Sekali lagi tentang “Bid’ah Hasanah”

Tidak henti-hentinya PARA PENCINTA BID’AH membuat penyelewengan dalam syari’at dengan mencomot ayat, hadits, atsar dan perkataan ulamaa’ tidak sebagaimana apa yang dimaui mereka[1. Simak: http://abuzuhriy.com/janganlah-biasakan-asal-comot-ayathaditsatsarfatwa/]. Sampai-sampai ada yang berkata: “Kalau setiap bid’ah adalah sesat. Maka sesat dong, para pembuat mobil, jam tangan, pesawat, dsb”[2. Simak: http://rumaysho.com/belajar-islam/jalan-kebenaran/2940-mengenal-bidah-4-benarkah-hp-dan-pesawat-termasuk-bidah.html]; “Kalau setiap bid’ah adalah sesat. Maka sesat dong, para shahabat yang telah mengumpulkan al Qur-aan”[3. Dan hal ini sudah dijelaskan oleh Ustadz Firanda, dalam artikel beliau: http://firanda.com/index.php/artikel/bantahan/308-syubhat-syubhat-para-pendukung-bid-ah-hasanah-syubhat-kelima] !!?

Bukan pada dua kalimat diatas tujuan dituliskan artikel ini, tapi pada KESALAHPAHAMAN kaum tersebut dalam memahami bid’ah. Berikut kami paparkan TIGA POINT, yang mana hendaknya direnungi oleh para pengusung bid’ah hasanah tersebut dengan hati yang jernih, dan niat yang ikhlash, sehingga semoga ia diberikan taufiq Oleh Allaah dengan sebab itu.

1. Setiap perkara dalam syari’at, memiliki DUA DEFINISI

Contohnya shalat. Ia memiliki definisi secara BAHASA, dan secara ISTILAH.

Adapun secara bahasa, adalah DOA.

Adapun secara istilah adalah “suatu amal ibadah yang terdiri dari perkataan-perkataan dan perbuatan-perbuatan yang dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam dengan syarat-syarat dan rukun-rukun tertentu”

(Lihat Al-Fiqhu ‘Alal Madzhabil Arba’ah, 1/160, Subulus Salam, 1/169, Asy-Syarhul Mumti’, 1/343, Taudhihul Ahkam, 1/469, Taisirul ‘Allam, 1/109)

Jadi jangan sampai kita berpemikiran LIBERAL, yang menyamaratakan antara definisi bahasa dan istilah. Sehingga sampai ada yang berkata, “kalau seseorang sudah berdoa, maka dia sudah shalat”. Ini sebathil-bathilnya perkataan!!!

Ibnu Qudamah rahimahullahu menyatakan, bila dalam syariat disebutkan perkara shalat atau hukum yang berkaitan dengan shalat, maka shalat ini dipalingkan dari maknanya secara bahasa kepada pengertian shalat secara syar’i. Sehingga dalam hal ini, batil dan sesatlah bila ada yang memaknakan shalat dengan doa. Akibatnya ia enggan mengerjakan shalat sebagaimana yang dituntunkan, sembari mengatakan, “Cukup bagi kita berdoa, tanpa melakukan gerakan-gerakan berdiri, rukuk, dan sujud serta tanpa membaca bacaan-bacaan shalat.”

Dari perkataan Ibnu Qudamah diatas JELAS, bahwa jika syari’at menyebutkan “shalat” maka yang diinginkan darinya adalah shalat dalam DEFINISI SYARI’AT, BUKAN BAHASA. Maka tidak boleh kita memalingkannya kepada makna “bahasa”, kecuali berdasarkan hujjah dan qarinah-qarinah yang menguatkan hal tersebut.

2. DEMIKIAN PULA dengan BID’AH

Bid’ah secara bahasa berarti membuat sesuatu tanpa ada contoh sebelumnya. (Lihat Al Mu’jam Al Wasith, 1/91, Majma’ Al Lugoh Al ‘Arobiyah-Asy Syamilah)

Hal ini sebagaimana dapat dilihat dalam firman Allah Ta’ala,

بَدِيعُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ

“Allah Pencipta langit dan bumi.” (QS. Al Baqarah [2] : 117, Al An’am [6] : 101)

Maksudnya adalah mencipta (membuat) tanpa ada contoh sebelumnya.

