Jangan ganggu saudaramu, meski gangguan itu “ringan”/”kecil”

Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

Seorang Muslim itu adalah yang mana kaum muslimin selamat dari (gangguan) lisan dan tangannya.

(HR Muslim)

Dalam riwyat lain:

أَفْضَلُ اْلمُؤْمِنِينَ إِسْلاَمًا مَنْ سَلِمَ اْلمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَ يَدِهِ

“Orang mukmin yang paling baik (kualitas) keislamannya adalah orang yang kaum muslimin merasa aman dari (gangguan) lisan dan tangannya…”

(HR ath thabraniy dishahiihkan Syaikh al Albaaniy)

Tidakkah kita tahu bahwa gangguan diatas bisa bermakna ganda:

– Gangguan sampai pada taraf menzhalimi, dan inilah yang dilakukan orang-orang zhaalim dari kalangan muslimiin dan orang-orang kafir serta munafiq, yang mana lisan dan tangannya senantiasa menyakiti hati-hati kaum muslimiin.

– Dan gangguan yang “ringan”/”kecil” yang menyusahkan saudaranya. Disinilah KEBANYAKAN kaum muslimiin tidak sadar terjatuh kedalamnya!!!

Seperti men-tag seseorang di facebook sedangkan orang yang di-tag tidak meminta, dan bahkan TERGANGGU dengan notifikasi facebook (yang ia pasang di applikasi hp-nya), yang terus-terusan di-notifikasi selama ia belum mencabut tag yang diberikan. Ini bisa dikatakan BUKAN sebuah KEZHALIMAN, tapi bukankah ini GANGGUAN dan MENYUSAHKAN saudaranya?

Bisa aja orang berkata: “Kan tinggal di-remove tag-nya?”

Dijawab:

“1. Tidak setiap orang memiliki aplikasi fb yang sama di hpnya masing-masing. Ada diantara mereka yang aplikasi facebooknya di hp-nya tidak menyediakan cara untuk remove tag/unfollow post. Lantas apa setiap waktu ia harus pergi ke depan komputer untuk menghapus tag?

2. Maka selama ia belum dihapus tag-nya… Maka ia AKAN TERUUS menerima NOTIFIKASI dari fb, dari posingan yang tidak ingin ia ikuti. Bagaimana lagi kalau postingan tersebut AKTIF? Setiap komen yang masuk pada setiap menitnya akan dinotifikasikan padanya!

3. Itu kalau yang men-tagnya hanya SATU ORANG… Bagaimana kalau yang men-tag LEBIH DARI SATU ORANG ?

4. Taruhlah tag-nya bisa diremove tag-nya atau di unfollow post dari hape-nya atau dari applikasi fb dihapenya… Akan tetapi, bukankah hal ini masih termasuk MENYUSAHKAN saudara semuslim?! Bukankah ia telah menjadikan saudaranya REPOT untuk urusan yang semestinya ia tidak perlu lakukan? (kalaulah ia tidak men-tag sejak awwal. tentu gangguan dan aktifitas un-tag/un-follow semacam ini tidak akan terjadi!) jadi yang berhak mendapat nasehat siapa? yang men-tag atau yang di-tag?

5. bagaimana lagi jika tag-nya itu ada unsur MAKSIAT !!?”

Ini SALAH SATU CONTOH nyata saja… Ana ambil contoh ini berdasarkan pengalaman, dan juga berdasarkan kebanyakan dari kita menggunakan facebook, sehingga mudah dicerna…

Bukankah banyak perkara lain?!!

– Seperti BAU BADAN kita (bahkan banyak pihak yang TIDAK SADAR dirinya memiliki bau badan!!)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ أَكَلَ مِنْ هَذِهِ الشَّجَرَةِ فَلَا يَقْرَبَنَّ مَسْجِدَنَا وَلَا يُؤْذِيَنَّا بِرِيحِ الثُّومِ

“Barangsiapa yang makan dari tanaman ini, maka hendaknya dia tidak mendekati masjid kami dan tidak menggangu kami dengan bau bawang putih”

(HR. Muslim)

Dalam riwayat Nasaa-iy dengan sanad yang shahiih, disebutkan:

الثُّومِ وَالْبَصَلِ وَالْكُرَّاثِ فَلَا يَقْرَبْنَا فِي مَسَاجِدِنَا فَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ تَتَأَذَّى مِمَّا يَتَأَذَّى مِنْهُ الْإِنْسُ

” (bagi yang memakan) Bawang putih dan bawang merah, serta tumbuhan yang baunya sangat menyengat (seperti bawang), maka jangan mendekat ke masjid kami. Sesungguhnya malaikat merasa terganggu dari hal-hal yang manusia juga merasa terganggu karenanya.”

