Menjadikan KALENDER MASEHI sebagai rujukan utama ?!

Banyaknya kerusakan yang terjadi ditengah-tengah kaum muslimin, seperti: “merayakan tahun baru”, “merayakan hari ibu”, “merayakan perayaan ini dan itu”, apalagi sampai “MERAYAKAN NATAL BERSAMA”… Berawal dari sikap mereka yang IKUT-IKUTAN bahkan menjadikan kalendernya kaum kuffaar sebagai rujukan utama mereka, dan meninggalkan kalendar hijriah atau paling tidak men-sekunder-kan penggunaan kalender hijriah (digunakan hanya ketika dibutuhkan saja)…

Silahkan simak beberapa fatwa ulama berikut tentang hukum berinteraksi dengan “kalender masehi”[1] … Semoga bermanfaat.

1. Fatwa Lajnah Daa-imah

Pertanyaaan (Pertanyaan Ke-2 dari fatwa nomor 2072)

Bolehkah berinteraksi dengan kalender masehi dengan orang-orang tidak mengetahui kalender hijriyah, seperti kaum muslimin non arab atau atau orang-orang kafir mitra kerja?

Jawaban

Tidak boleh bagi kaum muslimin menggunakan kalender masehi karena sesungguhnya hal tersebut merupakan bentuk tasyabbuh (menyerupai) orang-orang nashara, yang mana ini termasuk syiar agama mereka.

Sebenarnya kaum muslimin, walhamdulillâh telah memiliki kalender yang telah mencukupi diri mereka yang mengaitkan mereka dengan Nabi mereka Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam sekaligus ini merupakan kemuliaan yang besar.

Namun apabila ada suatu kebutuhan yang SANGAT TERDESAK maka boleh menggabung kedua kalender tersebut.

Wabillahit Taufiq. Washallallâhu ‘ala Nabiyinâ Muhammad wa Âlihi wa Shabihi wa sallam

Al-Lajnah Ad-Dâ`imah Lil Buhûtsil ‘Ilmiyah Wal Iftâ`
Anggota : Bakr Abû Zaid
Shâlih Al-Fauzân
‘Abdullâh bin Ghudayyân
Wakil Ketua : ‘Abdul ‘Azîz Âlusy Syaikh
Ketua : ‘Abdul Azîz Bin ‘Abdillâh bin Bâz

2. Fatwa Syaikh ibnul ‘Utsaimiin

Pertanyaan:

Fadhîlatusy Syaikh, pertanyaanku ini ada 2 hal.

–pertanyaan pertama–

Yang pertama bahwa sebagian orang mengatakan kita tidak boleh mengedepankan kalender masehi daripada kalender hijriyyah, dasarnya adalah karena dikhawatirkan terjadinya loyalitas kepada orang-orang kafir. Akan tetapi kalender masehi lebih tepat dari pada kalender hijriyyah dari sisi yang lain. Mereka mengatakan sesungguhnya mayoritas negeri-negeri menggunakan kalender masehi ini sehingga kita tidak bisa untuk menyelisihi mereka.

–jawaban beliau–

Bahwa realita penentuan waktu berdasarkan pada hilâl merupakan asal bagi setiap manusia, sebagaimana firman Allah subhanahu wa Ta’ala :

يَسْأَلونَكَ عَنِ الأَهِلَّةِ قُلْ هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ

Mereka bertanya kepadamu tentang hilâl. Katakanlah: “Hilâl itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadah) haji; [Al Baqarah: 189]

Ini berlaku untuk semua manusia

Dan bacalah firman Allah ‘Azza wa Jalla :

ِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْراً فِي كِتَابِ اللهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah ketika Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram.” [At Taubah: 36]

Bulan-bulan apakah itu? Maka tidak lain adalah bulan-bulan yang berdasarkan hilâl. Oleh karena itu NabiShalallahu ‘alaihi wasallam menafsirkan bahwasannya empat bulan tersebut adalah : Rajab, Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Muharram. Inilah yang merupakan pokok asal.

Adapun bulan-bulan yang ada di tengah-tengah manusia sekarang ini adalah bulan-bulan yang bersifat perkiraan dan tidak dibangun di atas dasar yang tepat. Kalau seandainya hal itu berdasarkan bintang niscaya hal itu ada dasarnya karena bintang sangat jelas keberadaannya di atas langit dan waktu-waktunya.

Akan tetapi bulan-bulan yang didasarkan atas prasangka tersebut tidaklah memiliki dasar. Sebagai bukti, di antara bulan tersebut ada yang 28 hari dan sebagiannya 31 hari yang semua itu tidak ada dasarnya sama sekali.

