Pelajaran sabar Nabi Ayyub ‘alayhis salaam

Jikalau ada seorang yang PATUT BERKELUH KESAH akan ujian yang menimpanya, maka NABI AYYUB ‘alayhis salaam yang paling berhak untuk melakukannya. Tidakkah engkau tahu cobaan nabi ayyub? Beliau diuji dengan segala bentuk ujian duniawi (dicabut kekuasaannya, hartanya, ditimpakan kepadamya penyakit, bahkan ditinggalkan keluarganya) SELAMA BELASAN TAHUN!!

Akan tetapi… simaklah dua perkataan beliau, YANG ALLAH ABADIKAN DALAM KITAB-NYA YANG MULIA…

Allah berfirman tentang perkataan nabi ayyub:

أَنِّي مَسَّنِيَ الشَّيْطَانُ بِنُصْبٍ وَعَذَابٍ

“Sesungguhnya aku diganggu syaitan dengan kepayahan dan siksaan”.

(Shaad: 41)

Dan juga, difirmankanNya perkataan beliau:

أَنِّي مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَأَنتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ

(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Rabb Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang”.

(Al Anbiya: 83)

Maka Allah pun mengangkat cobaannya, menggantinya dengan yang lebih baik, dan agar sikap nabi ayyub tersebut DIAMBIL PELAJARAN oleh orang-orang yang BERFIKIR!

وَوَهَبْنَا لَهُ أَهْلَهُ وَمِثْلَهُم مَّعَهُمْ رَحْمَةً مِّنَّا وَذِكْرَىٰ لِأُولِي الْأَلْبَابِ

Dan Kami anugerahi dia (dengan mengumpulkan kembali) keluarganya dan (Kami tambahkan) kepada mereka sebanyak mereka pula sebagai rahmat dari Kami dan pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai fikiran.

(Shaad: 43)

Bahkan Allah memujinya dan menjadikannya buah tutur kebaikan hingga hari kiamat, dengan berfirman:

إِنَّا وَجَدْنَاهُ صَابِرًا نِّعْمَ الْعَبْدُ إِنَّهُ أَوَّابٌ

Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayyub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Rabb-nya).

(Shaad: 44)

Fawaid

1. Beliau bersabar dalam menghadapi cobaan yang menimpanya

Bedakan dengan apa yang menimpa kepada kita? apakah SETARA? tidak! bahkan MENDEKATI pun juga TIDAK!

Maka mengapa tidak kita jadikan momentum ini untuk mendekat kepadaNya? Berdoa dan memohon pertolonganNya

Mengapa tidak kita jadikan ini sebagai momentum meraih KEUTAMAAN SABAR? Yang mana ia MENGHAPUSKAN DOSA? Yang mana ia DIJANJIKAN PAHALA TANPA BATAS?

Bahkan bukankah hal ini adalah pertanda kebaikan bagi seorang muslim? Jika ia diuji, maka ia bersabar, maka dengan sabarnya tersebut, baik bagi dirinya.

Maka hendaknya kita introspeksi diri, TIDAKLAH musibah menimpa kita, disebabkan KESALAHAN dan DOSA-DOSA kita!

وَمَا أَصَابَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَن كَثِيرٍ

Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).

(Asy-Syuuraa: 30)

Teladani pula, sikap NABI YUNUS ketika beliau ditimpa musibah… Apa perkataan beliau?

لَّا إِلَٰهَ إِلَّا أَنتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنتُ مِنَ الظَّالِمِينَ

Tiada sesembahan yang berhak disembah selain engkau, Maha suci engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zhaalim

(al Anbiyaa’: 87)

Bahkan sebenarnya, apabila Allah MENCINTAI SUATU KAUM, maka Allah akan menguji mereka, sebagaimana sabda Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam:

إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلاَءِ وَإِنَّ اللهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السُّخْطُ

“Sesungguhnya besarnya balasan tergantung besarnya ujian, dan sesungguhnya Allah Ta’ala apabila mencintai suatu kaum maka Allah akan menguji mereka (dengan suatu musibah), maka barangsiapa yang ridha maka baginya keridhaan (dari Allah) dan barangsiapa yang marah maka baginya kemarahan (Allah).”

(HR. At-Tirmidziy no.2396 dari Anas bin Malik, lihat Silsilah Ash-Shahiihah no.146)

Apakah kita menginginkan keridhaanNya ataukah malah kita ingin agar mendapatkan kemurkaanNya!!?

