Seharusnya LEBIH KOKOH

Ikatan PERSAUDARAAN yang DIDASARKAN IMAN SEHARUSNYA lebih kuat daripada sekedar ikatan persaudaraan disebabkan nasab

Allah berfirman

فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا

Maka karena nikmat Allah (keimanan/keislaman), jadilah kalian orang-orang yang bersaudara…

وَكُنْتٌمْ عَلَى شَفَى حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا

dan ingatlah kalian dahulu berada di tepi jurang neraka lalu Allah menyelamatkan kalian darinya…”

(QS Ali ‘Imran 103)*

Allåh berfirman

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ

Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara.

(Al-Hujuraat: 10)

Råsulullåh shållallåhu ‘alauhi wa sallam bersabda:

كُوْنُوْا عِبَادَ اللهِ إِخْوَانًا

…jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara…

(HR. Muslim)

Ingatlah, Allah telah MEMPERSAUDARAKAN dua orang karena keimanan mereka.. maka hendaknya kita, dalam menyikapi orang-orang beriman, layaknya kita menyikapi saudara (kandung kita sendiri) bahkan kita lebih mendahulukan yang satu dari yang lain, BERDASARKAN KEIMANAN yang nampak darinya..

[simak Tafsiir ibnu Katsiir: http://books.google.com.my/books?id=8tXNzQlFqKkC&pg=PA105]

Termasuk kesempurnaan iman, apabila seseorang mampu menyikapi saudaranya sebagaimana ia ingin disikapi dengan sikap tersebut!

Berkata Nabi shallallaahu ‘alayhi wa sallam:

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُزَحْزَحَ عَنْ النَّارِ وَيَدْخُلَ الْجَنَّةَ

“Barangsiapa ingin dijauhkan dari api neraka, dan ingin dimasukkan ke dalam surga

فَلْتُدْرِكْهُ مَنِيَّتُهُ وَهُوَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ

– maka (hendaklah) ia menemui kematiannya dalam keadaan beriman kepada Allah dan hari akhir

وَيَأْتِي إِلَى النَّاسِ مَا يُحِبُّ أَنْ يُؤْتَى إِلَيْهِ

– serta memberikan kepada manusia sesuatu yang ingin diberikannya kepadanya.”

(Shåhiih, HR. Ahmad; dishahiihkan oleh Syaikh Ahmad Syaakir)

Dalam hadits lain beliau bersabda:

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

Tidaklah beriman salah seorang dari kalian hingga dia menyukai (menginginkan) bagi saudaranya segala (kebaikan) yang dia sukai bagi dirinya sendiri

(Bukhariy, Muslim, dan selainnya)

Allah telah memuji kaum anshar dengan firmanNya:

وَالَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ مِن قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ

Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) ‘mencintai’ orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin).

وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِّمَّا أُوتُوا

Dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan (dengki) dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin; yaitu kaum muhajirin lebih dahulu disebutkan Allah namanya, daripada kaum anshar.);

وَيُؤْثِرُونَ عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ

dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan.

(Al-Hashr: 9)

[simak tafsir lengkapnya disini: http://books.google.com.my/books?id=bMfSoqAiKF0C&pg=PA112%5D

Diantara sikap kita kepada sesama muslim

Sungguh sangat banyak hak-hak seorang muslim yang wajib kita tunaikan, hanya saja, marilah kita merenungi beberapa hak berikut yang merupakan hak saudara kita yang patut kita berikan kepadanya. Ketahuilah, diantara sikap SESAMA KAUM MUKMININ adalah

I. saling mencarikan udzur terhadap saudaranya,
II. menutup aibnya,
III. menasehatinya dengan niat ikhlash dan tulus, dan tidak berputus asa darinya.

I. Mencarikan udzur terhadapnya

Ketahuilah, pencarian udzur kita terhadap teman dekat kita, teman yang sering memuji kita, teman yang sering memberi hadiah.. MUNGKIN SAJA karena “balas jasa” (atau kecintaan terhadap kebaikannya), yang MUNGKIN bukan MURNI karena persaudaraan muslim..

