Ketika al-Qur’an dibacakan kepadamu atau ketika engkau mendengarkan bacaan al-Qur’an

Maka ketahuilah Allah berfirman:

وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Dan apabila dibacakan Al Qur-aan, maka DENGARKANLAH IA (BAIK-BAIK), dan PERHATIKANLAH DENGAN TENANG… agar kamu mendapat rahmat.

(Al-A’raaf: 204)

Al-Imam At-Thabariy rahimahullah berkata:

“Allah Ta’ala berfirman disebutkan untuk orang-orang mukmin, yang membenarkan kitabNya, yang menjadikan Al-Qur’an sebagai petunjuk dan rahmat

إِذَا قُرِئَ’

Dan apabila dibacakan Al Qur-aan …

“kepada anda semua wahai orang-orang mukmin!!”

فَاسْتَمِعُوا لَهُ

maka dengarkanlah (dengan baik-baik)

(yaitu) maka pasang telinga anda semua, untuk memahami ayatNya, dan mengambil ibrah dari nasehatNya…

وَأَنصِتُوا

dan perhatikanlah (dengan tenang)

…kepadanya agar memikirkan dan mentadaburiNya, jangan lalai dan jangan terlena…

لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

agar Rabb kamu semua, memberikan rahmat dari kesadaran anda dengan nasehat-Nya, mengambil ibroh dari ibrohNya. Dan anda lakukan terhadap apa yang dijelaskan Rabbmu kepadamu dari kewajibanNya di ayatNya.’

[Tafsir At-Tobari, 13/244; melalui islamqa]

Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:

“Dengan pendengaran (seperti) ini, Allah memberikan hidayah kepada para hamba, memperbaiki urusan kehidupan dan kematian.

(dan) dengannya pula Rasulullah sallallahu’alaihi wa sallam diutus, dan diperintahkan kepada para Muhajirin dan Anshor serta orang-orang yang dengan baik mengikutinya.

Dengannya para ulama’ salaf bersepakat sebagaimana dahulu para shahabat Rasulullah sallallahu’alaih wa sallam kalau bersepakat dalam satu urusan mereka memerintahkan diantara mereka untuk membaca (Al-Qur’an) sementara mereka mendengarkannya.

Dahulu Umar bin Khottob radhiallahu’anhu berkata kepada Abu Musa Al-Asy’ari: “Ingatkan kami untuk Tuhan kamu, maka Abu Musa membaca (Al-Qur’an) sementara mereka mendengarkannya.”

[‘Majmu’ Al-Fatawa, 11/626, dari islamqa]

Syekh As-Sa’dy rahimahullah berkata:

“Perintah ini umum bagi semua orang yang mendengarkan Kitabullah ketika dibaca. Maka dia diperintahkan untuk MENDENGARKAN DENGAN BAIK dan MEMPERHATIKAN DENGAN TENANG.

Perbedaan antara mendengarkan dan memperhatikan dengan tenang. ‘Al-Inshot’ adalah sisi penampilan dengan tidak berbicara atau meninggalkan kesibukan yang dapat mengganggu dari mendengarkan. Sementara ‘Al-Istima’ adalah memasang telinga dan menghadirkan hati untuk mentadaburi dari apa yang didengarkan.

Karena kelaziman dari dua hal ini, ketika Kitabullah dibaca, maka dia akan mendapatkan banyak kebaikan dan ilmu nan luas, terus memperbaharui keimanan, petunjuk yang terus bertambah, pengetahuan agamanya.

Oleh karena itu Allah menyambungkan agar mendapatkan rahmat darinya. Dari situ menunjukkan,bahwa ketika dibacakan Kitabullah kepada seseorang sementara tidak mendengarkan dan memperhatikan dengan tenang, maka dia tidak mendapatkan bagian rahmat, maka dia terlepas banyak kebaikan.

[kitab ‘Tafsir As-Sa’dy, 314, dari islamqa]

Bagi yang belum paham bahasa arab

Tetaplah DENGARKAN DENGAN BAIK dan PERHATIKAN DENGAN TENANG, meskipun engkau belum paham bahasa arab!!! Karena meskipun engkau tidak mengerti, engkau tetap akan mendapatkan pahala darinya!!

Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah ditanya: ‘Apakah seseorang yang membaca Al-Qur’an akan mendapatkan pahala meskipun dia tidak faham artinya?’

