Haramnya Musik dan Nyanyian

1. NYANYIAN adalah HASUNGAN SYAITHAN

Allah berfirman:

وَاسْتَفْزِزْ مَنِ اسْتَطَعْتَ مِنْهُمْ بِصَوْتِكَ وَأَجْلِبْ عَلَيْهِمْ بِخَيْلِكَ وَرَجِلِكَ وَشَارِكْهُمْ فِي الأمْوَالِ وَالأولادِ وَعِدْهُمْ وَمَا يَعِدُهُمُ الشَّيْطَانُ إِلا غُرُورًا

“Dan hasunglah siapa yang kamu sanggupi di antara mereka dengan ajakanmu, dan kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkuda dan pasukanmu yang berjalan kaki dan berserikatlah dengan mereka pada harta dan anak-anak dan beri janjilah mereka. Dan tidak ada yang dijanjikan oleh setan kepada mereka melainkan tipuan belaka.”

[QS. Al-Israa’ : 64].

Mujahid rahimahullaah (murid ibnu abbas) berkata:

باللهو والغناء أي استخفهم بذلك

”(Yaitu menghasungnya) dengan permainan dan NYANYIAN, yaitu meremehkannya dengan hal tersebut”

[Lihat Tafsir Ibnu Katsir]

2. Allah memperingatkan hambaNya agar MENINGGALKAN NYANYIAN

Allah Ta’ala berfirman,

أَفَمِنْ هَذَا الْحَدِيثِ تَعْجَبُونَ , وَتَضْحَكُونَ وَلا تَبْكُونَ , وَأَنْتُمْ سَامِدُونَ , فَاسْجُدُوا لِلَّهِ وَاعْبُدُوا

“Maka, apakah kamu merasa heran terhadap pemberitaan ini? Dan kamu mentertawakan dan tidak menangis? Sedang kamu saamiduun? Maka, bersujudlah kepada Allah dan sembahlah (Dia).” (QS. An Najm: 59-62)

Apa makna saamiduun?

Ditafsirkan ahli tafsir dikalangan para shahabat, yaitu IBNU ‘ABBAS radhiyallaahu ‘anhumaa:

هو الغناء

“Maksudnya adalah NYANYIAN”

(Lihat Tafsiir ath thabariy no. 25273, dan juga Zaadul Masiir, 5/448)

Berkata muridnya Ibnu ‘Abbaas, yaitu ‘Ikrimah rahimahullaah:

فكانوا إذا سمعوا القرآن يتلى تغنوا ولعبوا حتى لا يسمعوا.

Yaitu, jika mereka mendengarkan Al-Qur’an yang dibacakan, maka mereka BERNYANYI-NYANYI dan bermain-main hingga mereka tidak mendengarkannya…

(Lihat Tafsiir al Qurthubiy, juga Ighatsatul Lahfan, 1/258)

3. Ancaman ADZAB YANG MENGHINAKAN bagi para penyanyi

Allah berfirman:

وَمِنَ النّاسِ مَن يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلّ عَن سَبِيلِ اللّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَيَتّخِذَهَا هُزُواً أُوْلَـَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مّهِينٌ

Dan di antara manusia (ada) orang yang menggunakan LAHWAL HADIITS, yang akibatnya menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh ADZAB YANG MENGHINAKAN

[QS. Luqman : 6]

Berkata ahli tafsir dikalangan para shahabat, yaitu IBNU MAS’UUD radhiyallaahu ‘anhumaa:

الغِنَاءُ، وَالَّذِي لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ، يُرَدِّدُهَا ثَلاَث َمَرَّاتٍ.

“Yang dimaksud (“lahwal hadiits” dalam ayat diatas) adalah NYANYIAN.. demi Dzat yang tidak ada ilah (sesembahan) yang berhak diibadahi selain Dia.”

Beliau mengatakan hal tersebut sebanyak tiga kali.