Tapi bagaimanakah kiranya, jika saudaranya ini BUKAN TEMAN DEKATNYA, bukan yang senantiasa memujinya, bukan yang senantiasa memberi hadiah.. atau bahkan pernah punya masalah dengannya.. atau bahkan pernah menzhaliminya!? akankah ia berlaku adil kepadanya?! akankah ia berbuat serupa kepadanya?!

Yang satu dibela dan dicarikan udzur; yang satunya lagi?! jangankan dicarikan uduzr, yang ada bahkan langsung disalahkan, bahkan dicari-cari kesalahannya!!

Bukankah kita TERHADAP DIRI KITA SENDIRI, terkadang ATAU BAHKAN SERING suka cari-cari udzur untuk diri kita (padahal mungkin ktia tidak berhak untuk mendapatkan udzur tersebut) ?!

Ketahuilah, mencari-cari udzur untuk diri sendiri itu suatu keburukan… akan tetapi wujud keimanan kita yang sempurna ketika kita mampu mencari-carikan udzur terhadap saudara seaqidah adalah akhlaq yang mulia…

Maka sebagaimana kita suka dicarikan udzur oleh orang lain, maka perlakukanlah orang lain sebagaimana kita suka memperlakukan hal demikian..

Oleh karenanya kita dapati para salafush shalih berkata:

Jika menjumpai sesuatu yang tidak engkau sukai dari perbuatan saudaramu… maka carilah satu atau bahkan lebih dari tujuh puluh alasan (sebanyak-banyaknya), jika engkau masih belum mendapatkannya, maka katakanlah pada dirimu: “semoga ia mempunyai alasan tertentu yang aku tidak mengetahuinya”.

Maka ketika kita dapati seorang muslim YANG AWWAM jatuh kepada kesalahan, sikapilah ia sebagaimana kapasitasnya yang AWWAM.. Yang PASTI BANYAK JATUH kepada kesalahan..

Bagaimana saudara kita yang SUDAH NGAJI LAMA?! justru karena dia sudah ngaji lama.. LEBIH PANTAS LAGI mendapatkan udzur..

1. Mungkin saja, ia BELUM TAHU ilmunya..

Barangkali kita sudah tahu akan hadits berikut:

Dari Abu Musa Al Asy’ari katanya dia datang menemui Umar bin Khathab. Lalu dia memberi salam, Assalamualaikum saya Abdullah bin Qais (nama Abu Musa), tetapi tidak ada yang menyahuti salamnya. Kemudian diulangnya memberi salam sampai tiga kali, tetapi tetap tidak ada yang menyahut. Kemudian ketika dia hendak pulang. Berkata Umar, “Panggil, panggil dia kemari.” Setelah Abu Musa datang, Umar berkata, “Wahai Abu Musa kenapa kamu pulang? Kan kami sedang sibuk.” Kata Abu Musa, “Aku mendengar Rasulullah Salllahu’Alayhi Wasalam bersabda:

الاستئذانُ ثلاثٌ، فان أذن لك و الاّ فارجع

“Minta izin masuk rumah itu tiga kali, jika diizinkan untuk kamu (masuklah) dan jika tidak maka pulanglah!’”

Kata Umar, “Engkau harus mendatangkan saksi ke hadapanku berhubung dengan Hadits itu. Jika tidak, maka aku akan menghukummu.” Lalu pergilah Abu Musa.

Kata Umar, “Jika dia mendapatkan saksi, kalian akan menemuinya petang nanti dekat mimbar. Jika tidak, kalian tidak akan menemuinya.”

Tatkala hari telah petang, mereka mendatangi Umar “Bagaimana, hai Abu Musa? Apakah kamu telah mendapat saksi?” Kata Abu Musa, “Sudah! Iaitu Ubay bin Ka’ab !” Kata Umar, “Boleh! Dia saksi yang adil (memenuhi syarat) Hai Abu Thufail! bagaimana pendapatmu (Kesaksianmu) mengenai masalah ini?” Jawab Ubay bin Ka’ab, “Memang, aku telah mendengar pula Rasulullah Sallallahu’ Alayhi Waslam bersabda seperti yang dikatakan Abu Musa. Karena itu janganlah kamu gegabah menjatuhkan hukuman terhadap para sahabat Rasulullah!” Jawab Umar “Subhanallah! Sekarang aku telah mendengar Hadits darimu. Kerana itu aku lebih suka menyelidiki akan kebenarannya.”

