.or.id)

Disebutkan Imam Bukhari:

“Umar bin Khatab pernah bertakbir di kemahnya ketika di Mina dan didengar oleh orang yang berada di masjid. Akhirnya mereka semua bertakbir dan masyarakat yang di pasar-pun ikut bertakbir. Sehingga Mina guncang dengan takbiran.”

(HR. Al Bukhari sebelum hadis no.970; kutip dari muslim.or.id)

2) Takbiran yang terikat waktu

Takbiran yang terikat waktu adalah takbiran yang dilaksanakan setiap selesai melaksanakan shalat wajib. Takbiran ini dimulai sejak setelah shalat subuh tanggal 9 Dzulhijjah sampai setelah shalat Asar tanggal 13 Dzulhijjah. (kutip dari muslim.or.id)

Berikut dalil-dalilnya (kutip dari muslim.or.id):

a. Dari Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu, bahwa beliau dulu bertakbir setelah shalat shubuh pada tanggal 9 Dzulhijjah sampai setelah dluhur pada tanggal 13 Dzulhijjah. (Ibn Abi Syaibah & Al Baihaqi dan sanadnya dishahihkan Al Albani)

b. Dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, bahwa beliau bertakbir setelah shalat shubuh pada tanggal 9 Dzulhijjah sampai ashar tanggal 13 Dzulhijjah. Beliau juga bertakbir setelah ashar. (HR Ibn Abi Syaibah & Al Baihaqi. Al Albani mengatakan: “Shahih dari Ali radhiyallahu ‘anhu“)

c. Dari Ibn Abbas radhiyallahu ‘anhu, bahwa beliau bertakbir setelah shalat shubuh pada tanggal 9 Dzulhijjah sampai tanggal 13 Dzulhijjah. Beliau tidak bertakbir setelah maghrib (malam tanggal 14 Dzluhijjah). (HR Ibn Abi Syaibah & Al Baihaqi. Al Albani mengatakan: Sanadnya shahih)

d. Dari Ibn Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, bahwa beliau bertakbir setelah shalat shubuh pada tanggal 9 Dzulhijjah sampai ashar tanggal 13 Dzulhijjah. (HR. Al Hakim dan dishahihkan An Nawawi dalam Al Majmu’)

Lafazh takbir

Berkata Syaikh ‘Ali Hasan al-Halabiy:

“Sepanjang yang aku ketahui, tidak ada hadits nabawi yang shahih tentang tata cara (yaitu berkaitan dengan lafazh) takbir. Yang ada hanyalah tata cara takbir yang di riwayatkan dari sebagian sahabat, semoga Allah meridlai mereka semuanya.” (dikutip dari almanhaj)

Pertama, Takbir Ibn Mas’ud radhiyallahu ‘anhu.

Riwayat dari beliau ada 2 lafadz takbir:

اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله ُ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ وللهِ الْحَمْدُ

atau

اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله ُ، اللَّهُ أَكْبَرُ وللهِ الْحَمْدُ

Keterangan: Lafadz: “Allahu Akbar” pada takbir Ibn Mas’ud boleh dibaca dua kali atau tiga kali. Semuanya diriwayatkan Ibn Abi Syaibah dalam Al Mushannaf. (kutip dari muslim.or.id)

Kedua, Takbir Ibn Abbas radliallahu ‘anhuma

اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

اللَّهُ أَكْبَرُ وَأَجَلُّ اللَّهُ أَكْبَرُ، عَلَى مَا هَدَانَا

Keterangan:Takbir Ibn Abbas diriwayatkan oleh Al Baihaqi dan sanadnya dishahihkan Syaikh Al Albani. (kutip dari muslim.or.id)

Ketiga, Takbir Salman Al Farisi radhiyallahu ‘anhu

اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا

Keterangan: Ibn Hajar mengatakan: Takbir Salman Al Farisi radhiyallahu ‘anhu diriwayatkan oleh Abdur Razaq dalam Al Mushanaf dengan sanad shahih dari Salman. (kutip dari muslim.or.id)

Berkata Imam Ash Shan’ani mengatakan: “Penjelasan tentang lafadz takbir sangat banyak dari berberapa ulama. Ini menunjukkan bahwa perintah bentuk takbir cukup longgar. Disamping ayat yang memerintahkan takbir juga menuntut demikian.”

