Makkah dan Madinah adalah DAARUL ISLAAM hingga hari kiamat

Sungguh perkara yang amat sangat besar… Ketika seseorang dengan lantangnya berkata: “tidak ada sejengkal tanahpun di bumi ini, melainkan ia adalah daarul kufr”

Maka… Semoga, setelah membaca petikan-petikan[1. Sumber penukilan:

http://abul-jauzaa.blogspot.com/2009/10/makkah-dan-madinah-bukan-cakupan-daarul_08.html

http://sulaifi.wordpress.com/2010/06/14/menganggap-diri-paling-salafy-akhlaq-jahiliyyah/

http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/keutamaan-tanah-haram-makkah.html] berikut… Para pembebek dari ucapan tersebut meralat kembali ucapan mereka…

1. Makkah dan Madinah ditetapkan sebagai TANAH HARAM

Nabi shallallaahu ’alaihi wa sallam bersabda :

إن إبراهيم حرّم مكّة ودعا لها، وحرّمْتُ المدينة كما حرم إبراهيم مكة

”Sesungguhnya Ibrahim telah menjadikan Makkah sebagai tanah haram dan mendoakannya, sementara aku menjadikan Madinah sebagai tanah haram sebagaimana Ibrahim menjadikan Makkah sebagai tanah haram…”

[HR Al-Bukhaariy, Muslim dll]

Apakah orang-orang yang mengatakan “di bumi ini, tidak ada satu jengkal tanahpun kecuali daarul kufr” hendak mengatakan DUA TANAH HARAM ini sebagai darul kufur?!

2. Makkah tidak akan pernah diserang lagi karena kekafiran

Rasuulullaah bersabda:

لَا تُغْزَى مَكَّةُ بَعْدَ هَذَا الْعَامِ أَبَدًا ، وَلَا يُقْتَلُ رَجُلٌ مِنْ قُرَيْشٍ بَعْدَ الْعَامِ صَبْرًا أَبَدًا

Makkah tidak akan diserang lagi setelah tahun ini untuk selama-lamanya. Dan tidak akan ada lagi orang Quraisy yang dibunuh secara sia-sia setelah tahun ini”

[Diriwayatkan oleh Ahmad, ath Thabraaniy, dll; dengan sanad yang hasan]

Dalam hadits lain:

لا تغزى هذه بعد اليوم إلى يوم القيامة

”Kota ini (Makkah) tidak akan diserang setelah tahun ini sampai hari kiamat”

[HR. At-Tirmidziy, al Haakim, dll; shahiih]

Sufyaan ibn ‘Uyaynah (salah seorang perawi diatas) mengatakan :

تفسيرُهُ أًَنَّهُم لا يَكفرون أبداً، ولا يُغزَون على الكُفر.

”Tafsirnya adalah mereka TIDAK AKAN KAFIR lagi selama-lamanya dan tidak akan diserang karena kekafiran”

[Syarh Musykilil-Atsar, 4/162-163 – shahih]

Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi rahimahullah berkata :

وكذلك معنى : لا يُقتَلُ قُريشي بعد العام صَبْراً

”Begitu juga makna : ’Orang Quraisy tidaklah dibunuh secara sia-sia setelah hari ini (Fathu Makkah’

إِنما يُراد به هذا المعنى أَنّهم لا يعودونَ كفَّاراً يُغْزَونَ حتى يُقتلوا على الكُفْر، كما لا تعودُ مكَّةُ دار كفرٍِ تُغزى عليه. وبالله عز وجل التوفيق.

sesungguhnya maksudnya adalah bahwa mereka (yaitu penduduk Makkah) TIDAK AKAN KEMBALI kepada KEKAFIRAN, sehingga diperangi karena kekafiran. Sebagaimana halnya Makkah TIDAK AKAN MENJADI DAARUL KUFR yang diserang, wabillahi ’azza wa jalla at-taufiq”

[idem, 4/163]

Demikianlah Rasuulullaah telah menetapkan bahwa MEKKAH SELAMANYA ADALAH DAARUL ISLAAM, dan tidak akan menjadi daarul kufr… Maka apakah engkau dengan perkataanmu itu hendak menyalahi ketetapan Nabi shallallaahu ‘alayhi wa sallam?!

