Jangan sibuk dengan berita “katanya…”

Ketahuilah wahai saudaraku! Bahwa seorang muslim itu BUKANLAH YANG SIBUK (apalagi sampai MENELAN MENTAH-MENTAH[1. Simak pula artikel: “Telitilah dalam menerima berita yang sampai kepadamu“]) dengan khabar “QIILA WA QAAL” (informasi yang hanya berdasarkan “katanya…”)

Allah berfirman:

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai ilmu tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.

(Al-Israa: 36)

Sedangkan “katanya… dan katanya…” adalah BUKAN ILMU, tapi masih pada derajat PERSANGKAAN. Sedangkan Rasuulullaah bersabda:

إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيْثِ

Hati-hati kalian dari ZHANN (prasangka), karena ZHANN itu adalah PEMBICARAAN yang PALING DUSTA.

(HR. ِAl-Bukhariy, Muslim, dan selainnya)

Maka apabila masih dalam tahap “prasangka” TIDAK BOLEH kita bicarakan! Jika kita membicarakannya, maka kita telah membicarkan pembicaraan yang PALING DUSTA.

Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

وَيَكْرَهُ لَكُمْ قِيْلَ وَقَالَ

“…Dan Allah MEMBENCI bila kalian “qiila wa qaala “(berkata hanya berlandaskan “katanya…”)….”

(HR Muslim)

dari al-Mughirah bin Syu’bah, bahwasanya Råsulullåh shållallåhu ‘alayhi wa sallam MELARANG untuk berkata “katanya… dan katanya…”

(Lihat ash Shahihayn)

Ditafsirkan oleh Imaam Ibnu Katsiir rahimahullaah, makna “qiila wa qaal”

Yaitu orang yang BANYAK BICARA tentang perkataan orang lain,

– TANPA MENELITI KEBENARANNYA,
– TANPA MEMASTIKANNYA (terlebih dahulu)
– dan TANPA MENCARI KEJELASAN (tentang kebenarannya)

[Tafsir Ibnu Katsir]

Jika pada hadits pertama, KITA DILARANG BERBICARA hanya BERMODALKAN PRASANGKA… Maka pada hadits kedua, kita DILARANG menyibukkan diri (apalagi menelan mentah-mentah) terhadap informasi “katanya dan katanya…” (apalagi sampai menyebarkan informasi tersebut)

Maka jika kita mendengar berita yang hanya bermodalkan “katanya dan katanya…” TIDAK BOLEH BAGI KITA SERTA MERTA menelan mentah-mentah berita tersebut… Apalagi sampai menyebarkan berita tersebut!!!

Akan tetapi DITELITI dulu (apakah ia benar atau tidak), kemudian DIPASTIKAN (apakah ia benar atau tidak)..

Barangsiapa yang menelan mentah-mentah berita “katanya… dan katanya…” ini… maka ia termasuk orang-orang yang berbicara hanya bermodalkan PRASANGKA.. karena “katanya dan katanya” bukanlah BUKTI/FAKTA dalam sebuah pembicaraan…

Sehingga terkenalah orang-orang yang mengatakan hal tersebut beberapa ancaman:

1. Ia telah membicarakan pembicaraan YANG PALING DUSTA

Rasuulullaah bersabda:

إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيْثِ

Hati-hati kalian dari ZHANN (prasangka), karena ZHANN itu adalah PEMBICARAAN yang PALING DUSTA.

(HR. ِAl-Bukhariy, Muslim, dan selainnya)

2. Ia digolongkan PENDUSTA, jika hal tersebut menjadi KEBIASAANnya…

Rasuulullaah bersabda:

كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ

”Cukuplah seseorang dikatakan berdusta, jika ia menceritakan SETIAP yang dia dengar.”

(HR. Muslim)

3. Ia MENYERUPAI SIFAT ORANG-ORANG MUNAAFIQ

Allah berfirman:

وَإِذَا جَآءَهُمْ أَمْرُُ مِّنَ اْلأَمْنِ أَوْ الْخَوْفِ أَذَاعُوا بِهِ

Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka SERTA MERTA MENYIARKANNYA.

