Termasuk DOSA BESAR: tidak menutup aurat

Menjadi PERINGATAN PENTING bagi saudariku sesama muslim, yang masih mengobral auratnya… Baik yang tidak menutup auratnya (tidak berjilbab sama sekali), atau yang menutup auratnya “setengah-setengah”[1. Yang dimaksud disini adalah mereka yang menggunakan jilbab yang TIDAK SESUAI SYARI’AT, yaitu “jilbab gaul” yang hanya bermodal kerudung, yang dengan pakaian tersebut masih saja mempertontonkan aurat mereka dengan nampaknya lekuk tubuh badan!

Adapun syarat-syarat Jilbab Yang Syar’i maka telah dijelaskan disini: “Jilbab Wanita Muslimah“] …

Allaah MEMERINTAHKANMU untuk MENUTUP AURATMU!

Mungkin saja belum tahu bahwa Allaah –Tuhan mereka, yang menciptakan mereka, yang berhak mengatur mereka karena mereka adalah ciptaanNya– telah MEWAJIBKAN mereka untuk menutup aurat-aurat mereka…

Maka dengan ini kami ingatkan mereka dengan firmanNya, agar mereka TUNDUK dan PATUH terhadapNya, yang mana Allaah telah berfirman:

وَقُل لِّلْمُؤْمِنَاتِ

Katakanlah kepada wanita yang BERIMAN:

يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ

1. Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya

وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا

2. dan JANGANLAH MEREKA MENAMPAKKAN PERHIASANNYA, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.

وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَىٰ جُيُوبِهِنَّ

3. Dan hendaklah mereka MENUTUPKAN KAIN KUDUNG KE DADANYA…

وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الْإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَىٰ عَوْرَاتِ النِّسَاءِ ۖ وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِن زِينَتِهِنَّ ۚ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

4. (Kemudian Allaah kembali menegaskan) dan JANGANLAH MENAMPAKKAN PERHIASANNYA kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.

(an Nuur: 31)

Berkata Iimaam Ibnu Katsiir rahimahullaah:

“Ini merupakan PERINTAH ALLAAH kepada wanita-wanita MUKMINAH, karena kecemburuanNya terhadap suami-suami mereka , para hambaNya yang beriman, dan UNTUK MEMBEDAKAN MEREKA dengan SIFAT JAHILIYYAH dan WANITA MUSYRIKAH…”

Adapun firmanNya:

وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا

dan JANGANLAH MEREKA MENAMPAKKAN PERHIASANNYA, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.

Imaam ibnu Katsiir membawakan perkataan Ibnu ‘Abbaas: “Kecuali wajah dan telapak tangan”

Adapun firmanNya:

وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَىٰ جُيُوبِهِنَّ

Dan hendaklah mereka MENUTUPKAN KAIN KUDUNG KE DADANYA…

Berkata Imaam ibnu Katsiir: “Leher dan dada HINGGA TIDAK TERLIHAT SEDIKITPUN!”

Kemudian beliau membawakan atsar dari ‘Aa-isyah radhiyallaahu ‘anhaa, bahwa beliau berkata:

وإني – والله – وما رأيت أفضل من نساء الأنصار أشد تصديقا بكتاب الله ، ولا إيمانا بالتنزيل .

“Dan Sesungguhnya aku belum pernah melihat wanita yang lebih utama daripada wanita anshar… Yang PALING MEMBENARKAN KITAABULLAAH, dan PALING KUAT KEIMANANNYA kepada wahyu yang diturunkan…

لقد أنزلت سورة النور : ( وليضربن بخمرهن على جيوبهن ) ، انقلب إليهن رجالهن يتلون عليهن ما أنزل الله إليهم فيها ، ويتلو الرجل على امرأته وابنته وأخته ، وعلى كل ذي قرابة

Sungguh ketika turun ayat: وليضربن بخمرهن على جيوبهن “dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya”, maka suami-suami mereka membacakan ayat ini pada mereka . Para suami ini membacakan ayat ini kepada istri mereka, putrinya, saudara perempuannya, dan seluruh keluarga dekatnya…

فما منهن امرأة إلا قامت إلى مرطها المرحل فاعتجرت به ، تصديقا وإيمانا بما أنزل الله من كتابه ، فأصبحن وراء رسول الله صلى الله عليه وسلم الصبح معتجرات ، كأن على رءوسهن الغربان

Segeralah setiap wanita bangkit dan mengoyak-ngoyak kain mereka lalu menutup tubuh mereka denganya sebagai PEMBENARAN TERHADAP KITAABULLAAH dan KEIMANAN MEREKA kepada wahyu yang diturunkan Allaah dalam kitabNya. Mereka pun berada dibelakang Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam dengan mengenakan tudung penutup kepala seolah-olah burung gagak hinggap diatas kepala mereka..