3. Tidak akan ada lagi hijrah dari makkah

Rasuulullaah bersabda:

لاَ هِجْرَةَ بَعْدَ الْفَتْحِ وَلَكِنْ جِهَادٌ وَنِيَّةٌ وَإِذَا اسْتُنْفِرْتُمْ فَانْفِرُوْا

”Tidak ada hijrah setelah penaklukan kota Makkah, akan tetapi yang ada hanyalah jihad dan niat. Jika kalian diminta berangkat perang, maka berangkatlah”

[HR. Al-Bukhaariy, dll]

Berkata Imaam an nawawiy:

( لَا هِجْرَة بَعْد الْفَتْح ) , أَيْ لَا هِجْرَة مِنْ مَكَّة ; لِأَنَّهَا صَارَتْ دَار الْإِسْلَام

”Tidak ada hijrah setelah penaklukan kota Makkah ; maksudnya adalah tidak ada hijrah dari Makkah karena Makkah sudah menjadi Darul-Islam”

[Syarah Shahih Muslim lin-Nawawi – Maktabah Saaid]

4. Penetapan ISLAAM dan IIMAAN terhadap makkah dan madinah

Rasuulullaah bersabda:

إن الإيمان ليأرز إلى المدينة كما تأرز الحية إلى جحرها

”Sesungguhnya iman itu akan kembali ke Madinah sebagaimana kembalinya seekor ular ke sarangnya”

[HR. Al-Bukhaariy, dll]

Dalam riwayat lain:

إن الإسلام بدأ غريبا وسيعود غريبا كما بدأ. وهو يأرز بين المسجدين كما تأرز الحية في جحرها

”Sesungguhnya Islam itu dimulai dalam keadaan asing dan kelak akan kembali asing sebagaimana awalnya. Dan ia (Islam) akan kembali di antara dua masjid (Masjidil-Haram dan Masjid Nabawiy/Makkah dan Madinah) sebagaimana kembalinya seekor ular ke sarangnya”

[HR Muslim, dll]

Rasuulullaah MENETAPKAN ISLAM/IIMAAN pada dua kota suci… Pantaskah seseorang menetapkan pada keduanya kekufuran setelah Rasuulullaah menetapkan keimanan dan keislaman pada keduanya?!

5. Keutamaan untuk HIDUP MENETAP di madinah

Rasuulullaah bersabda:

مَنْ صَبَرَ عَلَى لَأْوَائِهَا وَشِدَّتِهَا كُنْتُ لَهُ شَهِيدًا أَوْ شَفِيعًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَعْنِي الْمَدِينَةَ

“Barang siapa yang bersabar atas kelaparan dan kerasnya HIDUP DI MADINAH maka aku akan menjadi saksi atasnya atau orang yang memberinya syafaat pada hari kiamat.”

(HR. Muslim, dll).

Beliau juga bersabda:

تُفْتَحُ الشَّامُ فَيَخْرُجُ مِنْ الْمَدِينَةِ قَوْمٌ بِأَهْلِيهِمْ يَبُسُّونَ وَالْمَدِينَةُ خَيْرٌ لَهُمْ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ

“Syam akan dibuka. Kemudian suatu kaum keluar dari Madinah dengan membawa keluarga mereka sambil mengajak orang lain untuk tinggal di Syam. Padahal (TINGGAL DAN HIDUP di) Madinah adalah lebih baik bagi mereka seandainya mereka mengetahuinya.

ثُمَّ تُفْتَحُ الْيَمَنُ فَيَخْرُجُ مِنْ الْمَدِينَةِ قَوْمٌ بِأَهْلِيهِمْ يَبُسُّونَ وَالْمَدِينَةُ خَيْرٌ لَهُمْ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ

Kemudian Yaman juga akan dibuka. Maka suatu kaum akan keluar dari Madinah dengan membawa keluarga mereka serta mengajak orang lain untuk tinggal di Yaman. Padahal (TINGGAL DAN HIDUP di) Madinah adalah lebih baik bagi mereka seandainya mereka mengetahuinya.

