Solusi syar’iyyah terhadap rumah “angker”

1. Menyebut nama Allah ketika masuk rumah.

Rasuulullaah bersabda:

إِذَا دَخَلَ الرَّجُلُ بَيْتَهُ فَذَكَرَ اللهَ عِنْدَ دُخُوْلِهِ وَعِنْدَ طَعَامِهِ، قَالَ الشَّيْطَانُ: لاَ مَبِيْتَ لَكُمْ وَلاَ عَشَاءَ،

“Apabila seseorang masuk ke dalam rumahnya lalu ia menyebut nama Allah (yaitu membaca basmallah) ketika masuk dan ketika dia makan, setan akan berkata: ”Tidak ada tempat menginap dan makan malam bagi kalian”.

وَإِذاَ دَخَلَ فَلَمْ يَذْكُرِ اللهَ عِنْدَ دُخُوْلِهِ، قَالَ الشَّيْطَانُ أَدْرَكْتُمُ الْمَبِيْتَ، وَإِذَا لَمْ يَذْكُرِ اللهَ عِنْدَ طَعَامِهِ، قَالَ أَدْرَكْتُمُ الْمَبِيْتَ وَالْعَشَاءَ.

Dan jika ia masuk rumah lalu tidak menyebut nama Allah ketika masuk, niscaya setan berkata: ”Kalian mendapatkan tempat menginap”. Jika ia lupa juga menyebut nama Allah ketika makan, setan akan berkata lagi: ”Kalian mendapatkan tempat menginap dan makan malam”.

[HR Muslim]

2. Memakmurkan rumah dengan berbagai amalan shalih berupa dzikir, bacaan qur-aan dan lain-lain.

Beliau juga bersabda:

لا تَجْعَلُوْا بُيُوْتَكُمْ مَقَابِرَ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْفِرُ مِنَ الْبَيْتِ الَّذِيْ تُقْرَأُ فِيْهِ سُوْرَةُ الْبَقَرَةِ

”Janganlah kalian jadikan rumah-rumah kalian seperti kuburan. Sesungguhnya syaithan itu akan lari dari rumah yang dibacakan padanya surat Al-Baqarah”

[HR. Muslim no. 780].

اقْرَأُوْا سُوْرَةَ الْبَقَرَةِ فَإِنَّ أَخْذَهَا بَرَكَةٌ وَتَرْكَهَا حَسْرَةٌ وَلا تَسْتَطِيْعُهَا الْبَطَلَةُ

”Bacalah surat Al-Baqarah, karena membacanya akan mendatangkan berkah dan meninggalkannya berarti kerugian. Tukang sihir tidak akan bisa berbuat jahat kepada pembacanya”

[HR. Muslim]

3. Menjadikan sebagian shalat di rumah (terutama shalat sunnah)

Rasuulullaah bersabda:

اجْعَلُوا فِى بُيُوتِكُمْ مِنْ صَلاَتِكُمْ ، وَلاَ تَتَّخِذُوهَا قُبُورًا

“Jadikanlah sebagian shalat kalian di rumah kalian. Janganlah jadikan rumah kalian seperti kuburan.”

(HR Bukhariy)

Beliau juga bersabda:

إِذَا قَضَى أَحَدُكُمْ الصَّلَاةَ فِي مَسْجِدِهِ فَلْيَجْعَلْ لِبَيْتِهِ نَصِيبًا مِنْ صَلَاتِهِ فَإِنَّ اللَّهَ جَاعِلٌ فِي بَيْتِهِ مِنْ صَلَاتِهِ خَيْرًا

“Jika seorang diantara kalian shalat di masjid, maka hendaknya ia menjadikan sebagian shalat di rumahnya, sebab Allah menjadikan kebaikan dari shalatnya di rumahnya.”

(HR Muslim)

Diantara kebaikannya adlaah sebagaimana disabdakan beliau berikut:

إذا خرَجت من مَنْـزلك فَصَلّ ركعتين يمنعانكَ من مخرجِ السوءِ

“Jika engkau keluar dari rumahmu, kerjakanlah shalat dua rakaat, niscaya keduanya akan mencegahmu dari keburukan yang mungkin terjadi di dalam rumah.

وإذا دَخَلْتَ إلى منـزلك فصَلّ ركعتين يمنعانكَ من مدخل السوء

Jika engkau masuk kedalam rumahmu, kerjakanlah shalat dua rakaat, niscaya keduanya akan mencegahmu dari keburukan yang mungkin terjadi diluar rumah.”

(HR. al-Bazzar dalam Kasyful Astaar (II/357), lihat Faidhul Qadhir (I/334) karya al-hafizh Ibnu Hajar al-atsqålaniy, dan as-Silsilah al-ahaadiits ash-Shahihah (no. 1323)

Juga, shalat sunnah dirumah LEBIH UTAMA daripada shalat sunnah di tempat lain, sebagaimana beliau:

أَفْضَلُ صَلاَةِ الْمَرْءِ فِى بَيْتِهِ إِلاَّ الْمَكْتُوبَةَ

“SEUTAMA-UTAMA shalat seseorang adalah di rumahnya; kecuali shalat wajib.”

(HR Ahmad, Bukhariy dan selainnya)

Karena shalat wajib, lebih utama dikerjakan di masjid.

Dalam hal ini beliau bersabda:

تَطَوُّعُ الرَّجُلِ فِي بَيْتِهِ يَزِيْدُ عَلَى تَطَوُّعِهِ عِنْدَ النَّاسِ، كَفَضْلِ صَلاَةِ الرَّجُلِ فِي جَمَاعَةٍ عَلَى صَلاَتِهِ وَحْدَهُ

“Sholat SUNNAHnya seseorang di RUMAHnya, LEBIH BERNILAI dari pada sholat sunnahnya di hadapan manusia, SEBAGAIMANA KEUTAMAAN sholat (wajib) seseorang bersama jama’ah, dibandingkan jika ia sholat (wajib) sendirian (tidak berjamaah)”

(lihat ash shahiihah no. 3149)

Dan ketika kita berada di rumah pun, hendaknya kita mencari tempat yang tidak dilihat manusia, bahkan kalau kita mampu, tanpa dilihat istri/anak/pembantu kita, karena beliau bersabda:

صَلاَةُ الرَّجُلِ تَطَوُّعاً حَيْثُ لاَ يَرَاهُ النَّاسُ تَعْدِلُ صَلاَتَهُ عَلَى أَعْيُنِ النَّاسِ خَمْساً وَعِشْرِيْنَ

“Sholat SUNNAHnya seseorang yang dikerjakan TANPA DILIHAT oleh manusia niainya sebanding dengan 25 SHALATNYA yang dilihat oleh mata-mata manusia”

(idem)

Semoga bermanfaat

Tinggalkan komentar

Filed under Adab, Keluarga

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s