عَنْ مُصْعَبِ بْنِ سَعْدٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلَاءً

dari [Mush’ab bin Sa’ad] dari [ayahnya], bahwa ia berkata: Aku berkata: Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling berat ujiannya?

قَالَ الْأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الْأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلَاؤُهُ وَإِنْ كَانَ فِي دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِيَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَمَا يَبْرَحُ الْبَلَاءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِي عَلَى الْأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ

Beliau menjawab: “Para nabi, kemudian YANG SEPERTINYA, kemudian yang sepertinya, sungguh seseorang itu diuji berdasarkan agamanya, bila agamanya kuat, ujiannya pun berat, sebaliknya bila agamanya lemah, ia diuji berdasarkan agamanya, ujian tidak akan berhenti menimpa seorang hamba hingga ia berjalan dimuka bumi dengan tidak mempunyai kesalahan.”

(ahmad, ibn maajah, tirmidziy; berkata at Tirmidziy, hadits ini hasan shahiih)

Rasulullah juga bersabda:

إِذَا سَبَقَتْ لِلْعَبْدِ مِنْ اللَّهِ مَنْزِلَةٌ لَمْ يَبْلُغْهَا بِعَمَلِهِ ابْتَلَاهُ اللَّهُ فِي جَسَدِهِ أَوْ فِي مَالِهِ أَوْ فِي وَلَدِهِ ثُمَّ صَبَّرَهُ حَتَّى يُبْلِغَهُ الْمَنْزِلَةَ الَّتِي سَبَقَتْ لَهُ مِنْهُ

“Jika datang suatu kedudukan mulia dari Allah untuk seorang hamba yang mana ia belum mencapainya dengan amalannya, maka Allah akan memberinya musibah pada dirinya atau hartanya atau anaknya, lalu Allah akan memberi taufiq kepadaNya untuk bersabar, kemudian ia bersabar, hingga kesabaran tersebut menghantarkannya kepada kedudukan yang diraihnya.”

(HR. Imam Ahmad. Dan hadits ini terdapat dalam silsilah Al-ahaadits Ash-shahihah 2599)

Maka tidakkah kita BERGEMBIRA dengan hal ini!? Yang dimana kita dapat bersabar, kemudian dengan sebab sabar tersebut maka diampuni dosa-dosa kita, dan bahkan ditinggikan derajat kita?! Tidakkah kita menghadirkan hal ini barang sesaat dalam hati kita; dan mengesampingkan hawa nafsu ketika datangnya waktu ini?!

Hanyalah orang-orang yang diberi petunjuk hatinya-lah yang dapat menghadirkan hal ini dalam hatinya ketika ia ditimpa musibah/ujian/cobaan. Semoga kita termasuk golongan ini, bukan golongan YANG LALAI HATINYA (yang mana ia sudah tahu, tapi tidak hadir dalam hatinya) sehingga ia malah mengamalkan hal-hal yang tidak diridhai Allah. Na’uudzubillaah.

2. Beliau mengadukan cobaannya kepada Dzat yang Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Jika kita tahu dan sadar, bahwa taqdir (apapun yang menimpa kita) datangnya dari Allaah (itupun karena kesalahan kita), maka mengapa kita tidak meminta agar Dia Yang Maha Kuasa untuk mengangkat kesulitan tersebut?!

Sebagaimana pula kita dapati dalam diri Nabi Ya’qub ‘alayhis salaam:

إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللَّهِ

Sesungguhnya aku MENGADUKAN kesulitanku dan kesedihanku kepada Allaah…

(Yusuf: 86)

Jangan sangka Allah tidak tahu, jangan sangka Allah tidak mendengar, jangan sangka Allah hanya mendengar/mengabulkan doa orang-orang yang mencapai derajat nabi atau yang mendekatinya… Tidakkah kita membaca firmanNya:

قَدْ سَمِعَ اللَّهُ قَوْلَ الَّتِي تُجَادِلُكَ فِي زَوْجِهَا وَتَشْتَكِي إِلَى اللَّهِ

Sesungguhnya Allah telah MENDEGAR perkataan wanita yang mengajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya [untuk dimintai solusi], dan mengadukan (PERMASALAHANNYA) kepada Allah.

