Siapakah yang disebut ‘bermudah-mudahan’ dalam khilafiyah?

Diantara perkara yang sangat disesalkan adalah adanya laqob-laqob “janganlah berlebih-lebihan dalam berpendapat” (kepada orang-orang yang menganut pendapat yang ‘tegas’)… dan laqob-laqob “Janganlah bermudah-mudahan dalam berpendapat” (terhadap orang-orang yang menganut pendapat yang ‘ringan’)

Sesungguhnya laqob-laqob ini tidak sepantasnya diucapkan pada permasalahan-permasalhan yang telah dikenal dan diakui oleh para ulama ahlus sunnah tentang adanya perselisihan tentang hal tersebut.

Adapun yang hendak diangkat dalam permasalahan ini adalah laqob-laqob yang kedua yaitu label/cap/stempel “janganlah bermudah-mudahan”, Apalagi sampai-sampai mencap: “pencari rukhshah”, “pencari pembenaran” dll. yang dikatakan TIDAK PADA TEMPATnya, yang dikatakan pada orang-orang yang TIDAK PANTAS menyandangnya…

Yang TERMASUK ‘bermudah-mudahan’

1. Orang-orang yang memaklumi pendapat ghayru mu’tabar, mengambil pendapat tersebut, dan membebaskan manusia untuk mengambil pendapat tersebut

Yang dimaksud dengan pendapat ghayru mu’tabar, adalah pendapat yang syaadz (menyendiri) dalam sebuah permasalahan… Seperti pada permasalahan-permasalahan berikut:

– Bolehnya Nikah mut’ah
– Bolehnya Jima’ didubur
– Bolehnya nikah tanpa wali
– Bolehnya Musik dan nyanyian
– dll.

Inilah yang disebut KETERGELINCIRAN ULAMAA’… Maka KELIRU, jika seseorang sembarangan melabelkan ‘ketergelinciran’ terhadap pendapat ulama, yang mana ia memiliki dalil yang kuat (bahkan berlandaskan pula terhadap pemahaman salafush shalih), yang pendapatnya tersebut pun telah MU’TABAR dikalangan ahlus sunnah…

Simaklah kisah berikut:

Ismā’īl Al-Qāḍī raḥimahullāh pernah mendatangi khalifah Abbasiyyah ketika itu. Kemudian, disuguhkan kepada beliau sebuah kitab yang berisi keringanan dan ketergelinciran para ulama. Setelah membacanya, beliau berkomentar:

“Penulis kitab ini adalah zindiq, karena orang yang membolehkan minuman memabukkan tidaklah membolehkan nikah mu’tah (nikah kontrak), dan orang yang membolehkan nikah mut’ah tidak membolehkan nyanyian. Tidak ada seorang ‘ālim (orang berilmu-ed) pun kecuali memiliki ketergelinciran. Barangsiapa memungut semua ketergelinciran ulama, niscaya akan hilang agamanya.”

(Dinukilkan Adz-Dzahabi dalam Siyar A’lam Nubala’; kutip dari pemuda muslim)

Maka jika kita dapati ADA ulama ahlus sunnah, yang TERGELINCIR kepada pendapat-pendapat diatas… Maka kita TIDAK MENGIKUTI ketergelincirannya… Dan memberinya udzur bahwa kekeliruan mereka tersebut, tidaklah mereka lakukan dengan menyengaja… Akan tetapi karena tidak sampainya dalil, atau karena alasan-alasan yang lain

Adapun terhadap pendapat-pendapat diatas, dan para penganutnya maka kita INGKARI… Kita pun mengingkari orang-orang yang “sok toleran” yang berhujjah: dengan “ADANYA ULAMA yang berpendapat”, sehingga membebaskan kaum muslimiin memilih pendapat-pendapat diatas (padahal para ulama lain telah mengingatkan kaum muslimiin untuk tidak mengambil pendapat tersebut !!!)

