Pemilik ilmu yang hakiki (Faidah QS. 35:28)

Allah berfirman

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulamaa.

(QS Faa-thir (35):28)

Faidah

1. Keutamaan ulamaa’ yang ilmu-ilmunya meresap kedalam hatinya

Allah subhaanahu wa ta’ala berfirman:

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.

(Al-Mujaadilah: 11)

Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

فَضْلُ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِي عَلَى أَدْنَاكُمْ

“Keutamaan seorang alim dari seorang abid seperti keutamaanku dari orang yang paling rendah di antara kalian, ”

(Hasan Shahiih; HR Tirmidziy, ad Daarimiy, dan selainnya)

2. Inti dari ilmu adalah rasa takut kepada Allaah dan bertakwa kepadaNya

Ulamaa (orang yang paling banyak ilmunya diantara manusia), adalah sebaik-baiknya hamba, karena mereka lebih banyak rasa takutnya (ketaqwaanNya) kepada Allah, dibandingkan hamba-hambaNya yang lain.

Berkata Imam Ad Daarimiy dalam kitabnya: “Bab: Ilmu adalah takut dan taqwa kepada Allah”

dari Mis’ar dari Sa’ad bin Ibrahim ia berkata: “ia ditanya: ‘Siapakah orang yang paling menguasai ilmu fikih dari penduduk Madinah? ‘, ia menjawab: ‘yaitu orang yang paling bertakwa kepada Rabbnya’ “.

(ad Daarimiy)

3. Ilmu yang bermanfaat adalah yang meresap kedalam hati.

Sebagaimana diatas, ulamaa’ adalah semulia-mulianya hamba karena meresapnya ilmu-ilmu yang ia miliki kedalam hatinya.

Allah berfirman:

ذَٰلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ

“Yang demikian itu dikarenakan barangsiapa yang mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu semua muncul dari ketakwaan yang ada di dalam hati.”

(QS. al-Hajj: 32).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

التَّقْوَى هَاهُنَا

“Ketakwaan itu (sumbernya) di sini.” Seraya beliau mengisyaratkan kepada dadanya

(HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu).

Berkata para ulamaa’ “ilmu adalah rasa takut kepada Allah, seluruhnya” dan inilah yang membedakan orang alim dan orang bodoh.

Oleh karena itu, hakekat ilmu yang kita miliki adalah yang berapa banyak ilmu yang meresap kedalam hati kita. diatas Allah memuji ulamaa’ (banyak ilmunya) dengan rasa takut yang dimilikinya, mengartikan; dengan ilmunya yang banyak tersebut juga turut menghasilkan rasa takut yang melebihi orang yang lebih rendah ilmunya darinya. Maka semakin banyak ilmu yang bermanfa’at yang dimiliki seseorang, maka semakin takut pula ia kepada Allaah.

4. Celaan orang yang memiliki ilmu, tapi tidak menambah rasa takutnya kepada Allah

Sebaliknya, orang yang paling jelek adalah seseorang yang banyak ilmunya, tapi ilmunya tersebut berbanding terbalik dengan rasa takutnya kepada Allah. jika hanya sedikit rasa takutnya, itulah hakekat ilmu yang ada pada dirinya, selain itu, hanyalah menjadi hujjah atas dirinya dihari kiamat kelak; Allaahul musta’aan.

Allah berfirman:

أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَن تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِن قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَكَثِيرٌ مِّنْهُمْ فَاسِقُونَ

Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.

(al Hadiid: 16)

Lama’nya mereka menuntut ilmu tidaklah melembutkan, hati-hati mereka. Mereka mengetahui ilmunya, tapi tidak berdampak kedalam hati mereka. Padahal yang diinginkan dari ilmu adlaah meresapnya ia kedalam hati sehingga pemilik hati mendapat petunjuk, mengambil pelajaran, dan menjadi lembut…

dari [Abu Ad Darda’] dia berkata; Ketika kami bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau menengadahkan pandangannya ke langit kemudian berkata;

هَذَا أَوَانُ يُخْتَلَسُ الْعِلْمُ مِنْ النَّاسِ حَتَّى لَا يَقْدِرُوا مِنْهُ عَلَى شَيْءٍ

“Inilah saatnya ilmu dicabut dari manusia sehingga mereka tidak mampu mengetahui darinya sama sekali”,

maka Ziyad bin Labid Al Anshari bertanya;

‘Bagaimana ilmu dicabut dari kami, padahal kami membaca Al Qur’an? Demi Allah, kami pasti akan membacanya dan membacakannya kepada istri-istri dan anak-anak kami.’