ثُمَّ تُفْتَحُ الْعِرَاقُ فَيَخْرُجُ مِنْ الْمَدِينَةِ قَوْمٌ بِأَهْلِيهِمْ يَبُسُّونَ وَالْمَدِينَةُ خَيْرٌ لَهُمْ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ

Kemudian Iraq juga akan dibuka. Maka suatu kaum akan keluar dari Madinah dengan membawa keluarga mereka serta mengajak orang lain untuk tinggal di Iraq. Padahal (TINGGAL DAN HIDUP di) Madinah adalah lebih baik bagi mereka seandainya mereka mengetahuinya.”

(HR. Al-Bukhari, Muslim (dan ini redaksinya), dll)

Apakah Rasuulullaah hendak mentazkiyyah kota yang nantinya akan menjadi darul kufur? Apakah Allaah akan mereka tuduh lupa “mengingatkan RasulNya” karena nantinya makkah dan madinah akan jadi darul kufur?!

6. Celaan terhadap orang-orang yang keluar dari madinah dalam keadaan benci

Rasuulullaah bersabda:

لا يخرج أحد من المدينة رغبة عنها إلا أبدلها الله خيرا منه

“Tidaklah seseorang keluar dari Madinah dalam keadaan membencinya kecuali Allah akan menggantikan untuknya dengan orang-orang yang lebih baik darinya.”

(HR. Malik (dan ini adalah redaksi beliau), Muslim, dan selainnya)

Dijelaskan Imaam an Nawawiy:

قال العلماء وفي هذه الأحاديث المذكورة في الباب مع ما سبق وما بعدها دلالات ظاهرة على فضل سكنى المدينة والصبر على شدائدها وضيق العيش فيها وأن هذا الفضل باق مستمر إلى يوم القيامة

“Para ulama berkata: “Di dalam hadits-hadits tersebut dalam bab ini serta bab sebelum dan sesudahnya terdapat beberapa dalil yang jelas atas keutamaan bermukim di Madinah dan bersabar atas keras dan sempitnya kehidupan di dalamnya. Dan keutamaan ini TERUS MENURUS HINGGA HARI KIAMAT”

(Syarhun Nawawi ala Muslim: 9/151)

Dijelaskan pula Syaikh al Mubarakfuriy:

قال الأبي : الأظهر أن ذلك ليس خاصًا بالزمن النبوي ومن خرج من الصحابة لم يخرج رغبة عنها بل إنما خرج لمصلحة دينية من تعليم أو جهاد أو غير ذلك – انتهى.

“Berkata Al-Abbi: “Yang jelas adalah bahwa hadits ini TIDAK HANYA DIKHUSUSKAN UNTUK ZAMAN KENABIAN SAJA. Dan orang-orang yang keluar dari Madinah dari kalangan Ash-Shahabah (seperti Ibnu Mas’ud, Mu’adz bin Jabal dan sebagainya) adalah tidak keluar karena membenci Madinah akan tetapi karena mashlahat agama seperti mengajarkan (Al-Islam) atau berjihad atau yang lainnya. Selesai.”

(Mir’atul Mafatih: 9/514)

7. Perlindungan dan penjagaan Allaah terhadap Makkah dan Madinah, dan juga penduduknya

Rasuulullaah bersabda:

لَيْسَ مِنْ بَلَدٍ إِلَّا سَيَطَؤُهُ الدَّجَّالُ إِلَّا مَكَّةَ وَالْمَدِينَةَ لَيْسَ لَهُ مِنْ نِقَابِهَا نَقْبٌ إِلَّا عَلَيْهِ الْمَلَائِكَةُ صَافِّينَ يَحْرُسُونَهَا ثُمَّ تَرْجُفُ الْمَدِينَةُ بِأَهْلِهَا ثَلَاثَ رَجَفَاتٍ فَيُخْرِجُ اللَّهُ كُلَّ كَافِرٍ وَمُنَافِقٍ

“Tidaklah ada dari suatu negeri pun kecuali akan diinjak (dimasuki) oleh Dajjal kecuali Makkah dan Madinah. Tidak ada celah di Madinah kecuali ada Malaikat yang berbaris yang menjaganya. Kemudian Madinah bergetar 3 kali untuk menggoyang penduduknya. Maka Allah mengeluarkan setiap orang kafir dan munafik dari dalam Madinah.”