Dalam riwayat Bukhaariy:

…ditanyakan kepada Jabir (perawi riwayat ini): “Apa yang beliau maksudkan itu?” Maka Jabir menjawab, “Aku tidak melihat maksud beliau yang lain kecuali yang mentah (belum dimasak).”

Dan larangan mengganggu manusia dengna BAU TIDAK ENAK, bukan hanya didalam masjid saja (meski larangan ini LEBIH DITEKANKAN), tapi juga pada setiap tempat lainnya!

Dan bau tidak enak diatas, tidak dicukupkan dengan bawang saja, termasuk lainnya, seperti BAU BADAN… Termasuk pula juga BAU KENTUT.. Maka janganlah hal ini dijadikan candaan! Sehingga bau kentutnya mengganggu kaum muslimin!!

Maka bagaimanalagi dengan BAU ASAP ROKOK. Yang mana sudah ia melakukan keharaman (karena merokok), ia pun mengganggu saudaranya, bahkan MENEBAR PENYAKIT (dengan dihirupnya asap rokok tersebut oleh orang sekitarnya!!) Ingatlah dalam SETIAP asap rokok yang engkau hirup dan engkau buang (yang mana ini dihirup lagi orang sekitarmu, dan ini lebih besar dosanya), maka engkau mendapatkan dosa darinya!! Engkau mendapatkan dosa menzhalimi dirimu sendiri dan menzhalimi orang lain! Tidakkah engkau sadar dengan satu alasan ini saja?!

– Seperti pula suara/obrolan kita (baik secara langsung/tidak langsung) mengganggu saudara disamping kita?

Rasuulullaah bersabda:

وَلاَ يَجْهَرْ بَعْضُكُمْ عَلَي بَعْضٍ بِالْقُرْآنِ

Dan janganlah sebagian kamu mengeraskan (bacaan) al-Qur’ân atas yang lain.

[Dishahîhkan al-Albâni dalam Shahîhul Jâmi’ no:1951]

Syaikhul Islam berkata,

“Dari sini tidak boleh bagi seorang pun mengeraskan bacaan Al Qur’an-nya sehingga menyakiti saudaranya yang lain seperti menyakiti saudara-saudaranya yang sedang shalat.”

(Lihat Majmu’ Al Fatawa, 23/64; copas dari rumaysho)

Berkata Al-Baji:

“Karena hal itu dapat mengganggu dan menghalangi orang yang sedang serius melaksanakan shålat, mengganggu kesunyiannya (keheningannya); dan (menganggu) konsentrasi untuk memunajatkan al-Qur-aan kepada Råbbnya.

Jika mengeraskan bacaan al-Qur-aan tidak boleh, karena dapat menganggu orang yang sedang shålat, maka berbicara keras dengan omongan yang lain lebih terlarang”

Berkata Ibnu ‘Abdil Barr:

” Jika umat Islam dilarang mengganggu muslim lainnya dengan perkataan/perbuatan yang baik (seperti) membaca al-qur’an. maka mengganggunya dengan hal lain hukumnya sangat haram”

[Sumber: “Dari Takbiratul Ihram Hingga Salam” (Terjemahan bahasa indonesia dari shifat shålat nabiy karya syaikh al-albaniy) Dalam BAB: “Wajib membaca saat siir” hlm. 233, Cet. 1]

Berkata Syaikh al Albaaniy:

أما إذا كان المجلس ليس مجلس علم ولا ذكر ولا تلاوة قران , وإنما مجلس عادي , كأن يكون إنسان يعمل في البيت , أو يدرس أو يطالع , ففق هذه الحالة لا يجوز فتح آلة التسجيل , ورفع صوت التلاوة بحيث يصل إلى الآخرين الذين هم ليسوا مكـلفين بالسـماع , لأنهم لم يجـلسـوا له , والمسؤول هو الذي رفع صوت المسجلة وأسمع صوتها للآخرين , لأنه يُحرجُ على الناس , ويحملهم على أن يسمعوا للقران في حالة هم ليسوا مستعدين لها.

Adapun jika majlis tersebut bukan majlis ilmu, dzikir serta tilawah qur’an yakni hanya majlis biasa seperti orang yang melakukan pekerjaan di rumahnya, atau majlis belajar dan semisalnya, maka dalam kondisi seperti ini tidak boleh memutar kaset murattal dan mengeraskannya. Sebab hal ini sama saja memaksa orang lain untuk ikut mendengarkannya. Sedangkan yang menanggung dosa ialah orang yang mengeraskan kaset rekaman tersebut dan memperdengarkan suaranya itu kepada orang lain sementara mereka tidak siap mendengarnya.