(QS. an-Nisa’: 83)

4. Jika berita yang mereka bawa adalah BENAR, tapi yang berita yang mereka sebarkan tersebut (tidak disukai oleh saudaranya untuk diketahui orang lain).. Maka mereka telah melakukan GHIBAH dan NAMIIMAH.

Rasuulullaah bersabda tentang ghiibah:

ذِكْرُكَ أَخَأكَ بِمَا يَكْرَهُ

“Ghibah ialah engkau menceritakan hal-hal tentang saudaramu yang tidak dia suka”

(HR Muslim dan selainnya)

Allah berfirman tentang ghiibah:

وَلاَ يَغْتِبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيْهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوْهُ وَاتَّقُوْا اللهَ إِنَّ اللهَ تَوَّابٌ رَحِيْمٌ

“Dan janganlah sebagian kalian mengghibahi sebagian yang lain. Sukakah salah seorang dari kalian memakan daging bangkai saudaranya yang telah mati, pasti kalian membencinya. Maka bertaqwalah kalian kepada Allah, sungguh Allah Maha Menerima taubat dan Maha Pengasih”.

[Al Hujurat :12]

Rasuulullaah bersabda dalam menggambarkan alangkah besarnya dosa ghiibah:

لَقَدْ قُلْتِ كَلِمَةً لَوْ مُزِجَتْ بِمَاءِ الْبَحْرِ لَمَزَجَتْهُ

“Sungguh, engkau telah mengatakan sesuatu yang sekiranya ucapan itu dicampurkan dengan air laut, niscaya kata-kata itu akan larut dan mengubahnya.”

(HR Tirmidziy, hasan shahiih)

Rasuulullaah bersabda:

كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ، دَمُهُ وَعِرْضُهُ وَمَالُهُ

“Semua muslim terhadap muslim yang lain adalah HARAM, yaitu darahnya, KEHORMATANNYA, dan hartanya”.

[HR. Muslim]

Rasuulullaah bersabda:

بِحَسْبِ امْرِيْ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسلِمَ كُلٌ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ

“Cukuplah seseorang DIKATAKAN BURUKm jika sampai MENGHINA saudaranya SESAMA MUSLIM. Seorang MUSLIM WAJIB MENJAGA darah, harta dan KEHORMATAN MUSLIM lainnya”

Dikatakan NAMIIMAH.. Karena dengan menyebarkan aib seseorang, akan mempengaruhi orang lain untuk membencinya/memusuhinya.. Maka jika ia sampai membuat manusia memusuhi/membenci orang yang dighibahinya.. Maka ia pun kecipratan dosa lain, yaitu dosa namiimah…

Allah Ta’ala berfirman

وَلَا تُطِعْ كُلَّ حَلَّافٍ مَهِينٍ . هَمَّازٍ مَشَّاءٍ بِنَمِيمٍ . مَنَّاعٍ لِلْخَيْرِ مُعْتَدٍ أَثِيمٍ

“Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina, yang banyak mencela, yang kian ke mari menghambur fitnah, yang banyak menghalangi perbuatan baik, yang melampaui batas lagi banyak dosa”

(QS al Qalam:10-12).

Rasuulullaah bersabda:

لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ نَمَّامٌ

“Nammaam itu tidak akan masuk surga”

(HR Muslim no 303)

Beliau juga bersabda:

لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَتَّاتٌ

“Qattaat itu tidak akan masuk surga”

(HR Bukhari no 5709 dan Muslim no 304)

Nammaam adalah orang yang mendengar langsung sebuah berita (buruk, yang dengan berita tersebut dapat menimbulkan kebencian/permusuhan kepada orang yang diberitakan) kemudian menyampaikannya. Sedangkan qattaat adalah orang yang mendengar berita dari sumber yang tidak jelas kemudian menyampaikannya.