(HR. Al-Bukhaariy, Ahmad, dll)

Dalam hadits Fathimah bin Qois radhiyallahu ‘anha disebutkan bahwa Dajjal mengatakan,

فَأَخْرُجَ فَأَسِيرَ فِى الأَرْضِ فَلاَ أَدَعَ قَرْيَةً إِلاَّ هَبَطْتُهَا فِى أَرْبَعِينَ لَيْلَةً غَيْرَ مَكَّةَ وَطَيْبَةَ فَهُمَا مُحَرَّمَتَانِ عَلَىَّ كِلْتَاهُمَا كُلَّمَا أَرَدْتُ أَنْ أَدْخُلَ وَاحِدَةً أَوْ وَاحِدًا مِنْهُمَا اسْتَقْبَلَنِى مَلَكٌ بِيَدِهِ السَّيْفُ صَلْتًا يَصُدُّنِى عَنْهَا وَإِنَّ عَلَى كُلِّ نَقْبٍ مِنْهَا مَلاَئِكَةً يَحْرُسُونَهَا

“Aku akan keluar dan menelusuri muka bumi. Tidaklah aku membiarkan suatu daerah kecuali pasti aku singgahi dalam masa empat puluh malam selain Makkah dan Thoybah (Madinah Nabawiyyah). Kedua kota tersebut diharamkan bagiku. Tatkala aku ingin memasuki salah satu dari dua kota tersebut, malaikat menemuiku dan menghadangku dengan pedangnya yang mengkilap. Dan di setiap jalan bukit ada malaikat yang menjaganya.”

(HR. Muslim)

Rasuulullaah bersabda:

لَا يَكِيدُ أَهْلَ الْمَدِينَةِ أَحَدٌ إِلَّا انْمَاعَ كَمَا يَنْمَاعُ الْمِلْحُ فِي الْمَاءِ

“Tidaklah seseorang membuat makar atas penduduk MADINAH kecuali ia akan melebur seperti meleburnya garam dalam air.”

(HR. Al-Bukhaariy, dll)

Dalam riwayat lain:

مَنْ أَرَادَ أَهْلَ الْمَدِينَةِ بِسُوءٍ أَذَابَهُ اللَّهُ كَمَا يَذُوبُ الْمِلْحُ فِي الْمَاءِ

“Barangsiapa yang ingin menimpakan keburukan atas penduduk Madinah maka Allah akan menghancurkannya seperti garam yang hancur dalam air.”

(HR. Muslim, dll)

Jika madinah adalah darul kufr, apakah mereka hendak mengatakan Allaah melindungi darul kufur?!


Sekarang mungkin mereka berkata:

“Saudi adalah darul kufur, kecuali makkah dan madinah”

Maka kita katakan:

“Kalau begitu, gubernur makkah dan madinah; adalah muslim?”

Mereka akan menyanggah:

“Tidak, mereka adalah kaafir; karena mereka tunduk terhadap ‘thaghut’ (yaitu raja saudi)”

Maka kita jawab:

“Bagaimana kau ini, bukankah engkau yang berpemahaman, bahwa negri yang dipimpin/dikuasai oleh kuffaar adalah darul kufr?

Jika engkau mengkafirkan gubernur madinah, gubernur makkah, dan raja saudi (yang mana kedua gubernur tersebut terafiliasi dengannya)… Maka konsekuensi dari pendapatmu adalah MENGKAFIRKAN saudi BESERTA mekkah dan madinah…

Yang mana hal tersebut TELAH TEGAS dibantah oleh Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam dalam hadits-hadits yang telah dipaparkan diatas…

Maka tidakkah engkau berpikir?!”

Semoga bermanfaat…

Tinggalkan komentar

Filed under Manhaj Ahlus-Sunnah wal Jama'ah, Ushul Ahlus-sunnah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s