HARAM menyemarakkan hari besar orang kafir!

Sekarang ini dengan dalih “toleransi” beragama[1. Sampai-sampai ada yang berkata:

“Tidak apa-apa lah… Sesungguhnya agama kita sebetulnya ‘sama’, caranya aja yang beda!”

Laa hawla wa laa quwwata illa billaah! ini ucapan yang SANGAT JELEK yang bisa-bisanya keluar dari lisan seorang yang MENGAKU MUSLIM!

Tidaklah yang mengatakan ini kecuali dia orang bodoh, atau dia orang liberal, atau dia orang kafir yang hendak ingin kaum muslimin mengakui agamanya yang kufur.

Bagaimana bisa ia berkata demikian?

Mereka menjadikan nabi ‘isa sebagai sesembahan selain Allah! Atau menganggap nabi ‘isa adalah Allah itu sendiri!!

Darimana dikatakan “hanya caranya yg beda”? Justru aqidahnya yang beda! Buktinya… jika engkau katakan “hanya caranya aja yg beda” mengapa engkau tetap dalam agama nashranimu dan tidak masuk islam?! Tidak mau masuk islam kan? Ya, karena engkau sendri mengingkari dan tidak mau mengakui bahwa Allah satu-satunya sembahan yang haq, dan islam satu-satunya agama yang benar!

Maka hendaknya kita tidak tertipu dengan ucapannya orang bodoh, atau orang liberal, atau oran kafir yg memutar-balik lidahnya degan ucapan yg “kayana bener” tapi penuh dengan pengkaburan akan aqidah!! Berhati-hatilah!!!], maka pihak tertentu menganjurkan (apalagi sampai mewajibkan) pekerjanya untuk mengucapkan selamat natal, menuliskan ucapan-ucapan yang bertemakan natal, memutarkan musik-musik nasrani, memakai atribut-atribut natal, atau merias ruangan agar bertemakan natal.

Akhii ini bukan sekedar “mengucapkan selamat”, bukan sekedar “memakai topi”, bukan sekedar “merias ruangan” tapi ini adalah permasalahan aqidah. Dimana engkau telah bahu membahu dan ikut menyemarakkan hari besar orang kaafir

Tidakkah engkau tahu bahwa haram bagi kaum muslimin untuk turut serta dalam hari besar orang-orang kaafir?!

Tidakkah engkau tahu jika sampai engkau ridha dengan kekafiran mereka, maka ini adalah keyakinan kufur?

Kalau misalkan hatimu mengingkari kekafiran mereka, tapi engkau tolong menolong menyemarakkan acaranya, maka ini dosa besar[2. Simak: “Diantara bentuk loyalitas terhadap orang kafir“]!!!

Ini bukanlah “perbuatan baik” sebagaimana sangkaan PERASAAN atau LOGIKAMU.. Justru Ini adalah seburuk-burukmya perbuatan…

Jika engkau “merasa nggak enakan” kepada bossmu… Sekarang begini, lebih tinggi mana? Allah atau bossmu? Apakah bossmu lebih engkau tinggikan daripada Allah? Sehingga engkau lebih takut dan lebih mematuhinya dalam rangka memaksiati Allah?!

Tidak ada ketaatan dalam bermaksiat kepada Allah! Takutlah hanya kepada Allah. Dan janganlah tolong menolong diatas perbuatan dosa! Jangan jual aqidahmu hanya karena uang yang sedikit, apalagi hanya karena “nggak enakan”!

Fatwa Ulamaa’ akan HARAM-nya menyemarakkan hari besar orang kafir

Fatwa Syaikh ibnul Utsaimiin

Ditanyakan kepada syaikh ibnul utsaimiin rahimahullaah:

“Apa hukum mengucapkan selamat natal (Merry Christmas) pada orang kafir (Nashrani) dan bagaimana membalas ucapan mereka? Bolehkah kami menghadiri acara perayaan mereka (perayaan Natal)? Apakah seseorang berdosa jika dia melakukan hal-hal yang dimaksudkan tadi, tanpa maksud apa-apa? Orang tersebut melakukannya karena ingin bersikap ramah, karena malu, karena kondisi tertekan, atau karena berbagai alasan lainnya. Bolehkah kita tasyabbuh (menyerupai) mereka dalam perayaan ini?”