Beliau menjawab: “Al-Qur’an Al-Karim itu barokah, sebagaimana firman Allah ta’ala:

( كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الأَلْبَابِ )

“Kitab yang Kami turunkan kepada engkau (wahai Muhammad) bernilai barokah agar kamu bentadaburi ayat-ayatNya dan agar menjadi pengingat bagi orang-orang yang berfikir.”

Seseorang akan diberi pahala dengan bacaannya, baik dia memahami atau tidak memahaminya. Akan tetapi seyogyanya seorang mukmin ketika membaca Al-Qur’an yang dibebabankan untuk mengamalkannya sementara dia tidak memahami artinya.

Sebagai contoh, seseorang kalau ingin belajar kedokteran, mempelajari buku-buku kedokteran. Maka tidak mungkin dia mengambil manfaat darinya sampai dia mengerti artinya, menjelaskannya. Bahkan dia sangat menjaga sekali agar dapat memahami maknanya agar dapat mempraktekkannya!!

Apalagi dengan Kitab Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang mana dapat menyembuhkan dalam hati, sebagai nasehat bagi manusia. Seseorang membaca (Al-Qur’an) tanpa tadabbur dan tanpa memahami maknanya. Oleh karena itu para shahabat radhiallahu’anhum tidak melewati sepuluh ayat sampai mempelajari apa yang ada didalamnya dari ilmu dan amal. Maka mereka mempelajari Al-Qur’an disertai ilmu dan amal secara bersamaan.

Maka seseorang akan diberi pahala terhadap bacaan Al-Qur’an baik dia memahami maknanya ataupun tidak memahaminya. Akan tetapi seyogyanya perlu sangat menjaga untuk dapat memahami maknanya.

Dan hendaknya pemahaman ini di dapatkan dari para ulama’ yang terpercaya dari sisi ilmu dan amanahnya. Kalau tidak mendapatkan orang alim yang dapat memahami maknanya, maka hendaknya merujuk ke buku-buku tafsir yang terpercaya seperti Tafsir Ibnu Jarir, tafsir Ibnu Katsir dan selain dari kedua buku tafsir tersebut yang memperhatikan penafsirannya dengan atsar yang diriwayatkan dari para shahabat dan tabiin radhiallahu’anhum.’

[Lihat kitab ‘Fatawa Nurun ‘Ala Ad-Darbi, kaset, 85 side A; melalui islamqa]

[Sumber seluruh petikan diatas: http://islamqa.info/id/ref/150633]

Peringatan bagi yang TIDAK MENGINDAHKAN al Qur-aan, ketika al Qur-aan sedang dibacakan, atau ketika ia sedang mendengarkan al Qur-aan

Maka hendaknya ayat ini, benar-benar DIRESAPKAN oleh hati-hati yang lalai… yang ketika dibacakan al Qur-aan.. tapi ia malah ia sibuk dengna pekerjaan lain, sehingga ia tidak mendengarkannya secara seksama..

Apalagi SAMPAI berbicara ketika al Qur-aan sedang dibaca!!! apakah engkau hendak melawan KALAM RABBmu dengan pembicaraanmu?!

apalagi sampai membuat kegaduhan, sehingga suara gaduh tersebut melebihi kalamNya!! ini lebih parah lagi!!

Ingatlah bahwa Allah telah memfirmankan KELUHAN RASUULULLAAH shallallaahu ‘alayhi wa sallam KEPADA-Nya:

وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَٰذَا الْقُرْآنَ مَهْجُورًا

“Artinya : Wahai Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Qur’an ini sesuatu yang tidak diacuhkan”

(Al-Furqan : 30)

Itu karena orang-orang musyrik TIDAK MAU DIAM untuk MEMPERHATIKAN dan MENDENGARKAN Al-Qur’an (dengan tenang dan seksama) sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَا تَسْمَعُوا لِهَٰذَا الْقُرْآنِ وَالْغَوْا فِيهِ لَعَلَّكُمْ تَغْلِبُونَ

“Artinya : Dan orang-orang yang kafir berkata,’Janganlah kamu mendengarkan Al-Qur’an dengan sungguh-sungguh dan buatlah hiruk pikuk terhadapnya”

(Fushishilat : 26)

Bila Al-Qur’an dibacakan kepada mereka,

– mereka membuat gaduh, hiruk pikuk dan perkataan-perkataan lain sehingga tidak mendengarnya, ini termasuk makna hujran Al-Qur’an.