(Lihat Jami’ul Bayan fii Ta’wilil Qur’an, Ibnu Jarir Ath Thobari, 20/127)

4. Diantara TANDA HARI KIAMAT adalah adanya kaum muslimin yang menganggap halal musik (padahal HARAM)

Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

لَيَكُونَنَّ مِنْ أُمَّتِى أَقْوَامٌ يَسْتَحِلُّونَ الْحِرَ وَالْحَرِيرَ وَالْخَمْرَ وَالْمَعَازِفَ

“Akan ada di kalangan umatku suatu kaum yang menghalalkan zina, sutera, khamr, alat-alat musik (al-ma’aazif)”

(Diriwayatkan IMAM BUKHARI dalam kitab SHAHIIHnya)

Sebagaimana disebutkan dalam hadits lain:

إِنَّ اللهَ حَرَّمَ عَلَيَّ -أَوْ حُرِّمَ- الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْكُوبَةُ. قَالَ: وَكُلُّ مُسْكِرٍ حَرَامٌ

“Sesungguhnya Allah telah mengharamkan atasku –atau diharamkan- khamr, judi, dan al-kubah. Dan setiap yang memabukkan itu haram.”

(HR. Abu Dawud no. 3696, Ahmad, 1/274, Al-Baihaqi, 10/221, Abu Ya’la dalam Musnad-nya no. 2729, dan yang lainnya. Dishahihkan oleh Ahmad Syakir dan Al-Albani, lihat At-Tahrim hal. 56).

Kata al-kubah telah ditafsirkan oleh perawi hadits ini yang bernama ‘Ali bin Badzimah, bahwa “yang dimaksud adalah gendang (dan ini adalah ALAT MUSIK)”

(lihat riwayat Ath-Thabarani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir, no. 12598)

Juga dalam hadits yang lain:

إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ حَرَّمَ الْخَمْرَ وَالْمَيْسِرَ وَالْكُوبَةَ وَالْغُبَيْرَاءَ، وَكُلُّ مُسْكِرٍ حَرَامٌ

“Sesungguhnya Allah mengharamkan khamr, judi, al-kubah (gendang), dan al-ghubaira` (khamr yang terbuat dari bahan jagung), dan setiap yang memabukkan itu haram.”

(HR. Abu Dawud no. 3685, Ahmad, 2/158, Al-Baihaqi, 10/221-222, dan yang lainnya. Hadits ini dihasankan Al-Albani dalam Tahrim Alat Ath-Tharb hal. 58)

5. Allah MENGANCAM akan mengubah bentuk orang-orang yang menghibur diri dengan musik dan alunan nyanyian menjadi KERA dan BABI

Dari Abu Malik Al Asy’ari, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَيَشْرَبَنَّ نَاسٌ مِنْ أُمَّتِى الْخَمْرَ يُسَمُّونَهَا بِغَيْرِ اسْمِهَا يُعْزَفُ عَلَى رُءُوسِهِمْ بِالْمَعَازِفِ وَالْمُغَنِّيَاتِ يَخْسِفُ اللَّهُ بِهِمُ الأَرْضَ وَيَجْعَلُ مِنْهُمُ الْقِرَدَةَ وَالْخَنَازِيرَ

“Sungguh, akan ada orang-orang dari umatku yang meminum khamr, mereka menamakannya dengan selain namanya. Mereka DIHIBUR dengan MUSIK dan ALUNAN (NYANYIAN) suara biduanita. Allah akan membenamkan mereka ke dalam bumi dan Dia kelak akan mengubah bentuk mereka menjadi KERA dan BABI.”

(Shahiih; HR. Ibnu Majah dan Ibnu Hibban)

Sesungguhnya balasan seperti ini sebagaimana firmanNya kepada yahudi:

فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ أَنجَيْنَا الَّذِينَ يَنْهَوْنَ عَنِ السُّوءِ وَأَخَذْنَا الَّذِينَ ظَلَمُوا بِعَذَابٍ بَئِيسٍ بِمَا كَانُوا يَفْسُقُونَ

Maka tatkala mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka, Kami selamatkan orang-orang yang melarang dari perbuatan jahat dan Kami timpakan kepada orang-orang yang zalim SIKSAAN YANG KERAS, disebabkan mereka selalu berbuat KEFASIKAN.

فَلَمَّا عَتَوْا عَن مَّا نُهُوا عَنْهُ قُلْنَا لَهُمْ كُونُوا قِرَدَةً خَاسِئِينَ

Maka tatkala mereka bersikap SOMBONG (tidak mau menerima kebenaran, bahkan tetap mengamalkan) terhadap apa yang dilarang mereka mengerjakannya, Kami katakan kepadanya: “Jadilah kamu kera yang hina.”