Maka apabila kita dihadapkan pada dilema berupa kondisi harus menyebutkan kalender masehi ini, maka kenapa kita harus berpaling dari kalender hijriyyah kemudian lebih memilih kalender yang sifatnya prasangka dan tidak memiliki dasar tersebut?!

Suatu hal yang sangat mungkin sekali bagi kita untuk menggunakan penanggalan hijriyyah ini kemudian kita mengatakan bahwa tanggal hijriyyah sekian bertepatan dengan tanggal masehi sekian… Karena melihat kebanyakan dari negeri-negeri Islam yang telah dikuasai oleh orang-orang kafir kemudian mereka merubah kalender hijriyyah tersebut kepada kelender masehi yang hakekatnya itu adalah dalam rangka untuk menjauhkan mereka dari perkara tersebut dan dalam rangka menghinakan mereka.

Maka kita katakan, apabila kita dihadapkan pada musibah yang seperti ini sehingga kita harus menyebutkan kalender masehi juga, maka jadikanlah yang pertama kali disebut adalah kalender hijriyyah terlebih dahulu kemudian kita katakan bahwa tanggal hijriyyah sekian bertepatan dengan tanggal masehi sekian.

–Pertanyaan kedua—

Beberapa perusahaan mereka mengatakan bahwa kami tidak menggunakan kalender masehi ini untuk maksud berloyalitas kepada orang-orang kafir, akan tetapi karena keadaan perusahaan-perusahaan yang ada di dunia ini yang kita menjalin hubungan perdagangan bersamanya, menggunakan kalender masehi juga sehingga akhirnya kita pun mau tidak mau menggunakan kalender masehi juga. Kalau tidak maka disana ada suatu hal yang bisa memudharatkan diri kami baik dari hal-hal yang berkaitan dengan transaksi dagang dan sebagainya. Maka apa hukum permasalahan ini?

–Jawaban–

Bahwa hukumnya adalah suatu yang mudah. Sebenarnya kita bisa menggabung antara keduanya. Misalnya engkau mengatakan bahwa aku dan fulan bersepakat dalam kesepakatan dagang pada hari ahad misalnya, yang hari tersebut bertepatan dengan bulan hijriyyah sekian, kemudian setelah itu baru kita sebutkan penanggalan masehinya, kira-kira mungkin tidak?

Penanya menjawab: Tentu, sesuatu yang mungkin.

(Liqâ`âtul Bâbil Maftûh)

3. Fatwa Syaikh Shaalih al Fawzaan

–pertanyaan–

Apakah menggunakan kalender masehi termasuk sebagai bentuk wala’ (loyalitas) terhadap Nashara?

–jawaban–

Tidak termasuk sebagai bentuk loyalitas tetapi termasuk bentuk tasyabbuh (penyerupaan) dengan mereka (Nashara).

Para shahabat pun tidak menggunakannya, padahal kalender masehi telah ada pada zaman tersebut. Bahkan mereka berpaling darinya dan menggunakan kalender hijriyyah. Ini sebagai bukti bahwa kaum muslimin hendaknya melepaskan diri dari adat kebiasaan orang-orang kafir dan tidak membebek kepada mereka.

Terlebih lagi kalender masehi merupakan simbol agama mereka, sebagai bentuk pengagungan atas kelahiran Al-Masîh dan perayaan atas kelahiran tersebut yang biasa dilakukan pada setiap penghujung tahun (masehi). Ini adalah bid’ah yang diada-adakan oleh Nashara (dalam agama mereka).

Maka kita tidak ikut andil dengan mereka dan tidak menganjurkan hal tersebut sama sekali. Apabila kita menggunakan kalender mereka, berarti kita menyerupai mereka. Padahal kita -dan segala pujian bagi Allah semata- telah memiliki kalender hijriyyah yang telah ditetapkan oleh Amîrul Mu`minîn ‘Umar bin Al-Khaththâb bagi kita di hadapan para sahabat Muhajirin dan Anshar ketika itu. Maka ini sudah cukup bagi kita.

(Al-Muntaqâ min Fatâwa Al-Fauzân XVII / 5, fatwa no. 153 )

Dipetik dari: Blog Ulama Sunnah


Catatan Kaki

[1] Jika dilihat NAMA-nya saja, sudah jelas kebathilan akan kalender ini, dimana jelas-jelas dan nyata-nyata disandarkan kepada “al-masih” (yaitu Nabi ‘Isa), yang mana dijadikan sesembahan oleh kaum nashrani.

Belum lagi kita melihat lebih jauh secara historikal, bahwa kalender masehi ini SANGAT KENTAL dengan syi’ar-syi’ar keagamaan nashrani.

