Sembarangan memilih teman dekat

Gara-gara berteman dekat dengan ahlul ahwa, jadilah ia RAGU-RAGU dan MALU-MALU untuk membantah kebid’ahan/kemaksiatan yang dilakukan temannya. Inilah langkah awwal.. yang dikhawatirkan setelahnya, ia malah menjadi seperti teman dekatnya tersebut..

Benarlah sabda Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam:

الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

“Seseorang itu akan mengikuti agama teman dekatnya, karenanya hendaklah salah seorang diantara kalian melihat siapa teman dekatnya.”

(HR Ahmad, tirmidziy, abu dawud, dan selainnya)

Beliau juga bersabda:

مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ كَمَثَلِ صَاحِبِ الْمِسْكِ وَكِيرِ الْحَدَّادِ

“Seseorang yang duduk (berteman) dengan orang sholih dan orang yang jelek adalah bagaikan berteman dengan pemilik minyak misk dan pandai besi.

لاَ يَعْدَمُكَ مِنْ صَاحِبِ الْمِسْكِ إِمَّا تَشْتَرِيهِ ، أَوْ تَجِدُ رِيحَهُ

Jika engkau tidak dihadiahkan minyak misk olehnya, engkau bisa membeli darinya atau minimal dapat baunya.

وَكِيرُ الْحَدَّادِ يُحْرِقُ بَدَنَكَ أَوْ ثَوْبَكَ أَوْ تَجِدُ مِنْهُ رِيحًا خَبِيثَةً

Adapun berteman dengan pandai besi, jika engkau tidak mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar, minimal engkau dapat baunya yang tidak enak.”

(HR. Bukhariy)

Beliau juga bersabda:

مَنْ سَمِعَ بِالدَّجَّالِ فَلْيَنْأَ عَنْهُ

“Barangsiapa mendengar Dajjal, hendaklah ia mejauh darinya.

فَوَاللَّهِ إِنَّ الرَّجُلَ لَيَأْتِيهِ وَهُوَ يَحْسِبُ أَنَّهُ مُؤْمِنٌ فَيَتَّبِعُهُ مِمَّا يَبْعَثُ بِهِ مِنْ الشُّبُهَاتِ أَوْ لِمَا يَبْعَثُ بِهِ مِنْ الشُّبُهَاتِ

Karena demi Allah, seseorang akan mendatanginya dengan mengira bahwa ia (Dajjal) itu seorang mu’min, lalu iapun mengikutinya dalam syubhat-syubhat yang dilontarkan oleh Dajjal atau karena syubhat-syubhat yang dilontarkan oleh Dajjal.”

[HR. Ahmad, Abu Dawud, Al Haakim, ath Thabraniy, dan selainnya; shahiih]

Dikomentari oleh Ibnu Baththah:

“Inilah sabda Rasululloh shallallahu alaihi wa sallam, dan dia adalah ash-shodiqul mashduq (yang benar dan dibenarkan).

Maka Alloh! Alloh wahai sekalian kaum muslimin!! Janganlah salah seorang dari kalian membawa baik sangkanya terhadap dirinya sendiri (percaya diri, pent) dan apa-apa yang telah ia ketahui dari kebenaran madzhabnya, kepada yang membahayakan agamanya dari bermajelis dengan sebagian ahlil ahwa ini, lalu ia mengatakan :

‘aku akan masuk kepadanya untuk kudebat dia, atau aku akan mengeluarkannya dari madzhabnya’,

Sesungguhnya fitnah mereka (ahlul ahwa/ahlul bid’ah) lebih parah dari Dajjal, dan perkataan mereka lebih melekat daripada kudis, dan lebih membakar hati daripada api yang menyala.”