– Tidak beriman kepadanya dan tidak membenarkannya termasuk makna hujran.

– Tidak men-tadabburi dan tidak berusaha memahaminya termasuk hujran.

– Tidak mengamalkannya, tidak melaksanakan perintahnya dan tidak menjauhi larangan-larangan termasuk makna hujran.

– Berpaling darinya kepada hal lain, baik berupa sya’ir [–Termasuk didalamnya MUSIK, LAGU & NYANYIAN–], percakapan, permainan, pembicaraan atau tuntunan yang diambil dari selain Al-Qur’an, semua itu termasuk makna hujran.

[dari fatwa Lajnah Da’imah Lil Buhuts Al-Ilmiah Wal Ifta tentang hal ini, dipetik dari: almanhaj.or.id]

Bagaimana dengan membaca al-fatihah dibelakang imam dalam shalat jahr?

Maka para ulamaa’ berbeda pendapat dalam masalah ini. Bahkan, sebagian yang lain berhujjah bahwa ayat diatas menggugurkan perintah membaca al fatihah dalam shalat jahr. Akan tetapi yang benar, makmum TETAP WAJIB MEMBACA AL FAATIHAH, meski shalat jahr.

Jika ada yang berkata: “Bukankah hal tersebut bertentangan dengan ayat diatas? manakah dalil yang memalingkan kewajiban diam dalam ayat diatas?”

Telah tetap DALIL yang SHAHIIH dan SHARIIH yang memalingkan hal diatas sebagaimana disebutkan dalam hadits-hadits berikut:

1. Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

فَلَا تَقْرَءُوا بِشَيْءٍ مِنْ الْقُرْآنِ إِذَا جَهَرْتُ إِلَّا بِأُمِّ الْقُرْآنِ

Janganlah kalian membaca sesuatu pun ketika aku mengeraskan bacaan, kecuali bacaan Al Fatihah.”

(SHAHIIH li ghayrihi, HR. Abu Dawud, dan selainnya; disini pembahasan sanad-sanadnya, dsiini: http://abul-jauzaa.blogspot.com/2010/12/jangan-lakukan-itu-kecuali-al-faatihah.html)

2. dari ‘Ubadah bin Ash Shamit, ia berkata:

Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam shalat shubuh bersama kami, bacaan terasa berat oleh beliau, seusai shalat beliau menghadapkan wajah ke arah kami lalu bersabda:

إِنِّي لَأَرَاكُمْ تَقْرَءُونَ خَلْفَ إِمَامِكُمْ إِذَا جَهَرَ

“Setahuku, kalian membaca dibelakang imam kalian saat (imam) membaca keras (jahr)?”

Mereka menjawab;

“Ya, demi Allah wahai Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam! Kami melakukannya”

Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam bersabda:

فَلَا تَفْعَلُوا إِلَّا بِأُمِّ الْقُرْآنِ فَإِنَّهُ لَا صَلَاةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِهَا

“Jangan lakukan (–yakni membaca surat–); kecuali ummul qur`an (–al fatihah–) karena tidak sah shalat bagi orang yang tidak membacanya.”

(Hasan, HR. Ahmad, Tirmidziy, ad-Daaruquthniy; dihasankan oleh al-Imam ad-Daaruquthniy, Ibn Hajar dan Syaikh Ahmad Syaakir)

BAHKAN al-Imam al-Albaniy yang menguatkan pendapat diam, ketika imam membaca dengan keras berkata setelah mengomentari hadits-hadits diatas:

“Pendapat yang kuat, bahwa (–hadits-hadits diatas menunjukkan bahwa–) BOLEH membaca Al-Fatihah (–dalam shalat jahriyyah–), (namun) bukan wajib.”

(Lihat shifat shalat nabi beliau)

Al-Imam ibnul-’Utsaimin berkata (secara makna):

“Nash-nash yang menyebutkan tentang kewajiban membaca al-fatihah, –baik dalam keadaan jahr maupun sirr– adalah SHAHIIH dan SHÅRIIH”

Dan inilah yang benar. Wallaahu a’lam

Bagaimana jika seseorang mengaji dengna mengeraskan bacaan al Qur-aannya, atau seorang yang memutar al Qur-aan via mikrofon? sementara kita sedang memiliki aktifitas lain?

Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

وَلاَ يَجْهَرْ بَعْضُكُمْ عَلَي بَعْضٍ بِالْقُرْآنِ

Dan JANGANLAH sebagian kamu MENGERASKAN (bacaan) al-Qur’ân atas sebagian yang lain.

[Lihat shahiihul jaami’]

Syaikhul Islam berkata,

“Dari sini TIDAK BOLEH bagi seorang pun MENGERASKAN BACAAN Al Qur’an-nya sehingga menyakiti saudaranya yang lain seperti menyakiti saudara-saudaranya yang sedang shalat.”

(Lihat Majmu’ Al Fatawa, 23/64; copas dari rumaysho)

Berkata Al-Baji:

“Karena hal itu dapat MENGGANGGU dan MENGHALANGI orang yang sedang serius melaksanakan shålat, mengganggu kesunyiannya (keheningannya); dan (menganggu) konsentrasi untuk memunajatkan al-Qur-aan kepada Råbbnya.

Jika mengeraskan bacaan al-Qur-aan tidak boleh, karena dapat menganggu orang yang sedang shålat, maka berbicara keras dengan omongan yang lain (selain al-Qur`aan), tentu lebih terlarang”

Berkata Ibnu ‘Abdil Barr:

” Jika umat Islam DILARANG MENGGANGGU muslim lainnya dengan perkataan yang baik (seperti) membaca al-qur’an. maka mengganggunya dengan hal lain maka hukumnya sangat haram”

[Sumber: “Dari Takbiratul Ihram Hingga Salam” (Terjemahan bahasa indonesia dari shifat shålat nabiy karya syaikh al-albaniy) Dalam BAB: “Wajib membaca saat siir” hlm. 233, Cet. 1]

Adapun dibacakan/memutar murattal melalui mikrofon, maka ini KEKELIRUAN!!!

Karena dahulu tidak pernah Rasuulullaah menyuruh bilal untuk membacakan al Qur-aan secara lantang dan keras agar didengar banyak manusia (baik itu sebelum adzan atau sesudah adzan). Yang ada, pembacaan al Qur-aan itu secara personil, kita baca untuk diri kita, atau kita bacakan (atau minta dibacakan) orang yang didepan kita.

Dan telah ada fatwa dari syaikh al-Albaaniy tentang hal ini, beliau ditanya:

إذا كانت المسجلة مفتوحةً على القرآن الكريم , وبعض الحاضرين لا يستمعون بسبب أنهم مشغولون بالكلام , فما حكم عدم الاستماع ؟ وهل يأثم أحد من الحاضرين أو الذي فتح المسجلة ؟

Apabila kaset murattal bacaan Al-Qur’an diperdengarkan dalam suatu majlis, akan tetapi sebagian orang yang hadir tidak menyimaknya karena sibuk mengobrol, maka bagaimana hukumnya? Apakah yang berdosa itu salah seorang dari hadirin tersebut atau yang memutar kaset?

Beliau menjawab:

الجواب عن هذه القضية يختلف باختلاف المجلس الذي يُتلى فيه القران من المُسجلة , فإن كان المجلس مجلس علم وذكر وتلاوة قران , فيجب –والحالة هذه – الإصغاء التام , ومن لم يفعل فهو آثم , لمخالفته بقول الله تبارك وتعالى في القران

Jawab: Jawaban dalam permasalahan ini disesuaikan dengan keadaan majlisnya, jika majlis tersebut adalah majlis ilmu dan dzikir serta dibacakan padanya ayat-ayat Al-Qur’an, maka para hadirin wajib diam serta mendengarkannya dengan penuh perhatian. Adapun orang yang sengaja mengobrol dan tidak menyimaknya maka ia telah berdosa, karena menyelisihi firman Allah tabaraka wa ta’ala:

وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

“Apabila dibacakan Al-Qur’an, maka dengalah oleh kalian dan simaklah, agar kalian mendapat rahmat.” [Al-A’raf: 204]

أما إذا كان المجلس ليس مجلس علم ولا ذكر ولا تلاوة قران , وإنما مجلس عادي , كأن يكون إنسان يعمل في البيت , أو يدرس أو يطالع , ففق هذه الحالة لا يجوز فتح آلة التسجيل , ورفع صوت التلاوة بحيث يصل إلى الآخرين الذين هم ليسوا مكـلفين بالسـماع , لأنهم لم يجـلسـوا له , والمسؤول هو الذي رفع صوت المسجلة وأسمع صوتها للآخرين , لأنه يُحرجُ على الناس , ويحملهم على أن يسمعوا للقران في حالة هم ليسوا مستعدين لها.

