Imam itu untuk diikuti

Rasuulullaah bersabda:

إِنَّمَا جُعِلَ الْإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ فَلَا تَخْتَلِفُوا

Sesungguhnya (seseorang) dijadikan (sebagai) imam hanyalah untuk diikuti, maka janganlah menyelisihinya!

[muttafaqun ‘alayh]

Diantara penyelisihan terhadap iimaam, adalah MENDAHULUI atau TERLALU LAMBAT dari gerakan imam!

Rasuulullaah bersabda:

أيها الناس, إني إمامكم فلا تسبقوني بالركوع ولا بالسجود ولا بالقيام ولا بالقعود ولا بالانصراف

“Wahai manusia! Sesungguhnya saya ini adalah imam kalian. Maka janganlah kalian mendahului saya saat rukuk, sujud, berdiri, duduk, dan jangan berpaling atau merubah gerakan shalat!”

(HR Muslim, dll)

Dijelaskan para ulama: “Telambatnya makmum dari iimaam SAMA SAJA dengan mendahuluinya!”

Juga… diantara penyelisihan terhadap iimaam… apabila imam dalam suatu gerakan, maka si makmum tidak mengikutinya!

1. Kalau imam telah takbiratul ihram, maka kita segera takbiratul ihram…

Kita dapati ada sebagian yang diam dulu sebelum takbir (dan diamnya kelamaan)… mungkin maksudnya untuk mempertegas niat dalam hati… padahal berdirinya dia dibelakang imam, pada waktu shalat tertentu… ini sudah merupakan ketegasan niatnya… dan juga, tidak perlu dilafazhkan niatnya, karena niat tempatnya dihati…

Maka selepas imam bertakbir… yang kita lakukan adalah bertakbir… BUKAN-nya malah melafazhkan niat…

Rasuulullaah bersabda (kelanjutan hadits diatas) :

فَإِذَا كَبَّرَ فَكَبِّرُوا

Jika imam bertakbir, BERTAKBIRLAH…

[idem]

Dalam riwayat Ahmad, dll; ada tambahan:

ولا تكبروا حتى يكبر

Dan janganlah bertakbir hingga imam bertakbir

(HR AHmad, dll; dishahiihkan syaikh al albaaniy dalam irwa’ul ghaliil)

Dan termasuk kekeliruan… BERBARENGAN dalam takbiratul ihram!

2. kalau imam telah ruku’, maka kita pun ruku’…

Sebagian masbuq yang mendapati imam ruku, masih takbir dan sedekap dulu, bahkan membaca al faatihah! Padahal imam SUDAH RUKU’!

Padahal Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَتَى أَحَدُكُمْ الصَّلَاةَ وَالْإِمَامُ عَلَى حَالٍ فَلْيَصْنَعْ كَمَا يَصْنَعُ الْإِمَامُ

“Apabila salah seorang dari kalian mendapatkan shalat dan imam sedang dalam suatu keadaan, maka hendaklah ia berbuat seperti imam berbuat.”

[HR at Tirmidziy, shahiih]

Dan ketika makmum mendapatkan imam ruku’, maka ia sudah mendapatkan raka’at; dan gugur baginya kewajiban membaca al fatihah.

Maka ketika kita dapati imam ruku’, maka kita bertakbir (sebagai takbiratul ihram sekaligus takbir ruku’) dan ruku’ bersamanya… dan kita pun telah mendapatkan satu raka’at…

Beliau juga bersabda:

إذا جئتم إلى الصلاة و نحن سجود فاسجدوا ولا تعدوه شيئا ومن أدرك الركعة فقد أدرك الصلاة

Apabila kalian menghadiri shalat (berjama’ah), sementara menemukan kami sedang sujud, maka hendaklah kalian juga ikut sujud, dan jangan dihitung itu satu raka’at! Siapa yang rukuk bersama imam berarti dihitung satu rakaat shalat”.

(HR Abu Dawud; hasan)

Terlarang pula bagi kita untuk ruku’ sebelum imam ruku!

ولا تركعوا حتى يركع

Dan jangan kalian ruku’ hingga imam ruku!

(HR Ahmad, dll; shahiih)

Bagaimana jika kita belum selesai baca al faatihah tapi imam sudah ruku’?!

Difatwakan syaikh ibnu bazz:

“Jika Al-Fatihah anda belum selesai sementara imam sudah ruku’, maka segeralah ruku’ bersama imam dan tinggalkan sisa Al-Fatihah yang belum anda baca. Hal ini berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

جُعِلَ الْإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ فَلَا تَخْتَلِفُوا عَلَيْهِ فَإِذَا رَكَعَ فَارْكَعُوا

“Sesungguhnya imam hanya untuk diikuti, maka janganlah menyelisihnya. Apabila ia ruku’, maka ruku’lah.”