(al A’raaf: 165-166)

Juga firmanNya:

قُلْ هَلْ أُنَبِّئُكُم بِشَرٍّ مِّن ذَٰلِكَ مَثُوبَةً عِندَ اللَّهِ مَن لَّعَنَهُ اللَّهُ وَغَضِبَ عَلَيْهِ وَجَعَلَ مِنْهُمُ الْقِرَدَةَ وَالْخَنَازِيرَ وَعَبَدَ الطَّاغُوتَ أُولَٰئِكَ شَرٌّ مَّكَانًا وَأَضَلُّ عَن سَوَاءِ السَّبِيلِ

Katakanlah: “Apakah akan aku beritakan kepadamu tentang orang-orang yang lebih buruk pembalasannya dari (orang-orang FASIQ) itu disisi Allah, yaitu orang-orang yang dikutuki dan dimurkai Allah, di antara mereka (ada) yang DIJADIKAN kera dan babi dan (ada pula diantara mereka yang) menyembah thaghut?” Mereka itu LEBIH BURUK TEMPATNYA dan LEBIH TERSESAT dari jalan yang lurus.

(Al Maaidah: 60)

Masihkan orang-orang yang menghibur dirinya dengan MUSIK dan NYANYIAN itu menganggap hal ini perkara yang biasa saja?!

6. Suara MUSIK dan NYANYIAN adalah suara BODOH dan PENUH DOSA

Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

إِنَّمَا نُهِيْتُ عَنِ النَّوْحِ عَنْ صَوْتَيْنِ أَحْمَقَيْنِ فَاجِرَيْنِ: صَوْتٍ عِنْدَ نَغْمَةِ لَهْوٍ وَلَعِبٍ وَمَزَامِيرِ شَيْطَانٍ، وَصَوْتٍ عِنْدَ مُصِيبَةٍ خَمْشِ وُجُوهٍ وَشَقِّ جُيُوبٍ وَرَنَّةِ شَيْطَانٍ

“Aku hanya dilarang dari meratap, dari dua suara yang bodoh dan fajir (penuh dosa): Suara ketika dendangan yang melalaikan dan permainan, mazaamiir syaithaan (seruling-seruling) setan, dan suara ketika musibah, mencakar wajah, merobek baju dan suara setan.”

(HR. Al-Hakim, 4/40, Al-Baihaqi, 4/69, dan yang lainnya. Juga diriwayatkan At-Tirmidzi secara ringkas, no. 1005)

An-Nawawi berkata tentang makna “suara syaithaan” :

“Yang dimaksud adalah nyanyian dan seruling.”

(Tuhfatul Ahwadzi, 4/75)

7. Suara NYANYIAN dan ALAT MUSIK adalah SUARA TERLAKNAT

Rasuulullaah bersabda:

صَوْتَانِ مَلْعُونَانِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ: مِزْمَارٌ عِنْدَ نِعْمَةٍ، وَرَنَّةٌ عِنْدَ مُصِيبَةٍ

“Dua suara yang TERLAKNAT di dunia dan akhirat: seruling (yaitu alat musik) ketika mendapat nikmat, dan suara (jeritan) ketika musibah.”

(Shahiih li ghayrihi; HR. Al-Bazzar dalam Musnad-nya, 1/377/755, Adh-Dhiya` Al-Maqdisi dalam Al-Mukhtarah, 6/188/2200, dan dishahihkan oleh Al-Albani berdasarkan penguat-penguat yang ada. Lihat Tahrim Alat Ath-Tharb, hal. 52)

8. Rasuulullaah menjaga telinganya dari suara MUSIK

dari Naafi’ maulaa Ibnu ‘Umar : Bahwasannya Ibnu ’Umar pernah mendengar suara seruling yang ditiup oleh seorang penggembala. Maka ia meletakkan kedua jarinya di kedua telinganya (untuk menyumbat/menutupinya) sambil membelokkan untanya dari jalan (menghindari suara tersebut).

Ibnu ’Umar berkata : ”Wahai Nafi’, apakah kamu masih mendengarnya ?”. Maka aku berkata : ”Ya”. Maka ia terus berlalu hingga aku berkata : ”Aku tidak mendengarnya lagi”.

