Jangan remehkan amalan apapun

Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ اْلأَذَى عَنِ الطَّرِيْقِ

dan (cabang keimanan) YANG PALING RENDAH adalah menyingkirkan duri (gangguan) dari jalan.

(HR Bukhariy (dalam adabul mufrad), Muslim, dan selainnya)

Tapi beliau juga PERNAH BERSABDA:

بَيْنَمَا رَجُلٌ يَمْشِى بِطَرِيقٍ وَجَدَ غُصْنَ شَوْكٍ عَلَى الطَّرِيقِ فَأَخَّرَهُ ، فَشَكَرَ اللَّهُ لَهُ ، فَغَفَرَ لَهُ

“Tatkala ada seseorang berjalan di sebuah jalan maka ia mendapati dahan berduri di tengah jalan, maka iapun MENJAUHKAN DAHAN BERDURI tersebut maka Allah berterima-kasih kepadanya, dan Dia pun MENGAMPUNInya”

(Bukhariy, Muslim dan selainnya)

Benarlah sabda beliau:

لاَ تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوْفِ شَيْئًا وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلِقْ

“Janganlah engkau menyepelakan kebaikan sedikitpun, meskipun hanya senyuman tatkala bertemu dengan saudaramu”

(HR Muslim)

Karena jika engkau mengamalkannya dengan keikhlashan yang sempurna, maka nilainya BESAR disisi Allaah! (yang mana kita bisa mendapatkan pahala yang besar, dan bisa pula menghapuskan dosa-dosa kita, yang bisa saja menghapuskan dosa besar, jika keikhlashannya sempurna!!)

Sebagaimana pula sabda beliau:

اتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ

“Selamatkanlah diri kalian dari neraka walau hanya melalui sedekah dengan sebelah kurma”

(HR. Bukhari no. 1417)

Yaitu sedekah dengan SEBELAH KORMA, adalah amalan yang mungkin kita ANGGAP KECIL/RINGAN.. Tapi bisa menyelamatkan kita dari adzab neraka!! Apabila kita mengamalkannya dengan keikhlashan yang SEMPURNA!

Dan ketahuilah pula, Allah Mampu untuk MENIADAKAN AMALAN KURBAN (yang ini merupakan amalan besar), jika dilakukan dengan cara:

– multi-sesembahan (yaitu dipersembahkan kepadaNya dan juga kepada selainNya)

– atau multi-niat (yaitu diniatkan karenaNya, tapi diniatkan pula untuk mendapatkan pujian/sanjungan atau tujuan duniawi lainnya)

Allah berfirman:

لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُ

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali TIDAK DAPAT MENNGGAPAI (keridhaan) Allah, tetapi KETAQWAAN dari kamulah yang dapat mencapainya.”

(Qs. Al Hajj: 37)

Maka benarlah pula perkataan Imaam Ibnul Mubaarak:

رُبَّ عملٍ صغيرٍ تعظِّمهُ النيَّةُ ، وربَّ عمل كبيرٍ تُصَغِّره النيَّةُ

“Betapa banyak amal yang kecil menjadi bernilai besar karena niat, dan betapa banyak amalan besar yang menjadi bernilai kecil [atau bahkan RUSAK/TIDAK DIANGGAP, -az] karena niat”

(Jaami’ul ‘Uluum wal Hikam hal 13; copas dari ustadz firanda)

Sebaliknya MAKSIAT SEKECIL APAPUN, jika dilakukan dengan PEREMEHAN.. maka akan menjadi sebab dihapuskannya amalan kita dan dituliskan bagi kita sebuah DOSA BESAR..

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لَأَعْلَمَنَّ أَقْوَامًا مِنْ أُمَّتِي يَأْتُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِحَسَنَاتٍ أَمْثَالِ جِبَالِ تِهَامَةَ بِيضًا فَيَجْعَلُهَا اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ هَبَاءً مَنْثُورًا

Aku benar-benar melihat diantara umatku pada hari Kiamat nanti, ada yang datang dengan membawa kebaikan sebesar gunung di Tihamah yang putih, lalu Allah menjadikannya seperti kapas berterbangan…

Tsauban bertanya, Ya Rasulullah, jelaskan kepada kami siapa mereka itu agar kami tidak seperti mereka sementara kami tidak mengetahui!