[Lihat al-Ibanah al-Kubro 3/470, kemudian beliau membawakan riwayat contoh orang-orang yang termakan syubuhat ahlul ahwa’ wal bida’, wal ‘iyadzu billah]

Peringatan salafush shalih dari berteman dekat ahlul ahwa

Berkata Fudhayl ibnul Iyyaadh:

Dan salah satu tanda NIFAQ adalah seseorang bangun dan duduk-duduk bersama ahli bid’ah (yaitu berteman akrab dengannya, abuzuhriy). Aku mendapati sebaik-baik manusia (di zaman beliau; yakni tabi’in, pent), mereka semuanya adalah ahlus Sunnah dan mereka melarang (yakni memperingatkan) dari ahli bid’ah.”

[Hilyatul Aulia (8/104)]

Ditanyakan kepada Ibnu Siriin; :

Wahai Abu Bakr, kenapa engkau (menolak ahlul ahwa) ketika mereka akan membacakan kepadamu satu ayat dari Kitab Allah ta’ala?”

Ibnu Sirin menjawab:

“Aku khawatir mereka berdua akan membacakan kepadaku sebuah ayat, lalu mereka menyimpangkannya, kemudian hal itu (penyimpangan tersebut) akan menetap di hatiku.”

[Diriwayatkan ad-Darimi dalam Sunan-nya (397), lihat Siyar A’lamin Nubala (11/285)]

Imaam Sufyaan ats Tsawriy rahimahullaah berkata:

“Barangsiapa mendengarkan ahli bid’ah dengan pendengarannya, padahal dia mengetahui, maka ia keluar dari penjagaan Allah dan (urusannya) diserahkan kepada dirinya sendiri.”

Setelah membawakan perkataan diatas, berkata Imam adz Dzahabiy rahimahullaah:

“Kebanyakan para imam Salaf berpendapat dengan tahdzir ini, mereka melihat bahwa HATI ITU LEMAH dan SYUBHAT itu MENYAMBAR-NYAMBAR.”

[Siyar A’lamin Nubala 7/261]

(Atsar diatas dicopas dari tholib.wordpress.com)

Termasuk juga larangan menjadikan teman dekat orang yang memperturukan syahwatnya!

dari Abu ‘Ubaidah dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ بَنِي إِسْرَائِيلَ لَمَّا وَقَعَ فِيهِمْ النَّقْصُ كَانَ الرَّجُلُ يَرَى أَخَاهُ عَلَى الذَّنْبِ فَيَنْهَاهُ عَنْهُ فَإِذَا كَانَ الْغَدُ لَمْ يَمْنَعْهُ مَا رَأَى مِنْهُ أَنْ يَكُونَ أَكِيلَهُ وَشَرِيبَهُ وَخَلِيطَهُ فَضَرَبَ اللَّهُ قُلُوبَ بَعْضِهِمْ بِبَعْضٍ

“Ketika terjadi krisis moral di tengah-tengah Bani Israil, ada seorang laki-laki melihat saudaranya berbuat dosa, maka dia pun melarangnya. Namun di esok harinya dia tidak mencegahnya dari apa yang dia lihat dari saudaranya; bahkan dia menjadi teman makan, teman minum dan teman bergaul. Maka Allah menutup hati mereka dengan sebagian yang lain.

وَنَزَلَ فِيهِمْ الْقُرْآنُ فَقَالَ

dan turunlah ayat Al Quran mengenai diri mereka, Allah berfirman:

{ لُعِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ عَلَى لِسَانِ دَاوُدَ وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ حَتَّى بَلَغَ وَلَوْ كَانُوا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالنَّبِيِّ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مَا اتَّخَذُوهُمْ أَوْلِيَاءَ وَلَكِنَّ كَثِيرًا مِنْهُمْ فَاسِقُونَ }

‘(Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan ‘Isa putera Maryam, Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu. Kamu melihat kebanyakan dari mereka tolong-menolong dengan orang-orang yang kafir (musyrik). Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka sediakan untuk diri mereka, yaitu kemurkaan Allah kepada mereka; dan mereka akan kekal dalam siksaan. Sekiranya mereka beriman kepada Allah, kepada Nabi (Musa) dan kepada apa yang diturunkan kepadanya (Nabi), niscaya mereka tidak akan mengambil orang-orang musyrikin itu menjadi penolong-penolong, tapi kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang fasik.’