Beliau rahimahullah menjawab:

– Memberi ucapan Selamat Natal atau mengucapkan selamat dalam hari raya mereka (dalam agama) yang lainnya pada orang kafir adalah sesuatu yang DIHARAMKAN berdasarkan KESEPAKATAN para ULAMA (baca: IJMA’ kaum muslimin)

sebagaimana hal ini dikemukakan oleh Ibnul Qoyyim rahimahullah dalam kitabnya Ahkamu Ahlidz Dzimmah. Beliau rahimahullah mengatakan, “Adapun memberi ucapan selamat pada syi’ar-syi’ar kekufuran yang khusus bagi orang-orang kafir (seperti mengucapkan selamat natal, pen) adalah sesuatu yang diharamkan berdasarkan ijma’ (kesepakatan) kaum muslimin. Contohnya adalah memberi ucapan selamat pada hari raya dan puasa mereka seperti mengatakan, ‘Semoga hari ini adalah hari yang berkah bagimu’, atau dengan ucapan selamat pada hari besar mereka dan semacamnya. Kalau memang orang yang mengucapkan hal ini bisa selamat dari kekafiran, namun dia tidak akan lolos dari perkara yang diharamkan. Ucapan selamat hari raya seperti ini pada mereka sama saja dengan kita mengucapkan selamat atas sujud yang mereka lakukan pada salib, bahkan perbuatan seperti ini lebih besar dosanya di sisi Allah. Ucapan selamat semacam ini lebih dibenci oleh Allah dibanding seseorang memberi ucapan selamat pada orang yang minum minuman keras, membunuh jiwa, berzina, atau ucapan selamat pada maksiat lainnya. Banyak orang yang kurang paham agama terjatuh dalam hal tersebut. Orang-orang semacam ini tidak mengetahui kejelekan dari amalan yang mereka perbuat. Oleh karena itu, barangsiapa memberi ucapan selamat pada seseorang yang berbuat maksiat, bid’ah atau kekufuran, maka dia pantas mendapatkan kebencian dan murka Allah Ta’ala.” –Demikian perkataan Ibnul Qoyyim rahimahullah-

Dari penjelasan di atas, maka dapat kita tangkap bahwa mengucapkan selamat pada hari raya orang kafir adalah sesuatu yang diharamkan. Alasannya, ketika mengucapkan seperti ini berarti seseorang itu setuju dan ridho dengan syiar kekufuran yang mereka perbuat. Meskipun mungkin seseorang tidak ridho dengan kekufuran itu sendiri, namun tetap tidak diperbolehkan bagi seorang muslim untuk ridho terhadap syiar kekufuran atau memberi ucapan selamat pada syiar kekafiran lainnya karena Allah Ta’ala sendiri tidaklah meridhoi hal tersebut. Allah Ta’ala berfirman,

إِنْ تَكْفُرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنْكُمْ وَلَا يَرْضَى لِعِبَادِهِ الْكُفْرَ وَإِنْ تَشْكُرُوا يَرْضَهُ لَكُمْ

“Jika kamu kafir maka sesungguhnya Allah tidak memerlukan (iman)mu dan Dia tidak meridhai kekafiran bagi hamba-Nya; dan jika kamu bersyukur, niscaya Dia meridhai bagimu kesyukuranmu itu.” (Qs. Az Zumar [39]: 7)

Allah Ta’ala juga berfirman,

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni’mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (Qs. Al Maidah [5]: 3)

– (Demikian pula) Memberi ucapan selamat semacam ini pada mereka adalah sesuatu yang DIHARAMKAN, baik mereka adalah rekan bisnis ataukah tidak.

Jika mereka mengucapkan selamat hari raya mereka pada kita, maka tidak perlu kita jawab karena itu bukanlah hari raya kita dan hari raya mereka sama sekali tidak diridhoi oleh Allah Ta’ala. Hari raya tersebut boleh jadi hari raya yang dibuat-buat oleh mereka (baca : bid’ah). Atau mungkin juga hari raya tersebut disyariatkan, namun setelah Islam datang, ajaran mereka dihapus dengan ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ajaran Islam ini adalah ajaran untuk seluruh makhluk.

Mengenai agama Islam yang mulia ini, Allah Ta’ala sendiri berfirman,

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآَخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (Qs. Ali Imron [3]: 85)

– Adapun seorang muslim memenuhi undangan perayaan hari raya mereka, maka ini DIHARAMKAN.