Maka Ibnu ’Umar pun meletakkan tangannya (dari kedua telinganya) dan kembali ke jalan tersebut sambil berkata : ”Aku melihat Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam ketika mendengar suara seruling melakukannya demikian”

[Diriwayatkan oleh Ahmad 2/38. Diriwayatkan pula 2/8, Abu Abu Dawud no. 4924 dan 4926; Al-Ajurri dalam Tahriimun-Nard wasy-Syatranj wal-Malaahi no. 64; dan yang lainnya. Shahih]

Dari hadits diatas ada dua cara untuk menghindari suara musik:

1. Menyumbat telinga

Dan inilah yang dipraktekkan Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam dan ibnu ‘umar radhiyallaahu ‘anhu. Pada zaman sekarang, alhamdulilaah kita bisa membawa mp3 player yang berisi kajian islami, atau bahkan hape/smartphone kita yang didalamnya bisa diisi dengan kajian islami. Kemudian jika kita mendapati suara musik dan nyanyian, maka kita dapat menyumbat telinga kita dengan headset, dan mengeraskan suara kajian tersebut, sehingga telinga kita terjaga dari kotornya suara musik dan nyanyian.

2. Tidak menyimak suaranya, yaitu tidak menikmati suara musik atau nyanyian tersebut

Dimana hati kita mengingkari suara tersebut, dan kita berusaha menyibukkan hati kita dengan hal-hal lain, agar tidak menikmati suara haram tersebut. Sebagaimana dilakukan oleh Naafi’ diatas.

Imam Maalik ditanya:

“Bagaimanakah sikap seseorang jika ia mendapati ada yang sedang memukul genderang dan berseruling, lalu ketika ia mendengarnya ia malah merasakan kenikmatan, baik sedang berjalan atau sedang duduk?”

Beliau menjawab:

“Hendaklah dia berdiri (meninggalkan tempat tersebut) jika ia merasa enak dengannya, kecuali jika ia duduk karena ada satu kebutuhan, atau dia tidak bisa berdiri. Adapun kalau di jalan, maka hendaklah dia mundur atau maju (hingga tidak mendengarnya).”

(Al-Jami’, Al-Qairawani, 262)

9. NYANYIAN hanyalah menimbulkan kemunafikan dalam hati

‘Abdullah bin Mas’ud radliyallaahu ‘anhu, ia berkata :

الغناء ينبت النفاق في القلب

“Nyanyian itu menumbuhkan kemunafikan dalam hati”

[Diriwayatkan oleh Ibnu Abid-Dunyaa dalam Dzammul-Malaahi 4/2 serta Al-Baihaqi dari jalannya dalam Sunan-nya 10/223 dan Syu’abul-Iman 4/5098-5099; shahih. Lihat Tahrim Alaatith-Tharb hal. 98; Maktabah Sahab]

10. NYANYIAN hanyalah dilakukan ORANG-ORANG FASIQ

ditanyakan kepada Malik bin Anas tentang nyanyian yang diperbolehkan oleh Ahlul-Madinah ?

beliau menjawab:

إنما يفعله عندنا الفسّاق

“Bahwasannya hal itu bagi kami hanyalah dilakukan oleh orang-orang fasiq”

[Lihat Talbiis Ibliis karya Ibnul Jauziy]

Hal yang sama pernah ditanyakan kepada Ibrahim bin Al-Mundzir rahimahullah – seorang tsiqah yang berasal dari Madinah dan termasuk guru dari Al-Imam Al-Bukhari – :

“Apakah engkau membolehkan nyanyian ?”. Maka beliau menjawab :

معاذ الله ، ما يفعل هذا عندنا إلا الفسّاق

“Ma’adzallah (aku berlindung kepada Allah), tidaklah ada yang melakukannya ini di sisi kami, kecuali orang-orang fasiq”

[Diriwayatkan oleh Al-Khallal dengan sanad shahih]

Sumber

– Hukum Musik dan Nyanyian (bag. 1), (bag. 2), (bag. 3) – oleh ustadz Abul-Jauzaa

Saatnya meninggalkan Musik, kutip dari muslim.or.id

Haramnya Musik dan Lagu, kutip dari website asysyariah

Tinggalkan komentar

Filed under Ahkam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s