Adapun jika majlis tersebut bukan majlis ilmu, dzikir serta tilawah qur’an yakni hanya majlis biasa seperti orang yang melakukan pekerjaan di rumahnya, atau majlis belajar dan semisalnya, maka dalam kondisi seperti ini tidak boleh memutar kaset murattal dan mengeraskannya. Sebab hal ini sama saja memaksa orang lain untuk ikut mendengarkannya. Sedangkan yang menanggung dosa ialah orang yang mengeraskan kaset rekaman tersebut dan memperdengarkan suaranya itu kepada orang lain sementara mereka tidak siap mendengarnya.

وأقرب مثال على هذا : أن أحدنا يمر في الطريق , فيسمع من السمان , وبائع الفلافل , الذي يبيع أيضاً هذه الأشرطة المُسجلة ( الكاسيتات ) فقد ملأ صوت القران , وأينما ذهبت تسمع هذا الصوت , فهل هؤلاء الذين يمشون في الطريق – كل في سبيله – هم مكلفون أن ينصتوا لهذا القران الذي يُتلى في غير محله ؟! لا , وإنما المسؤول هو هذا الذي يُحرجُ على الناس , ويسمعهم صوت القران , إما للتجارة أو لإلفات نظر الناس , ونحو ذلك من المصالح المادية , فإذاً هم يتخذون القران من جهةٍ مزامير – كما جاء في بعض الأحاديث

Contoh yang berkaitan dengan masalah ini ialah ketika seseorang sedang melewati sebuah jalan, dimana jalan tersebut ia mendengar suara murattal yang berasal dari toko kaset, dan saking kerasnya suara murattal tersebut sampai ia tidak bisa menghindarinya ke manapun ia berjalan. Maka apakah semua orang yang melewati jalan tersebut wajib diam serta menyimak bacaan Al-Qur’an yang sesungguhnya bukan pada tempatnya itu? jawabannya tidak! Karena yang menanggung dosa dalam hal ini ialah yang memaksa orang lain untuk mendengarkannya. Apakah karena ia menjual kaset-kaset murattal tersebut atau bertujuan untuk menarik perhatian orang yang lalu lalang atau semisalnya. Dengan demikian mereka telah menjadikan Al-Qur’an ini seperti seruling, sebagaimana yang telah datang riwayatnya pada sebagian hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wasallam [Ash-Shahihah 979].

ثم هم يشترون بآيات الله ثمناً قليلاً في أسلوب آخر غير أسلوب اليهود والنصارى الذين قال الله عزوجل في حقهم في هذه الآية

….Kemudian mereka menjual ayat-ayat Allah dengan harga yang murah namun dengan cara yang berbeda, tidak seperti yang dilakukan Yahudi dan Nashrani, sebagaimana keadaan mereka ini telah Allah beritakan dalam firman-Nya:

اشْتَرَوْا بِآيَاتِ اللَّهِ ثَمَنًا قَلِيلًا

“Mereka menukar ayat-ayat Allah dengan harga yang murah.” [At-Taubah: 9]

[Al-’Allamah Al-Muhaddits Muhammad Nashiruddin Al-Albani dalam Kaifa Yajib ‘alaina an-Nufasirral Qur’anal Karim – Soal 4, Alih Bahasa: Fikri Abul Hasan, sumber: http://madrasahjihad.wordpress.com/2011/07/20/hukum-memutar-kaset-murattal/; simak dalam edisi bahasa Indonesia: Tanya Jawab dalam Memahami Isi Al-Qur’an]

Oleh karenanya, kalau kita dengar murattal, dengarnya pake HEADSET, kemudian DENGARKAN BAIK-BAIK, dan PERHATIKAN.. agar kita MENDAPATKAN RAHMAT.. dan TIDAK MENYERUPAI KAUM MUSYRIKIIN..

Semoga bermanfa’at

Tinggalkan komentar

Filed under Adab, al-Quran, Tafsir

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s