(Disalin almanhaj dari kitab Al-Fatawa Juz Tsani, Edisi Indonesia Fatawa bin Baaz)

Jika AL FAATHIHAH yang merupakan RUKUN SHALAT, gugur kewajibannya agar kita mengikuti imam… Tentu perkara yang lainnya LEBIH PATUT gugur karenanya! khususnya pada bacaan dzikir yang sunnah atau tempat-tempat yang mana doa dianjurkan!

3. Kalau imam kita dapati telah i’tidal… maka kita pun ikut i’tidal bersamanya…

Berkata Sayyyid Sabiq dalam Fiqhus sunnah: ” Jika seorang ma’mum yang masbuq menemukan imam sedang i’tidal, maka ma’mum yang masbuq ini hendaklah bertakbiratul ihram lalu ikut berdiri dalam keadaan i’tidal…”

Alangkah lebih mengherankan lagi… jika kita dapati seseorang yang mana imam sudah i’tidal… ia malah takbiratul ihram, membaca al fatihah, ruku’ kemudian i’tidal…

Lebih mengherankan lagi… ia BERDIAM DIRI saja.. tidak mengikuti imam, sampai imam berdiri lagi untuk raka’at kedua!!

Padahal Nabi bersabda:

إِنَّمَا جُعِلَ الْإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ فَلَا تَخْتَلِفُوا

Sesungguhnya imam hanya untuk diikuti, maka janganlah menyelisihinya!

Dan beliau juga bersabda:

قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَتَى أَحَدُكُمْ الصَّلَاةَ وَالْإِمَامُ عَلَى حَالٍ فَلْيَصْنَعْ كَمَا يَصْنَعُ الْإِمَامُ

“Apabila salah seorang dari kalian mendapatkan shalat dan imam sedang dalam suatu keadaan, maka hendaklah ia berbuat seperti imam berbuat.”

[HR at Tirmidziy, shahiih]

Kebanyakan pula kita dapati makmum I’TIDAL LEBIH DULU daripada imam!

Padahal telah ada ancaman dari Rasuulullaah:

أما يخسى أحدكم إذا رفع رأسه قبل الإمام أن يحول الله رأسه رأس حمار أو يحول الله صورته صورة حمار

“Apakah kalian yang mengangkat kepalanya sebelum imam tidak takut jika kepala kalian diganti Allah dengan kepala keledai?! Atau bentuk kalian diubah Allah dengan bentuk keledai?!”

(Shahiih; HR Abu dawud, dll)

4. Kalau imam kita dapati telah/sedang sujud… Maka kita pun ikut sujud dengannya!

Rasuulullaah bersabda:

وإذا سجد فسجدوا

apabila imam sujud, maka kalian harus ikut sujud

Beliau juga bersabda:

وإذا سجد فسجدوا, ولا تسجدوا حتى يسجد

Dan jika imam sujud, maka sujudlah, dan jangan kalian sujud hingga imam sujud

Berkata al Bara’ ibn ‘azib

لم يحن أحد منا ظهره حتى يضع النبي صلى الله عليه وسلم جبهته على الأرض

“TIDAK SEORANGPUN di antara kami (para shahabat) yang membungkukkan punggungnya (untuk turun sujud) sebelum nabi meletakkan dahinya di tempat sujud”

(HR Bukhaariy)

Juga untuk para masbuq:

قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَتَى أَحَدُكُمْ الصَّلَاةَ وَالْإِمَامُ عَلَى حَالٍ فَلْيَصْنَعْ كَمَا يَصْنَعُ الْإِمَامُ

“Apabila salah seorang dari kalian mendapatkan shalat dan imam sedang dalam suatu keadaan, maka hendaklah ia berbuat seperti imam berbuat.”

5. Jika imam bangkit dari sujud dan bertakbir, maka bangkitlah!

Termasuk untuk SUJUD TERAKHIR… Banyak kita dapati para makmum SUJUD LEBIH LAMA DARIPADA IMAM… Imam sudah tahiyat akhir (dan ini agak lama), barulah ia mengangkat kepalanya!!

Ini terdapat dua kekeliruan: Pertama, dia telah melakukan gerakan yang sangat terlambat dari imam! Kedua, pemahamannya bahwa sujud terakhir “lebih spesial” daripada sujud-sujud selainnya, sehingga ia sujud lebih lama daripada sujud lainnya, bahkan sampai menyalahi imam!!!

6. Ketika imam salam, maka kita pun salam… (tidak mendahului, tidak bersamaan, tidak terlambat!)

Memang sangat dianjurkan memperbanyak doa setelah membaca tasyahud sebelum salam… TAPI INGAT mengikuti imam itu WAJIB !!! Jangan hanya karena mengerjakan perkara yang dianjurkan, kita malah melakukan keharaman, atau bahkan sampai menjadikan shalat kita batal!!! Bahkan sangat terlambat sekali salam!! Yang mana imam TELAH berDZIKIR setelah shalat!!

Maka semoga Allaah memberikan kita ilmu yang bermanfaat… aamiin

Tinggalkan komentar

Filed under Adab, Ibadah, Shålat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s