(Diriwayatkan Imam ibnu abi haatim, namun pada sanadnya terdapat kelemahan)

Tidakkah kita (para suami) hendak mencontohi lelaki anshaar, yang bersemangat untuk mendakwahi keluarga kita agar bertaqwa kepada Allaah?!

Tidakkah engkau wahai wanita muslimah hendak MEMBUKTIKAN KLAIM “cinta kepada Allaah”!?

Dan Ingatlah pula, wahai wanita MUSLIMAH… Allaah tidak hanya menurunkan satu ayat tentang PERINTAH untuk menutup auratmu! Telah diturunkan pula ayat lain yang memerintakan engkau agar engkau menutup auratmu!

ALlaah berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لأزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

“Hai Nabi, Katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

(QS. Al-Ahzab: 59)

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di berkata:

“Ayat yang disebut dengan ayat hijab ini memuat perintah Allah kepada Nabi-Nya agar menyuruh kaum perempuan secara umum [yaitu bukan hanya KHUSUS kepada istri nabi saja!] dengan mendahulukan istri dan anak-anak perempuan beliau karena mereka menempati posisi yang lebih penting daripada perempuan yang lainnya, dan juga karena sudah semestinya orang yang menyuruh orang lain untuk mengerjakan suatu (kebaikan) mengawalinya dengan keluarganya sendiri sebelum menyuruh orang lain. Hal itu sebagaimana difirmankan Allah ta’ala (yang artinya), “Hai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka.”

(Taisir Karimir Rahman, hal. 272; sumber)

Abu Malik berkata:

“Ketahuilah wahai saudariku muslimah, bahwa para ulama telah SEPAKAT WAJIB-nya kaum perempuan MENUTUP SELURUH TUBUHNYA, dan sesungguhnya terjadinya perbedaan pendapat –yang teranggap- hanyalah dalam hal menutup wajah dan dua telapak tangan.”

(Fiqhu Sunnah li Nisaa’, hal. 382; sumber)

Menampakkan aurat merupakan SALAH SATU DOSA BESAR!

Tidak cukup sampai disini wahai saudariku! Sesungguhnya engkau, menampakkan auratmu merupakan perbuatan DOSA BESAR!

Hal ini berdasarkan sabda Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam:

Disebutkan dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلاَتٌ مَائِلاَتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لاَ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا

“Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat: [1] Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan [2] para wanita yang BERPAKAIAN TAPI TELANJANG, berpaling dari ketaatan dan mengajak lainnya untuk mengikuti mereka, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu TIDAK AKAN MASUK SURGA dan TIDAK AKAN MENCIUM AROMANYA, walaupun aromanya tercium selama perjalanan sekian dan sekian.”

(HR. Muslim no. 2128)

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata,

نِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مَائِلَاتٌ مُمِيلَاتٌ لَا يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلَا يَجِدْنَ رِيحَهَا وَرِيحُهَا يُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ خَمْسِ مِائَةِ عَامٍ

“Wanita-wanita yang BERPAKAIAN TETAPI TELANJANG, yang berjalan berlenggak-lenggok untuk membuat manusia memandangnya, mereka TIDAK AKAN MASUK SURGA dan TIDAK AKAN MENDAPAT AROMANYA. Padahal aroma Surga bisa dicium dari jarak 500 tahun.”

(HR. Malik dalam al-Muwaththa’ riwayat Yahya Al Laits, no. 1624)

Apa makna “berpakaian tapi telanjang?!”

An Nawawi dalam Syarh Muslim ketika menjelaskan hadits di atas mengatakan bahwa ada beberapa makna kasiyatun ‘ariyatun.

Makna pertama: wanita yang mendapat nikmat Allah, namun enggan bersyukur kepada-Nya.

Makna kedua: wanita yang mengenakan pakaian, namun kosong dari amalan kebaikan dan tidak mau mengutamakan akhiratnya serta enggan melakukan ketaatan kepada Allah.

Makna ketiga: wanita yang menyingkap sebagian anggota tubuhnya, sengaja menampakkan keindahan tubuhnya. Inilah yang dimaksud wanita yang berpakaian tetapi telanjang.

Makna keempat: wanita yang memakai pakaian tipis sehingga nampak bagian dalam tubuhnya. Wanita tersebut berpakaian, namun sebenarnya telanjang. (Lihat Syarh Muslim, 9/240)

Pengertian yang disampaikan An Nawawi di atas, ada yang bermakna konkrit dan ada yang bermakna maknawi (abstrak). Begitu pula dijelaskan oleh ulama lainnya sebagai berikut.

