Diantara keutamaan shalat dhuha

1. Shalat dhuha dalam rangka mensyukuri nikmat 360 persendian

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

«يُصْبِحُ عَلَىٰ كُلِّ سُلاَمَىٰ مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ. فَكُلُّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ. وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ. وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ. وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ. وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ. وَنَهْيٌ عَنِ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ. وَيُجَزِىءُ، مِنْ ذٰلِكَ، رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنَ الضُّحَىٰ».

“Pada tiap pagi ada ditetapkan sedekah untuk tiap-tiap persendian, dan tiap tasbih adalah sedekah, tiap tahlil adalah sedekah, tiap tahmid adalah sedekah, tiap takbir adalah sedekah, menganjurkan kebaikan adalah sedekah, dan mencegah kemungkaran adalah sedekah dan yang bisa mencukupi semua itu adalah dua rakaat (shalat sunnah) yang dilakukan di waktu dhuha.”

Dalam riwayat Ahmad

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

فِي الْإِنْسَانِ ثَلَاثُ مِائَةٍ وَسِتُّونَ مَفْصِلًا فَعَلَيْهِ أَنْ يَتَصَدَّقَ عَنْ كُلِّ مَفْصِلٍ فِي كُلِّ يَوْمٍ بِصَدَقَةٍ

“Dalam diri manusia ada tiga ratus enam puluh persendian, terdapat satu sedekah pada setiap persendian tersebut.”

Mereka bertanya: Siapa yang mampu melakukannya wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

النُّخَاعَةُ تَرَاهَا فِي الْمَسْجِدِ فَتَدْفِنُهَا أَوْ الشَّيْءُ تُنَحِّيهِ عَنْ الطَّرِيقِ فَإِنْ لَمْ تَقْدِرْ فَرَكْعَتَا الضُّحَى تُجْزِئُكَ

“Telah dihitung sedekah bila dahak dimasjid kau pendam dan gangguan kau singkirkan dari jalan, bila kau tidak mampu, maka dua rakaat dhuhaa mencukupimu.”

(HR Muslim, Ahmad (shahiih); dari Abu Dzar dan Buraydah Radhiallahu ‘Anhumaa)

2. Shalat shubuh berjama’ah di masjid, tetap didalamnya hingga masuk waktu dhuha, kemudian shalat dhuha, maka mendapatkan pahala haji dan umrah

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

مَنْ صَلَّى الْغَدَاةَ فِى جَمَاعَةٍ ثُمَّ قَعَدَ يَذْكُرُ اللَّهَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ كَانَتْ لَهُ كَأَجْرِ حَجَّةٍ وَعُمْرَةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ

“Barangsiapa yang shalat shubuh dengan berjama’ah kemudian dia berdzikir kepada Allah Ta’ala sampai terbitnya matahari lalu dia shalat dua raka’at[1. Shalat ini dikenal dengan shalat isyraq, tapi bisa disebut dengan shalat dhuha, karena shalat ini dikerjakan pada AWAL WAKTU DHUHA. Sehingga tidak keliru/salah menamakannya dengan shalat dhuha], maka pahalanya seperti pahala berhaji dan ‘umrah, sempurna, sempurna, sempurna.”

(HR. At-Tirmidziy no.591 dan dihasankan oleh Asy-Syaikh Al-Albaniy di dalam Shahih Sunan At-Tirmidziy no.480, Al-Misykat no.971 dan Shahih At-Targhiib no.468, lihat juga Shahih Kitab Al-Adzkaar 1/213 karya Asy-Syaikh Salim Al-Hilaliy)

‘Aisyah radhiyallåhu ‘anha berkata:

حَتَّى إِذَا كَانَتْ السَّاعَةُ الَّتِي تُكْرَهُ فِيهَا الصَّلَاةُ قَامُوا يُصَلُّونَ

“…(Mereka duduk) hingga waktu yang dilarang untuk shalat telah berlalu, (kemudian) mereka mendirikan shalat”

(AR. Bukhåriy)

3. Keluar dari rumah ke masjid, dalam rangka shalat dhuha, maka mendapatkan balasan yang sangat besar

Dari Abdullah bin Amr Radhiallahu ‘Anhu dia berkata,

“Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengutus pasukan perang, maka mereka mendapat ghanimah (rampasan perang) dan mereka cepat kembali, maka orang-orang membicarakan tentang peperangan itu dan banyaknya ghanimah yang mereka dapatkan serta kepulangan mereka yang cepat, maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

أَلاَ أَدُلُّكُمْ عَلىَ مَا هُوَ أَقْرَبُ مِنْهُمْ مَغْزىً وَأَكْثَرُ غَنِيْمَةً وَأَوْشَكُ رَجْعَةً ؟

“Maukah aku tunjukkan pada kalian apa yang lebih dekat dari peperangan mereka, dan lebih banyak ghanimah serta kepulangan yang lebih cepat?

مَنْ تَوَضَّأَ ثُمَّ غَدَا إِلىَ الْمَسْجِدِ لِسَبْحَةِ الضُّحىَ، فَهُوَ أَقْرَبُ مَغْزىً وَأَكْثَرُ غَنِيْمَةً وَأَوْشَكُ رَجْعَةً

Barang siapa yang berwudhu kemudian pergi pada waktu pagi ke MASJID untuk melakukan shalat dhuha, maka hal itu adalah peperangan yang paling dekat dan ghanimah yang paling banyak dan akan segera kembali.”

(HR. Thabrani dan lainnya; lihat shahiih at targhiib).