Juga firman-Nya,

قُلْ مَا كُنْتُ بِدْعًا مِنَ الرُّسُلِ

“Katakanlah: ‘Aku bukanlah yang membuat bid’ah di antara rasul-rasul’.”

(QS. Al Ahqaf [46] : 9)

Maksudnya aku bukanlah Rasul pertama yang diutus ke dunia ini.

(Lihat Lisanul ‘Arob, 8/6, Barnamej Al Muhadits Al Majaniy-Asy Syamilah)

[Copas dari muslim.or.id]

Adapun secara syari’at, maka definisinya adalah:

عِبَارَةٌ عَنْ طَرِيْقَةٍ فِي الدِّيْنِ مُخْتَرَعَةٍ تُضَاهِي الشَّرْعِيَّةَ يُقْصَدُ بِالسُّلُوْكِ عَلَيْهَا المُبَالَغَةُ فِي التَّعَبُدِ للهِ سُبْحَانَهُ

Suatu istilah untuk suatu jalan dalam agama yang dibuat-buat (tanpa ada dalil, pen) yang menyerupai syari’at (ajaran Islam), yang dimaksudkan ketika menempuhnya adalah untuk berlebih-lebihan dalam beribadah kepada Allah Ta’ala.

Definisi di atas adalah untuk definisi bid’ah yang khusus ibadah dan tidak termasuk di dalamnya adat (tradisi).

Adapun yang memasukkan adat (tradisi) dalam makna bid’ah, mereka mendefinisikan bahwa bid’ah adalah

طَرِيْقَةٌ فِي الدِّيْنِ مُخْتَرَعَةٍ تُضَاهِي الشَّرْعِيَّةَ يُقْصَدُ بِالسُّلُوْكِ عَلَيْهَا مَا يُقْصَدُ بِالطَّرِيْقَةِ الشَّرْعِيَّةِ

Suatu jalan dalam agama yang dibuat-buat (tanpa ada dalil, pen) dan menyerupai syari’at (ajaran Islam), yang dimaksudkan ketika melakukan (adat tersebut) adalah sebagaimana niat ketika menjalani syari’at (yaitu untuk mendekatkan diri pada Allah).

(Al I’tishom, 1/26, Asy Syamilah; muslim.or.id)

Adapun tentang perkataan ulamaa’ yang dijadikan “hujjah” bagi pengusung ahlul bid’ah, maka telah dijawab Al-Imam Ibnu Råjab:

“Sementara yang berkaitan dengan ucapan sebagian ulama salaf yang mengkategorikan beberapa perbuatan sebagai bid’ah hasanah adalah ditinjau dari pemakaian istilah BID’AH itu secara BAHASA , BUKAN (pengertian) bid’ah secara SYARI’AT. Termasuk (dalam hal ini) ucapan Umar Radhiallahu ‘anhu :”Sebaik-baik bid’ah adalah perbuatan ini!!” Maksudnya adalah perbuatan tersebut tidak dilakukan pada saat itu. Namun terdapat dalil yang menjadi dasar perbuatan itu[4. Sebagaimana kita ketahui Rasuulullaah SUDAH PERNAH melaksanakan shalat tarawih, beliau pun mengerjakannya SECARA BERJAMA’AH. Hanya saja karena beliau KHAWATIR akan diwajibkan, maka beliau tidak melanjutkannya. Setelah syari’at sempurna, dan telah tetap akan hukum sunnah-nya, maka menghidupkan sunnah ini adalah seutama-utama perbuatan. Bandingkan ornag-orang yang berdalil dengan ucapan ‘umar ini dengna perbuatan MAULID, TAHLILAN, dsb. Yang mana SAMA SEKALI TIDAK ADA DALIL, pernahkah RASUULULLAAH dan PARA SHAHABATnya mengamalkan yang demikian?!]”