Beliau bersabda,

أَمَا إِنَّهُمْ إِخْوَانُكُمْ وَمِنْ جِلْدَتِكُمْ وَيَأْخُذُونَ مِنْ اللَّيْلِ كَمَا تَأْخُذُونَ وَلَكِنَّهُمْ أَقْوَامٌ إِذَا خَلَوْا بِمَحَارِمِ اللَّهِ انْتَهَكُوهَا

Mereka adalah saudara-saudara kalian dan sebangsa dengan kalian, mereka juga bangun malam seperti kalian, akan tetapi apabila mendapat kesempatan untuk berbuat dosa, mereka melakukannya

(HR. Ibnu Majah, disahihkan oleh Syaikh Al-Bany dalam Silsilatul Ahaadits Shahihah No,505)

Dijelaskan ustadz badrusalam dalam silsilah ahaadiits ash shahiihah:

Ada dua keadaan orang yang bermaksiat dalam kesendiriannya:

– Orang yang berbuat maksiat, dengan meremehkan maksiat yang dilakukan tersebut, dan tidak ada rasa takutnya sama sekali kepada Allah.

Maka ini dosanya besar (yaitu dikarenakan peremehan terhadap maksiat, dan tidak adanya rasa takut kepada Allah, sengaja dan berani memaksiati Allah tanpa ada rasa takut padaNya, disinilah dosa tersebut menjadi besar)… dan inilah yang dimaksudkan dalam hadits diatas (yaitu: dihapuskan pahala seorang yang segunung)

– Orang yang berbuat maksiat, karena ketergelinciran, yang ketika melaksanakan maksiat tersebut tertanam rasa takut dalam dirinya, karena ia tahu bahwa Allah menyaksikannya ketika ia bermaksiat; sehingga setelah ia mengamalkannya, maka ia banyak-banyak beristighfar dan bertaubat kepadaNya..

Maka ini tidak termasuk orang-orang yang diancamkan dalam hadits ini.

[Faidah dari Ustadz Badrusalam, dalam kajian Silsilah al Ahaadiits ash Shahiihah]

Bahkan bisa menjadikan KITA MUSYRIK.. sekecil apapun “ibadah” yang kita kerjakan, yang kita persembahkan kepada selainNya…

Berkata SALMAAN al farisiy radhiyallaahu ‘anhu:

“Ada orang yang masuk surga karena seekor lalat dan ada yang masuk neraka karena seekor lalat,…

ada dua orang yang melewati (daerah) suatu kaum yang sedang bersemedi (menyembah) berhala mereka dan mereka mengatakan,

‘Tidak ada seorangpun yang boleh melewati (daerah) kita hari ini kecuali setelah dia mempersembahkan sesuatu (sebagai kurban/tumbal untuk berhala kita).’

Maka, mereka berkata kepada orang yang pertama, ‘Kurbankanlah sesuatu (untuk berhala kami)!’ Tapi, orang itu enggan –dalam riwayat lain: orang itu berkata, ‘Aku tidak akan berkurban kepada siapapun selain Allah Subhanahu wa Ta’ala’–, maka diapun dibunuh (kemudian dia masuk surga).

Lalu, mereka berkata kepada orang yang kedua, ‘Kurbankanlah sesuatu (untuk berhala kami)!’, -dalam riwayat lain: orang itu berkata, ‘Aku tidak mempenyai sesuatu untuk dikurbankan.’

Maka mereka berkata lagi, ‘Kurbankanlah sesuatu meskipun (hanya) seekor lalat!’, orang itu berkata (dengan meremehkan), ‘Apalah artinya seekor lalat,’, lalu diapun berkurban dengan seekor lalat, –dalam riwayat lain: maka merekapun mengizinkannya lewat– kemudian (di akhirat) dia masuk neraka.

(HR Ahmad, shahiih mawquf, copas dari muslim.or.id)

Tinggalkan komentar

Filed under Aqidah, Ibadah, Tauhid Uluhiyyah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s