Berkata Ma’mar bin Rosyid :

“Seandainya seorang laki-laki mengambil pendapat Ahlul Madinah tentang (bolehnya) nyanyian dan (bolehnya) mendatangi wanita dari duburnya, dan mengambil pendapat Ahlul Makkah tentang (bolehnya) nikah mut’ah dan (bolehnya) sorf (semacam riba) dan mengambil pendapat Ahlul Kuffah tentang khamer (yaitu khamer yang haram hanyalah terbuat dari anggur), maka dia adalah hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala yang paling buruk

[Lawami’il Anwar karya As-Safarini 2/466; almanhaj.or.id]

Imam Ahmad bin Hanbal berkata (wafat tahun 241H) :

“Kalau seseorang mengamalkan pendapat Ahlul Kuffah tentang anggur dan pendapat Ahlul Madinah tentang nyanyian (yaitu bolehnya nyanyian, -pent) dan pendapat Ahlul Makkah tentang mut’ah (yaitu bolehnya nikah mut’ah, -pent) maka dia adalah orang fasiq“.

[Lawamil Anwar al-Bahiyah, karya As-Safarini 2/466 dan Irsyadul Fuhul, karya Asy-Syaukani hal. 272; almanhaj.or.id]

Imam Auza’i berkata : (wafat tahun 157H) :

“Barangsiapa mengambil pendapat-pendapat yang aneh (pendapat yang menyendiri) dari para ulama maka dia telah keluar dari Islam

[Syiar A’lam An-Nubala’ 7/125 karya Adz-Dzahabiy; almanhaj.or.id]

Ibnu Abdil Barr berkata memberi komentar :

“Hal ini adalah ijma’, dan aku tidak mengetahui ada khilaf dalam perkara ini”

[Al-Jami’ 2/91-92; almanhaj.or.id]

2. Seseorang yang NIATnya[1. Jika dikatakan niat, maka ini adalah PERKARA HATI.

Maka kita hanyalah mengingatkan hal ini SECARA UMUM saja, tanpa mengkhususkan kepada orang tertentu… Karena kita TIDAK TAHU niat orang per orang…

Terlebih lagi orang-orang yang KITA KENAL mencintai kebenaran dan ahlinya… Maka mereka SANGAT TIDAK PANTAS kita prasangka buruk…

Berbeda dengan orang yang secara zhahirnya mengatakan dengan lisannya atau tulisannya:

“Apa dan siapa saja pendapat ulama dalam masalah ini? sehingga aku akan mengikuti yang paling mudah darinya”

Maka ini telah jelas baginya bahwa ia adalah termasuk orang-orang yang memang dalam permasalahan ini, hanya mengendaki “pendapat paling mudah”, bukan dalam rangka mencari kebenaran.] dalam rangka mencari-cari pendapat ulama (meski pendapat mu’tabar), bukan dengan niat mencari kebenaran

Termasuk orang-orang yang bermudah-mudahan (yaitu mencari-cari rukhshah) adalah seseorang yang mengambil sebuah pendapat “hanya karena ADA ULAMA yang berpendapat demikian”… TANPA BERUSAHA merujuk kepada dalil dibalik pendapatnya… Sehingga ketika disebutkan suatu masalah, yang pertama kali ditanyakannya dan yang dicari-carinya adalah: “siapa dan apa saja pendapat ulama dalam masalah tersebut”, sehingga dia memilih yang paling ringan, tanpa bertanya kepada para ulama, dan tanpa merujuk kepada dalil-dalil…

Ibnu Hazm berkata (wafat tahun 456H) di dalam menjelaskan tingkatan orang-orang yang berselisih :

“Dan tingkatan yang lain di antara mereka, adalah kaum yang tipisnya nilai agama mereka dan kurangnya ketakwaan mereka mengantarkan mereka untuk mencari apa yang sesuai dengan hawa nafsu mereka pada pendapat setiap orang. Mereka mengambil pendapat rukhsah (yang ringan) dari seorang alim dengan bertaqlid kepadanya tanpa mencari pendapat yang sesuai dengan nash dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam”

[Al-Ihkam hal. 645; almanhaj.or.id]

Abu ‘Amr Ibnu Shalah berkata (wafat tahun 643H) menjelaskan tentang sifat tasahul (mudah memberikan fatwa yang enak, -pent) seorang mufti :

