Syubhat Sekularis/Liberalis : “Yang berhak menghilangkan nyawa hanyalah Allah”

Mereka (yang terjangkiti pemahaman liberal-sekule) biasa membawakan kalimat diatas ketika sedang membicarakan qishash. Pada asalnya kalimat ini “terlihat baik” namun sayangnya yang diinginkan adalah kejelekan, bahkan kekufuran, yaitu penolakan akan qisaash.

Maka kita menjawab:

Allah yang memiliki hak untuk mengambil nyawa hambaNya TELAH MEWAJIBKAN dan MENETAPKAN sebagai hukum yang harus ditaati oleh orang-orang yang beriman kepadaNya untuk menegakkan qishaash!!!

Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِصَاصُ فِي الْقَتْلَى الْحُرُّ بِالْحُرِّ وَالْعَبْدُ بِالْعَبْدِ وَالْأُنثَىٰ بِالْأُنثَىٰ

Hai orang-orang yang BERIMAN, DIWAJIBKAN atas kamu qishaash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh; orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba, dan wanita dengan wanita.

(Al Baqarah: 179)

Al-Imam al-Quthubi mengatakan,

“Para ulama TELAH BERSEPAKAT bahwa qishash tidaklah ditegakkan melainkan oleh penguasa.

Mereka diperintah menegakkan qishash, dan hukuman-hukuman yang lain.

Hal ini karena Allah berbicara (memerintahkan) agar hukum qishash diberlakukan kepada seluruh kaum muslimin.

Kemudian Allah tidak mempersiapkan kaum muslimin seluruhnya untuk berkumpul, melaksanakan (menegakkan) hukum qishash.

Akan tetapi, mereka menunjuk (menyerahkan) kepada penguasa untuk menegakkan hukum qishash dan hukuman-hukuman yang lain.”

(Tafsir al-Qurthubi, 2/245—256)

Beliau juga berkata:

“Demikian pula, telah disepakati oleh para ulama bahwa apabila seorang penguasa melakukan tindakan pembunuhan atau penganiayaan terhadap rakyatnya, maka dia (wajib berlaku adil, dengan) mengqishash dirinya karena ia termasuk bagian dari mereka.

Hanya saja, ada sisi perbedaan jika ditinjau dari sisi bahwa mereka (penguasa) adalah sebagai wakil rakyat. Namun, jika dilihat dari sisi lain, bahwa mereka pun adalalah bagian individu dari masyarakat, dan tidak ada perbedaan dalam penerapan hukum-hukum Allah”

(Idem)

Allah berfirman:

وَكَتَبْنَا عَلَيْهِمْ فِيهَا أَنَّ النَّفْسَ بِالنَّفْسِ وَالْعَيْنَ بِالْعَيْنِ وَالْأَنفَ بِالْأَنفِ وَالْأُذُنَ بِالْأُذُنِ وَالسِّنَّ بِالسِّنِّ وَالْجُرُوحَ قِصَاصٌ

Dan Kami telah tetapkan terhadap mereka di dalamnya (At Taurat) bahwasanya jiwa (dibalas) dengan jiwa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka luka (pun) ada qishaashnya.

فَمَن تَصَدَّقَ بِهِ فَهُوَ كَفَّارَةٌ لَّهُ

Barangsiapa yang melepaskan (hak qishaash)nya, maka melepaskan hak itu (menjadi) penebus dosa baginya.

وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ اللَّهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang ZHALIM.

(Al Maa-idah: 45)

Qatadah berkata,

“Dahulu yang berlaku bagi para pengikut Taurat adalah qishash dan pemaafan, tidak ada diyat (membayar denda).

Adapun bagi para pengikut Injil hanya berlaku pemaafan.

Adapun bagi umat ini (yaitu kaum muslimiin), maka Allah menetapkan hukum adanya qishash, pemaafan dan diyat.”

Berkata Imaam Ibnu Katsiir:

Demikian pula, dalam qishash pun, keadilan masih tetap diperhatikan. Artinya, orang yang merdeka dengan orang yang merdeka, budak dengan budak, dan wanita dengan wanita.