(silahkeun lihat Jamii’ul ulum wal Hikam hadits no.28)

Maka, “sesuatu yang baru, yang diada-adakan” dalam perkara DUNIA, BUKAN merupakan bid’ah yang diinginkan dalam hadits:

كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

“Semua bid’ah itu sesat”

Karena Allah berfirman:

هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُم مَّا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا

“Dialah (Allah), yang menjadikan segala yang ada dibumi untuk kamu…”

(al-Baqarah: 29)

Para ulamaa’ IJMAA’ dalam berdalil akan hadits diatas, bahwa dalam perkara dunia, hukum asalnya BOLEH. Sampai ada dalil yang melarang. Bahkan Allah MENGANCAM siapapun yang MENGHARAMKAN sesuatu yang telah dihalalkanNya tanpa hujjah, sebagaimana firmanNya:

قُلْ مَنْ حَرَّمَ زِينَةَ اللَّهِ الَّتِي أَخْرَجَ لِعِبَادِهِ وَالطَّيِّبَاتِ مِنَ الرِّزْقِ ۚ

“Katakanlah: ‘Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan rizki yang baik?!’”

(QS. Al-A`rāf [7]: 32)

Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam juga bersabda:

أَنْتُمْ أَعْلَمُ بِأَمْرِ دُنْيَاكُمْ

‘Kalian lebih mengetahui urusan dunia kalian.’

(HR Muslim)

Dalam riwayat Ahmad:

إِذَا كَانَ شَيْئًا مِنْ أَمْرِ دُنْيَاكُمْ فَشَأْنَكُمْ بِهِ وَإِذَا كَانَ شَيْئًا مِنْ أَمْرِ دِينِكُمْ فَإِلَيَّ

“Apabila itu adalah perkara DUNIA kalian, kalian tentu lebih mengetahuinya. Namun, apabila itu adalah perkara AGAMA kalian, KEMBALIKANLAH KEPADAKU”

(HR. Ahmad dgn sanad yg hasan)

Oleh karena itu, hukum asal IBADAH, adalah dikembalikan kepada ALLAH dan RASUL-Nya, berdasarkan hadits diatas, dan TIDAK BOLEH seseorang mengadakan suatu tata-cara ibadah, kecuali dengan apa yang telah disyari’atkan Allah dan RasulNya. Inipun merupakan KESEPAKATAN ULAMAA’.

Allah berfirman:

أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُمْ مِنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللَّهُ

“Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?”

(Qs As-Syura’ : 21)

Allah berfirman:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ

“Sesungguhnya Telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu.”

(QS al ahzab: 21)

Allah berfirman:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

“Pada hari Ini Telah Ku-sempurnakan untuk kamu AGAMA-mu, dan Telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan Telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.”

(QS Al-Mai’dah : 3)

Rasuulullaah bersabda, tentang GOLONGAN YAGN SELAMAT:

مَا أَنَا عَلَيْهِ الْيَوْمَ وَأَصْحَابِي

“(Mereka adalah golongan yang berpegang pada) apa-apa (yang) aku dan para sahabatku (berpegang teguh) PADA HARI INI”.

[SHAHIIIH; at-Tirmidzi, al-Hakim, adz-Dzahabi, al-Baghawi (Syarhus Sunnah), asy-Syathibi (al-I’tisham), Ibnu Taimiyah (Majmu’ al-Fatawa), Ibnu Hibban (Shohih beliau), Ibnu Katsir (Tafsir al-Qur’an al-Adzim)]

Apakah pengusung bid’ah hasanah itu hendak mengatakan “berpegang teguh kepada segala sesuatu yang berkaitan dengan dunia dan agama” sehingga dipahami, harus mengikuti peradaban yang ada pada saat itu? “wajib transportasi pakai onta” dsb?! Ataukah pengusung bid’ah hasanah itu mengatakan yang dimaksud dalam hadits diatas adalah “berpegang teguh pada AGAMA pada hari itu”? Tidak ada pilihan ketiga, kecuali dua pilihan tersebut, maka tentulah yang dimaksudkan adalah yang kedua…