Karena perbuatan semacam ini tentu saja lebih parah daripada cuma sekedar memberi ucapan selamat terhadap hari raya mereka. Menghadiri perayaan mereka juga bisa jadi menunjukkan bahwa kita ikut berserikat dalam mengadakan perayaan tersebut.

– Begitu pula DIHARAMKAN bagi kaum muslimin menyerupai orang kafir dengan mengadakan pesta natal, atau saling tukar kado (hadiah), atau membagi-bagikan permen atau makanan (yang disimbolkan dengan ‘santa clause’ yang berseragam merah-putih, lalu membagi-bagikan hadiah, pen) atau sengaja meliburkan kerja (karena bertepatan dengan hari natal). Alasannya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.”

(HR. Ahmad dan Abu Dawud. Syaikhul Islam dalam Iqtidho’ mengatakan bahwa sanad hadits ini jayid/bagus)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitabnya Iqtidho’ Ash Shirothil Mustaqim mengatakan, “Menyerupai orang kafir dalam sebagian hari raya mereka bisa menyebabkan hati mereka merasa senang atas kebatilan yang mereka lakukan. Bisa jadi hal itu akan mendatangkan keuntungan pada mereka karena ini berarti memberi kesempatan pada mereka untuk menghinakan kaum muslimin.” -Demikian perkataan Syaikhul Islam-

Barangsiapa yang melakukan sebagian dari hal ini maka dia berdosa, baik dia melakukannya karena alasan ingin ramah dengan mereka, atau supaya ingin mengikat persahabatan, atau karena malu atau sebab lainnya. Perbuatan seperti ini termasuk cari muka (menjilat), namun agama Allah yang jadi korban. Ini juga akan menyebabkan hati orang kafir semakin kuat dan mereka akan semakin bangga dengan agama mereka.

Allah-lah tempat kita meminta. Semoga Allah memuliakan kaum muslimin dengan agama mereka. Semoga Allah memberikan keistiqomahan pada kita dalam agama ini. Semoga Allah menolong kaum muslimin atas musuh-musuh mereka. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Kuat lagi Maha Mulia.

[Majmu’ Fatawa wa Rosail Ibnu ‘Utsaimin), 3/28-29, no. 404, kutip dari Muslim.Or.Id’]

Fatwa Lajnah Daaimah

Al Lajnah Ad Daimah lil Buhuts Al ‘Ilmiyyah wal Ifta’ ditanya,

“Bolehkah seorang muslim memakan makanan dari perayaan ahli kitab (Yahudi dan Nashrani) atau dari perayaan orang musyrik di hari raya mereka atau menerima pemberian yang berhubungan dengan hari raya mereka?”

Jawaban para ulama Lajnah,

“Tidak boleh seorang muslim memakan makanan yang dibuat oleh orang Yahudi dan Nashrani atau orang musyrik yang berhubungan dengan hari raya mereka.

Begitu pula seorang muslim tidak boleh menerima hadiah yang berhubungan dengan perayaan tersebut.

Karena jika kita menerima pemberian yang berhubungan dengan hari raya mereka, itu termasuk bentuk memuliakan dan menolong dalam menyebarluaskan syi’ar agama mereka. Hal itu pun termasuk mempromosikan ajaran mereka yang mengada-ada (baca: bid’ah) dan turut gembira dalam perayaan mereka. Seperti itu pun dapat dianggap menjadikan perayaan mereka menjadi perayaan kaum muslimin. Boleh jadi awalnya mereka ingin mengundang kita, namun diganti dengan yang lebih ringan yaitu dengan memberi makanan atau hadiah saat mereka berhari raya. Ini termasuk musibah dan ajaran agama yang mengada-ada (baca: bid’ah).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa yang mengada-adakan amalan baru yang bukan ajaran dari kami, maka amalannya tertolak”

(HR. Bukhari dan Muslim).

Sebagaimana pula tidak boleh bagi seorang muslim memberi hadiah kepada non muslim yang berhubungan dengan perayaan mereka.

[Fatwa Al Lajnah Ad Daimah lil Buhuts Al ‘Ilmiyyah wal Ifta’no. 2882, pertanyaan kedua, 22: 398-399, ditanda tangani oleh Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz selaku ketua, Syaikh ‘Abdurrozaq ‘Afifi selaku wakil ketua dan Syaikh ‘Abdullah bin Qu’ud selaku anggota; dikutip dari rumaysho.com]

Semoga bermanfaat

Tinggalkan komentar

Filed under Aqidah, Tauhid Uluhiyyah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s