Tidak dipukul rata

Sesungguhnya dalam menasehati… Tidaklah dipukul rata dari tata-cara, bahasa yang digunakan, dll.

Ada nasehat untuk diri… Ada pula nasehat untuk orang lain…

Silahkan engkau mencela DIRIMU dengna seburuk-buruk celaan ketika engkau:

– meninggalkan perkara-perkara yang mustahab,
– atau lebih memilih yang kurang afdhal,
– atau terjauh dan sibuk dengna kesia-siaan…

Tapi ketika engkau DIHADAPKAN DENGAN ORANG LAIN.. maka JANGAN engkau SAMAKAN kondisi dirimu dengan orang lain… Lantas engkau cela dirinya dengan seburuk-buruk celaan, hanya karena orang tersebut:

– “tidak mengamalkan perkara yang mustahab”,
– “memilih perkara yang kurang afdhal”,
– atau terjatuh dan sibuk dengan “hal yang sia-sia” (yang tidak mengandung dosa)..

Ada nasehatmu untuk dirimu, orang dibawah tanggung jawabmu, dan murid-muridmu …

Ada pula nasehatmu untuk teman-temanmu, bahkan mungkin orang yang lebih tinggi kedudukannya darimu (baik dari sisi pangkat/jabatan/kedudukan sosial/dll)

Dan ingat… tingkatan keimanan yang engkau miliki pun… tidak sama dengan tingkatan keimanan yang dimiliki orang lain…

Maka hendaknya hal inipun dapat engkau jadikan pertimbangan dalam memilih tata cara besikap, juga dalam memilih kata-kata ketika menasehati orang lain…

Semoga bermanfaat

NB: Dan tulisan diatas pun, ditujukan pertama kali untuk pemilik tulisan; yang hendaknya para pembaca tulisan ini mengingatkan kembali pemilik tulisan… Apabila ia menyelisihi apa yang ia nasehatkan untuk dirinya sendiri, dan juga orang lain…

Tinggalkan komentar

Filed under Adab, dakwah, Ukhuwwah Islamiyyah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s