Kita dapat melihat bahwa nama-nama yang diada-adakan nashara pada bulan-bulan mereka ini, berdasarkan keyakinan agama pendahulu mereka “kaum pagan”…

januari -> nisbah kepada dewi janus;

februari -> nisbah kepada ritual februa; yaitu ritual dipertengahan bulan (full moon), pada bulan kedua “kalender kuno” romawi…

maret -> nisbah kepada dewa “mars”, yaitu dewa peperangan-nya kaum pagan..

april -> nisbah kepada dewi aphrillis..

mei -> nisbah kepada dewi maia

juni -> nisbah kepada dewa juno

juli -> nisbah kepada “julius caesar” yang mana lahir pada bulan itu

agustus -> nisbah kepada pendiri kerajaan romawi “augustus”

september -> ini hanya penamaan yang diada-adakan nashara.. karena dahulu kaum romawi/pagan menjadikan bulan “maret” sebagai awal tahun (sebelum mereka menjadikan januari sebagai awal tahun), maka bulan ini yang terletak pada bulan ketujuh mereka.. maka menamakannya dengan “septem” yang artinya “ketujuh” (untuk mengingat penetapan bulan-bulan romawi terdahulu)..

oktober -> alasannya sama seperti diatas, “octo” sama dengan “kedelapan”

november -> idem. novem adalah “kesembilan”

desember -> idem. decem artinya “kesepuluh”

Tahulah kita benar-benar penamaan-penamaan ini adalah pengagungan kaum nashara terhadap sejarah nenek moyang mereka yang dahulu beragama pagan.. kita tahu sendiri sebagaimana tercatat dalam kitab-kitab mereka, bahwa kaum nashara ingin menarik hati kaum pagan untuk masuk kedalam agama mereka.. sehingga menamakan bulan-bulan, hari-hari… berdasarkan sesuatu yang diagungkan kaum romawi kuno, baik itu sesembahan mereka, ritual mereka, atau nama bulan yang dahulu mereka namakan… bahkan jika melihat sejarah, “25 desember” pun bukanlah hari kelahiran nabi ‘isa sebagiamana diingkari sebagian kaum nashara; yang mana mereka mengatakan justru pada tanggal tersebut adalah perayaan terhadap hari peringatan dewa-dewa kaum pagan…

Maka mulailah dari sekarang membiasakan diri untuk menyebut bulan-bulan dengan bulan-bulan islaam.. kecuali kalau memang dibutuhkan untuk mengatakan “bulan-nya kaum kafir”; yang ini pun kita sebutkan SETELAH menyebtukan bulan islaam..

Semoga bermanfaat

5 Komentar

Filed under Ahkam

5 responses to “Menjadikan KALENDER MASEHI sebagai rujukan utama ?!

  1. Assalamu’alaikum

    Sebelumnya terimakasih atas artikel-artikel yang sangat bermanfaat ini.

    Kalo boleh tahu, bagaimana cara membuat/mengganti tanggal di dalam website dengan kalender islami? seperti yang ada di website Anda ini.

    Terimakasih.

    Wassalamu’alaikum.

    • Abu Zuhriy al Gharantaliy

      Wa ‘alaikumus salaam wa rahmatullaahi wa barakaatuh.

      Alhamdulillaah, semoga bermanfaat.

      Adapun untuk tanggal, saya pakai wordpress; dan saya pakai plugins “Hijri”, nanti tinggal diaktivasi, dan nantinya akan merubah penanggalan masehi kepada penanggalan hijri.

  2. Assalamu ‘alaikum.

    Terima kasih sudah berkenan berbagi ilmunya.

    InsyaAllah akan saya pasang juga plugin itu. :-)

    Wassalamu ‘alaikum.

  3. Oiya, maaf saya tanya lagi. Boleh?

    Nama plugin yang Anda pakai apa?

    Saya sudah instal plugin ‘Hijri’. Tapi Tahun dan bulanya jadi tulisan arab. Cara ganti Bahasa Indonesia gimana ya?

    Terima kasih. :-)

    • Caranya:

      1. Klik “plug-ins” di beranda admin,

      2. Kemudian cari “Hijri”,

      3. Kemudian di Hijri’nya, click “edit”

      4. Nanti cari: ” function HijriDaysMonths($date)”

      5. Nah dibawahnya nanti ada bulan-bulan yang bertuliskan arab, ini tinggal diganti dengan transliterasi indonesianya.

      6. Kemudian dibawahnya lagi, ada nama-nama hari yang bertuliskan arab, ini pun tinggal diganti dengan nama-nama hari berbahasa indonesia

      7. Klik “update file”, dan selesai.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s