Mendapati kesalahan dalam diri orang lain

Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

لاَ يَفْرَكْ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً إِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِىَ مِنْهَا آخَرَ

“Janganlah seorang mukmin membenci seorang mukminah. Jika si pria tidak menyukai suatu akhlak pada si wanita, maka hendaklah ia melihat sisi lain yang ia ridhai”

(HR. Muslim)

Jangan sampai hanya karena satu perbuatan yang kita tidak ridhai darinya menjadikan kita melupakan kebaikan yang dominan darinya!

Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

إِذَا بَلَغَ الْمَاءُ قُلَّتَيْنِ لَمْ يُنَجِّسْهُ شَىْءٌ

“Jika air telah mencapai dua qullah, maka tidak ada sesuatupun yang menajiskannya.”

(HR. Ibnu Majah dan Ad Darimi)

Sebagian ulamaa’ berdalil dengan hadits diatas, barangsiapa yang dominan padanya kebaikan (dan memang dikenal berada diatas kebenaran), maka beberapa keburukan yang ada pada dirinya TIDAKLAH menjadikan segala kebaikan yang ada padanya tidak dianggap.

Bahkan Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam MENCELA AKHLAQ BURUK yang biasa dimiliki WANITA:

ورأيت النار فلم أر منظرا كاليوم قط ورأيت أكثر أهلها النساء

“Dan aku melihat neraka maka tidak pernah aku melihat pemandangan seperti ini sama sekali, aku melihat kebanyakan penduduknya adalah kaum WANITA.

قالوا: بم يا رسول الله ؟

Shahabat pun bertanya, ‘Mengapa (demikian) wahai Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam?’

قال بكفرهن

Beliau shalallahu ‘alaihi wassalam menjawab, ‘Karena kekufuran mereka.’

قيل أيكفرن بالله ؟

Kemudian ditanya lagi, ‘Apakah mereka kufur kepada Allah?’

قال: يكفرن العشير ويكفرن الإحسان لو أحسنت إلى إحداهن الدهر كله ثم رأت منك ما تكره قالت ما رأيت منك خيرا قط

Beliau menjawab, ‘Mereka kufur terhadap suami mereka, kufur terhadap kebaikan-kebaikannya. Kalaulah engkau berbuat baik kepada salah seorang di antara mereka selama waktu yang panjang kemudian dia melihat sesuatu pada dirimu (yang tidak dia sukai) niscaya dia akan berkata: ‘Aku tidak pernah melihat sedikitpun kebaikan pada dirimu.’ ”

(HR. Bukhariy)

Maka jangan sampai kita (khususnya LELAKI) memiliki sifat “WANITA yang BURUK AKHLAQnya”…

Bagaimana lagi jika sampai ia menyandarkan sesuatu (kesalahan) yang justru TIDAK DIMILIKI oleh orang yang disandarkan tersebut (hanya karena ia bermodalkan QIILA WA QAAL)?!!

Tinggalkan komentar

Filed under Akhlak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s