(Al-Mujaadilah: 1)

Berkata ‘Aa-isyah radhiyallaahu ‘anhu (sebagaimana diriwayatkan Ibnu Abi Hatim, yang dinukil oleh Imam Ibnu Katsiir) tentang wanita dalam ayat tersebut:

Maha suci Allah Yang PendengaranNya meliputi segala sesuatu. Aku telah mendegarkan perkara yang diadukan oleh Khaulah bin Tsa’labah kepada Rasuulullaah shalalllaahu ‘alayhi wa sallam tentang suaminya, namun sebagian ucapannya tidak dapat aku tangkap, ia berkata:

“Yaa Rasuulullaah, dia (suamiku) telah memakan hartaku, menghabiskan masa mudaku, perutku telah banyak melahirkan anaknya hingga tatkala aku sudah tua dan tidak dapat melahirkan lagi, dia malah menzhiharku. Aku mengadukan masalah ini kepadamu”

TIdak henti-hentinya ia mengatakan hal itu, hingga Allah melalui Jibriil ‘Alayhis Salaam, menurunkan ayat ini.

(Lihat Tafsiir ibnu Katsiir)

Diantara faidah ayat ini, BOLEH kita mengadukan masalah kepada ORANG YANG BERKOMPOTEN (seperti dokter, ustadz, atau yang semisalnya), yang mana dengan aduan tersebut, sehingga kita mengharapkan MENDAPATKAN SOLUSI. Maka dalam hal ini bukan hanya sekedar mengadu MENGELUHKAN NASIB, yang mana ini TANDA TIDAK SABARnya seseorang dalam menghadapi cobaan. Bahkan mengadu KEPADA SETIAP ORANG. dan berdalih dengan ayat ini!? sungguh jauh, sungguh jauh!!

Malah alangkah jeleknya seseorang yang mengadukan Allah KEPADA MAKHLUQ yang faqiir, yang tiada mampu mengangkat kesulitan apapun jua…

3. Beliau menyandarkan SEBAB keburukan yang menimpa dirinya kepada syaithan (yaitu karena gangguannya).

Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda (dalam salah satu doa istiftah):

وَالشَّرُّ لَيْسَ إِلَيْكَ

Dan keburukan tidaklah disandarkan kepadaMu[1. Mohon dibedakan,

– Orang yang berkata, “Keburukan itu tidak datang dari Allah”

– Dengan orang yang berkata, “keburukan itu tidak disandarkan kepada Allah”

Keduanya berbeda, adapun perkataan yang pertama, maka ini perkataan yang kufur; karena taqdir Allah ada yang baik dan buruk. Perkataan yang pertama ini seakan-akan berkata, ada yang menetapkan taqdir selain Allah. Yaitu ada satu Tuhan yang menetapkan taqdir buruk, dan ada Tuhan yang lain yang menetapkan taqdir yang baik. Ini seburuk-buruk perkataan dan sekufur-kufurnya perkataan. Inilah manhaj mu’tazilah, pemuja akal dan logika.

Oleh karenanya Allah berfirman:

وَإِن تُصِبْهُمْ حَسَنَةٌ يَقُولُوا هَٰذِهِ مِنْ عِندِ اللَّهِ ۖ وَإِن تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌ يَقُولُوا هَٰذِهِ مِنْ عِندِكَ ۚ قُلْ كُلٌّ مِّنْ عِندِ اللَّهِ

dan jika mereka memperoleh kebaikan, mereka mengatakan: “Ini adalah dari sisi Allah”, dan kalau mereka ditimpa sesuatu bencana mereka mengatakan: “Ini (datangnya) dari sisi kamu (Muhammad)”. Katakanlah: “Semuanya (datang) dari sisi Allah”.

(an Nisaa’: 78)

Kemudian Allah berfirman:

مَّا أَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللَّهِ ۖ وَمَا أَصَابَكَ مِن سَيِّئَةٍ فَمِن نَّفْسِكَ

Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dengan sebab (dosa-dosa/kesalahan-kesalahan) dirimu sendiri.

(an Nisaa: 79)

Dalam ayat pertama, Allah membantah orang-orang yang memilah-milah kebaikan dan keburukan; yang mengatakan yang baik hanya datang dari Allah, yang buruk datang dari selainNya. Dalam ayat kedua Allah menetapkan bahwa taqdir Allah (seperti musibah, cobaan, ujian), diSEBABkan karena kesalahan dan dosa-dosa manusia (yang mana Dia telah menetapkan demikian.

simak tafsir dan pembahasan akan hal ini disini: http://www.scribd.com/doc/88191317/161/Tafsir-Ibnu-Kasir-331, simak pula: Perbedaan al Qadar dan Maqduur

