Agar shalat menjadi baik

Menyadari bahwa ketika kita shalat, bahwa kita DILIHAT ALLAAH!

Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

يَا فُلَانُ أَلَا تُحَسِّنُ صَلَاتَكَ أَلَا يَنْظُرُ الْمُصَلِّي كَيْفَ يُصَلِّي لِنَفْسِهِ

‘Wahai Fulan, kenapa engkau tidak membaguskan shalatmu? Kenapa orang yang shalat itu tidak mau intropeksi bagaimana ia mengerjakan shalat untuk dirinya?

Dalam riwayat lain:

أَلا تَتَّقِي اللَّهَ ؟ أَلا تَنْظُرُ كَيْفَ تُصَلِّي ؟ إِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا قَامَ يُصَلِّي إِنَّمَا يَقُومُ يُنَاجِي رَبَّهُ فَلْيَنْظُرْ كَيْفَ يُنَاجِيهِ

Tidakkah engkau bertaqwa kepada Allaah?! Tidakkah engkau memperhatikan bagaimana caramu shalat?! Sesungguhnya jika salah seorang dari kalian berdiri ketika shalat, maka dia sedang berdiri bermunajat kepada Rabbnya! maka hendaknya dia memperhatikan bagaimana dia bermunajat kepadaNya!

(Shahiih; Diriwayatkan oleh Ahmad, Muslim, an-Nasaa-iy, Ibnu Khuzaimah dalam shahiihnya, al-Hakim dalam shahiihnya; dan selainnya)

[baca lebih lengkapnya artikel: “Perhatikanlah shalatmu!“]

Menanamkan dalam hati bahwa bisa jadi ini merupakan shalat yang terakhir kita laksanakan

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا قُمْتَ فِي صَلَاتِكَ فَصَلِّ صَلَاةَ مُوَدِّعٍ

“Kalau engkau hendak mengerjakan shalat, maka shalatlah seperti shalatnya orang yang hendak meninggalkan (dunia)…”

(Hasan. Dikeluarkan oleh Ahmad (5/412), Ibnu Majah(4171), Abu Nu’aim dalam Al Hilyah (1/462) Al Mizzi (19/347) dan Lihat Ash Shahihah (401); kutip dari muslimah.or.id)

Dalam riwayat lain:

اذكرِ الموتَ فى صلاتِك فإنَّ الرجلَ إذا ذكر الموتَ فى صلاتِهِ فَحَرِىٌّ أن يحسنَ صلاتَه وصلِّ صلاةَ رجلٍ لا يظن أنه يصلى صلاةً غيرَها

“Ingatlah kematian dalam shalatmu karena jika seseorang mengingat mati dalam shalatnya, maka ia akan memperbagus shalatnya. Shalatlah seperti shalat orang yang tidak menyangka bahwa ia masih punya kesempatan melakukan shalat yang lainnya”

(HR. Ad Daylamiy dalam musnad Al Firdaus. Hadits ini hasan sebagaimana kata Syaikh Al Albani; kutip dari rumaysho.com)

Berkata Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullaah:

“Sudah dimaklumi bahwa orang yang akan meninggal dunia akan berusaha dengan sunguh-sunguh mencurahkan segenap daya upayanya, bahkan selalu dalam keadaan mengingat pengertian-pengertian dan sebab yang kuat, sehingga mudahlah semua urusannya, lalu itu menjadi kebiasaannya.

Shalat dengan cara seperti itu akan mencegah pelakunya dari semua akhlak yang rendah dan mendorongnya berhias dengan akhlak yang menarik, karena hal itu akan memberi pengaruh dalam jiwanya, yaitu bertambahnya iman, cahaya, dan kegembiraan hati, serta kecintaan yang sempurna terhadap kebaikan…”

(Dikutip muslimah.or.id, dari Buku Mutiara Hikmah Penyejuk Hati, Syarah 99 Hadits Pilihan; Buku terjemahan dari Kitab Bahjatul Qulubil Abrar Qurratul Uyunil Akhyar fi Syarhi Jawami’il Akhbar karya Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’diy)

Tinggalkan komentar

Filed under Dzikir, Dzikrul Maut, Ibadah, Shålat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s