Nasehat itu bukan hanya sekali… dua kali…

Kalau kita menasehati seseorang sekali atau dua kali atau beberapa kali; kemudian kita menjauhi dan meninggalkannya karena BELUM mau menerima nasehat kita… Maka siapakah yang hendak mengambil manfaat dari nasehat tersebut?

Bukankah TIDAK SETIAP orang itu sama kadar keilmuannya? yang mana ada sebagian orang membutuhkan penjelasan yang panjang sampai ia mengerti apa yang dijelaskan padanya? Yang ini tidak cukup satu, dua, tiga atau beberapa kali nasehat?! Apakah orang seperti ini yang hendak engkau tinggalkan dan jauhi?!

Bukankah TIDAK SETIAP orang itu sama kadar keimanannya? yang mana ada sebagian dari mereka yang tidak cukup sehari, dua hari, atau bahkan setahun proses nasehat-menasehatinya… Yang diharapkan nantinya mereka akan menerima kebenaran… Apa lantas orang-orang seperti ini engkau tinggalkan ?

Perlu engkau tahu… Bahwa ada EMPAT TIPE “pertemanan”, sebagaimana dijelaskan Imaam ibnul Qayyim:

1. Bagaikan Makanan Pokok

Mereka adalah orang-orang yang mengenal dan mengerti tentang Allah ta’ala, perintah dan larangan-Nya, tahu tentang tipu daya musuh Allah, tahu penyakit dan bagaimana mengobatinya, dan mereka mau menasehati kawannya ikhlas karena Allah dan nasehatnya bersandar kepada Al-qur’an dan as-sunnah yang sesuai pemahaman salaf.

2. Bagaikan Obat

Yaitu pertemanan yang kita hanya kita butuhkan jikalau memang ada kepentingan, yang setelah selesai urusan tersebut, maka kita saat itulah kita meninggalkannya sampai ada urusan lain lagi. seperti halnya obat yang tidak boleh kita terus-menurus mengkonsumsinya, karena bisa jadi kita keracunan yang menyebabkan kerugian bagi diri kita.

3. Bagaikan Penyakit

Penyakit ada dua jenis, yang menular dan tidak menular.

Bergaul dengan orang yang berpenyakit bisa kita niatkan untuk menyembuhkan penyakit mereka, dan tentunya harusnya kita telah mengetahui resep dan punya kemampuan untuk mengobati, jikalau sebaliknya, bukannya malah menyembuhkan, malah menambah penyakitnya.

Dan begitupun bagi pengidap penyakit menular, mereka punya hak untuk disembuhkan penyakitnya, akan tetapi penyakit yang mereka punyai itu disamping bisa kita sembuhkan, bisa juga menularkan penyakit itu kepada kita, jadi solusinya yaitu dengan menjaga jarak dengannya.

Dan untuk tahu mana penyakit menular maupun tidak menular pun, kita harus berkonsultasi dengan dokter (dalam hal ini ustaadz atau ulama)…

4. Bagaikan Racun

ini adalah jenis pertemanan yang harus kita hindari dan jauhi, racun tidaklah ada manfaat sama sekali yang hanya membawa keburukan kepada kita… Kemungkinan paling kecil saja yaitu kita terkena penyakit, dan paling besar yaitu kematian… Maka, selayaknya racun, jika telah terlanjur kita menelannya, maka wajiblah kita untuk memuntahkannya, menjauhinya dan tidak mencoba-coba mendekatinya kembali….

Dari empat kategori diatas, apakah senantiasa kita kategorikan saudara kita termasuk kategori racun, sehingga kita perlakukan seperti racun !? Ingatlah… Masih ada tiga kemungkinan lain, bisa jadi ia bukan termasuk kelompok tersebut, sebagaimana yang engkau sangka… Maka janganlah engkau menyamakan orang-orang yang sangat parah kezhalimannya dengan orang-orang yang tergelincir atau hanya terdapat beberapa kezhaliman yang ia pun tidak melampaui batas dengan kezhaliman tersebut…

Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

المُسلِمُ أَخو المُسلم، لاَ يَظلِمهُ، وَلاَ يَخذُلُهُ

“Seorang muslim saudara bagi muslim yang lain, (maka) janganlah menzhaliminya, jangan pula menelantarkannya…”

(Bukhariy Muslim dan selainnya)

Maka hendaknya kita introspeksi diri… yang inginkan itu… seseorang “mengikuti diri kita” atau “mengikuti kebenaran” ?

Kalau seseorang ingin agar saudaranya “MENGIKUTI KEBENARAN” , maka hendaknya dia bersabar dalam menasehati saudaranya berharap serta berdoa kepada Allah agar Allah memberinya hidayah, dengan senantiasa terus menasehatinya tanpa berputus asa akan rahmat Allah (taufiqNya) kepada saudaranya…

Kalau seseorang ingin agar saudaranya “MENGIKUTI DIRINYA”… maka ia hanya menasehati sekali saja… jika diterima, maka dia ridha; jika ditolak, maka dia serta merta membenci dan menjauhi!?

Berapa banyak dari keluarga kita, teman kita, orang sekitar kita… atau mungkin DIRI KITA SENDIRI… yang baru menerima kebenaran setelah beberapa tahun atau mungkin berpuluh tahun dinasehati?

Janganlah kita bersempit hati… Apalagi sampai merasa putus asa dari rahmat Allah terhadapnya… Bersemangatlah dalam menasehati saudara kita dengan cara yang benar disertai doa dan tawakkal kepadaNya… Semoga Allah memberikan kita semua taufiqNya…

Dan semoga Allah merahmati orang-orang yang ikhlash dalam dakwahnya, yaitu yang sabar dan tulus mendakwahkan kebenaran (kepada manusia), yang hanya mengharapkan pahala Allah dari usahanya tersebut…

Semoga bermanfaat

1 Komentar

Filed under Akhlak, dakwah, Ukhuwwah Islamiyyah

One response to “Nasehat itu bukan hanya sekali… dua kali…

  1. ujangs

    suqron……zajakalloh khairon……semoga ana tidak terpengaruh penyakit tadi…..dan jauh dr tipu daya mereka…..amin…insyaAlloh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s