Penyebab malasnya seseorang dalam beribadah dan jauhnya ia dari taqwa

Rasuulullaah bersabda:

يَا أَبَا هُرَيْرَةَ كُنْ وَرِعًا تَكُنْ أَعْبَدَ النَّاسِ

“Wahai Abu Hurayrah, Jadilah kamu seorang yang WARA` (menjaga diri dari haram dan syubhat)… niscaya kamu menjadi MANUSIA yang PALING TEKUN BERIBADAH…”

(Shahiih; HR Ibnu Maajah)

Dalam riwayat at Tirmidziy disebutkan:

اتَّقِ الْمَحَارِمَ تَكُنْ أَعْبَدَ النَّاسِ

“BERTAQWALAH (kepada Allah tentang) perkara yang diharamkan… Maka engkau akan menjadi seorang yang paling tekun beribadah”

(Hasan; HR at Tirmidziy)

Ketahuilah perkara haram dan syubhat itu dapat mengotori hati[1. Dari Abu Hurairah, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِى قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ

“Seorang hamba apabila melakukan suatu kesalahan, maka dititikkan dalam hatinya sebuah titik hitam.

فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ

Apabila ia meninggalkannya dan meminta ampun serta bertaubat, hatinya dibersihkan.

وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ

Apabila ia kembali (berbuat maksiat), maka ditambahkan titik hitam tersebut hingga menutupi hatinya.

وَهُوَ الرَّانُ الَّذِى ذَكَرَ اللَّهُ ( كَلاَّ بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ)

Itulah yang diistilahkan “ar raan” yang Allah sebutkan dalam firman-Nya (yang artinya), ‘Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka’.”

(HR. At Tirmidzi no. 3334, Ibnu Majah no. 4244, Ibnu Hibban (7/27) dan Ahmad (2/297). At Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan; kutip dari rumaysho.com)

Al Hasan Al Bashri rahimahullah mengatakan,

“Yang dimaksudkan dalam ayat tersebut adalah dosa di atas tumpukan dosa sehingga bisa membuat hati itu gelap dan lama kelamaan pun mati.” Demikian pula yang dikatakan oleh Mujahid, Qotadah, Ibnu Zaid dan selainnya.”

(Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, Muassasah Al Qurthubah, 14/268; kutip dari rumaysho.com)]… Dan Barangsiapa yang mengotori hatinya dengan perkara syubhat, apalagi haram… Maka akan berimabas pada amalannya…

Sahl berkata,

“Siapa yang makan makanan haram dalam keadaan ingin atau tidak, baik ia tahu atau tidak, maka BERMAKSIATLAH anggota badannya. Namun jika makanan yang ia konsumsi adalah halal, maka patuhlah anggota badannya dan akan diberi taufik melakukan kebaikan.”

(Dinukil dari Sholahul Ummah fii ‘Uluwwil Himmah, 4: 326; kutip dari rumaysho.com)

Dan ini bukan hanya berkaitan tentang MAKANAN SAJA… Termasuk dalam hal ini: aktifitas hati yang haram (seperti: syirik akbar maupun ashghar, banyak berprasangka buruk, hasad, dll.), pandangan yang haram; seluruh ucapan yang haram; serta seluruh perbuatan yang haram!

Maka barangsiapa yang tidak menjaga hati dan amalnya dari perkara syubhat, apalagi haram; maka hanyalah akan mendatangkan kemaksiatan dalam dirinya (baik itu dalam hati maupun amalnya; baik itu peninggalan kewajiban, ataupun dikerjakannya maksiat)…

Maka hendaknya kita menjaga hati kita, dengan memperhatikan seluruh perbuatan kita… Baik itu lisan, mata, telinga, perut, tangan, maupun kaki kita… Agar kita tidak mempergunakannya pada perkara-perkara yang syubhat apalagi haraam… Yang mana kita jika terjatuh kedalamnya (baik ingin maupun tidak, tahu maupun tidak) hanyalah mendatangkan kemalasan dalam beribadah dan jauhnya diri kita dari taqwa.

Kiat-kiat agar hati dan amal kita selamat dari haram dan syubhat

Sering introspeksi diri

Ketika kita terjatuh kedalam maksiat, kembali introspeksi hati dan amalan kita…

Perhatikan apa yang ada dalam hati kita, perhatikan mata pencaharian kita, perhatikan apa yang kita konsumsi, perhatikan apa yang kita pandang, perhatikan apa yang kita dengar, perhatikan apa yang kita katakan, dan perhatikan seluruh apa yang kita lakukan dengan badan kita…

Kokohkan diri kita dengan ilmu syar’iy

Yaitu mempelajarinya dan meresapkannya kedalam dada…

Bisa jadi kita terjatuh kedalam perkara syubhat, apalagi haram, karena kita TIDAK TAHU keharaman perkara tersebut (maka dengan ini pentingnya kita untuk SENANTIASA MENUNTUT ILMU syar’i untuk membentengi diri kita dari terjatuhnya diri kita dari kesalahan yang tidak kita sadari)

Bisa jadi ilmu yang kita tuntut belum meresap kedalam dada, sehingga kita jauh dari pengamalan atau bahkan menyelisihinya.

Termasuk juga dalam hal ini yaitu mengingat-ingat ilmu yang sudah kita pelajari… Agar semakin mengokohkan ilmu yang telah kita pelajari dalam ingatan dan hati kita…

Paksakan diri kita beramal shalih, meski berat (yang mana keberatan itupun berasal dari kemaksiatannya…)

Hendaknya kita memaksa diri untuk banyak-banyak beristigfar, karena istighfar menghapus noda-noda yang ada dalam hati…

Hendaknya pula kita memaksa diri unutk beramal ketaatan sekecil apapun amalan ketaatan tersebut, meskipun senyum kepada saudara semuslim (yang kita niatkan untuk beribadah kepada Allah)… karena amalan ketaatan menghapus dosa-dosa…

Waspada dengan tipuan syaithan… dengan menutup jalan-jalan kemaksiatan

Dan inilah perwujudan dari wara’ itu sendiri… yaitu kita senantiasa memperhatikan hati dan amal kita… dan mempertimbangkannya berdasarkan timbangan syari’at… dan kesempurnaan dari hal tersebut terwujud dengan kita meninggalkan perkara yang kita RAGU akan halal atau haramnya..

Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ

Hai sekalian manusia, makanlah (makanan) yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu.

(Al-Baqara: 168)

Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ

Hai orang-orang yang BERIMAN, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.

(Al-Baqara: 208)

Allah berfirman:

إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا ۚ إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ

Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka jadikanlah ia musuh(mu), karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala

(Faatir: 6)

Semoga bermanfaat…

Tinggalkan komentar

Filed under Tazkiyatun Nufus

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s