Oleh karenanya Imam Maalik berkata, tentang QS al Maa-idah ayat 3 diatas:

(من ابتدع في الإسلام بدعة يراها حسنة فقد زعم أن محمدا خان الرسالة لأن الله يقول {اليوم أكملت لكم دينكم} فما لم يكن يومئذ دينا فلا يكون اليوم دينا)

“Barangsiapa membuat satu bid’ah dalam agama dan dia menganggapnya hasanah maka sungguh dia telah menuduh Muhammad berkhianat terhadap risalah [lihat QS. 5:67, az]. Sebab, Allah berfirman (Pada hari ini telah Kusempurnakan bagi kalian agama kalian) sehingga sesuatu yang pada hari itu BUKAN AGAMA, maka PADA HARI INI JUGA BUKAN AGAMA”

Oleh karenanya Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

وإياكم ومحدثات الأمور، فإن كل محدثة بدعة . وكل بدعة ضلالة . و كل ضلالة في النار

dan berhati-hatilah kalian dari perkara –perkara yang baru dalam agama,karena sesunggunya semua perkara yang baru adalah bid’ah dan SETIAP bid’ah adalah sesat, dan SETIAP KESESATAN tempatnya di neraka.

[HR. An-Nasa-i (III/189) dari Jabir Radhiyallahu ‘anhu dengan sanad yang SHAHIIH]

Sejalan dengan sabda beliau:

من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه، فهو رد

“Barang siapa yang mengada-adakan dalam perkara urusan kami (yaitu URUSAN AGAMA), yang tidak ada (perintah)nya maka perkara tersebut tertolak.”

(HR Bukhari)

من عمل عملا ليس عليه أمرنا، فهو رد

“Barang siapa mengerjakan suatu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami (Allah dan Rasul-Nya) maka amalan tersebut tertolak.”

(HR Muslim)

Dan inilah yang dipahami oleh IBNU ‘UMAR radhiyallaahu ‘anhumaa:

كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ ، وَإِنْ رَآهَا النَّاسُ حَسَنَةً

“Setiap bid’ah adalah sesat, walaupun manusia menganggapnya baik.”

(Lihat Al Ibanah Al Kubro li Ibni Baththoh, 1/219)

Demikain juga IBNU MAS’UUD radhiyallaahu ‘anhumaa:

اتَّبِعُوا، وَلا تَبْتَدِعُوا فَقَدْ كُفِيتُمْ، كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ

“Ikutilah (petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, pen), janganlah membuat bid’ah. Karena (sunnah) itu sudah cukup bagi kalian. Semua bid’ah adalah sesat.”

(Diriwayatkan oleh Ath Thobroniy dalam Al Mu’jam Al Kabir no. 8770)

3. Ancaman bagi yang tidak mencukupkan diri dengan sunnah.[5. Simak: http://abuzuhriy.com/cukupkan-dirimu-dengan-sunnah/]

Bahkan barangsiapa, yang TIDAK MENCUKUPKAN DIRI atau TIDAK MERASA CUKUP dengan sunnah, sehingga MENAMBAH-NAMBAH IBADAH dalam islaam, yang TIDKA PERNAH DISYARI’ATKAN oleh Rasuulullaah sebelumnya (SEPERTI TAHLIL, MAULID, dsb).. maka sama saja ia MEMBENCI SUNNAH.

ada beberapa sahabat Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam berkata; saya tidak akan menikah, sebagian lagi berkata; saya akan selalu shalat dan tidak tidur, sebagian…… lagi berkata; saya akan terus berpuasa dan tidak berbuka.

Berita ini sampai kepada Nabi Shallallahu’alaihi wasallam, hingga (Beliau Shallallahu’alaihi wasallam) bersabda:

مَا بَالُ أَقْوَامٍ قَالُوا كَذَا وَكَذَا لَكِنِّي أَصُومُ وَأُفْطِرُ وَأُصَلِّي وَأَنَامُ وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي

“Bagaimanakah keadaan suatu kaum yang mengatakan demikain dan demikain, Akan tetapi aku berpuasa dan berbuka, aku shalat dan tidur, dan aku juga menikahi perempuan, dan barangsiapa yang membenci sunnahku maka ia tidak termasuk golonganku “.