Maka perkataan yang kedua, maka inilah yang benar. Allah-lah satu-satunya Dzat Yang menetapkan segala sesuatu; baik itu baik dan buruk. Hanya saja, tidak setiap apa yang Allah taqdirkan tersebut menandakan ia meridhaiNya. Seperti contoh, Allah mentaqdirkan adanya ibliis, thaghuut dan orang-orang kaafir; bukan berarti Allah meridhai mereka dan perbuatan mereka. Maka ketika kita mendapati taqdir Allah yang secara kasat mata ia adalah keburukan, tapi jika kita mengambil hikmahnya, maka hal tersebut adalah KEBAIKAN. Sehingga jika disandarkan kepadaNya, maka sesungguhnya hal tersebut adalah suatu kebaikan, baik kita tahu hikmahnya atau tidak.

Maka sesungguhnya Dialah satu-satunya yang menetapkan segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana (dalam menetapkan taqdir). Dan Dia tidak ditanya (tentang perbuatanNya), kitalah yang akan ditanyaiNya (tentang perbuatan kita)

Simak pembahasan lengkap tentang taqdir disini: http://muslim.or.id/aqidah/memahami-takdir-ilahi.html]

(HR Muslim, dan selainnya)

Bedakan dengan ibliis la’natullaah ‘alayh, dimana ia berkata:

قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ

Iblis menjawab: “Karena Engkau telah menjadikan aku sesat… saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka (anak keturunan adam) dari jalan Engkau yang lurus…”

(Al A’raaf: 16)

Diatas iblis yang sudah berbuat durhaka, bukannya bertaubat, tapi malah berdalih dengan taqdir, yang mana ia menjadikan Allah sebab perbuatan durhakanya tersebut.. Sungguh kedurhakaan yang tiada siapapun menandingi kedurhakaan ini!! Bahkan ia pun akibat kedengkiannya, tidak peduli lagi akan keselamatan dirinya, yang mana ia malah memikirkan untuk menyesatkan keturunan adam yang ia dengki..

Maka barangsiapa yang ia mendapati keburukan dalam dirinya, lantas ia berdalih dengan taqdir, atau bahkan mencela taqdir! Maka dia telah mengikuti jejak langkah ibliis!

Demikian pula barangsiapa yang sibuk untuk mencari-cari keburukan orang lain (yang didengkinya), sedankgan ia lupa untuk mencari-cari keburukan dirinya, maka ia telah mengikuti jejak langkah ibliis!

Dan juga, barangsiapa yang terjerumus dalam kedurhakaan, tidak malah bertaubat, malah mencari teman-teman untuk durhaka bersamanya (baik karena ingin sengaja menjerumuskan orang lain, atau untuk mencari teman agar seperti dirinya)… maka ia pun telah mengikuti jejak langkah ibliis!

Kita berlindung kepada Allah dari hal-hal yang demikian!

4. Beliau bahkan MEMUJI ALLAH dalam kondisi seperti itu..

Dan inilah tingkatan iman tertinggi… Beliau mengingat nikmat-nikmatNya yang tiada terhitung, jikalau dibandingkan dengan secuil cobaan ini.. Niscaya tiada bandingannya.. Maka tidaklah terlontar dari lisan beliau, kecuali kata-kata yang diridhaiNya, bahkan kata-kata yang menyanjung dan memujiNya..

Subhaanallaahi wabihamdih.. Subhaanallaahil ‘Azhiim..

5. Kesudahan yang baik, hanyalah bagi orang-orang bertaqwa (yaitu bertaubat ketika jatuh kedalam dosa, bersabar ketika mendapat cobaan, dan bersyukur ketika mendapat nikmat)

Maka kesudahan yang baik.. Bagi orang-orang bertakwa.. Dan diangkatlah ujiannya, diberikan ganti yang lebih baik, dan dijadikanNyalah beliau sebagai simbol kesabaran.. Sebaik-baik hamba.. Diantara hamba-hambaNya..

Maka dimanakah para penuntut ilmu.. Para pencari warisan nabi.. Tidakkah mereka ingin mengambil sedikit darinya untuk dirinya?

Semoga kita dapat menanamkan ilmu yang kita pelajari dalam dada-dada kita.. Agar kiranya ia nampak dalam amalan lisan dan tubuh kita..

Karena ilmu yang bermanfaat adalah yang meresap di hati.. Dan apa yang meresap di hati akan tercermin pada amalnya..

Semoga bermanfaat

Tinggalkan komentar

Filed under Akhlak, Aqidah, Tauhid Rububiyyah, Tauhid Uluhiyyah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s