Ibnu ‘Abdil Barr rahimahullah mengatakan,

“Makna kasiyatun ‘ariyatun adalah para wanita yang memakai pakaian yang tipis yang menggambarkan bentuk tubuhnya, pakaian tersebut belum menutupi (anggota tubuh yang wajib ditutupi dengan sempurna). Mereka memang berpakaian, namun pada hakikatnya mereka telanjang.”

(Jilbab Al Mar’ah Muslimah, 125-126)

Al Munawi dalam Faidul Qodir mengatakan mengenai makna kasiyatun ‘ariyatun,

“Senyatanya memang wanita tersebut berpakaian, namun sebenarnya dia telanjang. Karena wanita tersebut mengenakan pakaian yang tipis sehingga dapat menampakkan kulitnya. Makna lainnya adalah dia menampakkan perhiasannya, namun tidak mau mengenakan pakaian takwa. Makna lainnya adalah dia mendapatkan nikmat, namun enggan untuk bersyukur pada Allah. Makna lainnya lagi adalah dia berpakaian, namun kosong dari amalan kebaikan. Makna lainnya lagi adalah dia menutup sebagian badannya, namun dia membuka sebagian anggota tubuhnya (yang wajib ditutupi) untuk menampakkan keindahan dirinya.”

(Faidul Qodir, 4/275)

Hal yang sama juga dikatakan oleh Ibnul Jauziy. Beliau mengatakan bahwa makna kasiyatun ‘ariyatun ada tiga makna.

Pertama: wanita yang memakai pakaian tipis, sehingga nampak bagian dalam tubuhnya. Wanita seperti ini memang memakai jilbab, namun sebenarnya dia telanjang.

Kedua: wanita yang membuka sebagian anggota tubuhnya (yang wajib ditutup). Wanita ini sebenarnya telanjang.

Ketiga: wanita yang mendapatkan nikmat Allah, namun kosong dari syukur kepada-Nya. (Kasyful Musykil min Haditsi Ash Shohihain, 1/1031)

Kesimpulannya adalah kasiyatun ‘ariyat dapat kita maknakan: wanita yang memakai pakaian tipis sehingga nampak bagian dalam tubuhnya dan wanita yang membuka sebagian aurat yang wajib dia tutup.

[Sumber: http://rumaysho.com/belajar-islam/muslimah/1613-wanita-yang-berpakaian-tapi-telanjang-sadarlah.html]

Berbagai Alasan Enggan Berjilbab

Kemudian kita dapati sebagian WANITA MUSLIMAH… Mendatangkan pengelakan-pengelakan yang amat lemah dan TIDAK BERDASAR!

Coba perhatikan beberapa alasan mereka:

Pertama: Yang penting hatinya dulu yang dihijabi

Alasan, semacam ini sama saja dengan alasan orang yang malas shalat lantas mengatakan, “Yang penting kan hatinya.” Inilah alasan orang yang punya pemahaman bahwa yang lebih dipentingkan adalah amalan hati, tidak mengapa seseorang tidak memiliki amalan badan sama sekali. Inilah pemahaman aliran sesat “Murji’ah” dan sebelumnya adalah “Jahmiyah”. Ini pemahaman keliru, karena pemahaman yang benar sesuai dengan pemahaman Ahlus Sunnah wal Jama’ah, “Din dan Islam itu adalah perkataan dan amalan, yaitu [1] perkataan hati, [2] perkataan lisan, [3] amalan hati, [4] amalan lisan dan [5] amalan anggota badan.”[4]

Imam Asy Syaafi’i rahimahullah menyatakan,

الإيمان قول وعمل يزيد بالطاعة وينقص بالمعصية

“Iman itu adalah perkataan dan perbuatan, bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan maksiat.”

Jadi tidak cukup iman itu dengan hati, namun harus dibuktikan pula dengan amalan.

Kedua: Bagaimana jika berjilbab namun masih menggunjing

Alasan seperti ini pun sering dikemukakan. Perlu diketahui, dosa menggunjing (ghibah) itu adalah dosa tersendiri. Sebagaimana seseorang yang rajin shalat malam, boleh jadi dia pun punya kebiasaan mencuri. Itu bisa jadi. Sebagaimana ada kyai pun yang suka menipu. Ini pun nyata terjadi.