(HR Muslim)

– Lihat ini perkara salam!! yang mana ia perkara harian.. kalau kita pikir-pikir APA IYA SIH seorang ‘umar ibnul khaththab radhiyallaahu ‘anhu luput dari ilmu tersebut?! nyatanya iya.. beliau tidak mendapatkan hadits ini kecuali setelah mendengarnya dari abu musa radhiyallaahu ‘anhu..

– Maka jika shahabat SEKELAS ‘Umar ibnul khaththab BISA LUPUT dari ilmu ini… APALAGI saudara kita ini! mungkin saja ia tidak tahu.. Apalagi mereka YANG AWWAM!!!

2. Mungkin, saja ia TAHU, tapi ia SALAH PAHAM..

Sebagaimana KEBANYAKAN KAUM MUSLIMIN saat ini, banyak perkara yang disalahpahami.. yang mana ia adalah keburukan, dikiranya itu kebaikan.. contoh: BID’AH. kalau tidak dianggap baik, bukan bid’ah namanya…

untuk memahamkan mereka butuh banyak tahapan:

– memahamkan konsekuensi dua kalimat syahadat
– memahamkan standar kebenaran (pemahaman yang benar)
– memahamkan bid’ah dgn pmhmn yg benar..

Selesai point pertama saja mungkin BELUM BENAR-BENAR PAHAM.. bagaimana ia akan paham point 2 dan 3?!

3. Mungkin saja perbuatan tersebut MEMILIKI DUA SUDUT PANDANG YANG BERBEDA?!

Yaitu dimana para shahabat, para tabi’in, dan ulama setelahnya memang tidak sejalan sudut pandangnya dalam memahami nash?

4. Mungkin saja ia TAHU, tapi ia LALAI… sebagaimana manusia jatuh secara tidak sengaja (karena kelalaiannya)..

5. Mungkin saja ia TAHU, tapi karena tergelincir karena mengikuti hawa nafsu… sebagaimana manusia tergelincir…

Makanya setiap kita dapati KEJANGGALAN dari saudara kita, silahkan LANGSUNG BERTANYA kepadanya:

– jika no. 1, maka kita sampaikan ilmu padanya

– jika no. 2, ajarkan dan pahamkanlah ia (jika mampu)

– jika no. 3, katakan ilmu yang sampai kepadamu DAN JANGAN BERTENGKAR dan memaksakan bahwa dirinya HARUS SEJALAN denganmu!! Salafush shalih berkata: “sampaikan sunnah, DAN JANGAN BERTENGKAR” ini dikatakannya dalam kondisi ketika yang satu berada diatas kebenaran, yang lain berada diatas kebathilan.. Lantas bagaimana lagi jika perkaranya adalah perkara yang lapang? yang memang disana terjadi perbedaan sudut pandang dari para shahabat, tabi’in dan ulama yang mengikuti mereka dengan baik?! apakah malah lebih parah!?

– jika no. 4, maka sadarkan ia dari kelalaian.. maka keimanan yang benar, akan menghentikannya dari kesalahannya tersebut dan mengembalikannya kepada kebenaran.

– jika no. 5, maka nasehati dengan baik, semoga ia kembali kejalan yang benar…

ingat firman Allah:

اذْهَبَا إِلَىٰ فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَىٰ . فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَّيِّنًا لَّعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَىٰ

“Pergilah kamu berdua kepada FIR’AUN, sesungguhnya dia telah melampaui batas. Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan KATA-KATA yang LEMAH LEMBUT, mudah-mudahan ia ingat atau takut.”

[QS. Thaahaa: 43-44].

Padahal kita mengetahui SAUDARA KITA tersebut TIDAKLAH LEBIH BEJAT dari fir’aun, dan kita mengetahui bahwa KITA TIDAKLAH LEBIH BAIK dari musa dan harun ‘alayhimas salaam.

Kalaupun misalkan ia MASIH BERAT dalam meninggalkan kesalahan ini, karena kelemahan imannya; yang seharusnya seseorang yang “mengaku” mencintai saudara semuslim sepantasnya lebih bersemangat untuk terus mengingatkannya.