[Artikel Ustadz Aris]

Nammaam/qattaat akan DIADZAB DI KUBUR… Rasuulullaah bersabda:

يُعَذَّبَانِ ، وَمَا يُعَذَّبَانِ فِى كَبِيرٍ

“Keduanya diadzab, dan tidaklah keduanya diadzab dalam dosa yang besar (menurut prasangka keduanya)”

بَلَى ، كَانَ أَحَدُهُمَا لاَ يَسْتَتِرُ مِنْ بَوْلِهِ ، وَكَانَ الآخَرُ يَمْشِى بِالنَّمِيمَةِ

“Bahkan (sebenarnya hal tersebut merupakan dosa besar!)… Adapun orang yang pertama tidak menjaga diri dari percikan air kencingnya sendiri. Sedangkan orang kedua suka melakukan namimah…”

(HR Bukhaariy)

5. Jika apa yang mereka sebarkan (berupa khabar yang jelek) pada kenyataannya tidak seperti yang diberitakan… Maka ini DOSANYA LEBIH BESAR LAGI..

Allah berfirman:

وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُّبِينًا

“Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mu’min dan mu’minat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesunguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata”

[Al-Ahzab : 58]

وَالَّذِي تَوَلَّىٰ كِبْرَهُ مِنْهُمْ لَهُ عَذَابٌ عَظِيمٌ

“Dan orang-orang di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar.”

(An-Nur: 11)

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ

“Sesungguhnya AL-MUFLIS dari ummatku adalah orang-orang yang datang di Hari Kiamat dengan membawa PAHALA shalat, puasa, dan zakat, tetapi ia juga pernah MENCELA si fulan, MENUDUH si fulan (tanpa bukti), memakan harta si fulan, menumpahkan darah si fulan, memukul si fulan, maka DIBERIKANLAH PAHALA pada si fulan dan si fulan.”

فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ

“Sehingga apabila telah habis pahalanya sebelum habis dosanya, maka diambillah dosa orang-orang lain tersebut dan dipikulkan pada dirinya lalu DILEMPARKAN KE NERAKA.”

[HR. Muslim]

BAGAIMANA MENYIKAPI ORANG-ORANG YANG MEMBAWA BERITA BURUK…

Berlakulah padanya firman Allah:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا

“Artinya : Wahai orang-orang yang beriman, jika seorang FASIQ datang kepada kalian MEMBAWA BERITA, hendaklah kalian teliti (kebenaran berita yang mereka bawa)”

[Al-Hujurat : 6]

Karena orang yang sedang ber-ghibah/namimah adalah orang FASIQ, maka kita tidak benarkan berita yang dibawanya tersebut, sampai kita meneliti khabar yagn dikhabarkannya.

Mengapa demikian?

أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

“…agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum; tanpa mengetahui keadaannya (yang sebenarnya); sehingga menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu…”

(QS. al-Hujurat: 6)

Kemudian, sikap kita ketika mendengar khabar dari orang-orang fasiq, adalah sebagaimana firmanNya:

لَوْلَا إِذْ سَمِعْتُمُوهُ ظَنَّ الْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بِأَنْفُسِهِمْ خَيْرًا وَقَالُوا هَٰذَا إِفْكٌ مُبِينٌ

“Artinya : Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu orang-orang mukminin dan mukminat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak) berkata : Ini adalah suatu berita bohong yang nyata”

[An-Nuur : 12]

Kita katakan kepadanya:

سُبْحَانَكَ هَٰذَا بُهْتَانٌ عَظِيمٌ

“Artinya : Maha Suci Engkau (Ya Allåh), Ini adalah dusta yang besar”

[An-Nuur : 16]

Sebagaimana sikap Rasuulullaah ketika mendengar berita ini:

وَايْمُ اللَّهِ مَا عَلِمْتُ عَلَى أَهْلِي سُوءًا قَطُّ

Demi Allah, Tidaklah aku MENGENAL keluargaku ada KEJELEKAN sama sekali…

(Beliau juga berkata tentang Shafwan ibnul Mu’aththal yang dituduh berzina dengan ‘aa-isyah)

وَأَبَنُوهُمْ بِمَنْ وَاللَّهِ مَا عَلِمْتُ عَلَيْهِ مِنْ سُوءٍ قَطُّ وَلَا دَخَلَ بَيْتِي قَطُّ إِلَّا وَأَنَا حَاضِرٌ وَلَا غِبْتُ فِي سَفَرٍ إِلَّا غَابَ مَعِي

Mereka mencela orang yang demi Allah aku TIDAK MENGETAHUI pada dirinya ada KEJELEKAN sama sekali dan ia tidaklah masuk sama sekali ke rumahku kecuali aku juga berada ditempat itu; dan tidaklah aku tidak ikut bersafar melainkan dia juga tidak ikut bersamaku.

