Betapa agungnya ucapan “Insyaa Allaah”

Inilah dzikir yang sehari-hari kita biasa mengucapkannya, terutama ketika kita berkehendak melakukan sesuatu, maka kita mengucapkannya. Akan tetapi TIDAK BANYAK dari kita yang TAHU makna yang tersembunyi dibalik ucapan ini, sehingga sebagian dari kita hanyalah mengucapkan sebagai ucapan yang biasa saja. Bahkan sebahagian dari kita mungkin menjadikan ucapan ini sebagai TAMENG dari KEDUSTAAN / PENGINGKARAN JANJI / PENGHIANATAN AMANAH!! Na’uudzubillaah!

Dibalik ucapan insyaa Allaah terkandung peribadatan yang agung!

Terkadang kita berkata: “Aku benar-benar akan melakukan ini-itu esok hari INSYAA ALLAH!”

Dijelaskan Imam Ibnu Taimiyyah dalam kitabul iimaan :

“Orang ini mengatakan demikian bukan karena ia RAGU, akan kehendak dan ambisinya tersebut. Hanya saja, pada perwujudan apa yang dikehendakinya dan di’azzamkannya tersebut (maka ia menyandarkannya pada kehendak Allah, az). Dia TAKUT apabila tidak mengucapkan insyaa Allaah; maka (Allah) akan mengurangi hasratnya, dan (ia pun) tidak berhasil mendapatkan apa yang dikehendakinya.”

Beliau juga berkata:

“…Mengucapkan insyaa Allaah, BUKANLAH karena RAGU tentang apa yang diharapkan atau dikehendaki, akan tetapi sebagai HARAPAN agar Allah mewujudkan keinginannya tersebut…”

(Kitaabul iimaan, edisi Indonesia: al iimaan, pustaka darul falah)

Lihatlah dalam perkataan ini saja, sudah tercakup DUA UNSUR PENTING DALAM IBADAH: rasa harap dan rasa takut.

Bukankah jika dalam hati kita ketika mengucapkan perkataan ini, dan kuat rasa harap dan takut kita kepada Allah, akan berbuah sebagai amalan shalih yang tinggi nilainya!? (sebesar rasa takut dan harap kita ketika beramal!?)

Demikianlah, SATU UCAPAN orang yang beri’ilmu dan menghadirkan hatinya, SANGAT JAUH dengan ucapan orang yang tidak tahu ilmunya atau ucapannya orang yang lalai hatinya, meskipun ia tahu ilmunya.

Dibalik ucapan insyaa Allaah pun terkandung tawakkal dan perwujudan keimanan terhadap qadha dan qadarNya!

Tidak hanya itu… ucapan insyaa Allaah… juga merupakan perwujudan ilmu kita tentang TAWAKKAL kepada Allah, dan juga perwujudan ilmu kita akan keimanan kita terhadap qadha dan qadarNya!

Syaikhul Islaam berkata, tentang firman Allah:

وَلَا تَقُولَنَّ لِشَيْءٍ إِنِّي فَاعِلٌ ذَٰلِكَ غَدًا . إِلَّا أَن يَشَاءَ اللَّهُ

“Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan tentang sesuatu: ‘Sesungguhnya aku akan pasti mengerjakan ini besok pagi…’ kecuali (dengan menyebut): ‘Insyaa Allah’ (jika Allah Menghendaki)…”

(al Kahfi 23-24)

إِنِّي فَاعِلٌ ذَٰلِكَ غَدًا “Aku benar-benar akan mengerjakan yang demikian esok hari…” terkandung makna pengharapan dan pengkhabaran. Pengharapannya itu KUAT dan PASTI (ada dihatinya). Adapun jika apa yang diharapkannya tersebut terjadi, maka itu karena Allah menghendakinya (terjadi)…

Dalam permintaannya ini, terkandung permintaan kepada Allah, sedangkan tentang pengkhabaran, dia tidak mengabarkan kecuali apa yang diketahui Allah. Oleh karenanya, siapa YANG MEMASTIKAN tanpa istisnaa’, maka dia seperti orang yang yakin terhadap Allah, namun kemudian Allah mendustakannya.

Maka SEORANG MUSLIM, yang berhasrat akan sesuatu, yang ia sangat ingin dan mengharapkannya tanpa ada keraguan padanya, maka hendaklah ia (tetap) mengucapkan insyaa Allaah. agar apa yang diharapkannya terwujud. Sebab hal tersebut sekali-kali tidak akan terjadi, kecuali dengan kehendak Allah. (sehingga ucapan istisnaa’ ini) bukan karena keragu-raguan kehendaknya.