—dalam riwayat lain, riwayat ibn maajah–

“Wahai Rasulullah, bagaimana ilmu bisa hilang? Sedangkan kami masih membaca Al Qur’an dan kami juga membacakannya (mengajarkannya) kepada anak-anak kami, dan anak-anak kami juga akan membacakannya kepada keturunannya sampai hari kiamat datang.”

–selesai petikan–

Maka beliau berkata:

ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ يَا زِيَادُ إِنْ كُنْتُ لَأَعُدُّكَ مِنْ فُقَهَاءِ أَهْلِ الْمَدِينَةِ هَذِهِ التَّوْرَاةُ وَالْإِنْجِيلُ عِنْدَ الْيَهُودِ وَالنَّصَارَى فَمَاذَا تُغْنِي عَنْهُمْ

“alangkah malangnya dirimu wahai Ziyad, sesungguhnya aku menganggapmu termasuk orang yang faqih di Madinah, inilah kitab Taurat dan Injil milik Yahudi dan Nashrani maka apakah bermanfaat bagi mereka?!”

—dalam riwayat ibn maajah disebutkan–

ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ زِيَادُ إِنْ كُنْتُ لَأَرَاكَ مِنْ أَفْقَهِ رَجُلٍ بِالْمَدِينَةِ

“alangkah malangnya dirimu wahai Ziyad, padahal aku melihatmu adalah orang yang paling memahami agama di Madinah ini!”

أَوَلَيْسَ هَذِهِ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى يَقْرَءُونَ التَّوْرَاةَ وَالْإِنْجِيلَ لَا يَعْمَلُونَ بِشَيْءٍ مِمَّا فِيهِمَا

“Bukankah orang-orang Yahudi dan Nashrani juga membaca Taurat dan Injil, namun mereka tidak mengamalkan sedikitpun apa yang terkandung di dalamnya.”

—selesai nukilan—

Jubair berkata; Kemudian aku bertemu dengan [Ubadah bin Ash Shamith], maka aku bertanya; ‘Tidakkah kamu mendengar sesuatu yang dikatakan saudaramu yaitu Abu Ad Darda’? ‘

Maka aku memberitahukan kepadanya apa yang dikatakan oleh Abu Ad Darda’. Dia berkata;

‘Abu Ad Darda’ benar, jika kamu berkehendak sungguh pasti aku ceritakan kepadamu tentang ilmu yang pertama kali akan diangkat dari manusia yaitu Al Khusyu’ (rasa khusyu’) hampir-hampir kamu masuk ke dalam masjid jami’ namun kamu tidak melihat seorang pun di dalamnya orang yang khusyu’.’

(HR. Tirmidzi, Ibnu Maajah, dll.; dishahiihkan oleh Syaikh al-albaaniy dalam shahiih at tirmidziy)

Allah berfirman:

قَالَتِ الْأَعْرَابُ آمَنَّا قُل لَّمْ تُؤْمِنُوا وَلَٰكِن قُولُوا أَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلِ الْإِيمَانُ فِي قُلُوبِكُمْ وَإِن تُطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ لَا يَلِتْكُم مِّنْ أَعْمَالِكُمْ شَيْئًا إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

Orang-orang Arab Badui itu berkata: “Kami telah beriman”. Katakanlah: “Kamu belum beriman, tapi katakanlah ‘kami telah tunduk’, karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu; dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikitpun pahala amalanmu; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

(Hujurat: 14)

Jangan sampai kita yang sudah memiliki banyak ilmu, akan tetapi malah mencerminkan amalan baduy!!

Abdul A’la At Taimi berkata:

“Barangsiapa yang dianugerahi ilmu dan ilmunya tidak membuatnya menangis kepada Allah, berarti ia mendapatkan ilmu yang tidak bermanfaat, karena Allah mensifati para ulama, kemudian ia membaca Al Qur`an: (sesungguhnya orang-orang yang dianugerahi ilmu) sampai firmanNya: (mereka selalu menangis) (Qs. Al Isra`: 107-108)”

(Atsar ad Daarimiy)

Rasuulullaah bersabda:

يَا مَعْشَرَ مَنْ آمَنَ بِلِسَانِهِ وَلَمْ يَدْخُلِ الْإِيمَانُ قَلْبَهُ لَا تَغْتَابُوا الْمُسْلِمِينَ وَلَا تَتَّبِعُوا عَوْرَاتِهِمْ، فَإِنَّهُ مَنِ اتَّبَعَ عَوْرَاتِهِمْ يَتَّبِعُ اللَّهُ عَوْرَتَهُ وَمَنْ يَتَّبِعِ اللَّهُ عَوْرَتَهُ يَفْضَحْهُ فِي بَيْتِهِ

“Wahai sekalian manusia yang telah beriman dengan lisannya namun belum masuk iman itu ke dalam hatinya. Janganlah kalian mengghibah kaum muslimin, dan jangan kalian mencari-cari aib mereka. Barangsiapa yang mencari-cari aib mereka, niscaya Allah akan mencari-cari aibnya. Dan barangsiapa yang Allah cari-cari aibnya, niscaya akan disingkap kejelekannya meskipun di rumahnya sendiri”

[Shahiih; HR Abu Dawud]

Rasuulullaah bersabda:

سَيَخْرُجُ فيِ آخِرِ الزَّمَانِ قَوْمٌ أَحْدَاثُ الأَسْنَانِ سُفَهَاءُ اْلأَحْلاَمِ يَقُوْلُوْنَ مِنْ قَوْلِ خَيْرِ البَرِيَّةِ يَقْرَءُوْنَ الْقُرْآنَ لاَ يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ، يَمْرُقُوْنَ مِنَ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ

Akan keluar di akhir zaman suatu kaum yang muda-muda umurnya, pendek akalnya. Mereka mengatakan ucapan sebaik-baik manusia. Mereka membaca Al Qur’an, tapi tidak melewati kerongkongan mereka. Mereka melesat (keluar) dari (batas-batas) agama seperti melesatnya anak panah menembus binatang buruannya.

[HR. Al Bukhari, Muslim]

Al Hafidh Ibnu Hajar berkata :

“Imam An Nawawi berkata : “Yang dimaksud adalah mereka tidak mendapat bagian kecuali hanya melewati lidah mereka saja dan tidak sampai kepada kerongkongan mereka, terlebih lagi hati-hati mereka.

Padahal yang dimaukan adalah mentadabburinya [memperhatikan, memahaminya dengan pemahaman yang benar (pemahaman shahabat)], dan merenungkannya dengan teliti agar sampai ke hati”.”

(Fathul Bari : 12/293)

Maka hendaknya kita meluruskan niat kita dalam menuntut ilmu; karena hati tidaklah menyerap ilmu yang berasal dari niat yang rusak.

5. Ilmu yang bermanfaat menghasilkan amal

Tidakkah kita membaca firmanNya “takut kepada Allah”. Dan ini adalah amalan hati. Adanya amalan hati ini, merupakan pertanda ilmu kita telah meresap didalamnya.

Apabila ilmu telah meresap kedalam hati, maka ia seara otomatis akan mengiringinya amalan lisan maupun anggota badan.

إِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلُحَتْ صَلُحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلاَ وَهِيَ الْقَلْبُ

“Sesungguhnya di dalam jasad terdapat segumpal daging, apabila baik maka akan baiklah seluruh jasadnya dan apabila rusak maka akan rusaklah seluruh jasadnya, ketahuilah segumpal daging itu adalah hati.”

(HR. Al-Bukhariy no.52 dan Muslim no.1599 dari An-Nu’man bin Basyir)

Maka fokuskanlah niat kita untuk menuntut ilmu untuk memperbaiki diri-diri kita; karena jika ia baik, maka akan baik pula seluruh anggota tubuh kita.

6. Ilmu pemimpin amal

Rasa takut yang ada pada ulamaa’ disebabkan ketinggian ilmu mereka. Begitu tingginya ilmu mereka terhadap Allah, Merekalah orang yang paling mengenal Allah, sehingga mereka adalah yang paling takut kepadaNya

Allah berfirman

أُولَٰئِكَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِم مِّنَ النَّبِيِّينَ مِن ذُرِّيَّةِ آدَمَ وَمِمَّنْ حَمَلْنَا مَعَ نُوحٍ وَمِن ذُرِّيَّةِ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْرَائِيلَ وَمِمَّنْ هَدَيْنَا وَاجْتَبَيْنَا إِذَا تُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ آيَاتُ الرَّحْمَٰنِ خَرُّوا سُجَّدًا وَبُكِيًّا

Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil, dan dari orang-orang yang TELAH KAMI BERI PETUNJUK dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis.