Diatas, RASUULULLAAH MENGINGKARI dengan KERAS, siapasaja yang TIDAK MERASA CUKUP dengan sunnah, sehingga mengada-adakan sesuatu tata-cara ibadah yang tidak beliau ajarkan. bahkan beliau MENGANCAM siapa saja yang “merasa kurang” atau “tidak merasa cukup” dengan apa yang beliau sunnahkan maka sama saja ia MEMBENCI SUNNAH.

Dijelaskan oleh Syaikh Muhammad Ahmad Kan’an

“Makna dari “مَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي” (barangsiapa yang membenci sunnahku) adalah berpaling dari jalanku dan menyelisihi apa yang aku kerjakan, sedang makna “لَيْسَ مِنِّي” (bukan dari golonganku) yakni bukan dari golongan yang lurus dan yang mudah, sebab dia memaksakan dirinya dengan apa yang tidak diperintahkan dan membebani dirinya dengan sesuatu yang berat.

Jadi, maksudnya adalah barang siapa yang menyelisihi petunjuk dan jalannya Rasulullah Shalallahu’alaihi Wassallam, dan berpendapat apa yang dia kerjakan dari ibadah itu lebih baik dari apa yang dikerjakan oleh Rasulullah . Sehingga makna dari ucapan “لَيْسَ مِنِّي” (bukan dari golonganku) adalah “bukan termasuk orang Islam”, karena keyakinannya tersebut menyebabkan kekufuran.”

(Dikutip salafiyunpad; dari buku “Tata Pergaulan Suami Istri Jilid I” Penerbit Maktabah Al-Jihad, Jogjakarta)

al-Imam an-Nawawiy berkata:

Maksud “لَيْسَ مِنِّي” (bukan dari golonganku) artinya dia termasuk orang kafir jika ia berpaling dari Sunnah Nabi, tidak meyakini Sunnah itu sesuai dengan nyatanya. Tapi jika ia meninggalkannya karena menggampangkannya, maka ia tidak di atas tuntunan Nabi.

(Lihat Syarh Shahih Muslim, Al Imam An Nawawi: 9/179 dan Nashihati Linnisa’ hal. 37; dari artikel asysyariah)

Dari Sa’id bin al-Musayyib, bahwa ia melihat seseorang sholat fajar lebih dari dua roka’at, ia memperbanyak pada sholat dua roka’at itu rukuk dan sujud, maka ia (Sa’id) melarangnya. Maka orang itu berkata : “Wahai Aba Muhammad, apakah Allåh akan mengadzabku karena sholat?” Ia menjawab :

لَا وَلَكِنْ يُعَذِّبُكَ اللَّهُ بِخِلَافِ السُّنَّةِ

“Tidak, akan tetapi Allah akan mengadzabmu karena engkau menyelisihi sunnah.”

[HR. Al Baihaqi dalam Sunan Al Kubro 2/466 juga diriwayatkan al-Khotib dalam al-Faqiih wal Mutafaqqih (1/147)]

Pemaparan Sa’id ini menyiratkan pelajaran sebagaimana yang dikatakan oleh Muhammad Nashiruddin Al Albani,

“Ini adalah jawaban Sa’id bin Musayyib yang sangat indah. Dan merupakan senjata pamungkas terhadap para ahlul bid’ah yang menganggap baik kebanyakan bid’ah dengan alasan dzikir dan shalat, kemudian membantah Ahlusunnah dengan pernyataan bahwasanya para Ahlusunnah mengingkari dzikir dan shalat! Padahal sebenarnya yang mereka (Ahlusunnah) ingkari adalah penyelewengan ahlul bid’ah dari tuntunan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam dzikir, shalat, dan lain-lain.”