-abuzuhriy: lihat disini kita menetapkan tawakkal kita kepadaNya, dengan ucapan ini

Allah berkehendak mewujudkan apa yang dijanjikan kepada mereka, dan apa yang dikehendakiNya PASTI TERJADI, adapun apa yang tidak dikehendakiNya PASTI TIDAK AKAN TERJADI.

Berbeda dengan manusia yang terkadang berkehendak sesuatu yang TIDAK MUNGKIN TERJADI, atau menghendaki sesuatu tapi apa yang terjadi, tidaklah sesuai kehendaknya.

-abuzuhriy: bukankah pada perkataan diatas adalah wujud keimanan yang nyata akan qadha dan qadarNya?!

(Kitaabul iimaan, edisi Indonesia: al iimaan, pustaka darul falah)

Penggunaan SECARA KELIRU ucapan insyaa Allaah!

Hanya saja SANGAT DISAYANGKAN banyak kaum muslimiin MENYALAHGUNAKAN kata-kata ini… yang ia gunakan untuk bersembunyi terhadap keengganannya atau penolakannya akan sesuatu..

Ia ditanya : “apakah kamu besok ke rumahku?”

Dijawabnya : “insyaa Allah” (padahal dalam hatinya tidak ada sama sekali keinginan untuk ke rumah temannya!!)

Padahal yang diinginkan dari Insyaa Allaah, adalah adanya, dan bahkan KUATnya keinginan hati untuk mewujudkan kehendak.. hanya saja, kita mengatakannya sebagai penyandaran diri dan hati kita kepada Allah, Yang berkehendak untuk mewujudkannya atau tidak!!!

Maka TIDAK HERAN, ketika ORANG-ORANG KAAFIR mendengarkan ucapan ini.. maka kesan yang mereka tampilkan adalah keraguan.. apakah orang yang berkata ini SERIUS dalam perkataannya atau tidak!? sebegitu JELEKnya kaum muslimiin dalam menggunakan kata yang agung ini ?! sehingga ucapan ini dijadikan TAMENG kedustaannya!? sehingga ucapan ini pun tidak ada harganya lagi.. bahkan dipandang DUSTA atau KERAGUAN dimata orang-orang yang tidak paham agama, dari kalangan kafiriin!

Padahal jika orang-orang yang tidak paham agama dari kalangan kaum muslimin atau orang-orang kafir itu tahu akan hal ini.. niscaya mereka akan ta’jub kepada orang yang mengucapkan hal ini, yang benar-benar menghambakan dirinya kepada Allah, dan menyandarkan dirinya kepadaNYa..

Demikianlah syaithan.. yang telah mempergunakan orang-orang fasiq dan orang-orang yang tidak berilmu, untuk menggunakan kata-kata ini dijalan yang tidak benar, bahkan sebagai tameng kedustaan/pengingkaran janji/penghianatan amanah!! na’uudzubillaah!!

Adapun PENGGUNAAN YANG BENAR tentang insyaa Allaah, adalah sebagaimana dijelaskan al-ustaadz Firanda Andirja hafizhahullaahu ta’aala:

“…(1) untuk menekankan sebuah kepastian. Sebagaimana sabda Nabi dalam doa ziarah qubur (Dan Kami insyaa Allah akan menyusul kalian wahai penghuni kuburan). Dan tentunya kita semua pasti meninggal. Demikian juga firman Allah (yang artinya) Sesungguhnya kalian pasti akan memasuki masjdil haram insyaa Allah dalam keadaan aman) QS Al-Fath : 27

(2) Untuk menyatakan usaha/kesungguhan akan tetapi keberhasilan pelaksanaannya di tangan Allah, seperti perkataan kita, “Bulan depan saya akan umroh insyaa Allah”

(3) Karena ada keraguan, akan tetapi masih ada keinginan.

Adapun kesalahan dalam penggunaan fungsi (insyaa Allaah) (adalah) : Sebagai senjata untuk melarikan diri atau untuk menolak. seperti perkataan seseorang tatkala diundang ke sebuah acara, lantas dalam hatinya ia tdk mau hadir, maka iapun berkata, “Insyaa Allah”

Atau tatkala diminta bantuan lantas ia tidak berkenan, maka dengan mudah ia berlindung di balik kata “Insyaa Allah”

Inilah fenomena yang menyedihkan tatkala perkataan “Insyaa Allah” yang seharusnya untuk menyatakan kesungguhan malah digunakan untuk menolak…”

Wallaahul Musta’aan..

Tinggalkan komentar

Filed under Aqidah, Dzikir, Ibadah, Tauhid Asma' Wa Sifat, Tauhid Uluhiyyah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s