4. Keluar dari rumah ke masjid, dalam rangka shalat dhuha, maka mendapatkan pahala seperti orang berumrah

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

وَمَنْ خَرَجَ إِلَى تَسْبِيحِ الضُّحَى لَا يَنْصِبُهُ إِلَّا إِيَّاهُ فَأَجْرُهُ كَأَجْرِ الْمُعْتَمِرِ

Barangsiapa keluar untuk sholat sunnah dhuha, dia tidak mengharapkan apapun kecuali karena itu, maka pahalanya seperti pahala orang yang berumroh

(HR. Ahmad; Abu Dawud; dari Abu Umamah, dishohihkan Al-Albani)

5. Shalat dhuha empat raka’at maka akan dicukupkan Allah sampai akhir hari

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

« قَالَ اللهُ تَعَالىَ : يَا ابْنَ آدَمَ ارْكَعْ لِيْ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ مِنْ أَوَّلِ النَّهَارِ أَكُفُّكَ آخِرَهُ » .

“Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Wahai bani Adam, ruku’lah kepada-Ku empat rakaat pada awal siang hari, niscaya Aku cukupkan bagimu sampai akhir hari.”

(HR Tirmidzi dari Nu’aim al-Ghathfani, Imam Albani menshahihkannya dalam kitab al-Jami’ ash-Shahih; 4439)

6. Menggabungkan shalat dhuha empat raka’at dan shalat sebelum (qabliyah) zhuhur empat raka’at; dalam sehari, maka akan dibangunkan rumah di surga

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

مَنْ صَلَّى الضُّحَى أَرْبَعاً وَقَبْلَ الأُوْلَى أَرْبَعاً بُنِيَ لَهُ بَيْتٌ فِي الْجَنَّةِ

“Siapa yang shalat dhuha empat rakaat dan empat rakaat sebelum shalat pertama (shalat zuhur), maka dibangunkan baginya rumah di surga.”

(HR ath-Thabrani dalam al-Ausath dan dishahihkan al-Albani dalam Silsilah Ahaadits Shahihah no. 2349)

7. Keutamaan shalat dhuha 2, 4, 6, 8, atau 12 raka’at

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

من صلى الضحى ركعتين لم يكتب من الغافلين ومن صلى أربعا كتب من العابدين ومن صلى ستا كفي ذلك اليوم ومن صلى ثمانيا كتبه الله من القانتين ومن صلى ثنتي عشرة ركعة بنى الله له بيتا في الجنة

Barangsiapa mengerjakan shalat Dhuha dua rakaat, maka dia tidak ditetapkan termasuk orang-orang yang lengah. Barangsiapa shalat empat rakaat, maka dia tetapkan termasuk orang-orang yang ahli ibadah. Barangsiapa mengerjakan enam rakaat maka akan diberikan kecukupan pada hari itu. Barangsiapa mengerjakan delapan rakaat, maka Allah menetapkannya termasuk orang-orang yang tunduk dan patuh. Dan barangsiapa mengerjakan shalat dua belas rakaat, maka Allah akan membangunkan baginya sebuah rumah di Surga.

وما من يوم ولا ليلة إلا لله من يمن به على عبادة وصدقة وما من الله على أحد من عبادة أفضل من أن يلهمه ذكره

Dan tidaklah satu hari dan tidak juga satu malam, melainkan Allah memiliki karunia yang danugerahkan kepada hamba-hamba-Nya sebagai sedekah. Dan tidaklah Allah memberikan karunia kepada seseorang yang lebih baik daripada mengilhaminya untuk selalu mengingat-Nya

(diriwayatkan oleh Al-Bazzar di dalam kitab Kasyful Astaar (II/334); Hadits ini cenderung dihasankan (hasan lighayrihi) oleh Syaikh Muhammad Bazmuul hafizhahullaah[1. Berkata Syaikh Muhammad bin Umar bin Salim Bazmul : “didalam perawinya terdapat Musa bin Ya’qub seorang yang shaduq, yang mempunyai hafalan buruk, sebagaimana yang disebutkan di dalam kitab, At-Taqriib (hal. 554). Hadits ini yang diperkuat oleh syahid dari Abu Dzar. Dan disebutkan oleh Al-Mundziri di dalam kitab At-Targhiib. Hadits Abud Darda dan Abu Dzar Radhiyalahu ‘anhuma dinilai hasan oleh Al-Albani di dalam kitab Shahih At-Targhiib wat Tarhiib (I/279)”; kutip dari almanhaj])

8. Orang yang menjaga shalat dhuha, adalah orang-orang yang kembali kepadaNya

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

صَلاَةُ اْلأَوَّابِيْنَ إِذَا رَمَضَتِ الْفِصَالُ

“Shalatnya para Awwabin (orang yang kembali kepada Allah) adalah apabila anak onta bangun karena mulai panas tempat berbaringnya.”

(HR. Muslim). Dan makna Ramadhat adalah telah terbakar karena panasnya matahari.

Ringkasnya, bahwa shalatnya para awwabin adalah shalat dhuha, karena sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

لاَ يُحَافَظُ عَلىَ صَلاَةِ الضُّحىَ إِلاَّ أَوَّابٌ , وَهِيَ صَلاَةُ اْلأَوَّابِيْنَ

“Tidak menjaga shalat dhuha kecuali awwab (orang yang kembali kepada Allah), dan ia adalah shalatnya awwabin (orang-orang yang segera kembali kepada Allah).”

(HR. Ibnu Huzaimah dan al-Hakim, Albani menghasankannya dalam kitab Shahih Jami’ dari hadits Abu Hurairah, 1263/2)

Semoga bermanfaat

Tinggalkan komentar

Filed under Ibadah, Shålat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s