Namun tidak semua yang berjilbab punya sifat semacam itu. Lantas kenapa ini jadi alasan untuk enggan berjilbab? Perlu juga diingat bahwa perilaku individu tidak bisa menilai jeleknya orang yang berjilbab secara umum. Bahkan banyak wanita yang berjilbab dan akhlaqnya sungguh mulia. Jadi jadi kewajiban orang yang hendak berjilbab untuk tidak menggunjing.

Ketiga: Belum siap mengenakan jilbab[2. Simak pula bantahannya disini: http://abuzuhriy.com/aku-belum-siap-berjilba/]

Kalau tidak sekarang, lalu kapan lagi? Apa tahun depan? Apa dua tahun lagi? Apa nanti jika sudah pipi keriput dan rambut beruban? Setan dan nafsu jelek biasa memberikan was-was semacam ini, supaya seseorang menunda-nunda amalan kebaikan.

Ingatlah kita belum tentu tahu jika besok shubuh kita masih diberi kehidupan. Dan tidak ada seorang pun yang tahu bahwa satu jam lagi, ia masih menghirup nafas. Oleh karena itu, tidak pantas seseorang menunda-nunda amalan. “Oh nanti saja, nanti saja”. Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma memberi nasehat yang amat bagus,

إِذَا أَمْسَيْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ ، وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الْمَسَاءَ ، وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ ، وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ .

“Jika engkau berada di waktu sore, janganlah menunggu-nunggu waktu pagi. Jika engkau berada di waktu pagi, janganlah menunggu-nunggu waktu sore. Manfaatkanlah masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu. Manfaatkan pula masa hidupmu sebelum datang kematianmu” (HR. Bukhari no. 6416). Nasehat ini amat bagus bagi kita agar tidak menunda-nunda amalan dan tidak panjang angan-angan.

Jika tidak sekarang ini, mengapa mesti menunda berhijab besok dan besok lagi. Seorang da’i terkemuka mengatakan nasehat 3 M, “Mulai dari diri sendiri, mulai dari saat ini, mulai dari hal yang kecil”.

[Sumber: http://rumaysho.com/belajar-islam/muslimah/3140-menutup-aurat-hanya-musiman.html]

Peringatan setelah engkau telah mengetahui perintahNya!

An Nawawi rahimahullah menjelaskan maksud sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: ‘wanita tersebut tidak akan masuk surga’. Inti dari penjelasan beliau rahimahullah:

Jika wanita tersebut menghalalkan perbuatan ini yang sebenarnya haram dan dia pun sudah mengetahui keharaman hal ini, namun masih menganggap halal untuk membuka anggota tubuhnya yang wajib ditutup (atau menghalalkan memakai pakaian yang tipis), maka wanita seperti ini kafir (karena mereka telah menghalalkan apa yang Allah haramkan), kekal dalam neraka dan dia tidak akan masuk surga selamanya.

Dapat kita maknakan juga bahwa wanita seperti ini tidak akan masuk surga untuk pertama kalinya. Jika memang dia ahlu tauhid, dia nantinya juga akan masuk surga. Wallahu Ta’ala a’lam.

(Lihat Syarh Muslim, 9/240)

Jika ancaman ini telah jelas, lalu kenapa sebagian wanita masih membuka auratnya di khalayak ramai dengan memakai rok hanya setinggi betis? Kenapa mereka begitu senangnya memamerkan paha di depan orang lain? Kenapa mereka masih senang memperlihatkan rambut yang wajib ditutupi? Kenapa mereka masih menampakkan telapak kaki yang juga harus ditutupi? Kenapa pula masih memperlihatkan leher?!

[tambahan Abu Zuhriy:

Juga hal ini sebagai PERINGATAN, terhadap para wanita yang “berkerudung” tapi masih saja menampakkan lekuk tubuh auratnya (yaitu tidak menutupnya dengan sempurna)!

Jangan kalian anggap kalian telah “menunaikan perintahNya” sedangkan kalian masih termasuk pada ancaman: “berpakaian tapi telanjang”!

Ketahuilah! Menutup aurat itu tidak sekedar “menutup” auratmu agar tidak terlihat saja! Tapi engkau tutup auratmu sampai-sampai lekuk tubuh auratmu TIDAK TERLIHAT dan TIDAK NAMPAK!

—]

Sadarlah, wahai saudariku! Bangkitlah dari kemalasanmu! Taatilah Allah dan Rasul-Nya! Mulailah dari sekarang untuk merubah diri menjadi yang lebih baik ….

[Dipetik: http://rumaysho.com/belajar-islam/muslimah/1613-wanita-yang-berpakaian-tapi-telanjang-sadarlah.html]

Tinggalkan komentar

Filed under Wanita Muslimah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s