(Maryam: 58)

Allah berfirman:

قُلْ آمِنُوا بِهِ أَوْ لَا تُؤْمِنُوا ۚ إِنَّ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ مِن قَبْلِهِ إِذَا يُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ يَخِرُّونَ لِلْأَذْقَانِ سُجَّدًا . وَيَقُولُونَ سُبْحَانَ رَبِّنَا إِن كَانَ وَعْدُ رَبِّنَا لَمَفْعُولً . وَيَخِرُّونَ لِلْأَذْقَانِ يَبْكُونَ وَيَزِيدُهُمْ خُشُوعًا

Katakanlah: “Berimanlah kamu kepadanya atau tidak usah beriman (sama saja bagi Allah). Sesungguhnya orang-orang yang TELAH DIBERI ILMU sebelumnya apabila Al Quran dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud, dan mereka berkata: “Maha Suci Tuhan kami, sesungguhnya janji Rabb kami pasti dipenuhi”. Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu’.

(al Israa’: 107-109)

Dalam ayat diatas Allah mendahulukan ILMU sebelum AMAL. Mereka yang bersujud dan menangis adalah WUJUD dari petunjuk (ilmu) yang telah Allah berikan kepada mereka.

Abu Darda radiyallahu’anhu berkata,

“Kamu selamanya tidak akan menjadi orang yang bertakwa sampai kamu berilmu, dan ilmu tersebut tidak akan menjadikanmu baik sampai kamu mengamalkannya”

Maka “rasa takut” kepadaNya yang benar, adalah rasa takut yang didasarkan ilmu. Adapun rasa takut tanpa ilmu, maka hanyalah mensesatkan pelakunya, sementara ia menyangka berada diatas petunjuk, sebagaimana kaum khawarij.

7. Hanyalah orang-orang bertakwa saja yang paling paham tentang kitabullah dan as sunnah, sehingga hanya merekalah yang dapat memetik pelajaran darinya

Al Qur-aan, diturunkan kepada seluruh manusia… Akan tetapi hanya orang bertakwa saja yang mendapatkan petunjuk serta mengambil pelajaran darinya.

Sebagaimana firmanNya:

هَٰذَا بَيَانٌ لِّلنَّاسِ وَهُدًى وَمَوْعِظَةٌ لِّلْمُتَّقِينَ

(Al Quran) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.

(‘aali imraan: 138)

Allah berfirman:

وَتِلْكَ الْأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ وَمَا يَعْقِلُهَا إِلَّا الْعَالِمُونَ

Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buat untuk manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu.

(Al-Ankabut: 43)

Pernah suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah kepada orang-orang (para sahabat). Beliau mengatakan,

إِنَّ اللَّهَ خَيَّرَ عَبْدًا بَيْنَ الدُّنْيَا وَبَيْنَ مَا عِنْدَهُ فَاخْتَارَ ذَلِكَ الْعَبْدُ مَا عِنْدَ اللَّهِ

“Sesungguhnya Allah memberikan tawaran kepada seorang hamba; antara dunia dengan apa yang ada di sisi-Nya. Ternyata hamba itu lebih memilih apa yang ada di sisi Allah.”

Abu Sa’id al-Khudriy berkata: “Abu Bakar pun menangis. Kami merasa heran karena tangisannya. Tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberitakan ada seorang hamba yang diberikan tawaran. Ternyata yang dimaksud hamba yang diberikan tawaran itu adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Memang… Abu Bakar adalah orang yang paling BERILMU di antara kami.”

(HR Bukhariy, Muslim, dan selainnya)

Yaa subhaanallaah… Demikianlah orang-orang berilmu… Ilmu mereka tertanam dalam dada-dada mereka… Karena dalamnya ilmu yang ada dalam dada-dada mereka, mereka PAHAM maksud dari firman Allah dan sabda RasulNya ketika dibacakan… Sehingga ketika dibacakan, maka mereka tunduk dan khusyu’, dan menerimanya dengan penuh ketawadhu’an dan lapang dada.

Maka semoga kita dianugerahkan oleh Allah: hati yang selamat, ilmu yang bermanfa’at, rizqi yang halaal, serta amalan yang diterima..

Aamiin

Tinggalkan komentar

Filed under Akhlak, al-Quran, Ilmu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s