(HR Bukhaariy)

Atau sebagaimana perkataan Usaamah radhiyallaahu ‘anhu dalam menyikapi ketika dituduhnya ‘aa-isyah radhiyallaahu ‘anhaa berzina:

أَهْلَكَ وَلَا نَعْلَمُ إِلَّا خَيْرًا

Keluargamu (wahai Rasuulullaah), tidaklah kami ketahui, kecuali kebaikan

(HR Bukhaariy)

Imam an Nawawiy rahimahullah mewasiatkan… apabila kita mendapatkan BERITA BURUK yang disebarkan orang-orang tentang saudara kita (yang kita kenal kebaikannya/keshalihannya):

– Tidak membenarkan perkataannya. Karena tukang namimah adalah orang fasik.

– Mencegahnya dari perbuatan tersebut, menasehatinya dan mencela perbuatannya.

– Membencinya karena Allah, karena ia adalah orang yang dibenci di sisi Allah. Maka wajib membenci orang yang dibenci oleh Allah.

– Tidak berprasangka buruk kepada saudaranya yang dikomentari negatif oleh pelaku namimah.

– Tidak memata-matai atau mencari-cari aib saudaranya dikarenakan namimah yang didengarnya.

– Tidak membiarkan dirinya ikut melakukan namimah tersebut, sedangkan dirinya sendiri melarangnya. Janganlah ia menyebarkan perkataan namimah itu dengan mengatakan, “Fulan telah menyampaikan padaku begini dan begini.” Dengan begitu ia telah menjadi tukang namimah karena ia telah melakukan perkara yang dilarang tersebut.”.

Allah berfirman tentang LARANGAN menyebarkan berita bohong:

إِذْ تَلَقَّوْنَهُ بِأَلْسِنَتِكُمْ وَتَقُولُونَ بِأَفْوَاهِكُم مَّا لَيْسَ لَكُم بِهِ عِلْمٌ وَتَحْسَبُونَهُ هَيِّنًا وَهُوَ عِندَ اللَّهِ عَظِيمٌ

(Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia pada sisi Allah adalah besar.

(an Nur: 15)

Maka berhati-hatilah saudaraku… Jika engkau diam, maka engkau selamat (meski berita tersebut benar adanya)… Tapi jika engkau ikut menyebarkan, maka hendaknya engkau membayangkan segala konsekuensi yang akan kau hadapi…

Rasulullah bersabda.

وَهَلْ يَكُبُّ النَّاسَ فِي النَّارِ عَلَى وُجُوهِهِمْ أَوْ عَلَ مَنَا خِرِهِِمْ إِلاَّ حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ

“Bukankah tidak ada yang menjerumuskan orang ke dalam neraka selain buah lisannya ?”

(Hasan Shahiih; HR Tirmidziy)

Beliau juga bersabda:

إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مَا يَتَبَيَّنُ مَا فِيْهَا يَهْوِى بِهَا فِي النَّارِأَبْعَدَمَا بَيْنَ الْمَسْرِقِ وَالْمَغْرِبِ

“Sesungguhnya seorang hamba yang mengucapkan suatu perkataan yang tidak dipikirkan apa dampak-dampaknya akan membuatnya terjerumus ke dalam neraka yang dalamnya lebih jauh dari jarak timur dengan barat”

(Bukhaariy, Muslim, dan selainnya)

Maka hendaknya kita mengamalkan sabda beliau:

وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya dia berkata yang baik atau diam”

(Bukhaariy, Muslim dan selainnya)

Karena Rasuulullaah juga bersabda:

مَنْ يَضْمَنَّ لِي مَابَيْنَ لِحْيَيْهِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أَضْمَنْ لَهُ الْجَنَّةَ

“Barangsiapa bisa memberikan jaminan kepadaku (untuk menjaga) apa yang ada di antara dua janggutnya dan dua kakinya, maka kuberikan kepadanya jaminan masuk surga”

(HR Bukhaariy dan selainnya)

Semoga bermanfaat

Tinggalkan komentar

Filed under Adab, Akhlak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s