Maksud perkataan As Shan’ani adalah bahwa lafadz takbir itu longgar, tidak hanya satu atau dua lafadz. Orang boleh milih mana saja yang dia suka. Bahkan ada sebagian ulama mengucapkan lafadz takbir yang tidak ada keterangan dalam riwayat hadist.

Tata cara takbiran yang benar

1. Takbir dilakukan DENGAN SUARA KERAS

Berkata Naafi’ rahimahullaah:

كَانَ ابْنُ عُمَرَ يُكَبِّرُ يَوْمَ اْلعِيْدِ فِى اْلأَضْحَى وَالْفِطْرِ وَيُكَبِّرُ وَيَرْفَعُ صَوْتَهُ

“Ibnu Umar bertakbir pada hari ‘idul fitri dan adha beliau bertakbir dan mengeraskan suaranya.“

(Diriwayatkan oleh ad-Daaruqutni 2 / 45, Baihaqi 3/ 279, dan selainnya)

Berkata Abu Jamilah Masyaawah bin Ya’kub:

رأيت عليا , رضي الله عنه خرج يوم العيد فلم يزل يكبر حتى انتهى إلى الجبانة

“Saya melihat Ali radhiyallaahu ‘anhu keluar pada hari ‘ied, ia terus bertakbir sampai ketempat sholat.”

(Diriwayatkan oleh ad-Daaruqutniy 2/44, dan selainnya)

Lebih utamanya dilakukan sendiri-sendiri, sebagaimana yang diceritakan Anas bin Maalik saat ditanya tentang amalan mereka ketika ‘Idul adh-ha :

كان يهلل المهلل منا فلا ينكر عليه ويكبر المكبر فلا ينكر عليه

“Di antara kami ada yang bertahlil dan Rasulullah tidak mengingkari, sebagian yang lain ada yang betakbir dan beliau juga tidak mengingkari.”

(Diriwayatkan Malik 1/337, al-Bukhaariy no. 970, 1659, Muslim 1285, Ibnu Majah 3008, Al Baihaqi 3/313, 5/112, Darimi 2/56, Ahmad 3/240, Ibnu Hibban 3847, an-Nasaa`i 5/250; sumber kutipan)

Atsar diatas jelas menandakan bahwa masing-masing mereka berdzikir/bertakbir dengan dzikir/takbir mereka sendiri. Maka inilah yang lebih utama.

Adapun jika dilakukan berjama’ah, maka tidak mengapa, in syaa Allaah. Berkata imam asy-Syaafi’iy dalam al-Umm:

وأحب إظهار التكبير جماعة وفرادى في ليلة الفطر وليلة النحر مقيمين وسفراً في منازلهم ومساجدهم وأسواقهم

Dan aku menyukai untuk MENAMPAKKAN TAKBIIR (yakni dengan mengeraskannya, az)… (apakah itu) secara BERJAMA’AH ataukah sendiri-sendiri di malam ‘idul fitri dan malam ‘idul adh-ha, baik itu dilantunkan muqim, atau musafir, baik itu di kediaman-kediaman mereka ataupun di masjid-masjid mereka, atau di pasar-pasar mereka.