II. Menutupi aibnya

Hal ini berkaitan dengan point terakhir diatas, yaitu kita mendapati saudara kita yang terjatuh dalam kemaksiatan, terlebih lagi kemaksiatan yang tidak dilakukannya secara terang-terangan.

Telah bersabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam :

يَا مَعْشَرَ مَنْ آمَنَ بِلِسَانِهِ وَلَمْ يَدْخُلِ الْإِيمَانُ قَلْبَهُ لَا تَغْتَابُوا الْمُسْلِمِينَ وَلَا تَتَّبِعُوا عَوْرَاتِهِمْ، فَإِنَّهُ مَنِ اتَّبَعَ عَوْرَاتِهِمْ يَتَّبِعُ اللَّهُ عَوْرَتَهُ وَمَنْ يَتَّبِعِ اللَّهُ عَوْرَتَهُ يَفْضَحْهُ فِي بَيْتِهِ

“Wahai sekalian manusia yang telah beriman dengan lisannya namun belum masuk iman itu ke dalam hatinya. Janganlah kalian mengghibah kaum muslimin, dan jangan kalian mencari-cari aib mereka. Barangsiapa yang mencari-cari aib mereka, niscaya Allah akan mencari-cari aibnya. Dan barangsiapa yang Allah cari-cari aibnya, niscaya akan disingkap kejelekannya meskipun di rumahnya sendiri”

[Shahiih; HR Abu Dawud]

Lantas bagaimana halnya jika menyengajakan diri untuk mencari-cari aib saudaranya?! Tidakkah kita takut Allah ta’ala akan menyingkap aib-aib kita di depan mata dan telinga manusia ? Bahkan lebih besar dari itu, tidakkah kita takut Allah ta’ala kelak akan menyingkap aib-aib kita di hari kiamat (dimana SELURUH MANUSIA (dari zaman nabi adam, sampai manusia terakhir diakhir zaman) ketika itu menyaksikan apa yang kita perbuat)?

يَوْمَ يَجْمَعُكُمْ لِيَوْمِ الْجَمْعِ ذَلِكَ يَوْمُ التَّغَابُنِ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ وَيَعْمَلْ صَالِحًا يُكَفِّرْ عَنْهُ سَيِّئَاتِهِ وَيُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“(Ingatlah) hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan kamu pada hari pengumpulan (untuk dihisab), itulah hari (waktu itu) ditampakkan kesalahan-kesalahan. Dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan mengerjakan amal saleh niscaya Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah keberuntungan yang besar”

[At-Taghaabuun : 9]

Maka alangkah malangnya diri kita jika kita termasuk orang-orang yang disingkap Allah aib-aibnya di hari yang besar itu… (kita memohon perlindungan kepada Allah dari yang demikian)

Akan tetapi Allah ta’ala telah memberikan janji akan menutupi aib-aib kita kelak di hari kiamat jika kita menutupi aib-aib saudara kita di dunia. Sebagaimana Sabda Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam:

لَا يَسْتُرُ عَبْدٌ عَبْدًا فِي الدُّنْيَا إِلَّا سَتَرَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Tidaklah seorang hamba menutupi aib hamba yang lain di dunia, melainkan Allah akan menutupi aibnya pada hari kiamat”

[HR Muslim]

Pernah suatu ketika Abdurrahmaan ibn ‘Auf berjaga malam bersama ‘Umar bin Al-Khaththaab. Ketika mereka berdua keliling, mereka melihat sebuah lampu sedang menyala dari dalam rumah. Lalu mereka mendekati rumah tersebut. Ketika mereka mendekat, mereka pun mendapati pintu rumah tersebut terbuka tanpa ada seorang pun di sana, sedangkan dari dalam rumah terdengar suara yang sangat gaduh.

Berkata ‘Umar – sambil memegang tangan ‘Abdurrahmaan – : “Tahukah engkau rumah siapakah ini ?”. ‘Abdurrahmaan menjawab : “Tidak”. ‘Umar berkata : “Ini adalah rumah Rabii’ah bin Umayyah bin Khalaf. Mereka sekarang sedang minum khamr. Apa pendapatmu ?”.

