Mengambil pelajaran pada binatang ternak (faidah QS 16:66)

Allah berfirman:

وَإِنَّ لَكُمْ فِي الْأَنْعَامِ لَعِبْرَةً ۖ نُّسْقِيكُم مِّمَّا فِي بُطُونِهِ مِن بَيْنِ فَرْثٍ وَدَمٍ لَّبَنًا خَالِصًا سَائِغًا لِّلشَّارِبِينَ

Dan sesungguhnya pada binatang ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu. Kami memberimu minum dari pada apa yang berada dalam perutnya (berupa) susu yang bersih antara tahi dan darah, yang mudah ditelan bagi orang-orang yang meminumnya…

(hingga pada firmanNya)

إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَةً لِّقَوْمٍ يَعْقِلُونَ

Sesunggguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang memikirkan.

[QS at Tahrim: (16):66-67]

Secara zhahir ayat diatas menceritakan bahwa ketika makanan telah dicerna binatang ternak, maka Allah menjadikan hasil pencernaannya mengalir sesuai tujuannya: darah ketempatnya, susu ke tempatnya, urin ketempatnya, kotoran ketempatnya.. dan susu yang diperas, baik warna maupun rasa, SAMA SEKALI TIDAK TERKOTORI oleh darah, urin, maupun kotoran.. (Lihat tafsiir ibnu katsiir)

Apakah hanya sebatas itu? Tentu tidak, semoga Allah merahmati para ulamaa’ yang telah menjelaskan maksud utama dalam ayat ini.. Sesungguhnya faidah utama ayat ini adalah KEIKHLASHAN. (mereka berkata, secara makna)

“Sebagaimana Allah memberimu SUSU dari binatang ternak, yang BERSIH dan SUCI dari kotoran, urin dan darah… maka hendaknya engkau BERIBADAH KEPADA ALLAH secara IKHLASH; yaitu BERSIH dari kotoran syirik! Yang mana hendaknya engkau memurnikan niatmu dari niat yang bercabang; yaitu disamping engkau beribadah kepadaNya, terselip keinginan dihatimu untuk RIYAA’ ataupun SUM’AH”

Lihatlah dalam ayat ini, Allah mensifatkan susu tersebut dengan (خَالِصًا) khaalishan; yaitu BERSIH, yang SAMA SEKALI TIDAK TERCAMPUR CAMPURAN DARI LUAR.. yang mana diantara para ulamaa’.. juga menggunakan ayat ini, untuk mendefinisikan MAKNA IKHLASH secara bahasa.. yaitu BERSIH, sama sekali tidak tercampur campuran dari luar.. (simak: http://abu0mushlih.wordpress.com/2009/10/14/ikhlas-dan-bahaya-riya/)

Sebagaimana dalam ayat lain, Allah berfirman:

قُلْ مَن يَرْزُقُكُم مِّنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ

Katakanlah: “Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi,

أَمَّن يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ

atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan,

وَمَن يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ

dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup

وَمَن يُدَبِّرُ الْأَمْرَ

dan siapakah yang mengatur segala urusan?”

فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ

Maka pasti mereka (kaum kuffar) akan menjawab: “Allah”.

فَقُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ

Maka katakanlah: “Mangapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya?”

(Yunus: 31)

Maknanya:

“Kamu sudah tahu, bahwa HANYA ALLAH SAJA yang melakukan semua hal diatas.. tapi mengapa engkau tidak menjadikanNya SATU-SATUNya sembahanmu?! bahkan engkau mengadakan sesembahan-sesembahan lain selainNya?!”

Jika kita sudah tahu, bahwa HANYA ALLAH yang menciptakan, mengatur, dan memelihara alam semsta; memberi rezeki; menghidupkan dan mematikan.. maka mengapa kita mengadakan sesembahan lain sebagai tandingan Allah? baik itu DIRI KITA SENDIRI, atau orang tua kita, atau istri kita, atau anak kita, atau harta kita, atau atasan kita, atau guru kita, atau siapapun atau apapun itu?!

Maka sebagaimana HANYA DIA SEMATA yang menciptakan, mengatur, dan memelihara alam semesta; memberi rezeki; menghidupkan dan mematikan.. maka HANYA DIA SEMATA pula-lah YANG BERHAK UNTUK DIIBADAHI, tiada sekutu bagiNya..

Segala sesuatu yang diibadahi selainNya, adalah baathil.. dan penyembahan terhadap selainNya adalah sebathil-bathilnya perbuatan (yang LEBIH PARAH KEJAHATANNYA daripada korupsi, membunuh dengan orang tua kandung, membunuh 1 juta manusia, dsb..)

Yang mana sebaliknya, TAUHID (yaitu hanya menjadikanNya satu-satunya sesembahan yang disembah) adalah seagung-agungnya perbuatan.. maka ketika BERAMAL AMALAN KEBAIKAN:

1. Jangan jadikan ibadah, sebagai JUBAH untuk mendapatkan keuntungan duniawi

yaitu ketika menjadikan AMAL IBADAH, SAMA SEKALI TIDAK NIATKAN untuk ibadah.. maka inilah riya’-nya kaum munaafiqin.. Yang mereka shalat, tapi hanya untuk memperlihatkan kepada manusia bahwa mereka muslim, dan agar mereka dikatakan sebagai muslim.. Mereka zakat/sedekah, hanya untuk dikenal sebagai dermawan; yang mana sama sekali niatnya bukan untuk beribadah kepada Allaah..

2. Jangan campur NIAT IBADAH kita, dengan niat-niat DUNIAWI.

Ingin dapat pahala.. tapi juga ingin dapat PUJIAN, atau dapat JEMPOL/LIKE di FACEBOOK, atau ingin menarik hati seseorang, atau ingin terkenal dsb.. maka ini SYIRIK ASHGHAR.. ketika niat yang seharusnya hanya untukNya saja.. tapi dicampuri niat-niat yang lain..

Ketahuilah SYIRIK (baik akbar, apalagi ashghar); bagaikan SEMUT HITAM, dibawah BATU BESAR, di malam yang GELAP GULITA..

Jangan sampai, kita TERPEDAYA.. Jangan sampai kita, malah MENIKMATI-nya.. Karena, kita apabila berbuat demikian, maka:

1. Telah melakukan DOSA BESAR YANG PALING BESAR..

2. Telah menjadikan amalan yang kita kerjakan tersebut SIA-SIA, TIDAK ADA NILAInya disisi Allah, sebagus apapun yang nampak dalam zhahirnya.. bahkan jika kita melakukan syirik akbar, maka HAPUSLAH SELURUH AMALAN KITA..

Tiada dosa yang lebih besar dari syirik.. maka berhati-hatilah dari kesyirikan.. senantiasa perbaiki dan luruskan niat kita.. hanya kepada Allah-lah kita memohon pertolongan dan kekuatan..

Tinggalkan komentar

Filed under Aqidah, Tauhid Uluhiyyah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s