Mengasingkan diri atau bergaul ?

Ketahuilah dalam berinteraksi terhadap sesama makhluq, terkadang kita dihadapkan dengan kondisi apakah bergaul dengan mereka? Maka disinilah hendaknya kita dituntut untuk benar-benar mempertimbangkan yang dapat mendatangkan maslahat bagi diri kita maupun orang sekitar, demikian pula agar kita dapat selamat dari mudharat yang ditimbulkan orang lain, dan kita pun menyelamatkan diri kita dari menimbulkan mudharat kepada orang sekitar.

1. Kita berinteraksi dengan mereka, dan BERSABAR dengan apa yang akan kita dapatkan dengan mereka

Sebagaimana hadits:

المُؤْمِنُ الَّذِي يُخَالِطُ النَّاسَ وَ يَصْبِرُ عَلَى آذَاهُمْ أَفْضَلُ مِنَ الَّذِي لاّ يُخَالِطُ النّاَسَ وَ لاَ يَصْبِرُ عَلَى آذَاهُمْ

Mu’min yang BERGAUL dengan manusia, serta BERSABAR menghadapi gangguan mereka, LEBIH UTAMA daripada mu’min yang tidak bergaul dengan manusia, dan tidak bisa bersabar atas ganggaun mereka.

(Shahiih; HR. Ahmad, Bukhaariy (dalam adabul mufrad), ibnu maajah, at tirmidizy, dan selainnya)

2. Kita mengasingkan diri dari mereka, karena (1) takut fitnah menimpa diri kita, atau (2) kita tidak dapat bersabar terhadap mereka

Rasuulullaah bersabda:

يُوشِكُ أَنْ يَكُونَ خَيْرَ مَالِ الْمُسْلِمِ غَنَمٌ يَتْبَعُ بِهَا شَعَفَ الْجِبَالِ وَمَوَاقِعَ الْقَطْرِ ، يَفِرُّ بِدِينِهِ مِنَ الْفِتَنِ

“Akan datang suatu masa, sebaik-baik harta orang muslim adalah kambing. Digembalakan di puncak-puncak bukit dan di tempat-tempat air hujan berkumpul (lembah-lembah). (yang mana ditempat tersebut) dia menghindarkan agamanya dari fitnah.”

(HR Bukhaariy)

Juga hadits:

الْزَمْ بَيْتَكَ وَ أَمْسِكْ عَلَيْكَ لِسَانَكَ وَ خُذْ مَا تَعْرِفُ وَ دَعْ مَا تُنْكرُ وَ عَلَيْكَ بِأَمْرِ الْخَاصَّةِ وَ دَعْ عَنْكَ أَمْرَ الْعَامَّةِ

”Tetaplah di rumahmu, tahanlah lidahmu, ambillah apa-apa yang engkau ketahui dan tinggalkanlah hal yang engkau ingkari, kerjakanlah perkara yang khusus bagimu, serta tinggalkanlah urusan orang banyak…”

(HR Abu Dawud, dan selainnya; Hasan shahiih)

Juga pengamalan dari hadits:

المسلم مَنْ سَلِمَ اْلمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَ يَدِهِ

“Orang ISLAM itu adalah orang yang mana kaum muslimiin SELAMAT dari KEJAHATAN lisan dan tangannya…”

(HR Bukhaariy)

Maka kalau sekiranya kita memiliki BEKAL ILMU yang cukup, dan kitapun MAMPU untuk bersabar dan dapat mewarnai (bukan diwarnai) orang lain… Maka bergaullah… semoga pergaulanmu itu dapat memberi pahala bagimu (karena kesabaranmu, keluhuran akhlaqmu, dan dakwahmu kepada orang lain), dan juga manfa’at bagi orang lain… Yang dapat memetik pelajaran ilmu dan akhlaq darimu…

Tapi kalau sekiranya engkau adalah orang yang TIDAK MAMPU BERSABAR… Maka hendaknya engkau tidak sembarangan bergaul… (bukannya menutup diri dari pergaulan sepenuhnya), akan tetapi bergaullah dengan orang-orang yang engkau dapat menahan dirimu untuk tidak berbuat zhalim kepada mereka… Adapun orang-orang yang engkau tidak dapat bersabar terhadap mereka, maka tahanlah dirimu untuk bergaul dengan orang-orang tersebut… jangan sampai engkau binasa karena kejelekan akhlaqmu dan kezhalimanmu akibat KETIDAKSABARANMU…

Berkata Syaikhul Islaam ibnu taimiyyah rahimahullaah:

”Sesungguhnya, memilih untuk bergaul dengan manusia secara mutlak merupakan sikap yang salah. Begitu juga menutup diri dari manusia (tidak mau bergaul) secara mutlak, juga merupakan kekeliruan.”

[Fatawa Ibni Taimiyyah, 1/426; dipetik dari almanhaj.or.id]

Termasuk kekeliruan… Seseorang yang banyak bergaul (tidak cukup ilmu, tidak pandai menjaga diri) hingga akhirnya ia terwarnai dan agamanya pun terjual…

Termasuk kekeliruan… seseorang yang banyak bergaul, tapi ia ingin agar orang-orang hanya mengerti dirinya… ingin agar orang bersabar atasnya… tapi tidak ingin bersabar dari kekurangan orang lain… hingga akhirnya ia ingin orang-orang memaklumi kezhalimannya, tapi tidak mau bersabar atas kesalahan orang lain…

Termasuk kekeliruan (tidak separah dua hal diatas)… Seseorang yang sebenarnya mampu untuk bersabar, berakhlaq baik dan memberikan manfa’at terhadap sesama makhluq, tapi malah menutup diri dari pergaulan…

Tidak ada celaan pada kelompok kedua (yaitu mereka yg membatasi pergaulannya), karena mereka telah mengusahakan yang terbaik bagi diri mereka, dan bagi kaum muslimiin. Dan hendaknya kelompok pertama (yang bergaul bersama orang sekitarnya) tidaklah merasa lebih tinggi derajatnya daripada kelompok kedua. Ingatlah yang lebih mulia disisi Allah adalah yang paling bertaqwa. Bisa jadi kelompok pertama kualitas taqwanya (meskipun pergaulannya terbatas) lebih tinggi daripada kelompok kedua.

Maka kenalilah dirimu, dan tempatkanlah dirimu pada tempat yang semestinya, sehingga semoga engkau dapat selamat dari berbuat kezhaliman terhadap dirimu maupun orang lain…

Wallaahu a’lam…

Semoga bermanfaat…

2 Komentar

Filed under Ukhuwwah Islamiyyah

2 responses to “Mengasingkan diri atau bergaul ?

  1. El pitu

    Nasehat yang indah…

    Jazakallahu khairan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s