Menjadi pendengar yang baik

Pernah ada seorang salafush shalih dibacakan padanya sebuah hadits. Ia terus mendengarkan hingga selesai pembacaannya. Setelah orang yang membaca tsb pergi, ia berkata:

“sesungguhnya aku telah mendengar hadits tersebut sebelum orang -yg membaca itu- dilahirkan”

Kalaupun ternyata kisah tersebut dha’if sanadnya, tapi yang dimaksudkan darinya adalah memetik pelajaran berharga; yaitu:

1. Akhlaq terhadap sesama

Sebagaimana kita ingin omongan kita didengar, maka jadilah pendengar yang baik ketika orang lain berbicara

2. Menghargai ilmu

Ketika kita disebutkan akan sesuatu yang sudah kita ketahui; maka bukan berarti mengharuskan kita berpaling, atau tidak lagi mendengar apa yang disampaikan tersebut.

– Kita bisa kembali ingat akan pelajaran tersebut,

– Atau kita bisa menguatkan hafalan kita dengan disebutkan kembali hal tersebut.

– Atau bahkan mungkin kita mndapat faidah lain yang belum kita ketahui dari penjelasan tersebut.

Maka tidak ada salahnya, bahkan merupakan keluhuran akhlaq, ketika kita diam, mendengarkan dan bahkan memperhatikan suatu pelajaran, meski kita telah pernah disampaikan hal tersebut.

Dan hal ini bukan pada perkara agama atau ilmu agama saja… Bisa pula kita terapkan ketika orang tua kita, istri kita, anak kita atau teman/rekan kita mmbicarakan sesuatu yg mungkin sudah kita ketahui… Guna menyenangkan hati mereka…

Tidak perlu kita berkata dan memutus obrolannya: “aah basii” atau ucapan selainnya. Maka mari kita belajar menjadi PENDENGAR yang baik…

Semoga bermanfaat

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Akhlak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s