(lihat Tafsir Ibnu Katsir 1/489)

Demikian pula PERINTAH RASUULULLAAH shallallaahu ‘alayhi wa sallam:

لَا يَحِلُّ دَمُ امْرِئٍ مُسْلِمٍ يَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَنِّي رَسُولُ اللهِ إِلَّا بِإِحْدَى ثَلَاثٍ؛

“Darah seorang muslim yang bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selain Allah dan bersaksi bahwa aku adalah Rasulullah, tidak boleh ditumpahkan melainkan karena tiga hal:

النَّفْسُ بِالنَّفْسِ

jiwa dibalas dengan jiwa,

وَالثَّيِّبُ الزَّانِي

orang yang telah menikah yang melakukan zina,

وَالْمَارِقُ مِنْ الدِّينِ التَّارِكُ لِلْجَمَاعَةِ

orang yang murtad dari Islam dan (orang yang) meninggalkan persatuan bersama jama’ah kaum muslimin (yaitu memberontak terhadap penguasa yang sah).”

(Muttafaqun ‘alaih)

Allah berfirman akan hikmahnya:

وَلَكُمْ فِي الْقِصَاصِ حَيَاةٌ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Dan dalam qishaash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, hai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertakwa.

(Al Baqarah: 179)

Mujahid berkata,

“Maknanya adalah suatu (siksaan atau hukuman) yang dijadikan peringatan bagi orang lain.”

Qatadah mengatakan,

“Yaitu hukuman dan peringatan bagi manusia yang kurang berakal dan bodoh.”

Ar-Rabi’ berkata,

“Sebagai ibrah (pelajaran/peringatan).”

Ibnu Juraij mengatakan,

“Yaitu sebagai kekuatan pencegahan.”

Abu Shalih, as-Suddi, ats-Tsauri, dan Ibnu Zaid mengatakan,

“Maknanya adalah ketetapan dan kekekalan.”

Adh-Dhahhak mengatakan, “Yaitu kebaikan dan keadilan.”

[Lihat Tafsir ath-Thabari (3/381—383)]

Al-Alusi berkata dalam tafsirnya, Ruhul Ma’ani (2/1130), mengatakan,

“Makna qishash sebagai jaminan kelangsungan hidup adalah kelangsungan hidup di dunia dan di akhirat.

Jaminan kelangsungan hidup di dunia telah jelas karena dengan disyariatkannya qishash berarti seseorang akan takut melakukan pembunuhan.

Dengan demikian, qishash menjadi sebab berlangsungnya hidup jiwa manusia yang sedang berkembang.

Adapun kelangsungan hidup di akhirat adalah berdasarkan alasan bahwa orang yang membunuh jiwa dan dia telah diqishash di dunia, kelak di akhirat ia tidak akan dituntut memenuhi hak orang yang dibunuhnya.”

Berkata Imaam asy Syanqithiy:

“Tidak diragukan bahwa ini adalah cara yang paling adil dan paling lurus.

Oleh karena itu, telah disaksikan di seluruh daerah di muka bumi ini, baik masa dahulu maupun sekarang, jumlah pembunuhan di negeri yang menerapkan hukum Allah (Islam) sedikit.

Hal ini karena hukum qishash menjadi sebab penghalang terjadinya pembunuhan, sebagaimana yang disebutkan Allah pada ayat di atas.

Adapun pernyataan yang diucapkan oleh musuh-musuh Islam bahwasanya qishash tidak sesuai dengan hikmah—karena mengandung unsur yang membuat kegelisahan dan kerisauan bagi sebagian masyakat dengan dibunuhnya pelaku pembunuhan—sehingga hukuman yang sepantasnya (diberikan kepada pelaku pembunuhan) bukanlah qishash, namun dipenjara saja. Menurut mereka, dengan dipenjara bisa jadi akan lahir darinya seorang anak sehingga bertambahlah jumlah jiwa penduduk.

Akan tetapi, semua itu adalah pendapat yang keliru dan salah. Tidak ada hikmahnya sama sekali.

Hukuman penjara tidak akan menjadi sebab yang akan menghalangi seorang melakukan pembunuhan. Jika demikian halnya, pembunuhan akan semakin banyak karena perbuatan orang-orang yang jelek budinya. Hasilnya, jumlah penduduk justru berkurang berlipat ganda akibat pembunuhan yang merajalela.”

(Adhwa’ul Bayan, 3/285)

[dinukil dari artikel website majalah asysyariah: “Qishash Jamiman Keberlangsungan Hidup Manusia“]

Tinggalkan komentar

Filed under Ahkam, Aqidah, Syubhat & Bantahan, Tauhid Uluhiyyah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s