‘Abdurrahmaan berkata : “Aku pikir kita sedang mengerjakan sesuatu yang dilarang Allah. Allah telah melarang kita dengan firman-Nya : وَلا تَجَسَّسُوا فَقَدْ تَجَسَّسْنَا ‘Dan janganlah kalian mencari-cari kesalahan (tajassus) orang lain” (QS. Al-Hujuraat : 12). Dan sekarang ini kita telah mencari-cari kesalahan (tajassus) orang lain”.

Setelah mendengar perkataan itu, ‘Umar pergi dan meninggalkan mereka…”

[Diriwayatkan oleh ‘Abdurrazzaaq 10/231-232 no. 18943; shahih, kutip dari blog abul-jauzaa]

Abu bakr Ash-Shiddiiq berkata : “Seandainya aku dapati seorang peminum khamr, sungguh aku ingin agar Allah menutupinya. Dan seandainya aku dapati seorang pencuri, sungguh aku pun ingin agar Allah menutupinya”

[Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah, 9/467 dengan sanad yang hasan; dari blog abul-jauzaa].

‘Ammaar bin Yaasir pun pernah menangkap seorang pencuri, kemudian berkata : “Aku menutupi kesalahannya, semoga Allah menutupi kesalahanku”

[Diriwayatkan oleh ‘Abdurrazzaaq, 10/226 no. 18929. dengan sanad yang hasan; dari blog abul-jauzaa]

Riwayat-riwayat di atas menggambarkan kepada kita bahwa para shahabat adalah orang yang sangat sayang kepada manusia sehingga berupaya menutupi segala aib dan kesalahan; padahal diketahui mereka adalah pribadi-pribadi yang sangat tegas dalam membasmi kemunkaran.

Dan inilah yang dilakukan oleh Ahmad bin Hanbal rahimahullah!!

‘Abdul-Kariim bin Al-Haitsam Al-‘Aaquuliy, ia berkata : Aku mendengar Abu ‘Abdillah (Ahmad bin Hanbal) ditanya tentang seseorang yang mendengar tabuhan kendang dan tiupan seruling, namun tidak diketahui dari mana asal suaranya.

Abu ‘Abdillah (Imam Ahmad) berkata : “Lantas, ada urusan apa denganmu ?”. Lalu beliau melanjutkan : “Sesuatu yang tidak kamu lihat, maka jangan kamu cari-cari/selidiki sebabnya”

[Diriwayatkan oleh Al-Khallaal dalam Al-Amru bil-Ma’ruuf wan-Nahyu ‘anil-Munkar, hal. 49; shahih; dari blog abul-jauzaa]

Adakah kita melakukan seperti yang di atas ? Sungguh sangat jauh akhlaq kita jika dibandingkan dengan salafush shalih, yang mana kita sangat bersemangat menisbatkan diri kita kepada mereka.

III. Menasehatinya dengan niat ikhlash dan tulus, dan tidak berputus asa darinya.

Apakah kita hanya menasehatinya SEKALI DUA KALI (“ya sudahlah, kan saya sudah menyampaikan… tugas saya selesai”)? Kemudian kita BERPUTUS ASA padanya dan meninggalkannya?! Bahkan kita sebarkan aib-aibnya karena kita menganggap ia termasuk orang-orang yang HALAL dirusak kehormatannya?! Apakah hal yang serupa akan kita lakukan terhadap orang tua kita? istri kita? anak kita? saudara/i kandung kita?! (ingatlah kembali persaudaraan seiman diatas!) apakah jika diri kita berada diposisinya kita mau diperlakukan demikian?! (mana pengamalan hadits diatas!?)

Jujurlah! apakah engkau akan berkata dengan perkataan yagn sama kepada mereka? Benar, tugas kita adalah “hanya menyampaikan” tapi apakah “melepaskan”?

Sudahkah engkau membaca firmanNya:

فَلَعَلَّكَ بَاخِعٌ نَّفْسَكَ عَلَىٰ آثَارِهِمْ إِن لَّمْ يُؤْمِنُوا بِهَٰذَا الْحَدِيثِ أَسَفًا

Maka (apakah) barangkali kamu akan membunuh dirimu karena bersedih hati setelah mereka berpaling, sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini (Al-Quran).