[Al-’Allamah Al-Muhaddits Muhammad Nashiruddin Al-Albani dalam Kaifa Yajib ‘alaina an-Nufasirral Qur’anal Karim – Soal 4, Alih Bahasa: Fikri Abul Hasan, sumber: http://madrasahjihad.wordpress.com/; simak dalam edisi bahasa Indonesia yang berjudul: “Tanya Jawab dalam Memahami Isi Al-Qur-aan”]

Bagaimana lagi dengan lisan-lisan yang nyata-nyata menyakiti kaum muslimin?!

Ditatanyakan kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, apakah ghibah itu?”

Beliau menjawab:

ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ

“Kamu menyebutkan tentang temanmu dengan sesuatu yang ia benci.”

Ia bertanya lagi, “Bagaimana sekiranya apa yang kukatakan memang benar?”

Beliau menjawab:

أَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِيهِ مَا أَقُولُ قَالَ إِنْ كَانَ فِيهِ مَا تَقُولُ فَقَدْ اغْتَبْتَهُ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيهِ مَا تَقُولُ فَقَدْ بَهَتَّهُ

“Jika memang apa yang kamu katakan itu benar, maka sungguh kamu telah mengghibahnya, namun jika apa yang kamu katakan itu tidak benar, maka sungguh kamu telah mengadakan BUHTAN (menyebarkan berita dusta, dan ini JAUH LEBIH BESAR dosanya, -az).”

(HR Tirmidziy, dan beliau berkata; Ini adalah hadits hasan shahih)

Tentang ghibah Rasuulullaah bersabda:

لَقَدْ قُلْتِ كَلِمَةً لَوْ مُزِجَتْ بِمَاءِ الْبَحْرِ لَمَزَجَتْهُ

“Sungguh, engkau telah mengatakan sesuatu yang sekiranya ucapan itu dicampurkan dengan air laut, niscaya kata-kata itu akan larut dan mengubah warnanya.”

(HR Abu Dawud dan selainnya, shahiih)

Jika sampai MERUSAK KEHORMATAN, maka beliau bersabda:

إِنَّ مِنْ أَرْبَى الرِّبَا الاِسْتِطَالَةَ فِي عِرْضِ الْمُسْلِمِ بِغَيْرِ حَقٍّ

Sesungguhnya termasuk RIBA’ yang paling parah adalah mengulurkan lisan terhadap kehormatan seorang muslim tanpa hak

(HR Abu Dawud, dishahiihkan syaikh al Albaaniy)

Dalam lafazh lain:

الرِبَا ثَلاَثَةٌ وَسَبْعُوْنَ بَابًا أيْسَرُهَا مِثْلُ أَنْ يَنْكِحَ الرُّجُلُ أُمَّهُ وَإِنْ أَرْبَى الرِّبَا عِرْضُ الرَّجُلِ الْمُسْلِمِ

“Riba itu ada 73 pintu (dosa). Yang PALING RINGAN (dosanya) adalah semisal dosa seseorang yang menzinai ibu kandungnya sendiri. Sedangkan riba yang paling besar adalah apabila seseorang melanggar kehormatan saudaranya.”

(HR. Al Hakim dan Al Baihaqi;. Syaikh Al Albani berkata: “shahiih, dengan jalan yang lain”)

Berkata Rasulullah shallallahu ‘alihi wa sallam, tentang orang yang riba, sedangkan ia sudah tahu apa yang dilakukannya adalah riba, dan ia tahu besarnya dosa riba:

دِرْهَمُ رِبَا يَأْكُلُهُ الرَّجُلُ وَهُوَ يَعْلَمُ، أَشَدُّ عِنْدَ اللهِ مِنْ سِتَّةٍ وَ ثَلاَثِيْنَ زِنْيَةً

“Satu dirham karena hasil riba yang dimakan oleh seseorang padahal dia tahu, lebih berat di sisi Allah dibandingkan tiga puluh perzinahan.”

(HR Ahmad dan Thabraniy, dishahiihkan syekh al albaaniy)

Dan tahukah engkau apa itu namiimah?! Sebelumnya, engkau harus tahu.. Bahwa sekarang ini, kebanyakan kaum muslimin tanpa mereka sadari mereka telah banyak melakukan namiimah! Tahukah engkau… jika engkau menyampaikan ghibah seseorang kepada yang di-ghibahinya, maka engkau telah berbuat namiimah?! Ya.. Itulah namimah! Meskipun engkau tidak berniat meng-adu domba mereka, tapi pada hakekatnya engkau telah berbuat namimah (adu-domba)!