Terlepas kita setuju dengan beliau atau tidak… Takbiir jama’i itu sudah dikenal di zaman beliau, bahkan dalam kalimat beliau diatas, jelas-jelas beliau tidak mempermasalahkannya…

Kalaulah pun kita mengikuti pendapat yang menguatkan bahwa “lebih utama untuk takbir sendiri-sendiri (atau bahkan sampai menyatakan keliru jika dilakukan secara berjama’ah)” maka ini hanya berlaku pada BINGKAI DISKUSI saja… Adapun dalam BINGKAI RANAH PRAKTIS, yaitu ketika kita dapati orang lain berpendapat dan beramal berbeda (dengan pendapat dan pengamalan kita)… Maka tidak perlu diingkari…

Amalkan saja apa yang kita ketahui, dan berlapang dadalah terhadap yang berbeda…

2. Wanita pun disyari’atkan untuk bertakbir, akan tetapi dengan SUARA YANG LIRIH

Ummu Athiyah mengatakan,

“Kami, para wanita, diperintahkan oleh berangkat shalat Ied sampai sampai kami mengajak para gadis bahkan wanita yang sedang dalam kondisi haid. Mereka berada di belakang banyak orang lalu mereka pun bertakbir dengan takbir jamaah laki laki”

[HR Bukhari no 971 dan Muslim no 890; dan dalam salah satu redaksi Muslim, “Para wanita bertakbir bersama banyak orang”]

An Nawawi dalam Syarh Muslim 6/429 setelah membawakan hadits di atas mengatakan,

“Hadits ini adalah dalil bahwa bertakbir itu dianjurkan bagi semua orang ketika Iedul Fitri atau pun Iedul Adha dan ini adalah hukum yang disepakati”.

(kutip dari ustadzaris)

Ibnu Rajab al Hanbali dalam Fathul Bari 6/130 mengatakan,

“Tidak ada perselisihan pendapat diantara ulama bahwa jamaah wanita itu bertakbir bersama jamaah laki laki jika mereka shalat berjamaah dengan jamaah laki laki. Akan tetapi ketika bertakbir jamaah wanita sedikit melirihkan suaranya”.

(kutip dari ustadzaris)

Tata cara takbiran yang KELIRU

1. Kekeliruan: apabila bertakbir dengan MENGGUNAKAN MIKROFON, terlebih hingga sampai larut malam sehingga mengganggu kaum muslimin

“Perlu dipahami bahwa cara melakukan takbir hari raya tidak sama dengan cara melaksanakan adzan. Dalam syariat adzan, seseorang dianjurkan untuk melantangkan suaranya sekeras mungkin. Oleh karena itu, para juru adzan di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti Bilal, dan Abdullah bin Umi Maktum ketika hendak adzan mereka naik, mencari tempat yang tinggi. Tujuannya adalah agar adzan didengar oleh banyak orang.

Namun ketika melakukan takbir hari raya, tidak terdapat satupun riwayat bahwa Bilal naik mencari tempat yang tinggi dalam rangka melakukan takbiran. Akan tetapi, beliau melakukan takbiran di bawah dengan suara keras yang hanya disengar oleh beberapa orang di sekelilingnya saja.

Oleh karena itu, melakukan takbir hari raya tidaklah seperti melakukan adzan. Karena dua syariat ini adalah syariat yang berbeda. (Dari artikel Takbiran Hari Raya — Muslim.Or.Id)

Maka bagi yang mengikuti pendapat imam asy-syaafi’iy (yaitu mulai takbiran sejak malam ‘idul fithri) tetap dikatakan KELIRU, apabila ia bertakbir dengan mikrofon sampai larut malam (atau bahkan sampai pagi) sehingga mengganggu orang-orang yang berada di sekitar masjid (simak: https://abuzuhriy.wordpress.com/2012/08/14/larangan-mengganggu-kaum-muslimin/)

2. Kekeliruan: apabila pria yang TIDAK MENGERASKAN takbirnya dan/atau wanita yang MENGERASKAN takbirnya

Hal ini dikarenakan telah menyelisihi sunnah yang telah dicontohkan Rasuulullaah dan para shahabatnya, sebagaimana telah dipaparkan diatas.

Semoga bermanfa’at

Sumber

Takbiran Hari Raya, muslim.or.id

Takbir Pada Idul Fithri Dan Idul Adha, almanhaj.or.id

Takbir Hari Raya, ustadzaris.com

Kapan takbir hari raya idul fitri?, artikelsunnah

Tinggalkan komentar

Filed under Dzikir, Ibadah, Ramadhån

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s