Tidak ada jalan bagimu untuk merasa aman dari dosa

1. Apabila seseorang memutuskan untuk diam saja, tidak berbuat apa-apa… tapi diamnya menyebabkan dia meninggalkan kewajiban yang harus ia tunaikan… Maka dosa telah pasti dicatat atasnya…

2. Apabila seorang memutuskan untuk berbuat sesuatu… akan tetapi sesuatu tersebut adalah sesuatu yang haram… Maka dosa telah pasti dicatat atasnya…

3. Apabila seseorang memutuskan untuk melakukan amalan shalih… maka jangan sampai dia “merasa aman akan dosa”… karena orang yang melakukan amalan shalih pun tidak terjamin bebas dari dosa… justru dosanya dalam hal ini SANGAT HALUS… bahkan dosanya LEBIH BESAR daripada dua dosa diatas… apa itu? ketika ia melakukan SYIRIK ASHGHAR dalam amalan shalihnya… dan dalam hal ini, kita TIDAK MEMASTIKAN apakah dirinya telah selamat, ataukah tidak…

Solusinya apa?

Beramal shalih-lah… Dan ketahuilah bahwa yang dinamakan amalan shalih BENAR tata-caranya [berdasarkan tuntunan Rasul], dan BENAR niatnya [ikhlash semata-mata karenaNya]… Luruskan niat sebelum, sedang dan setelah beramal… Jangan sampai amalan shalih kita terkotori riya’, sum’ah, ujub lagi takabbur… Sehingga justru menjadikan kita binasa, sedangkan kita menyangka kita berbuat sebaik-baiknya…

Faidahnya apa?

– Jika kita TIDAK PASTIKAN SELURUH AMALAN BAIK kita bebas dari riya maupun sum’ah.. untuk apa kita UJUB dengannya? untuk apa kita TAKABBUR (merendahkan orang lain, yang “kelihatannya” amalnya lebih sedikit dari kita)[1. Maka sangat benar Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

لَولَم تَكُونُو تَذْنِبُونَ خَشِيتُ عَلَيكم اكثَرَ من ذلك : العُجْبُ

kalau kalian tidak berbuat dosa, niscaya aku benar benar merasa takut atas kalian apa yang lebih berat dari itu: (yaitu) UJUB.

(Hasan, HR al Bayhaqiy)

Dan tahukah kita apa hasil dari ujub? yaitu takabbur!

الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَ غَمْطُ النَّاسِ

Al Kibr (sombong) adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia

(HR Muslim)

Bukankah apabila seseorang takjub (lupa kepada taufiq dari Allah, dan menyandarkan kebaikan kepada dirinya) dapat menjerumuskannya kepada merendahkan orang lain?!] ?

– Jika kita sudah tahu hal ini… maka mengapa kita merasa seperti tersucikan dari dosa? padahal dalam amalan baik pun tidak kita pastikan tersucikan dari dosa?

Terkait tiga hal diatas, Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

ثَلاَثُ مُهْلِكَاتٍ : شُحٌّ مُطَاعٌ وَهَوًى مُتَّبَعٌ وَإعْجَابُ الْمَرْءِ بِنَفْسِهِ

“Tiga perkara yang membinasakan, rasa pelit yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti dan ujubnya seseorang terhadap dirinya sendiri”

(HR at-Thobroni dalam Al-Awshoth no 5452 dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam as-shahihah no 1802)

Pelit untuk beramal shalih (tidak mau mengerjakan amal shalih)…
Hawa nafsu diikuti, sehingga mengamalkan amalan jelek…
Serta ujub kepada amalan baik yang sudah ia amalkan…

Kita berlindung kepada Allah dari ketiganya…

Tinggalkan komentar

Filed under Aqidah, Tauhid Uluhiyyah, Tazkiyatun Nufus

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s