Contohilah sikap salafush shalih berikut!

Pernah suatu ketika ‘Umar ibnul Khaththab radhiyallaahu ‘anhu bermusyawarah dengan para shahabat radhiyallaahu ‘anhum ajma’iin. Tiba-tiba datang seseorang dengan suara keras:

‘Berlakulah lebih baik wahai Umar, demi Allah, kamu tidak memberikan kami bagian yang banyak, kamu tidak menghukumi kami dengan adil.’

Maka beliau radiyallahu ‘anhu marah hingga bermaksud untuk memukulnya.

Maka al-Hurr berkata,

‘Wahai Amir al-Mukminin, sesungguhnya Allah Subhanahu waTa`ala berfirman kepada NabiNya Shallallahu ‘alaihi wasallam,

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ

‘Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah daripada orang-orang yang bodoh.’

(Al-A’raf: 199)

Dan sesungguhnya orang ini termasuk orang bodoh.’

Berkata Ibnu ‘Abbas setelah meriwayatkan hadits diatas:

“Demi Allah, ‘Umar tidak bertindak melampaui batas ketika dia membaca ayat tersebut untuknya. Dia berserah diri sepenuhnya pada kitab Allah Subhanahu wa Ta`ala…”

(HR Bukhaariy)

Faidah

1. Jika para shahabat sekelas ‘umar BISA KHILAF, tentu orang selain beliau LEBIH PANTAS jatuh kepada khilaf juga!

Maka hendaknya seseorang menasehati kawannya ketika ia jatuh kepada kekhilafan.

Akan tetapi kita (terhadap diri kita sendiri), janganlah berdalih dengan “khilaf” untuk sengaja atau terus-terusan jatuh kedalamnya.

2. Jika kita jatuh kepada KHILAF, dan diingatkan dengan kitabullah maupun sunnah Rasuulullaah (sesuai dengan pemahaman Rasuulullaah dan para shahabatnya).. maka hendaknya kita segera RUJU’.. tinggalkan hawa nafsu (baik itu amarah, syahwat yang diikuti, atau lainnya).. Contohilah sikap tauladan salafush shalih kita; ‘Umar ibnul Khaththab radhiyallaahu ‘anhu sebagaimana disebutkan dalam atsar diatas

3. Lihat al Hurr dibandingkan ‘Umar ibnul Khaththaab, maka tentulah lebih tinggi kedudukan ‘umar. Tapi jika yang disampaikan adalah kebenaran, hendaknya kita tidak menolaknya hanya karena orang yang menyampaikannya “lebih rendah” dari kita. Karena pada hakekatnya kita dihadapkan dengan taat atau bermaksiat kepada Allah. karena kebenaran datangnya dari Allah.

4. Coba kita simak ayat diatas:

Sebelum Allah memerintahkan “serulah manusia kepada yang ma’ruf”, Allah memerintahkan kita untuk menjadi PEMAAF.

Karena pasti… ketika menyeru manusia kepada kebaikan, kita akan dihadapkan dengan berbagai macam jenis manusia. Ingat… manusia itu beragam: ada yang imannya kuat, ada yang lemah. ada yang cepat dalam menerima kebenaran, ada yang masih ada keberatan dalam hatinya. ada yang menanggapi dengan tanggapan yang menyesakkan hati, ada yang menanggapi dengan tanggapan yang melapangkan dada. Beragam.

Maka sudah siapkah kita dengan hal ini? maka bekalilah diri kita dengan sikap PEMAAF.

Kemudian setelah Allah memerintahkan “suruhlah manusia kepada yang ma’ruf” Allah berfiman “dan berpalinglah dari orang-orang bodoh”

Maka hendaknya kita tidak perlu menyibukkan diri kita dengan orang-orang yang melampaui batas dengan kebodohannya. Berpalinglah darinya.

Tidakkah engkau tahu bahwa Rasuulullaah dicela, dicaci, dituduh dengan tuduhan dusta; Namun itu semua TIDAKLAH MENYEBABKAN beliau SIBUK untuk membantah segala tuduhan.. Akan tetapi beliau istiqamah dengan tujuan utama beliau (yaitu dakwah tauhid).. Sembari berpaling dari orang-orang bodoh.

Maa-syaa Allaah. sungguh ini pelajaran berharga bagi kita semua.

Semoga bermanfaat.

Tinggalkan komentar

Filed under Akhlak, al-Quran, Hadits

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s