“Dan terkadang sifat tasahul dan mencari kemudahan dengan tujuan-tujuan dunia yang rusak telah membawa seorang mufti untuk mencari-cari tipu daya yang haram atau yang makruh, dan berpegang teguh dengan syubhat-syubhat untuk mencarikan rukhsah bagi orang yang dia ingin beri manfaat, atau bersikap keras terhadap orang yang dia kehendaki mendapat mudharat. Maka barangsiapa yang melakukan hal ini maka telah hina agamanya”

[Adabul Mufti, hal : 111; almanhaj.or.id]

Imam Ibnul Qayyim berkata (wafat 751H) :

“Tidak boleh seseorang mufti mengamalkan dengan pendapat yang sesuai dengan kehedaknya tanpa melihat kepada tarjih (pendapat yang lebih kuat)”

[I’lamul Muwaqi’in 4/211; almanhaj.or.id]

Imam An-Nawawi ditanya:”Apakah boleh seseorang yang bermadzhab dengan suatu madzhab untuk bertaqlid pada suatu madzhab yang lain pada perkara yang dengannya ada kemanfaatan dan mencari-cari rukhsah?”, beliau menjawab :”Tidak boleh mencari-cari rukhsah, walalhu ‘a’lam”

[Fatawa An-Nawawi yang dikumpulkan oleh muridnya Ibnul ‘Attor, hal. 168; almanhaj.or.id]

Al-‘Alamah Al-Hijawi berkata (wafat 967H) :

“Tidak boleh bagi seorang mufti maupun yang lainnya untuk mencari-cari hilah (tipu daya) yang haram dan mencari-cari rukhsah bagi orang yang membutuhkannya, karena mencari-cari hal itu adalah kefasikan dan diharamkan meminta fatwa dengan hal itu”.

[Al-Imta’ 4/376; almanhaj.or.id]

Al-‘Alamah As-Safarini berkata (wafat 1188H) :

“Diharamkan bagi orang awam yang bukan mujtahid untuk mencari-cari rukhsah untuk ditaqlidi”

[Lawami’il Anwar 2/466; almanhaj.or.id]

Dan hal ini telah dinukilkan akan kesepakatannya (ijma’), sebagaimana dinukil oleh Imam syathibiy dari Ibnu Hazm, bahwa beliau menyampaikan ijma’ (para ulama) tentang mencari-cari rukhsah madzhab-madzhab tanpa bersandar kepada dalil syar’i adalah merupakan kefasikan yang haram

[Al-Muwafaqat 4/134; almanhaj.or.id]

Yang TIDAK TERMASUK ‘bermudah-mudahan’

1. Yaitu seseorang yang BERUSAHA MENCARI KEBENARAN, dengan bertanya kepada para ulamaa’ dan merujuk kepada dalil-dalil dan pemahaman serta sudut pandang ulama tersebut… Yang kebetulan pendapat ulama tersebut adalah pendapat yang ‘ringan’ (dan pendapat tersebut pun adalah pendapat yang mu’tabar dikalangan ahlus sunnah)..

2. Atau, dia dihadapkan dengan dua pendapat yang sama-sama kuat dalilnya dan sudut pandangnya (yang sebelumnya ia niatkan untuk mencari kebenaran), kemudian ia lebih condong kepada pendapat yang lebih ringan…

Adapun untuk permasalahan kedua, maka silahkan simak pemaparan syaikh ibnul ‘utsaimiiin berikut:

“Jika seseorang mendapati perbedaan pendapat tentang suatu fatwa, ia akan kebingungan. Tapi sebenarnya tidak perlu dibingungkan, karena seseorang itu, jika mendapatkan fatwa yang berbeda, maka hendaknya ia mengikuti pendapat yang dipandangnya lebih mendekati kebenaran, yaitu berdasarkan keluasan ilmunya dan kekuatan imannya, sebagaimana jika seseorang sakit, lalu ada dua dokter yang memberikan resep berbeda, maka hendaknya ia mengikuti perkataan dokter yang dipandangnya lebih benar dalam memberikan resep obat.