(Irwa’ul Gholil 2/236)

Oleh karena itu, barangsiapa YANG MENGANGGAP BAIK suatu perbuatan untuk mendekatkan diri kepada Allah, sedangkan perbuatan tersebut TIDAK DILAKUKAN RASUULULAAH shallallaahu ‘alayhi wa sallam, sedangkan BELIAU MAMPU (melakukannya) dan TIDAK ADA HALANGAN bagi beliau untuk melakukannya… maka ini adalah BID’AH yang dilarang dalam agama.

Apa sebabnya? Karena, Orang ini MERASA AGAMA YANG DIBAWA RASUULULLAAH BELUM SEMPURNA, sedangkan Allah berfirman:

اليوم أكملت لكم دينكم

Pada hari ini aku telah sempurnakan bagimu agamaMu..

Maka dengan ini, ia HENDAK MENAMBAH CATATAN KAKI, dalam ayat tersebut, “oh belum, masih ada yang ketinggalan…” Maka dari SISI ini saja, maka bid’ah itu SUDAH KEMUGNKARAN yang sangat BESAR…

Imam Malik råhimahullåh berkata,

“Fitnah apa yang lebih besar ketimbang engkau berpandangan bahwa engkau telah lebih dahulu melakukan amal kebaikan yang tidak dilakukan oleh Råsulullåh shållallåhu ‘alaihi wa sallam?!”

Sesungguhnya aku mendengar Allåh berfirman,

فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَن تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

(yang artinya) “Maka hendaklah orang-orang yang menyelisihi perintah Råsul takut akan ditimpa fitnah atau akan ditimpa adzab yang pedih.”

(QS. An-Nur: 63)”

–selesai perkataan imam maalik–

Imam Ahmad rahimahullah berkata tentang ayat diatas,

“Tahukah engkau apakah fitnah itu?! Fitnah (dalam ayat) itu adalah kesyirikan, barangkali apabila ia menolak sebagian sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam maka akan menimpa dia sesuatu, berupa kecondongan kepada kesesatan yang menyebabkan ia binasa.”

–selesai perkataan imam ahmad–

Rasuulullaah sudah mengatakan SETIAP BID’AH adalah sesat, malah ia menolaknya dan mengingkarinya dengan berdalih dengan dalih-dalih yang sama sekali tidak dibenarkan, bahkan menganggap bid’ah sebagai kebaikan?!!

Perhatikanlah wasiat berharga Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Råhimahullåh

Hati-hatilah, wahai manusia. Janganlah kalian membenci ajaran Rasulullah atau menolaknya karena hawa nafsumu atau karena membela madzhab atau gurumu atau karena kesibukanmu dengan nafsu-nafsu duniawi.

Sesungguhnya Allah tidak mewajibkan seseorang taat kepada orang lain selain kepada Rasul-Nya dan agar mengambil apa-apa yang didakwahkannya.

Sekiranya ada seseorang yang menyelisihi semua makhluk untuk mengikuti Rasul, Allah tidak akan meminta pertanggungjawaban atas tindakannya yang menyelisihi semua orang itu.

Dan seseorang ditaati selama dia mengikuti Rasul. Kalau dia memerintah kita untuk menyelisihi apa yang diperintahkan oleh Rasul, tidak perlu kita taati.

Ketahuilah semua itu…

Dengarkanlah dan taatilah, ikuti ajaran Rasul! Janganlah kalian membuat-buat bid’ah yang akan menjadikan amalanmu tertolak. Tidak ada kebaikan sama sekali dalam amalan yang tidak mengikuti tuntunan Rasul.

Wallahu A’lam.

[Majmu’ Fatawa]

Semoga orang-orang itu tersadar dari kesalahpahamannya, yang mana mereka telah melakukan kemungkaran yang sangat besar, meskipun mereka menganggapnya sebuah kebaikan.

Wallaahul musta’aan, wa billahit taufiq

Tinggalkan komentar

Filed under Manhaj, Manhaj Ahlus-Sunnah wal Jama'ah, Syubhat & Bantahan, Ushul Ahlul-Bid'ah, Ushul Ahlus-sunnah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s