(Qs. Al Maidah: 78-81).

Abu ‘Ubaidah berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada saat itu bersandar kemudian duduk seraya bersabda:

لَا حَتَّى تَأْخُذُوا عَلَى يَدَيْ الظَّالِمِ فَتَأْطِرُوهُ عَلَى الْحَقِّ أَطْرًا

“Tidak, sehingga kalian mengambil dari kedua tangan orang yang zhalim, kemudian kalian benar-benar meletakkannya kepada jalan yang benar.”

(HR Ahmad, Tirmidziy, Ibnu Maajah dan selainnya, dengan sanad yang DHA’IF, hanya saja maknanya benar)

Jadikanlah orang-orang bertaqwa sebagai teman dekatmu

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

لَا تَصْحَبْ إِلَّا مُؤْمِنًا

“Janganlah engkau bersahabat kecuali dengan seorang mukmin

وَلَا يَأْكُلْ طَعَامَكَ إِلَّا تَقِيٌّ

dan janganlah memakan makananmu kecuali seorang yang bertakwa.”

(Hadits hasan diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Abu Dawud, at Tidmidziy ad-Darimiy, dll.)

Penulis kitab ‘Aunul Ma’bud Syarh Sunan Abu Daud menjelaskan dengan perkataan,

“(Janganlah engkau berteman kecuali dengan orang mukmin), yaitu ‘orang mukmin yang sempurna’, atau yang dimaksudkan adalah larangan berteman dengan orang-orang kafir dan orang-orang munafik, karena berteman dengan mereka bisa mendatangkan bahaya dalam agama.

Maka, yang dimaksudkan dengan ‘orang mukmin’ (dalam hadis itu) adalah ‘semua orang mukmin’. (Dan janganlah memakan makananmu kecuali orang yang bertakwa), yaitu ‘orang yang bersikap wara’ (hati-hati, meninggalkan sesuatu yang dikhawatirkan mendatangkan bahaya baginya di akhirat)’.

Kata ‘memakan’ di sini, walaupun dinisbahkan kepada ‘orang yang bertakwa’, namun pada hakikatnya, dinisbahkan kepada pemilik makanan, sehingga maknanya adalah ‘dan janganlah engkau memberikan makananmu kecuali kepada orang yang bertakwa’.”

Al-Khaththabi berkata,

“Sesungguhnya, (larangan) ini hanyalah dalam undangan makan, bukan makanan kebutuhan (memberi makan kepada yang membutuhkan). Hal itu karena Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَى حُبِّهِ مِسْكِيناً وَيَتِيماً وَأَسِيراً

‘Dan mereka (al-abrar; orang-orang yang berbuat kebajikan), memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan.’ (QS. Al-Insan:8)

Juga, sebagaimana telah diketahui, bahwa para tawanan kaum muslimin zaman dahulu adalah orang-orang kafir, bukan orang mukmin dan bukan orang yang bertakwa.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memperingatkan dari berteman, bergaul, dan makan bersama dengan orang yang tidak bertakwa, karena sesungguhnya, makan bersama akan menimbulkan kecintaan dan kasih sayang di dalam hati. Wallahu a’lam.”

(Dicopas dari moslemchannel, dari konsultasi syariah, dari Majalah As-Sunnah, Edisi 5, Tahun VIII, 1425 H/2004 M)

Semoga bermanfaat

Baca juga:

Lihatlah siapa temanmu!

Berhati-hatilah dari teman yang buruk!

Larangan duduk-duduk dengan ahli bid’ah

1 Komentar

Filed under Akhlak, Ukhuwwah Islamiyyah

One response to “Sembarangan memilih teman dekat

  1. terima kasih artikelnya semoga terus diperbaharui artikelnya kang thanks

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s