Simaklah perkataan Imam Nawawiy berikut:

“Dan setiap orang yang disampaikan kepadanya perkataan namimah, dikatakan kepadanya: “Fulan telah berkata tentangmu begini begini. Atau melakukan ini dan ini terhadapmu,” maka hendaklah ia melakukan enam perkara berikut:

1. Tidak membenarkan perkataannya. Karena tukang namimah adalah orang fasik.

2. Mencegahnya dari perbuatan tersebut, menasehatinya dan mencela perbuatannya.

3. Membencinya karena Allah, karena ia adalah orang yang dibenci di sisi Allah. Maka wajib membenci orang yang dibenci oleh Allah.

4. Tidak berprasangka buruk kepada saudaranya yang dikomentari negatif oleh pelaku namimah (karena tidak boleh kita berprasangka buruk, melainkan dengan QARINAH YANG KUAT, adapun hanya berdasarkan “qiila wa qool” maka ini bukan qarinah yang kuat, -az).

5. Tidak memata-matai atau mencari-cari aib saudaranya dikarenakan namimah yang didengarnya.

6. Tidak membiarkan dirinya ikut melakukan namimah tersebut, sedangkan dirinya sendiri melarangnya.

Dan Janganlah ia menyebarkan perkataan namimah itu dengan mengatakan, “Fulan telah menyampaikan padaku begini dan begini.” Dengan begitu ia telah menjadi tukang namimah karena ia telah melakukan perkara yang dilarang tersebut…”

(Copas dari muslimah.or.id)

para ulama mengatakan tentang pelaku namiimah, “seakan-akan orang tersebut membawakan pedang dari seseorang, kemudian datang kepada kita, lantas menusukkan kita dengan pedang tersebut..” yaitu ia bagaikan uluran tangannya pemegang pedang tersebut dan memang ia telah menjadi uluran tangan peng-ghibah, dengan menyampaikan ghibahnya..

Dan ketahuilah! Bahwa Allah telah mencelanya sebagaimana dalam firmanNya:

وَلَا تُطِعْ كُلَّ حَلَّافٍ مَهِينٍ . هَمَّازٍ مَشَّاءٍ بِنَمِيمٍ

Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina, yang banyak mencela, yang kian ke mari menghambur fitnah (namiimah)

(QS al Qalam:10-11)

Hudzayfah mendapatkan laporan tentang adanya seseorang yang suka melakukan namimah… maka beliau mengatakan bahwa beliau mendengar Rasulullah
bersabda,

لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ نَمَّامٌ

“Nammaam (orang yang melakukan namimah) itu tidak akan masuk surga”

(HR Muslim)

Maka bagaimana lagi jika sembarangan MEM-FASIQ-kan kaum muslimin? atau bahkan mengkafirkan seseorang yang tidak berhak menerimanya?!

Bersabda Rasuulullaah:

لَا يَرْمِي رَجُلٌ رَجُلًا بِالْفُسُوقِ وَلَا يَرْمِيهِ بِالْكُفْرِ إِلَّا ارْتَدَّتْ عَلَيْهِ إِنْ لَمْ يَكُنْ صَاحِبُهُ كَذَلِكَ

“Tidaklah seseorang melempar tuduhan kepada orang lain dengan kefasikan, dan tidak pula menuduh dengan kekufuran melainkan (tuduhan itu) akan kembali kepadanya, jika saudaranya tidak seperti itu.”

(HR. Bukhariy)

Semoga Allah melindungi diri kita dari lisan-lisan yang buruk!!!

– Seperti pula gerakan-gerakan kita (yang secara tidak langsung) mengganggu saudara disamping kita?

Terkadang kita melakukan gerakan-gerakan yang dapat mengganggu saudara kita, seperti kita dibus, banyak melakukan gerakan-gerakan yang tidak penting, sehingga menyusahkan saudara kita yang bersampingan dengan kita.

Bagaimana lagi jika gerakan yang kita lakukan MENYAKITI saudara kita!? Maka ini kezhaliman! Bagaimana lagi jika sampai MELUKAI saudara kita?! maka ini lebih besar lagi kezhalimannya (dan bertambah besar sebagaimana kerusakan yang diakibatkannya) Bagaimana lagi jika sampai MEMBUNUH saudara kita?! (maka ini DOSA BESAR yang PALING BESAR!!) Maka apakah Islaam membenarkan BOM BUNUH DIRI??!!! Dustaa.. Sungguh Dustaa.. Mereka yang menisbatkan bom bunuh diri kepada Islaam.. Dan Rugi.. sungguh merugi… seseorang yang berjihad, dengan cara yang mungkar.. yang bahkan dapat membunuh saudaranya sendiri!! lalu ia mengatasnamakan aksinya dengan “jihad”!!??

Maka semoga Allah memberikan taufiq kepada kita, agar TANGAN DAN LISAN kita tidak mengganggu apalagi sampai menzhalimi sesama muslim.. aamiin..

Tinggalkan komentar

Filed under Akhlak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s