Jika ada dua pendapat yang dipandangnya sama, atau tidak dapat menguatkan salah satu pendapat yang berbeda itu, maka menurut para ulama:

1. Hendaknya ia mengikuti pendapat yang lebih tegas, karena itu lebih berhati-hati.

2. Sebagian ulama lainnya mengatakan, hendaknya ia mengikuti yang lebih mudah, karena demikianlah dasar hukum dalam syari’ at Islam.

3. Ada juga yang berpendapat, boleh memilih di antara pendapat yang ada.

Yang benar adalah (pendapat yang kedua, yaitu) mengikuti yang mudah, karena hal itu sesuai dengan konsep mudahnya agama Islam, berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

“Artinya : Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.”

[Al-Baqarah: 185]

Dan firmanNya:

وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ

Dan (Allaah) sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan.”

[Al-Hajj: 78]

Serta sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam

يَسِّروا ولا تُعسِّروا

“Artinya : Bersikap mudahlah kalian dan jangan mempersulit.”

[HR. Muslim]

Lain dari itu, karena pada mulanya manusia adalah “bebas dari tanggung jawab” sehingga ada sesuatu yang mengubah status dasar ini. Kaidah ini berlaku bagi orang yang tidak dapat mengetahui yang haq dengan dirinya sendiri.

Namun bagi yang bisa, seperti halnya thalib ‘ilm (penuntut ilmu syar’i) yang bisa membaca pendapat-pendapat seputar masalah dimaksud, maka hendaknya memilih pendapat yang dipandangnya lebih benar berdasarkan dalil-dalil yang ada padanya. Dalam hal ini ia harus meneliti dan membaca untuk mengetahui pendapat yang lebih benar di antara pendapat-pendapat yang diungkapkan oleh para ulama.

[Kitabud Da’Wah (5), haL. 45-47, SyaikH Ibnu Utsaimin; disalin almanhaj.or.id, dari buku Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masaâ-il Al Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini-2, Darul Haq]

Apakah kita hendak mengatakan Syaikh ibnul ‘Utsaimiin hendak mengajak kepada sikap ‘bermudah-mudahan’?! Tentu tidak… Lihatlah batasan-batasan yang beliau tetapkan diatas:

1. Hendaknya seseorang meniatkan untuk mencari kebenaran

2. Ketika dihadapkan dengan beberapa pendapat hendaknya mencari dalil yang paling kuat

3. Ketika kita dapati kekuatan dalil diantara dua pendapat, yang mana sulit bagi kita untuk merujuk kepada salah satunya, maka manakah yang kita ikuti? berdasarkan yang dirajihkan Syaikh ibnul ‘Utsaimiin diatas adalah: Hendaknya kita memilih yang paling ringan, karena pada asas dari agama ini adalah kemudahan.

Maka tentu BERBEDA:

– orang-orang yang sejak awal, niatnya tidak mencari kebenaran, tidak merujuk (bahkan tidak peduli terhadap) kekuatan dalil, bahkan yang dicarinya adalah “apakah ada ulama yang berpendapat begini dan begitu?”

– Dengan orang-orang yang telah melalui tiga tahapan diatas?!

Lantas pantaskah seseorang MELABELI SAUDARANYA “bermudah-mudahan” atau “mencari-cari rukhshah” kepada saudaranya yang telah menempuh tiga tahapan diatas?! Terlebih lagi ia mengenal saudaranya cinta terhadap kebenaran dan juga para ahlinya?! Maka ini tuduhan yang sangat tidak adil!

Maka hendaknya kita berhati-hati dalam mencap/melabelkan laqob-laqob tertentu kepada saudara kita… Sedangkan ia berlepas diri dari apa yang kita labelkan/capkan kepadanya…

Nas-alullaaha as-salaamata wal ‘aafiyah!

1 Komentar

Filed under Adab, Ukhuwwah Islamiyyah

One response to “Siapakah yang disebut ‘bermudah-mudahan’ dalam khilafiyah?

  1. Hilal

    izin Copas akhi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s