(Al-Kahf: 6)

Inilah AKHLAQ nabi !! dimana beliau BERSEDIH kepada mereka yang menolak untuk beriman.. kenapa? KARENA KEINGINAN BELIAU YANG TULUS dan IKHLASH DALAM MENGHARAPKAN orang-orang mendapatkan petunjuk, sebagaimana beliau mendapatkan petunjuk…

Oleh karenanya Allah berfirman:

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُم بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ

Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, SANGAT MENGINGINKAN (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.

(At-Tawbah: 128)

Maka beliaulah ORANG YANG PERTAMA KALI mengamalkan apa yang beliau sabdakan:

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

“Tidaklah beriman salah seorang dari kalian hingga dia menyukai (menginginkan) bagi saudaranya segala (kebaikan) yang dia sukai bagi dirinya sendiri”

[HR Al-Bukhari (13) dan Muslim (45)]

Namun jangan sampai hal ini menjadi TUJUAN UTAMA kita.. karena bukan itu TUJUAN UTAMA kita.. Karena jika menjadikan hal tersebut sebagai tujuan utama kita, maka kita akan kecewa, ketika kita tidak menggapainya.. hingga akhirnya kita pun akan PUTUS ASA.. dan BERHENTI.. inilah yang diinginkan syaithan.. inilah kesalahan.. karena yang diwajibkan Allah atas kita adalah menyampaikan apa yang sudah kita ketahui.. bukan memberi petunjuk kepada orang yang disampaikan.. karena itu urusan Allah..

Kita harus tetap mengatakan, bahwa TUJUAN UTAMA kita adalah MENYAMPAIKAN KEBENARAN dengan CARA YANG BENAR, agar orang tersebut PAHAM akan mana yang benar dan mana yang salah. Akan tetapi, tetap didalam hati kita, kita inginkan kebaikan agar saudara kita merasakan apa yang kita rasakan; mendapatkan apa yang kita dapatkan.

Jika sudah disampaikan, lantas dengan apa lagi? DENGAN BANTUAN DOA… Yang semoga Allah memberikan petunjuk kepadanya… karena Dialah yang membolak-balikkan hati manusia.. urusan hati adalah urusanNya.. kita IKHTIAR, sambil BER-TAWAKKAL kepadaNya..

Penutup

Ketahuilah, tanda kebodohan; adalah ketika kita menyikapi seseorang dengan sikap yang kita sendiri tidak menyukai disikapi dengan sikap tersebut..

Ketahuilah, tanda kedengkian; adalah ketika seseorang senantiasa mencari-cari kesalahan dari saudaranya.. apalagi jika ia dapati kesalahan padanya… maka bayangkan betapa senangnya dirinya!! bayangkan bagaimana ia akan mengekspos, menjelek-jelekkan orang yang didengkinya tersebut!? jika engkau pernah mendapatinya, maka itulah tanda kedengkian merasuk dalam dadamu terhadap saudaramu tersebut!

Ketahuilah, terhadap pendengki pun.. janganlah dibalas dengan sikap yang bodoh atau mengikuti hawa nafsu.. jika kita membalas dengan kebodohan, maka itulah hakekat diri kita (yang masih jaahil dalam menahan hawa nafsu).. jika kita membalas dengan hawa nafsu, maka apa bedanya diri kita dengan dirinya?!

Akan tetapi sikapilah segala hal dengan ILMU.. yaitu sejalan dengan syari’at; dengan niat ikhlash, untuk menggapai kemashlahatan..

Sekali lagi, cobalah kita terus membaca ayat, hadits dan perkataan salafush shalih diatas.. semoga terserap dalam hati kita.. Apabila ilmu sudah sampai dihati, maka akan nampak pada amalan.. paling tidak ia akan menghindarkan diri dari situasi diatas, atau menahan kita dari berbuat hal diatas, atau mengingatkan kita ketika kita jatuh pada hal-hal diatas..

Semoga bermanfaat bagi kita semua…

Tinggalkan komentar

Filed under Akhlak, Ukhuwwah Islamiyyah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s